In Your Memories

In Your Memories
Chap 31. Menjerat Merpati


__ADS_3

Chap 31. Menjerat Merpati


Hamparan langit malam berhiaskan berjuta kerlip bintang itu menjadi pusat pandangan Ben. Namun gugusan bintang di langit itu malah menampilkan wajah Elea di mata Ben.


Di balkon kamar apartemennya, Ben menunggu kedatangan Elea. Meski Elea tidak membalas pesannya, tidak memberinya kepastian bila wanita itu akan datang, Ben akan tetap menunggunya.


Meninggalkan balkon kamar, Ben berjalan masuk, mendudukkan diri di sofa. Ben membuang napasnya kasar. Tangannya terulur meraih amplop cokelat di meja sofa itu. Mengeluarkan isinya, Ben mendesah resah ketika melihat foto-foto Elea bersama seorang pria yang diyakininya adalah Tony, sepupu Camila.


Ben kemudian memasukkan kembali foto tersebut dan mengambil cincin, menyimpannya ke dalam saku celananya.


Beberapa jam ia menunggu semenjak kembali dari Benedict Star Hotel, Elea belum juga menampakkan batang hidungnya. Memangku kaki, melipat kedua tangan di depan dada, Ben memejamkan matanya.


Debaran di jantungnya sedari tadi tak karuan ketika ia membayangkan pertemuannya dengan Elea malam ini. Wanita yang sangat dirindukannya. Ia berharap wanita itu memenuhi permintaannya.


Membuka matanya, Ben mendesah resah. Ia hendak bangun dari duduknya saat tiba-tiba terdengar suara bel pintu.


Dengan hati berdebar serta jantung berdegup kencang, Ben bergegas mengayunkan langkahnya menuju pintu. Membuka pintu itu tak sabaran, Ben malah dibuat kecewa.


Ben membuang napasnya lesu ketika seorang kurir berdiri di depan pintu itu dengan menenteng sebuah paper bag. Ketika tiba di tempat ini, ia sempat memesan beberapa botol wine dari bar Chris. Dan kurir itu datang mengantarkan pesanannya.


"Dengan Tuan Benedict?" tanya si kurir.


"Ya. Itu aku."


Kurir itu pun menyodorkan paper bag tersebut ke tangan Ben.


Ben menutup pintu apartemennya begitu kurir pamit pergi. Paper bag itu diletakkannya malas di meja sofa. Kemudian Ben mengambil gelas dan es batu, dan membawanya kembali ke sofa.


Di sofa itu ia menikmati wine nya sendirian. Sambil sesekali melirik arloji di pergelangan kirinya. Menunggu merpati yang ingin dijeratnya datang sendiri menghampiri sangkarnya.


...


Sementara itu, di sisi lain kota Paris.


Padahal Elea sudah menyiapkan mental dan keberanian untuk mengutarakan niatnya kepada Julian. Namun sampai ketika makan malam mereka berakhir, mulutnya seolah terkunci rapat. Nyalinya tiba-tiba menciut, lalu menguap entah ke mana. Lidahnya pun mendadak kelu. Kalimat yang sudah disusunnya rapi di kepala, berhamburan tak bersisa.

__ADS_1


Akhirnya, Elea hanya bisa pasrah. Melangkah lesu ketika turun dari mobil Julian yang mengantarkannya pulang. Elea terpaksa menerima tawaran Julian untuk mengantarkannya pulang, lantaran tak enak hati terhadap Julian yang terus menawarinya.


Memikirkan nasib Jane, Elea tak bisa berhenti cemas. Elea hanya tidak mau, sahabat sekaligus keluarganya satu-satunya itu berada dalam bahaya hanya karena terlilit hutang.


Tangannya terangkat lesu hendak memutar handel pintu. Namun suara pekikan kesakitan Jane, membuat aliran darahnya dua kali lebih cepat. Sehingga membuat jantungnya mendadak berdegup kencang.


Cepat Elea mendorong daun pintu itu terbuka lebar. Jantungnya pun hampir copot ketika melihat Jane yang meringkuk memeluk lutut ketakutan, dengan punggung menempel sempurna pada permukaan dinding.


Yang membuat Elea terkejut bukan kepalang adalah adanya dua orang lelaki bertubuh besar, mengenakan setelan serba hitam itu tengah menodongkan sennjata ke kepala Jane.


"Jane!" Mengayunkan langkahnya cepat menghampiri, Elea langsung merangkul Jane.


"Siapa kalian?" tanya Elea lantang.


"Perempuan ini akan kami habisi karena berkali-kali melanggar janji. Kami sudah memberinya waktu, tapi sampai detik ini, perempuan ini belum juga melunasi hutangnya. Bos kami memerintahkan agar menghabisi perempuan ini." Salah seorang dari mereka menyahut.


"Apa yang kalian lakukan ini sudah keterlaluan. Sungguh sangat tidak berperikemanusiaan. Apa tidak bisa kalian memberinya waktu sekali lagi? Aku janji, aku akan melunasi hutangnya secepat mungkin," balas Elea menantang.


"Tidak bisa. Bos kami sudah tidak bisa bersabar lagi. Sudah beberapa kali perempuan ini ingkar janji. Jadi, biarkan kami melaksanakan perintah bos kami." Lelaki itu sudah bersiap menarik pelatuk. Jane pun menyembunyikan kepalanya lebih dalam lagi dalam dekapan Elea sambil menangis ketakutan.


"Tenanglah, Jane. Aku akan mencari jalan keluarnya."


"Sebaiknya kau menyingkir, Nona. Atau kau juga mau mati bersamanya?" ujar lelaki itu.


"Kalau begitu, beri aku waktu sampai besok. Aku janji aku akan melunasi hutangnya sebelum matahari terbit."


Dua lelaki itu saling pandang sambil saling bertanya melalui kode matanya. Mereka tampak berpikir.


"Aku janji, sebelum matahari terbit, aku akan membawa uangnya kepada kalian. Bagaimana? Aku pastikan aku tidak akan mengingkari janjiku."


"Baiklah kalau begitu. Tapi bunganya naik menjadi dua kali lipat." Anak buah si lintah darat itu tidak mau melewatkan kesempatan dengan mengambil keuntungan dari Elea.


"Baik!" Elea menyanggupi tanpa berpikir panjang lagi. Karena saat ini keselamatan Jane lah yang lebih penting.


"Baiklah. Kalau begitu, besok, sebelum matahari terbit, kau sudah harus membawa uangnya di bawah menara Eiffel."

__ADS_1


Entah keberanian dari mana Elea dapatkan sehingga ia menyanggupi untuk melunasi hutang Jane yang jumlahnya fantastis bagi seseorang seperti dirinya. Jane hanya terjebak hutang pada rentenir yang salah. Yang selalu menaikkan bunganya setiap bulan. Sehingga hutang Jane yang semula masih sedikit, menjadi membukit setiap bulannya akibat suku bunga yang terus saja naik tak kenal situasi. Dan Elea hanya ingin membantu Jane terlepas dari jerat rentenir itu.


...


Duduk bersandar punggung dan berpangku kaki, sudah satu botol wine yang Ben habiskan demi menunggu wanita yang dirindukannya.


Diantara kesal dan hati mendongkol sebab wanita yang ditunggu tak kunjung datang, Ben tertawa kecil. Menertawai kebodohannya, menertawai kesendiriannya, yang sepi dan haus belaian.


Merasa Elea kemungkinan tidak akan datang, Ben bangun dari duduknya. Kembali ke rumah mungkin adalah pilihan yang terbaik malam ini. Mengingat apartemen ini hanya ia gunakan sebagai tempat persinggahan dikala ia dilanda bosan dan butuh menyendiri. Apartemen ini lah yang menjadi tempatnya bercengkerama dengan sepi.


Meraih kunci mobil dari meja itu, Ben berjalan malas tak bersemangat menuju pintu. Namun tiba-tiba saja semangatnya mendadak pulih ketika ia membuka pintu itu.


Di depan pintu itu berdiri seorang makhluk cantik, yang menatapnya tegang.


"Kau?" Ben berusaha menyembunyikan wajah senangnya dengan memasang wajah datar. Bahkan terkesan dingin. Padahal ia sudah mengira bila Elea tidak akan menuruti permintaannya. Namun rupanya, ia salah mengira.


Nyatanya Elea sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Menatapnya dengan wajah tegang.


"Apa aku datang terlambat, Tuan? Maaf, aku kesulitan menemukan alamat ini," ucap Elea.


"Tidak. Kau datang tepat waktu, Eleanor. Silahkan masuk." Ben bersorak gembira dalam hatinya begitu Elea melangkahkan kakinya masuk. Tangannya pun tergerak cepat mengunci pintu apartemen. Tak ingin si merpati terlepas dari sangkarnya.


"Silahkan duduk." Ben mempersilahkan sembari mendudukkan diri lebih dahulu.


Mengambil duduk di sofa itu, jantung Elea berdegup kencang. Ia me-remas jari jemarinya gugup. Sebab kedatangannya ke tempat ini adalah untuk menjual tubuhnya.


Tidak ada jalan lain yang terpikirkan olehnya selain tawaran yang pernah diberikan Ben kepadanya. Dan hanya inilah satu-satunya cara yang tersisa.


"Langsung saja, Eleanor. Kedatanganmu malam ini..."


"Aku menerima tawaranmu, Tuan." Cepat Elea menyela ucapan Ben.


Ben pun tertegun, menatap lekat sepasang mata Elea. Jiwa lelakinya tertantang, lalu mendadak bergejolak.


"Aku bersedia menghabiskan malamku bersamamu."

__ADS_1


*


__ADS_2