Introvert

Introvert
1


__ADS_3

Jadi seorang introvert tak jauh dari kata pendiam, tak jarang teman-teman ku tak peduli akan hadir atau tidak nya aku di sekeliling nya.  Miris memang tapi mau bagaimana lagi?.



Hari ini hari yang menyebalkan, sudah terlambat bangun, di tambah dengan drama si Madya abang ku yang tak lain Azzam.



Bisa-bisa nya ia membawa motor ku dan menyelinap masuk kamar mengambil kunci motor walaupun bukan punya ku juga si,  itu punya bapak.



Alhasil,  aku terjebak di sini.  Di pinggir jalan dengan wajah dan mulut yang tak henti-henti nya mengumpati abang ku yang usilnya naudzubillah dan sial nya dia Abang ku.



Aku hanya menghela nafas kasar,  karena sudah 15 menit berlalu angkot tak kunjung datang, harus kah aku menelpon super man biar datang ke sini bawa aku terbang,  atau video call iron man biar satu sekolah heboh bahwa aku calon istri nya.



Ok Deir itu pemikiran yang absurd dan tak berfaedah yang kau pikirkan dalam otak mu yang pas-pasan itu.



Ku lirik jam tangan lusuh yang melekat di lengan ku,  aku berdecak sebal kala jam itu menunjukan pukul 06: 45 yang artinya 15 menit lagi gerbang akan di tutup.



"Oh ya ampun, angkot mana si" Kesal ku dengan menghentakan kaki.



Aku sudah seperti cacing kepanasan Syukur-syukur di obatin, lah ini di kacangin.  Babang angkot yang sungguh menyebalkan belum jua sampai.



Sampai pukul 06: 58 angkot pun datang,  aku menghela nafas lega namun tak urung jua bersedih,  pasalnya jarak dari rumah ke sekolah memakan waktu 15 menit itu pun jika aku memakai motor dengan mode ugal-ugalan bak pembalap amatiran.



Aku hanya menghela nafas lagi dan lagi pasrah kala angkot sampai di depan sekolah yang gerbang nya sudah di tutup rapat oleh sang satpam,  yang benar saja angkot yang aku tumpangi ngaret nya tak tertolong kan,  ini sudah pukul 7: 20 dan dengan manis nya aku baru sampai.



Ck. Ck. Ck aku berdecak merutuki diriku ini,  sudah sekolah di beri beasiswa pake acara terlambat.



"Pak satpam" Teriak ku memanggil satpam sekolah yang entah berantah ada dimana.



"Pak! Bukain dong pak" Teriak ku lagi sembari mata yang terus menerus mencari keberadaan pak Satpam.



"Loh Ra! Kok kamu ada di luar? " Dan pak satpam pun sampai dengan wajah bingung melihat ku yang kesiangan.



"Kesiangan aku tuh pak! " Jawab ku santai karena memang kami sudah akrab.



"Bukain dong Pak Hans" Lanjutku memohon agar pak satpam yang bernama Hans itu membuka gerbang yang besarnya 10 kali lipat dari tubuhku. Atau mungkin 50 kali.



"Tunggu guru bk aja Ya Ra! Bapak takut nya di marahi" Tutur pak Hans dengan wajah tak enak.


__ADS_1


Aku pun hanya mengangguk pasrah dan menunggu guru BK Datang menjemput ku untuk menerima hukuman.



Tit...



Tit..



Tit...



Suara klakson mobil mengejutkan ku dari belakang,  aku pun berbalik dan melihat mobil mewah tengah bertengger manis di depan ku.



Si pengemudi melongokan wajah nya dan mengayunkan dua jarinya agar aku menyingkir. Dengan senyum songong, tengil dan menyebalkan yang membuat ku ingin melempar seketika sepatu butut ku ke wajah nya.



"Minggir" Titah nya.



Aku pun dengan pasrah nya mempersilakan mobil mewah itu lewat,  dan dengan mudah nya ia masuk ke area sekolah tanpa menunggu guru BK,  orang kismin bisa apa si?.



"Huftt...  Holang kaya mah beda" Gumam ku melihat mobil itu dengan manis nya terparkir di dalam.



Setelah menunggu beberapa lama,  sekarang aku terdampar di sini,  di lapangan  bersama siswa-siswi yang terlambat,  entah harus di syukuri atau di rutuki? Hati ku menghangat tatkala sang pujaan  yang memberi hukuman.




"Ekhem" Deheman membuyarkan lamunan manis ku.



Seketika aku pun mengerjap tatkala dia, sang pangeran ada di depan ku.



"Kamu mengerti? " Tanya nya yang membuat ku mengernyitkan alis.



Oke sepertinya aku terlalu hanyut dalam hayalan sampai tak mendengarkan omongan.



"Oke yang lain bisa langsung kerjakan ya" Tutur nya memerintah pada yang lain dan kembali melihat ku.



Aku hanya menunduk dan tersenyum kikuk, tak lupa sembari meringis kebodohan ku.



"Lo kenapa bisa kesiangan? " Tanya nya lembut kepadaku,  atau memang aku saja yang merasa dia bertanya lembut.



"Maaf kak! Saya bangun kesiangan" Jawabku yang di balas anggukan.

__ADS_1



"Hmmm,  kebiasaan deh" Ucapnya mengacak rambut ku.



Seketika aku melotot dan terkejut dengan perlakuan nya. Berasa seperti di film-film aku tuh.



"Oke hukuman untuk mu,  kembali ke kelas" Lanjut nya membuat ku mendongak dan menatap nya bingung.



"Haha, jangan menatap seperti itu Khira.  Kau tambah jelek tau" Godanya.



"Tapi kak? Ak-ak___"



"Tidak apa-apa kamu baru pertama kali terlambat" Potong nya dan kembali mengacak rambut ku lantas pergi dengan gaya cool nya.



"Kak Gara" Teriak ku saat ia berjalan beberapa langkah.



"Terima Kasih" Lanjut ku tersenyum pada nya dan di balas senyuman tak kalah manis darl nya.



Ya,  orang itu Gara, seorang Agara Pranata Mahesa.  Sang ketua OSIS pangeran impian yang entah kapan kesampean.



Aku pun berjalan untuk ke kelas ku,  kelas X IPS 2 oke,  oke,  aku tahu aku bodoh dalam artian tak terlalu pintar,  tapi tenang saja aku tak bodoh-bodoh amat ya walaupun masuk kelas IPS. Jangan remehkan kemampuan ku yang bisa menghilang dari keramaian dan tak di kenal orang satu sekolahan.



Baiklah itu bukan pujian melainkan hinaan,  tapi tak apa itu membuat ku tenang.



Dan sudah ku bilang bukan,  menjadi introvert itu selalu pendiam,  dan sekarang aku mengaktifkan mode pendiam ku kala aku masuk kelas.



Dan tentu saja teman kelas ku mana peduli dengan ku,  udah pendiam, otak pas-pasan miskin lagi, waw miris nya nasib ku.



Tapi itu bukan menjadi penghambat untuk ku menuntut ilmu bukan? Dan sekarang kembali pada kenyataan.  Bahwa aku tak sendirian, masih ada orang yang ternyata ku pikir kurang waras yang mau berteman dengan ku.



Aku duduk di bangku belakang, sendirian, dalam artian tanpa teman, tapi itu dulu.  Sekarang aku punya teman ya walaupun gayanya ala-ala badboy tapi tak apa jika ia baik pada ku,  tak ada salahnya bukan?.



Dan dia adalah Ammar Yuan Parviz,  sebut saja Ammar. Cowok agak blasteran Indonesia-cina-india itu tipikal orang yang welcome, aku punya  tak tau kenapa ia mau berteman dengan ku? Padahal ia orang yang cukup tampan dan sudah pasti dari golongan kaya, sedangkan aku. Makan ayam seminggu sekali saja senang nya bukan main. Nah ini dia yang notabene nya orang berada mau berteman dengan ku yang kurang berada ini.



Tapi tak apalah,  berteman tak mengukur seberapa kayak teman mu. Aku pun mendudukan bokong ku di kursi yang tentunya semeja dengan Ammar. Ia tampak menelungkupkan wajah nya tertidur pulas, padahal Ibu Guru sudah berbicara panjang lebar membahas materi yang di ajarkan.



Aku pun hanya menggeleng saja melihat nya,  dan segera mengebut mencatat papan tulis yang sudah penuh dengan bahasan materi itu.

__ADS_1




__ADS_2