In Your Memories

In Your Memories
Chap 58. Tawaran Solusi


__ADS_3

Chap 58. Tawaran Solusi


"Apa-apaan ini? Suamiku, kau tidak bisa membuat keputusan sepihak seperti ini. Kau juga harus mempertimbangkan pendapatku." Nyonya Roberta melayangkan protes tak terima ketika para pelayan bubar.


Tak menghiraukan sikap tak terima sang istri, Tuan Albert memilih beranjak pergi ke kamarnya. Nyonya Roberta menyusul di belakangnya. Mencecarnya dengan berbagai protes yang lain.


"Kau tidak bisa seenaknya seperti itu, Suamiku. Aku ini istrimu. Aku juga berhak mengambil keputusan di rumah ini."


Tuan Albert terkesan tak peduli. Seolah menulikan pendengaran. Ia malah membuka pakaiannya, menggantinya dengan bathrobe, lalu hendak ke kamar mandi.


"Suamiku, kau tidak bisa mengabaikanku seperti ini. Aku ini istrimu. Aku ..."


"Justru karena kau istriku, untuk itulah kenapa aku melakukan ini. Aku tahu seperti apa dirimu, seperti apa tabiatmu. Aku hanya tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Yaitu membiarkanmu berbuat semena-mena," sela Tuan Albert, kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Oh ya. Perintahkan koki kita untuk menyiapkan menu makanan terbaik untuk menyambut menantu kita. Ingat Roberta, perlakukan menantu kita dengan baik. Dia bukan wanita seperti dugaanmu. Dan satu hal lagi yang harus kau ketahui, Camila mengidap kanker darah. Apa kau masih mau menikahkan Ben dengannya?" tambahnya. Kemudian masuk ke kamar mandi, tak memedulikan lagi reaksi sang istri ketika mendengar keadaan Camila.


Nyonya Roberta terbelalak, ia bahkan sampai membekap mulut saking terkejutnya. Lalu mendadak ia bergidik ngeri membayangkan ganasnya penyakit yang diidap Camila.


"Kenapa aku baru tahu kalau perempuan itu ternyata penyakitan? Mana mungkin perempuan penyakitan seperti itu akan aku jadikan menantu. Aish ... Amit-amit. Seujung kuku pun, aku tak sudi." Bahkan bulu romanya pun meremang membayangkan memiliki menantu penyakitan seperti Camila. Anak menteri sih iya, tapi soal penyakit ia tak bisa terima.


...


Sementara di apartemen Ben.


Suasana masih saja sama. Setengah menegangkan. Camila masih menuntut jawaban benar tidaknya ia memiliki seorang kakak. Catherine mengatur napas sejenak. Memilah kata, menyusunnya apik di kepala untuk disampaikan kepada sang putri. Agar tidak menyinggung perasaan sang putri. Setidaknya dengan harapan seperti itu.


"Camila, Mommy minta maaf. Mommy tidak bermaksud merahasiakan ini darimu. Mommy ... Mommy ..." Sesak mendera. Catherine menyesal, mengapa tidak sedari awal ia memberitahu ini kepada Camila. Andai saja waktu bisa diputar kembali.


"Mommy hanya tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Sebelum Daddy mu, Mommy pernah menikah sebelumnya. Dari pernikahan pertama Mommy itulah, Mommy punya Elea. Namun Elea terpisah dari Mommy karena suatu keadaan. Dan Mommy dipertemukan baru-baru ini dengan Elea berkat Ben," sambungnya pilu.

__ADS_1


Camila mendengarkan, namun wajahnya penuh dengki. Kebencian serta cemburu yang menggerogoti hati membuatnya tak bisa berlapang dada menerima Elea sebagai kakaknya.


"Mom, aku membencimu," ucap Camila kemudian memegangi kepalanya yang mulai berdenyut nyeri, pusing menyertai.


"Maafkan Mommy Camila."


"Kau dan Ben sama saja, Mom. Kalian sama-sama sudah mengkhianatiku. Aku tidak bisa terima ini. Aku benci kalian. AKU BENCI KALIAN!" Camila histeris frustasi. Menjerit melengking imbas dari sakit hati yang ia rasakan. Kedua tangannya menjambak rambutnya kuat. Sampai rambut itu ikut terbawa tangannya.


Camila menatap heran sekaligus takut kumpulan rambut di tangannya itu. Rambutnya mulai rontok, sedikit demi sedikit. Tak urung membuat Harvey dan Catherine pun ikut panik.


Melihat kondisi Camila, Harvey dan Catherine pun memutusakan membawanya ke rumah sakit dengan menghubungi ambulance.


Namun sebelum pergi ke rumah sakit, Catherine sempat berbincang sebentar dengan Ben.


"Tolong jaga Elea baik-baik. Aku titipkan Elea padamu, Ben. Maaf untuk kejadian ini," kata Catherine sebelum ikut naik ke ambulance. Ketika Ben mengantar sampai ke tempat parkir.


"Nyonya tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menjaga Elea baik-baik dengan segenap jiwaku. Untuk masalah Camila, aku dan Elea sudah memaafkan."


"Pasti, Nyonya. Pasti akan aku sampaikan."


Ben melambaikan tangan ketika ambulance melaju pergi. Ada sedikit kelegaan saat keluarga Rodrigues akhirnya membatalkan pernikahannya dengan Camila. Yang artinya tidak ada lagi yang akan mengusik kebahagiaannya dan Elea. Ia dan Elea akhirnya bisa menjalani hari-harinya dengan tenang.


Mendorong daun pintu perlahan, tampak Elea masih berdiri di depan jendela dengan pandangan kosong. Menyilangkan tangan di depan dada, Elea mendesah resah berkali-kali.


Pemandangan betapa sayangnya Catherine kepada Camila masih terbayang-bayang di pelupuk mata. Elea tak mau munafik, terus terang saja ia cemburu. Sangat cemburu bahkan sakit hati. Melihat Catherine menyayangi putri barunya dan menelantarkan putri pertamanya.


Jika ditanya Elea pun ingin merasakan kasih sayang yang sama. Elea juga ingin punya keluarga dan merasakan kehangatan keluarga.


Namun sayangnya, Elea terlanjur membenci ibu yang telah melahirkan dan malah menelantarkannya itu. Sampai hari ini ia bahkan masih sulit membuka hatinya.

__ADS_1


Ben hendak menghampiri Elea saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang tertera sebagai pemanggil itu tak bisa Ben abaikan. Segera ia menjawab panggilan yang masuk tersebut.


"Ben, pulanglah ke rumah malam ini. Bawa serta menantu Daddy. Karena mulai saat ini kalian akan tinggal di rumah ini."


Seperti itu Tuan Albert berkata ketika panggilan teleponnya tersambung. Dan Ben mematuhinya, tanpa bantahan apalagi melawan. Ben tahu jika ayahnya sudah mulai bisa menerima Elea. Mungkin ini akan menjadi awal untuk kehidupan baru mereka. Terutama Elea.


"Masih memikirkan soal yang tadi?" Ben bertanya sembari menyusupkan lengan, merangkul pinggang Elea dari belakang.


Elea menghela napasnya panjang. "Hidup terkadang tidak adil," ucapnya parau. Menahan sebah di dada.


"Jangan berkata seperti itu. Itu artinya kau menganggap dirimu tidak beruntung. Elea, sudah aku katakan, aku akan memberimu cinta yang banyak sampai kau tidak akan merasa kekurangan sedikitpun. Kau justru beruntung. Kau tahu kenapa? Karena kau punya aku."


Elea mengulum senyum getirnya. Lalu memutar tubuh berhadapan dengan Ben. Lalu melingkarkan kedua lengannya di pundak Ben.


"Kau mencoba menghiburku?"


Ben menggeleng pelan. "Tidak. Tapi aku sedang ingin membahagiakan istriku. Aku hanya ingin melihat wajah istriku ini selalu tersenyum."


"Ben, tidakkah kau lihat itu? Ibuku lebih menyayangi putri barunya. Dia bahkan melupakan aku. Dia..."


"Dia menitipkan salam untukmu." Ben menyela cepat. Membuat Elea mangap. Menganga antara hendak berkata namun kehilangan kata-kata.


"Dia berpesan agar aku menjagamu dengan baik. Dia juga berpesan, agar aku menyampaikan padamu bahwa dia sangat menyayangimu. Elea, mau aku tawarkan satu solusi?" sambung Ben bertanya.


Elea diam saja menatap lekat wajah Ben.


"Saran aku, lebih baik kau membuka hatimu. Berilah ibumu satu kesempatan. Dia sekarang berada di ambang dilema. Satu anaknya sedang kritis, sedangkan anak yang lainnya tak ingin memberinya maaf. Kau juga seorang wanita, yang kelak juga akan menjadi seorang ibu. Suatu hari nanti, kau juga akan merasakan bagaimana perasaan seorang ibu. Di dunia ini tidak ada seorang ibu yang sanggup berpisah dengan anaknya. Tidak terkecuali ibumu. Bukankah aku pernah mengatakan ini padamu?"


Mendengar penuturan Ben, Elea tampak tengah berpikir. Hatinya menimbang-nimbang, berupaya berdamai dengan masa lalu. Kemudian akalnya pun ikut memutuskan, keputusan apa kelak yang akan diambilnya. Mengikuti saran Ben atau mengabaikannya.

__ADS_1


"Dan satu lagi. Sekarang kau siap-siap. Kita pulang ke rumah. Keluargaku sedang menantikan kedatangan menantunya." Ben menambahkan sembari mengulum senyum penuh arti.


*


__ADS_2