In Your Memories

In Your Memories
Chap 42. Maafkan Aku


__ADS_3

Chap 42. Maafkan Aku


"Kau bisa menjelaskan ini padaku?" ucap Elea dengan bibir bergetar.


Siapa sangka, pria yang berdiri di hadapannya saat ini ternyata adalah pria yang menikahinya dua tahun lalu. Namun pergi meninggalkannya tanpa penjelasan apa pun. Pria itu pergi seperti seorang pengecut yang tidak bertanggung jawab.


Ben menatap Elea lekat, menghela napasnya sejenak, sebelum akhirnya berkata.


"Elea, maafkan aku." Kalimat itu adalah sebagai bentuk penyesalan terdalam Ben. Menyesal atas apa dilakukannya terhadap Elea dua tahun lamanya. Walau Elea mungkin tidak akan memberi maaf, namun ia akan terus meminta maaf. Sampai lidahnya terasa kelu, sampai kuping Elea tuli mendengarnya.


"Sejak kapan? Sejak kapan kau mempermainkanku seperti ini?" Ada sesak yang mulai memenuhi rongga dadanya. Dada itu bahkan mulai bergemuruh hebat ketika Elea mengetahui bahwa ternyata ia dipermainkan. Kedua matanya bahkan mulai terasa panas dan berkaca-kaca. Pandangannya mengabur, tertutupi oleh gumpalan air yang menggenang di kelopak mata itu.


"Apakah sejak pertamakali kita bertemu di minimarket waktu itu?" tanya Elea dengan bibir bergetar menahan tangis agar tak sampai pecah, dan akhirnya malah membuatnya lemah.


"Elea ... Aku ..."


"Dua tahun lalu? Kau mempermainkanku sejak dua tahun lalu?" Lama-kelamaan genangan air mata itu terasa berat. Lalu pada akhirnya luruh berjatuhan membasahi pipinya.


Walau dadanya terasa semakin sesak, namun Elea berusaha tegar. Menguatkan hati dan perasaannya sendiri. Ia baru tahu, ternyata Ben yang dikenalnya adalah seseorang yang berasal dari keluarga berada. Seseorang yang belum lama ia katakan adalah pria yang beruntung karena bisa menikahi putri perdana menteri. Dan ternyata orang itu adalah suaminya sendiri.


"Elea aku minta maaf. Aku tidak pernah bermaksud mempermainkanmu, membohongimu, ataupun menipumu. Aku memiliki alasan kenapa aku melakukan semua ini, tidak memberitahumu sejak awal. Tapi Elea, lihatlah aku." Ben membawa langkahnya mendekat perlahan.


Satu langkah maju Ben adalah satu langkah mundur Elea. Setiap Ben mendekat, maka Elea akan menjauh. Mundur selangkah demi selangkah. Seiring langkah Ben yang semakin mendekat.


"Ini aku Elea, suamimu. Tidakkah kau merindukanku?" sambung Ben mulai merayu. Dengan wajah memelas penuh penyesalan. Ben sungguh tak tahan melihat air mata di wajah Elea. Satu kata maaf saja dari Elea, maka Ben akan langsung merengkuh Elea ke dalam dekapannya. Untuk mencurahkan kerinduannya yang mendalam. Menghapus air mata itu, lalu mengecup keningnya. Sungguh Ben ingin sekali melakukan hal itu.


Namun Elea malah tersenyum miring, sinis menatap Ben dengan penuh kebencian. Benci akan perlakuan Ben selama ini. Yang pergi meninggalkannya dalam kebingungan dan kebodohan akan kenyataan baru yang kini terpampang jelas di depan matanya.


"Sekarang aku tahu kenapa kau pergi meninggalkanku. Ternyata sudah ada orang lain yang membuatmu nyaman. Sehingga kau melupakanku dan tidak pernah kembali lagi untukku. Apa kau tahu selama dua tahun aku merindukanmu? Aku bahkan seperti orang gila yang terus membayangkan kau akan datang menjemputku. Lalu membawaku ikut bersamamu ke manapun kau pergi. Tapi ternyata semua itu hanya mimpi bagiku," ucap Elea dengan nada pelan penuh kekecewaan. Kecewa karena harapannya tak seindah kenyataan.


"Elea ..."


"Ibumu benar. Aku ini bukan wanita yang pantas menjadi pendamping hidupmu. Aku ini hanya wanita miskin, yatim piatu, rendahan, dan menyedihkan. Mana mungkin wanita sepertiku bisa bersanding denganmu. Aku pikir kau benar-benar mencintaiku, tapi ternyata aku salah. Kau hanya mempermainkanku. Aku ini memang bodoh." Elea berpaling muka, menertawakan dirinya sendiri disertai air mata yang semakin deras berlinang.


"Ibuku? Kapan ibuku mengatakan itu padamu?" Ben terkejut manakala tahu bila ibunya pernah berkata sedemikian keji kepada Elea.

__ADS_1


"Dua tahun lalu."


"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?"


"Karena saat itu aku tidak mengenal ibumu. Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Aku tidak tahu pria yang aku cintai ternyata adalah seorang pembohong. Pembohong besar."


"Kau salah, Elea."


"Ya. Aku salah. Aku memang salah. Dan kesalahanku adalah mempercayaimu begitu saja. Percaya padamu yang jelas-jelas hanya membodohiku."


"Elea, aku kehilangan ingatanku. Selama dua tahun ini aku tidak mengingat apa pun." Ben mencoba memberi pembelaan dengan mengungkap kenyataan. Sekali pun Elea menganggapnya berbohong.


Dan lihatlah, Elea malah tertawa mendengar alasan Ben. Alasan yang baginya tidak masuk akal. Dan satu-satunya alasan yang masuk akal bagi Elea adalah Camila. Wanita yang membuat Ben melupakannya.


"Waaah Tuan Ben. Kau sangat pandai membuat alasan. Seharusnya kau diberi penghargaan atas prestasimu yang sukses membuat hidup orang lain menderita. Kau sukses menghancurkan hati orang lain. Dan kau sangat berbakat untuk itu. Aku ucapkan selamat, Tuan Ben." Elea bertepuk tangan sembari tersenyum pilu. Senyum yang menyedihkan. Senyum yang menyembunyikan luka dibaliknya.


"Elea, tolong dengarkan aku dulu." Ben kembali membawa langkahnya mendekat.


Dan Elea pun membawa langkahnya mundur.


"Meceraikanmu? Tidak, Elea. Aku tidak akan pernah melakukan hal yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Sekeras apa pun kau meminta, aku tidak akan menceraikanmu. Karena aku sangat mencintaimu, Eleanor Wisse." Ben berkata dengan raut wajah serius dan bersungguh-sungguh. Berharap Elea mempercayainya lalu memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.


"Kau berharap aku mempercayainya, Tuan Benedict?" Elea mencibir, mengulum senyum sinis menatap Ben sadis. Namun hatinya teriris mendengar ungkapan cinta Ben, yang dahulu terasa begitu manis. Namun kini malah membuatnya ingin menangis.


"Ya ampun, Ben. Kau memang ahlinya dalam berbohong. Tahukah kau seperti apa perasaanku saat ini? Kau menyakiti hatiku, Ben." Akhirnya Eela pun tak bisa menahan desakan tangis yang membuatnya terisak pilu sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Isak tangis Elea membuat perasaan bersalah Ben semakin bertumpuk-tumpuk.


"Elea, mari kita bicarakan ini baik-baik." Sekali lagi Ben mendekat dengan membawa langkah seringan mungkin. Memanfaatkan keadaan Elea yang tengah menutup wajahnya. Dan tanpa Elea sempat menghindar, Ben pun berhasil menarik Elea. Lalu merengkuhnya, mendekapnya erat.


Dalam dekapan Ben, isak tangis Elea terdengar semakin pilu menyayat hati.


"Maafkan aku, Elea. Aku tahu seperti apa perasaanmu saat ini. Tapi apa kau juga tahu seperti apa perasaanku saat ini?" ucap Ben lirih setengah berbisik.


Elea tak menanggapi.

__ADS_1


"Aku sangat, sangat, saaangat merindukanmu," ungkap Ben setulus hati sembari mempererat dekapannya.


Dan tak disangka, pelukan Ben pun berbalas. Elea membalas pelukan itu sama eratnya. Disertai ungkapan yang membuat Ben tersentuh. Lalu tanpa sadar menjatuhkan bulir-bulir air mata di pipinya.


"Aku pun sangat merindukanmu, Ben."


...


Sementara di lain tempat.


"Mom, tell me something about love (Mom, ceritakan padaku sesuatu tentang cinta)," pinta Camila sembari menggamit lengan Catherine, menyandarkan kepalanya manja di pundak Catherine. Mendadak Camila diserang takut. Takut akan kehilangan Ben, setelah ia melihat wanita masa lalu Ben berada di sekitar Ben.


Catherine tertawa kecil. "Apa yang ingin kau dengar tentang cinta? Hm?" Sembari membawa satu tangannya membelai wajah Camila.


"Aku ingin tahu apa rahasia Mommy sampai Daddy begitu mencintaimu. Aku pun ingin Ben mencintaiku seperti Daddy mencintaimu, Mom."


"Apa kau sangat mencintai Ben?"


"Hm. Aku bahkan sanggup melakukan apa pun demi Ben."


Catherine diam sejenak. Dalam kepalanya terbayang-bayang kedekatan Ben dan Elea. Bagaimana jika wanita idaman Ben ternyata adalah Elea, dan bukan Camila?


Terus terang saja, Catherine pun sangat menginginkan Elea hidup berbahagia.


"Camila, apa kau yakin Ben juga mencintaimu?" Pertanyaan tiba-tiba Catherine membuat Camila mengangkat kepalanya. Lalu menatap tajam ibunya.


"Apa maksudmu, Mom?"


"Bagaimana jika seandainya Ben malah mencintai wanita lain. Apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan menyingkirkan wanita itu bagaimanapun caranya."


Jawaban Camila pun membuat Catherine terpaku.


*

__ADS_1


__ADS_2