
Chap 28. Dipercepat
Di luar aula itu Elea masih berdiri, mendengar suara seorang wanita yang tengah berdebat dengan seorang pria. Yang suaranya sudah tidak asing lagi di telinganya.
Terdorong oleh rasa penasarannya, Elea pun mendekat. Ia mengintip dari balik pintu aula yang terbuka. Di kejauhan sana, ia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang berdebat dengan Ben.
"Urusan Mommy di sini belum selesai, Ben. Kau kembalilah saja ke ruanganmu. Biarkan Mommy menyelesaikan masalah Mommy sendiri," ucap Nyonya Roberta.
"Memangnya apa masalahmu, Mom. Kau hanya menghambat pekerjaan karyawanku saja."
"Mommy hanya perlu memastikan sesuatu saja. Tidak akan lama, Ben."
"Kalau begitu katakan padaku, siapa yang sedang Mommy cari?"
"Eleanor," gumam Nyonya Roberta membatin.
Nyonya Roberta tampak menghela napasnya sejenak. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Ben terang-terangan. Ia memilih diam. Sebab ia tak ingin Ben mengingat kembali nama wanita itu sekaligus pemilik nama itu. Bila perlu ia ingin menyingkirkan wanita itu untuk kedua kalinya.
Sementara dibalik pintu itu, Elea masih mengintip dan menguping pembicaraan antara ibu dan anak tersebut. Dahi Elea pun berkerut saat pandangannya semakin jelas melihat Nyonya Roberta. Dan seketika ingatannya kembali ke masa dua tahun lalu.
Dimana saat itu, wanita paruh baya tersebut merupakan pengunjung restoran siap saji tempat Elea bekerja. Tiada angin tiada hujan, tanpa Elea tahu sebabnya, wanita itu menghinanya di depan banyak orang. Mengatainya perempuan miskin, rendahan, dan tidak jelas asal-usulnya. Karena Elea adalah seorang yatim piatu. Dan yang lebih parahnya lagi, wanita itu mengatai Elea perempuan murahan.
Elea merasa sangat dipermalukan saat itu. Elea benar-benar tidak tahu penyebab wanita itu mencelanya di depan banyak pengunjung restoran. Elea sakit hati, namun Elea memilih untuk tidak menceritakannya kepada Ben saat itu. Elea memilih melupakan saja kejadian itu.
"Perempuan miskin, rendahan, tidak jelas asal-usulnya, dan murahan sepertimu ini sangat tidak pantas menjadi menantuku. Kau hanya pantas bersama orang-orang sejenis mu, yang sederajat dengan mu. Kau paham?"
Seperti itulah kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu dua tahun lalu. Kalimat tajam yang menyayat kalbu itu Elea kubur dalam-dalam agar tidak semakin membuatnya sakit hati. Karena sayangnya, hal itu adalah kenyataan. Elea hanyalah seorang wanita miskin, yatim piatu dan tidak jelas asal-usulnya. Namun Elea bukan lah wanita murahan.
"Dengar semuanya ..." ujar Ben sembari menyapukan pandangannya pada deretan karyawannya.
"Angkat wajah kalian," sambung Ben.
Serentak semua karyawan pun mengangkat wajahnya. Dan terkesima seketika melihat ketampanan Ben, atasan mereka. Yang selama ini mereka hanya bisa melihatnya sekilas saja, namun kali ini mereka bisa melihatnya dengan jelas. Sungguh sebuah mahakarya Tuhan yang paling memanjakan mata.
"Silahkan, carilah siapa yang kau cari diantara mereka semua," ucap Ben beralih menatap Nyonya Roberta.
Nyonya Roberta tak lantas menuruti perkataan Ben. Wanita itu menghela napasnya, lalu memasang wajah kesalnya. Ia kesal belakangan ini Ben semakin memperlihatkan perubahan sikapnya. Ben tidak menuruti lagi setiap perkataannya.
__ADS_1
"Tolong, jangan membuang waktuku, Mom," ucap Ben pelan. Lalu memutar posisi tubuh berhadapan dengan deretan karyawan.
"Dengar, semuanya. Mulai saat ini, kalian tidak perlu lagi menundukkan wajah kalian jika bertemu denganku. Dengan begitu, aku bisa mengenali kalian semua. Paham?" ujar Ben.
"Paham, Tuan." Serentak semua karyawan menjawab dengan antusias. Terutama karyawan perempuan. Mereka bahkan terlihat senang mendengarnya.
"Sekarang kalian semua bubar. Lanjutkan pekerjaan kalian. Tamu adalah prioritas. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan," sahut karyawan serempak.
"Ya sudah. Bubar semuanya."
"Baik, Tuan." Semuanya pun membubarkan diri. Mereka saling berbisik keluar dari ruangan itu. Mereka merasa senang akhirnya bisa melihat secara langsung atasan mereka itu. Yang selama ini hanya bisa mereka pandangi ujung sepatunya saja bila bertemu atau berpapasan.
Sementara dibalik pintu aula itu, Elea bergegas mengambil langkah menghindar sebelum rekan-rekannya melihatnya berada di sekitar aula itu. Dari semua karyawan, hanya Elea yang tidak ikut berkumpul di aula. Untuk itulah Elea tidak ingin kedapatan berada di sekitar aula tersebut.
Namun sayangnya, netra tajam Ben sempat menangkap bayang sosok Elea sebelum wanita itu mengambil langkah menjauhi aula. Dahi Ben berkerut sambil terus memandang ke arah pintu aula.
Merasa penasaran, Ben pun bergegas membawa langkahnya keluar dari aula.
"Ben, kau mau ke mana?" pekik Nyonya Roberta kesal.
"Maaf, Nyonya. Aku permisi," pamit Mark hendak beranjak.
"Mark, tunggu dulu." Namun Nyonya Roberta mencegah Mark. Mark pun berbalik.
"Berikan padaku daftar nama-nama semua karyawan sekaligus biodatanya. Aku membutuhkan itu sekarang," titah Nyonya Roberta.
"Maaf, Nyonya. Tuan Ben melarang ku melakukannya."
"Mark, apa kau mau dipecat? Kau tentu tahu siapa aku?"
"Mohon maaf sekali lagi Nyonya. Aku hanya tidak ingin membantah Tuan Ben. Permisi, Nyonya." Bergegas Mark mengayunkan langkahnya keluar dari aula tersebut. Menghindari Nyonya Roberta yang terus mendesaknya meminta biodata semua karyawan Benedict Star Hotel.
Entah untuk alasan apa Nyonya Roberta memaksa menginginkan hal itu. Mark hanya tidak ingin Ben menaruh curiga lagi kepadanya. Sebab Nyonya Roberta memanfaatkannya untuk mengawasi gerak-gerik atasannya itu.
"Dasar manusia tidak berguna. Bisa-bisanya dia mengabaikan ku seperti ini. Awas kau ya," kesal Nyonya Roberta dengan wajah garangnya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku cari tahu saja sendiri, apakah yang dikatakan Camila itu benar," gumamnya.
...
Ben melangkahkan kakinya panjang. Pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan mencari sosok Elea yang sempat tertangkap penglihatannya sedang mengintip dari balik pintu aula beberapa saat lalu.
Ben sebetulnya merasa kesal, karena ia telah meminta Elea untuk tidak keluar dari kamar itu. Tetapi sayangnya, Elea malah mengabaikan permintaannya.
Di kejauhan, Ben melihat punggung Elea. Wanita itu berjalan cepat menuju salah satu ruangan. Ben pun hendak menyusul Elea saat tiba-tiba sebuah tepukan lembut terasa di pundaknya.
Ben menoleh, dan mendapati sang ayah mengulum senyum menatapnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Tuan Albert.
"Aku ... Aku ..."
"Kita ke ruangan mu saja. Daddy ingin bicara dengan mu. Ayo."
Ben pun tak bisa membantah, dan hanya bisa menurut saja.
"Daddy datang bersama Mommy kemari?" tanya Ben begitu mendudukkan diri di sofa ruangannya.
"Tidak. Daddy datang bersama supir. Daddy malah baru tahu kalau Mommy mu datang kemari. Oh ya, Daddy langsung saja." Tuan Albert menghela napasnya sejenak, sebelum kembali berkata,
"Besok kau harus mempersiapkan penyambutan yang bagus atas kunjungan keluarga Rodrigues ke hotel ini. Mereka tidak hanya datang untuk berkunjung saja, tetapi ada hal penting yang harus kita bahas dengan keluarga Rodrigues."
Ben membuang muka sembari menghela napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan. Ben terlihat malas jika orang tuanya mulai membahas tentang keluarga itu. Sebab ia sudah tahu hal penting apa yang di maksud oleh sang ayah. Hal penting apa lagi jika bukan ..."
"Yaitu ... Pernikahan mu dengan Camila yang akan dipercepat," pungkas Tuan Albert.
Sontak, Ben pun menoleh karena terkejut mendengarnya. "A-apa? Dipercepat?"
Tuan Albert mengangguk. "Ya. Dipercepat. Kau tahu kenapa?"
Ben menganga tak percaya. Bagaimana bisa pernikahan yang semula ia mengira masih jauh di depan, ternyata kini malah berada di depan mata. Ben pun mengusap wajahnya gusar.
Jika pernikahannya dengan Camila dipercepat, lalu bagaimana dengan Elea? Ben bahkan belum membuka jati dirinya di depan Elea. Dan Ben sudah mempunyai rencana untuk membawa Elea masuk ke dalam keluarganya.
__ADS_1
"Karena kau sudah meniduri Camila. Kalian bahkan melakukan hal itu tanpa menggunakan pengaman. Bagaimana jika Camila hamil nanti?"
*