
Chap 22. Menolak
"Hanya satu malam?"
"Ya. Hanya satu malam." Sedari tadi jantung Ben berdegup kencang begitu berada dekat dengan Elea. Sungguh lucu rasanya ia ingin membeli satu malam istrinya sendiri. Ia hanya ingin tahu apakah benar tidak ada laki-laki lain dalam kehidupan Elea selain dirinya seperti yang dikatakan Elea beberapa saat lalu.
"Aku ingin kau menghabiskan malammu bersamaku," tambah Ben dengan wajah serius.
Sementara Elea merasa semakin sesak saja membayangkan menghabiskan malam bersama Ben. Meski ia ingin memastikan sendiri jika Benedict, pria yang berada di hadapannya saat ini benar bukan Ben suaminya.
Tatapan Elea pun turun ke bagian leher Ben yang tertutupi oleh turtleneck yang dikenakannya. Jika ia menolak tawaran Ben, maka kesempatannya untuk menemukan satu bukti terlewatkan dengan percuma.
Lalu haruskah Elea menerima tawaran Ben?
"Bukankah kau pernah berkata padaku bahwa kau bersedia tidur denganku dengan satu syarat? Aku masih mengingat syarat itu," tambah Ben berupaya menggoyahkan hati Elea.
"Kau akan berada di sisiku sampai kau menemukan suamimu. Dengan syarat, kau berikan tubuhmu padaku." Ben semakin menatap lekat Elea. Deru napasnya masih memburu lantaran menahan gejolak hasratnya yang kian menguasai tubuhnya.
Sementara Elea menelan salivanya dalam. Rupanya Ben tak menganggap angin lalu ucapannya saat itu. Padahal ia hanya menggertak saja. Lalu sekarang ia harus bagaimana?
Karena terus terang saja, ia sangat membutuhkan uang untuk melunasi hutang Jane. Meskipun ia sudah mendapatkan pekerjaan paruh waktu, tetap saja ia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan uangnya. Sementara hutang Jane sudah harus dilunasi esok hari.
Menghela napasnya panjang, Elea mencoba mengatur degup jantungnya yang mulai kacau balau. Elea sudah membuka mulutnya, hendak menanggapi ucapan Ben saat tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Dari pintu itu masuk Chris. Yang datang dengan senyum terkembang lebar. Kedatangan Chris pun mengurai rangkulan Ben di pinggang Elea. Dan hal itu dimanfaatkan Elea untuk menjauh dari Ben.
Elea beranjak, bergegas keluar dari ruangan bercahaya temaram itu tanpa menghiraukan Ben lagi.
"Hei, kau. Eleanor, aku belum selesai bicara denganmu," panggil Ben dengan suara kencang sembari melangkah sempoyongan menyusul langkah Elea yang telah sampai di ambang pintu.
"Ben, ada apa kawan?" Chris pun menyusul langkah Ben karena cemas melihat keadaan Ben.
"Eleanor, tunggu." Ben berhasil menyusul langkah Elea dan menahan pergelangan tangannya sebelum wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya.
"Ada apa, Ben? Kau membutuhkan sesuatu?" tawar Chris.
__ADS_1
"Urusanku dengan perempuan ini belum selesai," sahut Ben dengan nada dan intonasi yang berbeda. Ben seperti sedang mabuk. Mungkin, karena yang terlihat adalah demikian. Belum lagi sudah beberapa botol wine yang dihabiskan Ben.
Chris mengenal Ben sejak lama. Bahkan Ben adalah pengunjung setia bar nya dikala pria itu sedang suntuk. Tiga botol wine masih belum bisa membuat seorang Benedict mabuk berat. Namun kali ini, apakah Ben sedang berpura-pura mabuk?
"Sepertinya kau mabuk berat, Tuan. Maaf, aku tidak bisa menerima tawaran orang yang sedang mabuk," ucap Elea dan hendak beranjak.
Namun Ben masih menahan pergelangan tangannya. Ben lalu meminta bolpoin pada Chris. Chris pun memberikannya.
Ben kemudian meraih telapak tangan Elea, menuliskan sesuatu pada telapak tangan itu. Setelah selesai, Ben lalu mengembalikan bolpoin itu kepada Chris.
"Datanglah ke alamat itu. Aku akan menunggumu di sana setiap malam," ujar Ben dengan gaya orang yang sedang mabuk.
Elea tak menggubris ucapan Ben. Elea mengabaikannya lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa.
Ben pun meniupkan napasnya kasar seperginya Elea. Ia sedikit kecewa, namun berharap Elea menuruti permintaannya. Sebab di hari dimana Elea datang, saat itulah ia akan membuka jati dirinya yang sebenarnya. Bahwa apa yang Elea yakini adalah benar. Ia adalah Ben, pria yang telah menikahi Elea dua tahun lalu di London.
"Aku tahu kau tidak mabuk Ben," ujar Chris.
Ben menarik sudut bibirnya sinis.
"Apa kau tertarik padanya? Lalu kenapa kau memintaku memecatnya? Padahal dari yang aku lihat, sepertinya Eleanor membutuhkan pekerjaan itu."
Ya. Dalam hatinya saja.
Jangankan membiarkan, membayangkan Elea dirayu sampai disentuh oleh pria-pria hidung belang saja Ben tak kuasa.
...
Dengan langkah terburu-buru Elea memasuki kamar kontrakan. Dilihatnya Jane tengah berbaring memunggungi. Elea pun jadi merasa bersalah karena terlalu lama meninggalkan Jane yang sedang terluka sendirian. Padahal ia keluar rumah hanya sebentar saja untuk membeli obat. Tetapi gara-gara bertemu Ben, ia jadi telat mengobati luka Jane.
"Jane, maafkan aku. Aku sudah terlalu lama meninggalkanmu. Aku pergi untuk membeli obat, tapi ada sedikit hambatan di jalan. Bangunlah dulu sebentar, biar aku obati lukamu," ujar Elea sembari mendudukkan diri di tepian tempat tidur, lalu membuka kantong yang berisi obat-obatan yang dibelinya di apotik.
Terlebih dahulu Elea membersihkan luka di dahi Jane menggunakan kapas dan alkohol. Jane meringis kesakitan. Namun setelahnya perhatian Jane malah tertuju pada telapak tangan Elea, yang bertuliskan sebuah alamat.
"Kau seperti anak kecil saja. Kenapa kau mencoret telapak tanganmu?" celoteh Jane.
__ADS_1
Elea tak menggubris celotehan Jane. Ia tetap fokus mengobati dahi Jane.
"Alamat rumah siapa yang kau tulis di telapak tanganmu, Elea?" tanya Jane penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Sudah, diamlah. Aku harus mengobati lukamu." Elea sudah berusaha fokus, namun pikirannya malah ke mana-mana. Ia teringat kembali kalimat terakhir Ben.
"Aku akan menunggumu di sana setiap malam."
Elea pun meniupkan napasnya panjang. Lagi-lagi jantungnya mendadak berdegup kencang bila terbayang wajah Ben.
...
Sementara di sudut lain kota Paris.
Pulang larut malam bukan pertamakali bagi Ben. Ben sering pulang larut bila sedang suntuk di dalam rumah dan memilih menghabiskan waktu di luar rumah. Bahkan terkadang Ben pulang dalam keadaan mabuk.
Pulang ke rumah, Ben malah disambut oleh omelan tak berguna Nyonya Roberta.
"Kau dari mana saja, Ben? Kenapa kau pulang selarut ini? Mana kau bau alkohol. Sejak kapan kebiasaanmu minum-minum kambuh lagi? Apa kau tahu, bukan hanya ibu mu ini saja yang mengkhawatirkanmu, Ben. Camila sudah berkali-kali menghubungi Mommy, menanyakan apa kau sudah kembali ke rumah?" cecar Nyonya Roberta mengekor di belakang Ben sampai ke kamarnya.
Namun cepat Ben mencegah sang ibu masuk ke kamarnya. Jika dibiarkan bisa-bisa sepanjang malam sang ibu mengomel hanya karena perkara Camila.
"Mom, aku mau istirahat. Apa pun yang ingin kau sampaikan malam ini, tunda dulu sampai besok," ujar Ben.
"Tidak bisa. Mommy harus menyampaikannya padamu malam ini. Camila baru saja memberitahu Mommy, orangtuanya baru kembali dari kunjungannya di London. Dan mereka meminta waktumu untuk bertemu. Mereka ingin membicarakan masalah pernikahanmu dengan Camila. Dan Mommy sudah menyetujuinya. Kau akan meluangkan waktumu lusa nanti."
"Mom?" Ben menghardik Nyonya Roberta, hingga Nyonya Roberta tersentak kaget.
"Kau keterlaluan. Kau sudah terlalu sering mengabaikan Camila. Dan Mommy tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Camila itu wanita yang baik. Dan dia berasal dari keluarga terpandang. Dengan menikahinya kau tidak akan mempermalukan keluarga Cartier. Mommy tidak mau mendengar ada wanita lain dalam hidupmu selain Camila. Kau camkan itu baik-baik."
"Mom, kau ..." belum sempat Ben menyelesaikan kalimatnya, Nyonya Roberta malah memutar tubuhnya cepat, lalu melenggang meninggalkan Ben dengan kekesalannya.
Ben hanya bisa membuang napasnya berat, kemudian masuk ke kamarnya. Ben membuka lemari pakaiannya, hendak mengambil pakaian ganti saat matanya melihat amplop cokelat yang ia simpan di dalam lemari tersebut.
Ben mengambil amplop tersebut, membukanya, lalu mengeluarkan isinya. Gurat amarah pun terlihat di wajah Ben saat melihat foto-foto Elea yang sedang dipeluk oleh seorang laki-laki.
__ADS_1
"Kau harus menjelaskannya padaku, Eleanor. Siapa laki-laki itu," gumam Ben mengepalkan tinjunya.
*