
Chap 7. Kaukah Itu?
Rasa penasarannya yang membumbung tinggi mendorong Elea berani mengangkat wajahnya, hendak mengintip sosok Ben. Suara Ben yang terdengar sedari awal membuat jantungnya berdebar. Sebab suara Ben begitu mirip, bahkan sangat mirip dengan suara Ben yang dikenalnya.
Cepat Elea mengangkat wajahnya sebelum Ben keluar dari ruangan tersebut. Dilihatnya Ben menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arahnya. Membuatnya terpaku di tempatnya, dengan jantung berdetak kencang.
"Ben?" gumam Elea menatap lurus ke arah Ben yang juga menatapnya. Elea terkejut, ternyata Ben atasan mereka itu berwajah mirip dengan Ben yang dikenalnya. Yaitu suaminya. Lalu apakah Ben yang bertemu dengannya kemarin sore di minimarket itu adalah Ben yang berdiri tak jauh di depannya saat ini?
Sementara Ben juga terkejut melihat Elea. Ben teringat akan seorang wanita aneh yang bertemu dengannya di minimarket kemarin sore. Seorang wanita kelas rendahan yang mengaku-ngaku sebagai istrinya.
"Hei, kau. Lancang sekali kau tidak mematuhi aturan!" Mark berseru lantang menatap garang kepada Elea. Pasalnya, diantara semua karyawan hanya Elea yang berani mengangkat wajahnya, mengarahkan pandangannya kepada Ben tanpa rasa takut. Hal tersebut jelas membuat Mark murka.
Cepat Elea kembali menundukkan wajahnya. Jantungnya berdetak kencang, aliran darahnya berdesir hebat dengan perasaan campur aduk saat ini. Antara terkejut, tegang, takut, bahkan bertanya-tanya akan kebenaran sosok Ben.
Benarkah Ben yang berdiri tak jauh darinya saat ini hanyalah orang lain?
Sementara Elea sungguh berharap, Ben yang itu adalah Ben, suaminya.
Namun yang membuat Elea sangat terpukul adalah Ben malah mengaku tidak mengenalnya.
"Perempuan itu benar-benar bikin kesal. Berani sekali dia tidak mengindahkan perintah. Apa perempuan itu sengaja mau cari gara-gara?" gerutu Mark mengomel sendiri. Mark baru saja menyadari bila Elea adalah karyawan kemarin yang dengan berani meminta melihat langsung rupa atasannya tersebut.
Mark hendak menghampiri Elea saat tiba-tiba Ben malah mencegahnya.
"Mark, sudahlah. Perempuan itu hanya membuang waktuku. Nanti saja kau urus perempuan itu," ucap Ben kemudian beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
"Baik, Tuan." Mark pun kemudian mengekor di belakang Ben.
...
"Elea, apa yang kau lakukan itu sama saja dengan bunuh diri." Jane mengingatkan Elea begitu mereka tengah merapikan sebuah kamar.
Elea tidak menanggapi ucapan Jane. Ia sibuk menumpuk seprai kotor ke dalam troli. Sembari pikirannya tak tenang. Terusik oleh sosok Ben yang membuat rasa penasarannya kian mencuat. Membuat hatinya pun ikut tak tenang.
Memang Elea tidak mengetahui banyak tentang Ben. Selain Paris kota asal Ben, tidak pernah sekalipun Ben bercerita tentang keluarganya. Jadi Elea pun tidak tahu bila mungkin saja Ben memiliki saudara kembar.
Tetapi apakah mungkin itu adalah saudara kembarnya Ben?
Bagaimana bisa dua orang yang berbeda memiliki nama yang sama, wajah yang mirip, bahkan suara pun mirip.
Namun yang Elea tahu, Ben yang menikahinya dua tahun lalu adalah Ben yang baik hati, penyayang, juga sosok yang hangat. Berbeda sekali dengan Ben yang baru-baru ini ditemuinya.
"Hal apa yang mendorongmu nekat melakukan itu, Elea? Aku saja yang sudah cukup lama bekerja di tempat ini, tidak berani menatap langsung Tuan Ben," sambung Jane.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu saja seperti apa Tuan Ben itu."
"Oh ya ..." Jane menghampiri Elea. Lalu mendekatkan wajahnya, berbisik di telinga Elea. "Kamu sudah melihat wajahnya Tuan Ben kan? Seperti apa kira-kira wajahnya? Tampan?"
Elea tak lantas menjawab pertanyaan Jane yang satu itu. Persoalan tampan atau tidak, ia akui Ben berwajah tampan dengan tampilan maskulin. Teramat memanjakan mata dilihat dari segi manapun.
"Dari yang aku dengar, sejak kembali dari London sikap Tuan Ben berubah dingin. Sejak kecelakaan pesawat yang dialami Tuan Ben dua tahun lalu itu membuat Tuan Ben sangat tertutup." Jane mengungkap sedikit fakta yang ia ketahui tentang seorang Benedict.
"Kecelakaan pesawat dua tahun lalu?" Elea mengerutkan dahi mendengar ucapan Jane. Yang semakin mencuatkan tanya baginya akan siapa Ben yang sebenarnya.
Jane mengangguk. "Dengar-dengar, akibat kecelakaan itu wajah Tuan Ben terluka dan meninggalkan bekas sampai sekarang. Untuk itulah kenapa Tuan Ben tidak mau bila ada karyawan yang melihat wajahnya. Karena katanya wajahnya cacat. Padahal dia sangat tampan."
Pikiran Elea pun seketika menerawang jauh. Mengingat-ingat kembali Ben, suaminya. Ben ia temukan di pesisir pantai dua tahun lalu dalam keadaan tak sadarkan diri.
Apakah Ben, pria yang dikenalnya itu termasuk salah satu korban kecelakaan pesawat waktu itu?
Dari yang ia ingat, Ben memang memiliki bekas luka. Tetapi bukan di wajah, melainkan di bagian lehernya. Untuk itulah mengapa Ben selalu mengenakan sweater yang tertutup di bagian lehernya.
Sama persis seperti Ben, atasan mereka. Dibalik jas yang dikenakannya hari ini, pria itu mengenakan t-shirt yang tertutup di bagian lehernya. Apakah itu artinya bila Ben atasan mereka itu adalah ...
"Nona Elea?" Sebuah suara mengagetkan Elea dan Jane.
Serentak Elea dan Jane menoleh. Memandangi Mark yang tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu kamar hotel yang terbuka.
"Iya, aku Elea." Elea menyahuti dengan hati cemas.
"Kau ikut denganku sekarang juga."
"Ikut dengan Anda? Ke mana?"
"Tuan Ben memanggilmu."
"Tuan Ben memanggilku?" Elea malah mengulang kalimat tersebut dengan jantung berdebar-debar.
Jane yang mendengarnya makah cemas juga takut. Takut bila sahabatnya itu dipecat dari pekerjaannya. Padahal Elea belum sampai sebulan bekerja di hotel ini. Syukur-syukur jika diberikan pesangon.
"Jangan membuang-buang waktu lagi, ayo. Tuan Ben sedang menunggumu." Mark beranjak dari ambang pintu. Disusul oleh Elea, yang masih diselimuti tanya.
...
Detak jantung Elea semakin menghentak begitu Ben memutar kursi menghadap kepadanya yang berdiri di depan meja kerja Ben.
Dengan wajah tegang, Elea menahan napasnya sejenak. Sebelum akhirnya, matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Menatap Ben yang tengah menatapnya dingin menghadirkan pilu di hati Elea. Bila memang Benar Ben yang ada di depannya saat ini bukan Ben suaminya, lalu mengapa aliran darahnya berdesir hebat kala menatap sorot mata Ben. Bahkan jantungnya pun berdebar-debar.
Tatapan Elea lalu turun ke bagian leher Ben yang tertutupi oleh kerah t-shirt mode turtleneck yang dikenakannya. Ia pun penasaran mengapa Ben menutupi bagian lehernya. Saat tanpa sengaja bertemu di minimarket pun, bagian leher Ben tertutupi oleh kerah tinggi yang dikenakannya.
Apakah Ben senang mengenakan mode pakaian seperti itu, ataukah Ben sedang menyembunyikan sesuatu dibalik kerah tersebut?
"Eleanor?" tanya Ben menatap lekat Elea. Baru kali ini ada bawahannya yang berani menatapnya langsung seperti ini. Bahkan saat ini pun, wanita itu berani sekali menatapnya.
"Kau yang bernama Eleanor?" Ben mengulang pertanyaannya sambil menatap tajam.
Elea mengangguk pelan. "Iya, Tuan. Aku Eleanor. Eleanor Wisse."
Mendadak, jantung Ben berdebar-debar mendengar Elea menyebut namanya. Entah mengapa.
Ben menghela napasnya sejenak untuk meminimalisir debaran jantungnya.
"Sudah berapa lama kau bekerja di tempat ini?"
"Baru beberapa hari."
Kembali Ben menghela napasnya. Wanita yang berdiri di hadapannya itu baru beberapa hari bekerja di tempatnya. Bukankah merupakan hal yang wajar bila wanita itu mungkin masih belum mengetahui apa yang tidak disukai Ben.
Tetapi, apakah tidak ada yang memberitahu wanita itu tentang apa yang tidak disukainya? Apakah wanita itu masih belum mengerti peraturan di tempatnya bekerja saat ini?
"Apakah tidak ada yang memberitahumu samasekali tentang peraturan di tempat ini?" tanya Ben sembari bangun dari duduknya, lalu menghampiri Elea yang terus menatapnya.
Ben pun melakukan hal yang sama, menatap lekat-lekat sepasang mata Elea. Yang mendadak membuat jantungnya berdebar-debar.
Tatapan Elea menelisik paras Ben yang memiliki kemiripan hampir seratus persen dengan Ben yang dikenalnya. Hati kecilnya entah mengapa selalu berkata bila Ben yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Ben, suaminya.
"Ben, kaukah itu?" Hati kecil Elea berbisik pilu dengan mata berkaca-kaca.
"Bukankah kau wanita di minimarket itu? Wanita aneh yang mengaku-ngaku istriku?" tanya Ben masih menatap lekat sepasang mata Elea yang terlihat memerah.
Menerima tatapan lekat namun tajam dari Ben, Elea memilih menundukkan wajahnya.
"Kalau kau memang benar istriku, apakah kau bisa membuktikannya padaku?"
Sontak Elea pun mengangkat kembali wajahnya, menatap lekat sepasang mata tajam Ben. Ia terkejut mendengar pertanyaan Ben yang satu ini.
Bukti?
Ben membutuhkan bukti?
__ADS_1
*