
Chap 56. Mana Buktinya
"Aku hamil, Ben."
"Ap-apa katamu?" Ben terkejut, terkesiap menatap tajam Camila.
"Aku hamil Ben. Hamil anak kita." Sekali lagi Camila memperjelas ucapannya.
Dan kali ini bukan hanya Ben saja yang terkejut. Elea yang berdiri di belakang Ben pun sangat terkejut mendengarnya.
Merasa penasaran siapa tamu yang datang, Elea pun ingin tahu. Lantas ia datang menghampiri. Namun langkahnya terhenti ketika didengarnya sebuah kalimat yang membuatnya terpaku di balik punggung Ben.
"Hamil?" Elea mengulang kata itu dengan intonasi menuntut tanya. Yang sontak membuat Ben terkejut, lalu menoleh ke belakang segera.
"Elea?" Bergegas Ben menghampiri Elea. Yang memberi raut penuh tanya sekaligus menuntut kebenaran akan apa yang baru saja di dengarnya.
Tangan Ben terulur hendak menyentuh Elea. Namun Elea menepis tangan itu cepat. Ben pun disergap panik.
Sementara Camila malah membawa langkahnya masuk. Lantaran didengarnya ada suara perempuan di dalam apartemen Ben. Betapa terkejutnya Camila saat melihat perempuan itu ternyata adalah Elea. Hal yang ditakutinya belakangan ini akhirnya terjadi juga.
"Kau? Apa yang kau lakukan di tempat ini?" Bukannya tahu diri Camila malah melayangkan pertanyaan yang seharusnya tertuju untuknya.
Elea menajamkan tatapan, menghunus tepat sampai ke jantung Camila.
"Seharusnya aku yang bertanya. Untuk apa kau datang menemui suamiku." Elea menyemburkan kata yang membuat Camila terkejut.
"Su-suami?" Camila tertawa kecil untuk menutupi kekesalannya.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau menyebut Ben suamimu?" sambungnya berlagak tak percaya.
"Putri seorang menteri berkeliaran sendirian di luar tanpa pengawalan, apa itu tidak berbahaya?" Sembari Elea menyeret langkahnya menghampiri Camila, menatap remeh wanita tak tahu malu itu. Sayangnya, adalah adik tirinya. Satu kenyataan yang membuatnya miris.
Sedangkan Ben dilanda kebingungan. Bingung tiba-tiba Camila mengaku hamil, bingung entah ia harus berbuat apa.
"Tentang siapa aku itu bukan urusanmu. Yang menjadi urusanmu adalah, kau mendatangi orang yang salah. Ben adalah calon suamiku. Dan aku sedang mengandung anaknya sekarang. Apa perlu aku pertegas lagi?"
__ADS_1
Elea tersenyum miring. "Justru kau yang salah mendatangi orang, Nona yang terhormat. Kau itu mirip jallang. Sangat disayangkan, putri orang yang terpandang di negeri ini malah suka sekali merebut yang bukan miliknya."
"Elea, please. Tidak perlu meladeni dia." Ben berusaha melerai perdebatan diantara mereka. Namun lagi-lagi Elea menepis tangannya yang hendak menyentuh Elea.
"Ben itu milikku, sejak awal. Kami bahkan akan segera menikah. Dan sekarang aku sedang mengandung buah cinta kami. Jadi kau, enyah lah dari kehidupan Ben. Kau siapa, berani sekali mengakui Ben sebagai suamimu." Camila benar-benar tak mau kalah, semakin sengit ia melawan. Bahkan berani menunjukkan raut penuh amarahnya kepada Elea.
Sedangkan Elea malah menanggapinya santai. Walau pengakuan Camila akan kehamilannya sesungguhnya membuat Elea sakit hati. Namun Elea berusaha berpikir positif, memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Yang bisa saja jika Camila tengah berbohong, atau sedang berusaha menjebak Ben untuk yang kedua kali.
"Kau pikir aku percaya kalau kau hamil? Jika benar kau hamil, mana buktinya."
Camila kelabakan. Ia datang tanpa persiapan yang matang. Dengan menyelidiki Ben diam-diam, ia mengetahui Ben berada di apartemen. Tetapi ia tak menyangka jika ada Elea bersama Ben.
Untuk menjebak Ben, jelas Camila membutuhkan bukti. Setidaknya bukti pemeriksaan hasil USG atau hasil test urine. Namun bukti yang ia punya hanya bukti pemeriksaan kesehatannya. Lalu bagaimana caranya ia meyakinkan Ben tentang kehamilannya?
"Kau tidak punya buktinya kan?" tanya Elea bernada rendah namun meremehkan.
"Camila, apa kau sedang mempermainkanku? Kita memang pernah tidur bersama. Tapi bisa saja kau menipuku. Karena saat itu aku tidak ingat apapun." Ben menambahkan.
"Ben, apa kau kira aku ini wanita murahhan yang dengan gampangnya menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki?" Camila tak terima Ben ikut-ikutan meremehkannya.
"Tapi kenyataannya seperti itu kan? Kau itu hanya jallang yang tak tahu malu," tandas Elea berang. Tak bisa lagi membendung amarahnya. Sampai-sampai membuat Camila geram, jengkel dan sakit hati.
"Apa kau sudah gila Camila!" Ben berseru lantang penuh amarah, menatap nyalang pada Camila. Yang gagal menampar Elea.
Kasar Camila menghempas tangan Ben dari pergelangannya. "Lepaskan!"
"Kau ingin menyakiti istriku? Tidak akan pernah aku biarkan hal itu terjadi Camila. Seujung rambut pun, tidak akan aku biarkan kau menyentuh istriku. Jika sampai kau melakukan itu sekali lagi, aku tidak akan segan untuk membalasmu," sembur Ben dengan mata menyalak emosi.
"Ben, apa kau sadar? Dia sudah merebutmu dariku. Dan aku tidak terima kau lebih berpihak padanya. Aku ini calon istrimu, Ben." Camila mulai menunjukkan wajah memelas. Ingin Ben jatuh iba kepadanya. Namun hal itu malah membuat Elea muak bahkan murka.
"Kau yang sudah merebutnya dariku. Kau boleh merebut ibuku. Silahkan kau ambil. Tapi jangan pernah harap kau bisa merebut Ben dariku. Tidak akan pernah aku biarkan hal itu terjadi," kata Elea.
"Merebut ibumu kau bilang?" Camila menatap penuh tanya. Meski diliputi kemurkaan namun ia menyimak setiap kalimat dengan baik. Termasuk kalimat yang dilontarkan Elea.
"Camila, ada hal penting yang harus kau tahu. Rahasia yang disembunyikan ibumu bertahun-tahun lamanya. Elea ini adalah ..." Ben menghela napasnya sejenak. Sebelum akhirnya kembali berkata,
__ADS_1
"Kakakmu."
Camila terkesiap. Terpaku seribu bahasa di tempatnya. Berusaha mencerna kata terakhir yang diucapkan Ben. Yang membuat kepalanya mendadak pusing.
...
Sementara di lain tempat.
"Eleanor Wisse, putriku. Istrinya Ben adalah putriku. Aku ingin sekali memberitahukan hal ini padamu. Tapi aku masih takut dengan reaksimu nanti." Catherine berkata disertai isak tangis.
Harvey yang hendak beranjak pergi pun terpaksa harus menghentikan langkahnya. Lalu mendengarkan penuturan Catherine, yang membuatnya terkejut luar biasa.
Bukan hanya Harvey yang terkejut mendengarnya, Tuan Albert pun ikut terkejut. Lalu memasang telinga, menyimak penjelasan Catherine akan situasi yang mengejutkan ini. Seperti sebuah kebetulan, namun ini adalah takdir.
"Jadi, perempuan yang berhasil membuat putriku terluka itu adalah putrimu?" gumam Harvey lesu.
"Aku juga baru mengetahui ini dari Ben. Mereka sudah menikah dua tahun lalu. Dan Camila terlibat dalam memisahkan Ben dari Elea. Aku juga sempat memergoki Camila pagi ini menghubungi seseorang sebelum aku ke rumah sakit." Catherine pun menceritakan sebelum ia pergi ke rumah sakit, ia sempat mendengar Camila tengah menghubungi seseorang melalui telepon.
Catherine tidak tahu siapa yang dihubungi Camila. Namun Catherine sempat mendengar Camila memerintah seseorang tersebut untuk melenyapkan Elea. Hal itu membuat Catherine jelas harus melakukan sesuatu sebelum terjadi apa-apa kepada Elea. Termasuk harus memberitahu hal ini secepatnya kepada Harvey.
"Nyonya Catherine, mohon maaf. Jadi, Eleanor, istri Ben itu adalah putri Nyonya?" tanya Tuan Albert tak bisa membendung rasa penasarannya.
Catherine pun mengangguk. "Ya, Tuan Albert. Elea adalah putri kandungku dari pernikahan pertamaku. Elea terpisah dariku bertahun-tahun lamanya karena suatu keadaan. Dan aku baru dipertemukan dengannya berkat Ben."
"Oh ... Begitu ya? Takdir itu terkadang unik. Aku ikut bahagia melihat putraku bahagia. Dia sangat mencintai putri Nyonya. Dari yang aku lihat, sepertinya putri Nyonya itu sangat baik dan berhati lembut. Pantas saja Ben tergila-gila padanya."
Senyum Catherine terkembang mendengar Elea dipuji sedemikian rupa. "Terimakasih, Tuan Albert."
"Aku senang Ben akhirnya menemukan wanita yang tepat menjadi pendamping hidupnya. Mungkin setelah ini, aku berencana untuk memperkenalkan istri Ben kepada khalayak ramai. Aku juga sangat ingin mengadakan pesta untuk mereka berdua."
"Di mana Camila sekarang?" tanya Harvey.
Catherine hendak menjawab pertanyaan Harvey saat tiba-tiba ponselnya berdering. Diambilnya cepat ponsel dari dalam tasnya. Nama Benedict tertera jelas di layar ponsel tersebut. Bergegas Catherine menjawab panggilan tersebut.
"Maaf, Nyonya Catherine. Camila berada di tempatku sekarang. Dia pingsan."
__ADS_1
Seperti itu kata Ben begitu Catherine menggulir tombol hijau dan menyapa ketika panggilan terhubung. Catherine pun terperangah mendengarnya.
*