Introvert

Introvert
#30


__ADS_3

Albert langsung kaget melihat aksi tuannya itu. *Aku tidak menyangka tuan akan semarah ini* batin Albert.


Selena yang bingung akan sifat pria itu , ia pun langsung melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut, kali ini Louis tidak menghalanginya. "Ckk dasar gila," gumam Selena dan melenggang pergi dari sana.


Louis melihat kepergian Selena dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau benar-benar bisa membuat ku gila Selena, kenapa aku bisa sangat-sangat mencintaimu seperti ini," gumam Louis yang dapat di dengar oleh Albert di belakangnya.


*Kau memang sudah gila tuan, sudah jelas nona Selena tidak menyukai anda tapi anda tetap saja Keras kepala untuk mendekatinya* batin Albert.


"Sepertinya tembok yang dibangun nona Selena sangat kokoh tuan." Ucap Albert mengkode tuannya untuk segera menyerah terhadap perasaannya kepada Selena.


Louis menatap tajam Albert dia berpikir asisten nya itu pasti meremehkan perasaannya kepada Selena. Albert langsung menundukkan kepalanya kala melihat tatapan maut dari tuannya itu. "Maafkan saya tuan." Ucap Albert.



"Mau sekuat apapun tembok yang dia bangun Aku pasti akan merobohkannya dan membuat dia menjadi milikku selamanya!" seru Louis menyeringai.


*Benar, kau memang sudah gila tuan* batin Albert.


Louis akhirnya kembali ke kantornya karena kejadian tadi membuat dia lupa akan tujuannya bertemu dengan pujaan hatinya. Di dalam mobil hanya ada keheningan. Albert dan sang sopir tidak berani bersuara karena mood tuan mereka sangat buruk sekarang ini.


"Kumpulkan semua ketua direksi di ruang meeting,sekarang." ucap Louis dingin.

__ADS_1


*Tuh kan, sudah ku duga pasti singa ini akan mencari mangsa untuk melampiaskan kemarahannya* batin Albert lemas.


"Baik tuan!" jawab Albert lesu.


"Dan suruh mereka membawa hasil laporan seluruh perusahaan. Aku ingin laporan itu sudah ada saat aku disana nanti," perintah Louis dingin.


"Ap.... !" Kata-kata Albert tertahan karena dia seketika mengingat nyawanya hanya satu. *Kau gila tuan. Bukankah kau menyuruh mereka untuk mengumpulkan nya bulan depan. Sudah pasti laporan itu belum selesai sama sekali. Kau benar-benar bisa mencari alasan untuk melampiaskan amarahmu tuan* batin Albert.


"Baik tuan!" jawab Albert pasrah.


Sampai di lobby perusahaan sang supir menghentikan mobilnya lalu bodyguard yang menjaga diluar langsung membukakan pintu untuk majikannya. Louis pun keluar dari mobil dan disusul oleh Albert disampingnya. Louis langsung memasuki perusahaan dan memasuki lift pribadinya bersama sang asistennya menuju ruangan meeting.


Di ruangan meeting semua sudah berkumpul menunggu kedatangan Presdir mereka. Wajah mereka semua sudah nampak pucat dan panik, bagaimana tidak laporan yang di pinta oleh tuan mereka sama sekali belum selesai. Mereka bahkan sangat bingung dan bertanya-tanya, bukankah Presdir menginginkan nya bulan depan tapi kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran dan mendadak menginginkannya hari ini. Mereka langsung berpikir mungkin tuan mereka sedang bad mood sehingga mencari pelampiasan, karena setiap sedang marah tuannya itu memang sering menjadikan mereka sebagai pelampiasan nya.


Ckleek!! Albert membuka pintu untuk tuannya. Semua hadirin diruangan itu sudah berdoa dan mereka juga telah berkeringat diruangan yang ber AC itu.



Louis duduk di kursi kebesarannya di ruangan itu, dia menatap semua hadirin didepannya dengan tajam. Albert yang juga sudah duduk menatap para hadirin yang sekarang ini berwajah pias seakan ini adalah hari eksekusi untuk mereka.


*Pasti wajah ku sekarang sama seperti mereka saat ini, kenapa nasib kita malang sekali hiks* batin Albert senduh.

__ADS_1


"Mana laporannya?" tanya Louis dingin kepada para hadirin.


Semua para hadirin disana tidak ada yang berani bersuara, sebagian dari mereka menatap Albert seolah meminta pertolongan kepadanya tapi Albert hanya diam. *Aku bahkan tidak bisa menolong diriku sendiri saat ini. Jadi mari kita rasakan kepedihan ini bersama-sama*


Louis memukul meja besar itu dengan keras sehingga semua hadirin disana kaget setengah mati. "Berani sekali kalian mengabaikan pertanyaan ku hah!" bentak Albert marah.


Akhirnya salah satu staf meeting diruangan itu memberanikan diri untuk bicara. "Maaf tuan, laporan nya masih dalam proses pengerjaan!" ucapnya takut dan sangat berhati-hati.


*Sepertinya eksekusi ini akan dimulai dari dirimu* batin Albert menatap orang yang bicara itu.


"Apa katamu. Mudah sekali mulut busuk mu itu bicara. kau pikir ini perusahaan milik mu hah!" bentak Louis emosi.


Louis terus mengoceh dan mencaci kebodohan para karyawannya bahkan Albert juga tidak luput dari kemarahan nya. Dia sepertinya benar-benar meluapakan amarah nya sekarang ini. Semua hadirin itu hanya bisa tertunduk pasrah menerima pelampiasan kemarahan tuannya. Mereka seolah berkata luapkan lah seluruh amarah mu tuan kami siap menerima nya.


Setelah beberapa jam Louis melampiaskan kemarahannya kepada para karyawannya akhirnya dia beranjak dari kursi kebesarannya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan menutup pintu dengan sangat kuat sehingga bunyi dentuman nya menggema di ruangan itu. Semua yang melihat kepergian tuan mereka langsung bernapas lega, ada yang menjatuhkan wajahnya di meja ,ada yang menyandarkan kepalanya di kursi ,ada juga yang mengusap-usap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya tapi berbeda dengan Albert dia memijat keningnya yang terasa pusing akibat meladeni tuannya yang gila seharian ini. Tidak lama ia pun beranjak dan pergi menyusul tuannya.


Bersambung


Jangan lupa beri dukungannya guys ;)


Like. Vote. Gift dan favoritnya ya ;)

__ADS_1


__ADS_2