
Chap 32. Mabuk
"Aku bersedia menghabiskan malamku bersamamu."
"Kau yakin?"
Masih dengan wajah tegang, Elea mengangguk. Sejujurnya ia sendiri tak yakin mau melayani pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, di Kota Paris tiada siapa pun yang bisa membantunya selain Ben.
Akan ia anggap ia melayani suaminya sendiri. Toh mereka memiliki wajah yang mirip. Bukan hanya wajah, bahkan semua yang ada dalam diri Ben memiliki kemiripan seratus persen dengan suaminya.
Beberapa saat lalu, setelah rentenir itu pergi meninggalkan kontrakan.
"Kenapa kau tidak memberitahuku Jane kalau rentenir itu datang menyakitimu," omel Elea tak tahan lagi begitu mengurai dekapannya.
Sesenggukan Jane menangis. "Sudah beberapa kali aku mencoba menghubungimu. Tapi ponselmu tidak aktif. Aku bahkan mengirimkan mu beberapa pesan, tapi tidak kau balas. Aku takut sekali, El."
"Kau menghubungiku?" Elea merogoh tas kecilnya, mengeluarkan si benda pipih berperanti canggih dari dalam sana. Benda yang sengaja di nonaktifkannya itu, lupa dihidupkannya kembali setelah bekerja. Ia melakukan hal itu agar Ben berhenti mengirimkannya pesan.
Apa?
Ben?
Tanpa komando jempol Elea membuka pesan yang masuk. Menggulir sampai ke bawah, ada beberapa pesan dari Jane juga pesan dari Ben yang sempat ia abaikan.
Aku akan menunggu kedatanganmu
"Jane, aku harus pergi sekarang. Aku sudah menemukan cara bagaimana mendapatkan uangnya." Mendadak mendapatkan ide cemerlang, bergegas Elea bangun berdiri. Membawa langkahnya ke kamar mandi hendak membersihkan diri.
Sebelum bertandang ke alamat yang ia simpan di ponselnya, Elea mendandani dirinya terlebih dahulu. Ia tahu apa yang akan ia lakukan nanti bukan hal yang mudah. Untuk itu ia perlu mempersiapkan diri.
Bermodalkan alamat tersebut ia nekat, mengikuti kata hatinya. Mendatangi alamat yang diberikan Ben kepadanya. Sampai di depan sebuah unit apartemen yang ia temukan susah payah, belum sempat ia menekan bel pintu, pintu itu telah dibukan seseorang dari dalam.
Seketika itu juga Elea menjadi tegang. Deg-degan bercampur gugup membayangkan malam yang akan dilaluinya bersama pria tersebut.
...
__ADS_1
Senang tapi tidak menampakkan di raut wajahnya. Itulah yang dilakukan Ben atas reaksinya melihat kedatangan Elea. Ia terpesona melihat wanita itu dalam dandanan yang tak biasanya. Dandanan yang lebih menyerupai kupu-kupu malam, dengan gaun selutut, lengan terbuka, high heels, bahkan dengan pulasan make up yang lebih berani.
Lucu rasanya bila dibayangkan, ia hendak bernegosiasi dengan istrinya sendiri hanya demi perkara ranjang.
"Tapi, bolehkah aku mengajukan penawaran lebih dulu?" tanya Elea gugup.
"Silahkan. Berapa yang kau minta?" tembak Ben tanpa basa-basi lagi.
"Lima puluh ribu euro. Aku membutuhkannya dalam bentuk cash."
"Baiklah." Ben mengulum senyum. Namun hatinya miris. Melihat sang istri yang hendak menjual tubuhnya. Apakah yang terjadi kepada Elea sehingga wanita itu nekat melakukan ini hanya demi uang? Bahkan tanpa Elea meminta pun, ia akan memberikan uang itu cuma-cuma.
Semula Elea mendapat suntikan keberanian, tetapi kini entah mengapa keberanian itu menguap ke udara seketika. Mendadak ia diserang gugup tak menentu. Kedua tangannya bahkan gemetaran dan panas dingin.
"Kalau begitu, kau tunggu sebentar. Sebelum kita memulainya, aku ingin membersihkan diriku dulu." Ben bangun dari duduknya dan bergegas ke kamar mandi.
Sementara Elea, masih berada di tempatnya. Berusaha membuat keadaan dirinya baik-baik saja walau jantungnya berdegup kencang. Lantaran gugup, tenggorokannya pun serasa mencekat. Tanpa dikomando, tangannya bergerak menyambar gelas yang berisi sisa wine yang diminum Ben. Meminum wine itu sampai tandas.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Ben tengah memandangi pantulan dirinya yang mengenakan bathrobe di cermin. Bukan hanya Elea saja yang gugup, Ben pun merasakan hal yang sama.
Ben keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan bathrobe yang membungkus tubuhnya. Namun ia tidak mendapati Elea di sofa. Yang ia temukan hanyalah botol wine nya yang telah kosong.
Apakah Elea yang menghabiskan wine nya?
Bola mata Ben pun mengedar, mencari sosok wanita itu dalam pandangannya. Sampai bola matanya terhenti di balkon.
Wanita itu tengah berdiri di balkon dengan kepala mendongak. Namun ada yang terlihat aneh. Dengan satu tangannya Elea tengah menghitung bintang-bintang yang bertebaran di langit malam. Sementara tangan lainnya bertumpu pada panel besi. Menahan keseimbangan tubuhnya yang tampak goyah, oleng ke kiri dan ke kanan.
Ben memicing, sembari membawa langkahnya menghampiri.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanya Ben ketika sudah berdiri di balik punggung Elea.
Terkejut mendengar suara Ben, tangan Elea tergelincir. Nyaris tubuhnya jatuh ke bawah. Beruntung sepasang lengan kokoh Ben sigap meraih pinggangnya. Sehingga Elea tidak menjadi korban yang jatuh dari ketinggian. Sebab apartemen Ben berada di lantai dua puluh.
"Hati-hati, Eleanor. Apa kau ingin memecahkan kepalamu dengan terjun ke bawah?" sembur Ben mendekap tubuh Elea.
__ADS_1
Namun Elea malah tertawa sumbang. Sepasang matanya menatap sayu. Tanpa ada yang memerintahkan, Elea mengalungkan lengannya di bahu lebar Ben.
"Tuan, kenapa kau terlihat mirip dengan suamiku. Dari wajahmu, suaramu, bahkan postur tubuhmu sangat mirip dengan suamiku." Elea meracau dengan suara parau. Dari mulutnya menguar aroma wine.
Ben mendengarkan saja racauan Elea. "Rupanya kau sedang mabuk, Elea," gumamnya tersenyum melihat wajah memerah Elea.
"Kau tahu, bahkan bekas luka yang ada di lehermu itu sama persis dengan bekas luka yang dimiliki suamiku," racau Elea lagi menyentuh bekas luka di leher Ben yang terekspose.
"Karena aku ini memang suamimu," balas Ben lirih. Hampir tak terdengar.
"Kau tahu apa tujuanku datang ke kota ini?"
Ben menggeleng, menatap wajah sayu Elea. "Untuk apa?"
"Aku ingin meminta kepastian dari suamiku. Apakah dia masih mencintaiku atau tidak. Jika memang dia sudah tidak mencintaiku lagi, aku ingin ... Aku ingin ... Hmmpt ..." Kalimat Elea terhenti oleh rasa mual yang menyerangnya. Tangannya bergerak menutup mulutnya yang hampir saja memuntahkan isi perutnya itu.
"Eleanor, kau sangat mabuk." Ben panik. Karena ia tahu Elea tidak kuat dengan efek minuman keras.
"Ha ha ha ..." Eleanor malah tertawa.
"Kau sangat lucu, Tuan. Kau tenang saja. Aku tidak akan muntah di wajah tampan mu itu," sambungnya meracau dengan tubuh oleng.
Menghembuskan napasnya kasar, Ben memijit pelipis. Kemudian melipat lengan di depan dada, menyaksikan saja tingkah Elea yang sedang mabuk.
"Tuan, apa kita mulai saja permainannya?" Sempoyongan Elea berjalan menghampiri Ben. Lalu kembali mengalungkan lengannya genit di bahu Ben.
"Kau ingin permainan yang seperti apa? Yang pasif atau aktif?" tanya Elea kacau.
Ben pun menatap lekat sepasang mata sayu Elea. "Aku tidak suka meniduri wanita yang sedang mabuk."
"Mabuk? Ha ha ha ... Aku tidak mabuk Tuan." Elea menundukkan wajahnya. Lalu sepasang tangan kekar Ben menangkup wajahnya, membawanya dalam satu dalam satu garis lurus saling menatap. Namun sepasang mata Elea terasa berat dan hampir memejam.
"Aku akan menyentuhmu hanya disaat kau sadar, Eleanor. Kau ingin tahu seperti apa perasaanku padamu?" Ben menghela napasnya sejenak, lalu kembali berkata.
"Aku masih mencintaimu, Eleanor."
__ADS_1
*