
Chap 35. Anak Ayam Dan Seekor Buaya
Semalaman Ben kesulitan memejamkan matanya. Kantuk seolah terusir dari kelopak matanya. Sehingga sepanjang malam hampir ia habiskan dengan menatap wajah Elea yang tertidur lelap di sampingnya.
Resah juga gelisah mendera Ben semalaman akan keadaan yang dialami Elea. Ben bahkan merasa penasaran akan hal apa yang memotivasi Elea sehingga melakukan hal ini.
Terdorong oleh rasa penasarannya itulah akhirnya Ben menghubungi Mark. Meminta Mark mencaritahu malam itu juga tentang Elea.
Titah yang diberikan Ben pun memaksa Mark harus menyewa detektif ilegal demi mencari informasi tentang Elea hanya dalam waktu semalam. Bahkan Mark harus merogoh koceh dalam demi menyewa detektif ilegal tersebut.
PRAK
Bunyi heels yang menyentuh lantai itu menyentak Elea. Lalu refleks dihempasnya rangkulan tangan Ben dari pinggangnya. Lantas ia mengambil dua langkah mundur.
"kau, tolong jangan mempermainkanku, Tuan. Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang. Aku benar-benar berada dalam situasi darurat sekarang. Kalau kau tidak mau memberiku uangnya tidak apa-apa. Tapi biarkan aku pergi sekarang." Elea memutar tubuhnya cepat, meraih handel pintu, hendak membuka pintu itu. Namun lagi-lagi tangannya terhenti.
"Sebelum matahari terbit di bawah menara Eiffel!"
Seruan Ben membuat Elea sontak memutar kembali tubuhnya berhadapan dengan pria itu. Menatap pria itu serius dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Urusan daruratmu sudah selesai. Hutangmu sudah lunas." Melalui penyelidikan Mark dan detektif yang disewanya, Ben mengetahui bila Elea membantu sahabatnya melunasi hutang. Untuk itulah mengapa Elea membutuhkan uang. Dan Elea sudah harus membawa uang itu di bawah menara Eiffel sebelum matahari menyembul dari ufuk timur.
Memasuki waktu dinihari, Ben meminta Mark menggantikan Elea. Mark lah yang pergi bertransaksi dengan rentenir tersebut dibawah pengawasan Ben. Kembali dari bertransaksi, Ben mampir ke sebuah restoran cepat saji. Menunggu sebentar sampai restoran tersebut buka demi untuk membeli sarapan untuk Elea. Ben ingin pagi ini mereka sarapan bersama.
"Kau mengetahui ini dari mana?"
"Sebuah pertanyaan yang tidak perlu aku jawab. Jadi bagaimana Eleanor? Aku sudah melunasi hutang mu. Lalu apa yang bisa aku dapat dari mu?" Ben menatap penuh arti. Terlihat seperti mengejek, namun menikmati mengerjai Elea seperti ini.
"A-apa maksudmu, Tuan?" Elea salah tingkah, bersikap ambigu, berdiri diantara gugup dan rasa takut. Semula memang ia yang menantang, unjuk keberaniannya. Namun sekarang, mendadak ia seperti kucing kebasahan. Mendadak gugup dan ngeri membayangkan melakoni adegan dua satu plus dengan lelaki selain suaminya.
Elea hanya belum mengetahui saja bahwa Ben yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Ben suaminya.
Ben mengulum senyum melihat tingkah gugup Elea. Matanya memindai tubuh wanita itu dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan genit. Membuat Elea semakin salah tingkah, menarik-narik ke bawah dress di atas lutut yang ia kenakan. Berharap dress itu bisa menutupi pahanya.
Elea pun hanya bisa merutuki ide cemerlangnya disaat terjepit tersebut. Yang akhirnya malah membawanya pada situasi canggung di luar ekspektasinya. Yang awalnya ia pikir mudah ia lakukan.
__ADS_1
Semula Elea begitu bersemangat. Menganggap sepele adegan dua satu plus, lalu dengan ringannya kakinya melangkah mendatangi apartemen Ben. Hendak menawarkan diri dengan imbalan sejumlah besar uang.
Namun alhasil, ia malah menenggak habis wine yang terletak di meja sofa itu sampai tandas tak bersisa lantaran diserang gugup tak berkesudahan. Membuatnya mabuk dan tidak ingat apa yang telah terjadi semalam.
"Matamu lancang, Tuan. Kenapa terus melihatku seperti itu?" sembur Elea tak berbasa-basi lagi. Melayangkan tatapan tajam dan tak suka.
"Salahmu sendiri kenapa mengenakan pakaian seperti itu," sahut Ben enteng tanpa melepaskan tatapannya memindai setiap inci lekuk tubuh Elea dibalik dress ketat selutut yang membungkus tubuhnya.
Tak memungkiri, Ben teramat merindukan tubuh itu. Menyentuhnya, menghirup wanginya, bahkan ia rindu ingin ...
"Sial!" Ben mengumpat. Menghalau imajinasinya yang mulai menjalar liar ke mana-mana.
"Belum saatnya, Ben. Bersabarlah sebentar," bisik Ben dalam hatinya. Namun hatinya berdebar membayangkan reaksi Elea disaat ia mengungkap siapa dirinya yang sebenarnya.
"Tapi bukan berarti matamu bebas berkeliaran seperti itu, Tuan. Tatapanmu itu seperti ingin memangsa saja. Memangnya kau kira aku ini anak ayam?"
Ben terkekeh mendengarnya. "Dan aku adalah seekor buaya yang siap memangsa seekor anak ayam." Sembari membawa langkahnya lebih mendekat. Lalu meraih pergelangan Elea. Menariknya, membawanya ke sofa.
Sementara Elea yang tak bisa menghindari kecepatan tangan Ben, hanya bisa meronta, meminta untuk dilepaskan. Elea mengira Ben akan membawanya ke tempat tidur, mengobrak-abrik dirinya, sehingga membuatnya ketakutan.
"Lepas. Lepaskan aku, Tuan. Tolong lepaskan aku."
Elea pun tertegun, menatap tak berkedip sushi di depannya. Bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa mengetahui makanan kesukaannya. Apakah Ben mengetahui banyak tentang dirinya? Apakah Ben menyelidikinya? Ataukah memang Ben adalah ...
"Aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu. Tapi hanya restoran Jepang yang buka pagi-pagi sekali." Sembari mulai menyantap sarapannya, Ben berkata seolah tahu apa yang dipikirkan Elea. Dan ia mencoba menghalau pikiran Elea yang mulai menjurus ke arah yang benar. Belum saatnya Elea tahu semuanya. Ia ingin ketika jati dirinya terbuka di hadapan Elea, momen itu memberikan kesan yang indah.
Elea membuang napasnya pelan. Mengembuskan kelegaan, namun entah mengapa rasa sesak malah menyelinap masuk. Ada kekecewaan yang ia rasakan. Yang entah hal apa mendasari. Mungkinkah ia kecewa harapannya tidak sesuai kenyataan?
Kenyataan yang ia inginkan, yaitu Ben yang ini adalah suaminya. Tetapi ternyata, kenyataan tak seindah harapannya.
...
Sementara itu di mansion keluarga Cartier.
Nyonya Roberta mondar-mandir gelisah dengan ponsel menempel di telinganya. Wanita paruh baya itu terlihat kesal ketika panggilannya tak terhubung. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Memicu kemurkaan dalam dirinya.
__ADS_1
"Mark!" Nyonya Roberta memekik begitu panggilan terhubung. Ia memutuskan menghubungi Mark, asisten Ben.
Di seberang, Mark meringis, menjauhkan sejenak benda pipih berperanti canggih itu dari telinganya.
"Ya, Nyonya," sapanya kemudian saat telinganya mulai aman.
"Di mana Ben? Dia tidak pulang semalam! Apa kau sudah memastikan dia akan menghadiri pertemuan ini?" sembur Nyonya Roberta berang.
"Tuan Ben menginap di hotel, Nyonya. Katanya untuk mengawasi kinerja karyawan secara langsung. Tuan Ben, tidak ingin ada kesalahan dalam menyambut pak menteri," kilah Mark demi melindungi Ben. Mark tahu Ben sedang bersama Elea di apartemennya.
"Benarkah?"
"Benar, Nyonya. Nyonya tidak perlu khawatir. Tuan Ben sudah berada di hotel."
"Baiklah. Awasi dia. Jangan sampai dia pergi seperti yang pernah terjadi. Jangan ulangi lagi kesalahan yang sama."
Dahulu, Ben pernah kabur dari perjamuan makan malam yang diadakan keluarga Rodrigues secara tertutup. Ben saat itu hanya merasa tidak nyaman dan muak karena baik keluarganya maupun keluarga Rodrigues tak henti membicarakan hubungannya dengan Camila. Hal itu membuat Ben muak.
...
Sedangkan di mansion keluarga Rodrigues.
Catherine tengah memperbaiki simpul dasi di leher Harvey. Senyumnya terkembang tipis. Sementara sepasang mata Harvey senantiasa menatap wajah berseri sang istri.
"Cobalah untuk berbasa-basi dengan calon menantumu. Kau sudah harus mulai membangun hubunganmu dengan Ben dari sekarang. Tolong jangan kau kecewakan putrimu. Suka tidak suka, Ben adalah pilihan putrimu. Lagi pula, tidak ada yang salah dengan Ben. Dia itu pria yang baik, pekerja keras, dan ... TAMPAN!" Catherine memberi penekanan pada kata terakhirnya. Membuat Harvey meniupkan napasnya malas.
"Putrimu itu kurang pandai memilih. Dia menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Aku ini laki-laki. Aku tahu mana laki-laki yang tulus mencintai dan mana yang tidak."
"Jadi maksudmu, Ben tidak mencintai Camila?"
"Entahlah. Tapi, tatapan laki-laki itu pada Camila berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Aku rasa laki-laki itu memiliki wanita idaman lain. Jika tidak, mana mungkin dia tidak terpesona pada Camila. Padahal Camila cantik, anggun, dan berkelas."
__ADS_1
Tanpa Harvey dan Catherine sadari, obrolan mereka sampai ke telinga Camila yang berdiri di balik pintu kamar yang terbuka setengahnya.
*