
"Lama banget sih"ketus nya saat aku sampai di meja makan mengantarkan coklat panas.
"Maaf"jawab ku sambil menunduk dan meletakkan coklat panas di meja.
Setelah itu aku langsung beranjak kembali ke dapur.
" Ekh mau kemana lo?"tanya Ahem saat aku baru sampai di ambang pintu menuju dapur.
"Pulang" Jawabku dan berbalik mengahadap nya.
"Oh" Jawab nya singkat dan meminum coklat panas itu.
Aku pun buru-buru beranjak pergi, sebelum...
"Ohok.. Ohok.. Apaan nih? "
Mati aku, ayok Deir lari.. Lari. Laa...
"Upik lo tambahin apaan nih minuman? Pedes banget ****"
Dan akhir nya aku berlari kabur setelah puas melihat ekspresi kesal si tengil Ahem.
Hosss...
Hosss.
Hosss...
Huft aku lelah sekali berlari dari kediaman pak Mahesa. Ini adalah Lari paling cepat dan terlama yang pernah aku lakukan.
Oh ini, membuat nafas ku tersenggal. Huft.. Bukan hanya akademi yang payah ternyata olahraga ku jauh lebih payah.
Aku tidak suka olahraga, aku lebih suka membaca novel dan hanyut dalam setiap kata dan cerita. Terkadang Sera sering melihat ku ngeri karena aku selalu tersenyum dan tertawa sendiri kala membaca novel.
Sampai di rumah, aku langsung membuka sepatu dan menyimpan nya di rak.
Ceklek...
Hmm? Kok gak di kunci. Batin ku bingung karena pintu yang tak terkunci.
"Darimana aja lo jam segini baru pulang? " Suara lelaki yang sedang menonton televisi itu mengejutkan ku.
"Dari tempat ibu Bang" Jawab ku.
"Cepet masak gue laper" Titah nya tanpa menoleh sedikit pun dari televisi. Dia abangku Azzam
Aku hanya mengangguk dan langsung beranjak kedapur tak peduli baju sekolah yang masih melekat, dan kaus kaki yang jari nya sudah bolong.
Aku pun langsung mengecek kulkas berharap masih ada bahan yang tersisa untuk makan Bang Azzam.
Syukurlah masih tersisa sebutir telur, beberapa bawang dan....
Nasi yang hanya sepiring.
Sepertinya hari ini aku harus menahan diri untuk tidak makan, dan pergi ke pasar setelah melakukan beberapa pekerjaan.
Aku pun mengupas bawang dan cabai lantas mengirisnya.
Kupikir aku akan memasak nasi goreng dengan telur ceplok saja.
__ADS_1
Dan beberapa menit kemudian, nasi goreng ku jadi, harum nya menyeruak menusuk hidung ku sampai hinggap di lambungku.
Krukk...
Kruk...
Krukk...
Glek aku hanya mampu menelan ludah merasakan perut ku berdemo minta di isi.
Sabar ya perut, nanti malam kita beli mie ayam. Batin ku sambil mengelus perut.
Aku pun meletakan piring yang berisikan nasi goreng dan telur, tak lupa air putih nya juga.
"Ini Bang" Aku meletakan nampan itu di meja ruang televisi.
"Hmm" Jawabnya singkat.
Setelah itu aku pergi ke kamar untuk mandi dan berganti baju, ini sudah pukul 15: 50. Aku pun menunaikan ibadah shalat Ashar.
Setelah menyelesaikan ibadah dan melipat nya, aku beranjak untuk membereskan tempat tidur yang tak sempat aku bersihkan karena kesiangan.
"AKHI" Teriakan itu, ingin rasanya aku memukul orang yang selalu memanggil ku dengan sebutan 'Akhi'.
"Iya Bang! Sebentar" Jawab ku berteriak dari kamar.
Aku pun cepat-cepat merapihkan kasur dan berlari ke ruang televisi.
"Kenapa Bang? " Tanya ku saat aku sudah berdiri di sebelah Bang Azzam.
"Temen gue ntar malem mau kesini, dan nginep. Terserah lo mau keluar atau di rumah, gue cuma kasih tau doang, dan nih beli cemilan sana" Titah nya dan memberiku uang berwarna merah.
"Heh. Lo denger nggak? " Tegur nya karena aku melamun.
"Tapi Bang! Deir ada tugas sekolah" Jawab ku takut.
"Yaudah lo di rumah aja" Jawab nya santay.
"Tapi Bang! Deir... "
"Gak ada tapi-tapi terserah lo, mau kemana kek" Kesalnya.
Aku hanya mengangguk pasrah dan pergi ke kamar untuk berganti baju.
Aku memilih celana jeans hitam, kaos hitam besar dan kemeja kotak-kotak merah, memang aku di sekolah dengan di rumah berbeda.
Jika di sekolah, aku pendiam dan malas bicara jangan lupa gaya culun. Lain di rumah, aku tomboy dan patuh terhadap perintah Kakak, Abang dan Bapak. Entah kenapa aku jadi seperti ini.
Teman-teman di sekolah ku tak ada yang tahu watak asli ku seperti apa, hanya mungkin saja Sera yang tahu, karena dia adalah teman ku saat SD.
Bahkan orang tua ku saja, tak tahu aku bagaimana dan seperti apa?. Lagi pula aku tak terlalu perduli, bagaimana pun aku harus menjadi anak yang patuh agar mereka senang, itu saja.
"Semuanya jadi 90 ribu Dek" Ucap kasir itu setelah menghitung belanjaan ku.
"Oh ini mbak" Aku pun memberikan uang dari Bang Azzam.
"Kembalian nya 10 ribu ya Dek, Terima kasih" Kasir itu menyerah kan uang kembalian dan tersenyum.
"Ah Iya, sama-sama" Jawab ku dan mengambil plastik yang berisi pesanan ku. Ralat Bang Azzam.
__ADS_1
Aku pun berjalan sambil menenteng plastik itu, sambil sesekali tersenyum melihat-lihat pemandangan.
Udara di kampung tempat ku tinggal tidak terlalu tercemar, dan masih asri di tumbuhi pepohonan.
Titt..
Titt...
Tit....
Burgh
"Aww, hsss. " Ringis ku karena sebuah mobil dengan indah nya menyerempet ku sampai terjatuh.
"WOY sialan" Maki ku, dan mobil itu berhenti tak jauh dari ku.
Aku hanya melihat nanar cemilan yang tadi ku bawa berserakan dan untung nya isinya tidak berceceran dan terbuka.
Dengan langkah pincang, aku berjalan menghampiri mobil itu.
"WOY kalo bawa mobil hati-hati gak tau apa ada orang, gue jadi pincang nih, woy keluar lo" Teriak ku kesal dan mengetuk kaca mobil dengan keras.
Aku kesal sekali, sampai-sampai sifat anggun ku pun aku tinggalkan, masa bodoh dengan itu, orang yang gak tau cara menghargai ini membuat ku kesal.
Setelah itu kaca mobil itu pun terbuka dan...
Deg.
Seorang cowok yang tersenyum sinis melihat Kemelongoan ku.
"Ahem" Kata ku tak percaya dan menutup mulutku.
"Hhhh. Bisa galak juga lo ya Upik" Sinis nya melihat ku.
Aku hanya memutar bola mataku jengah, lantas berbalik dan melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
Aku mempercepat langkah ku, aku tahu alasan Ahem kemari untuk balas dendam dan sudah pasti mengomel, anak itu tak pernah berubah sedari kecil pandai sekali bicara dan tak mau kalah.
"Heh upik gak sopan lo" Ucap nya yang sekarang tengah mengikuti ku dengan mobilnya.
"Oy upik gue ngomong"
Abaikan Deira..
Cepat pulang
Ayok cepat
Aku menghipnotis diriku sendiri agar mempercepat langkah ku, tapi Ahem selalu saja bisa membuntuti.
Jengah melihat nya, aku pun berlari dengan kekuatan segenap ingin kabur dari bocah tengil itu, sengaja ku pilih jalanan gang agar Ahem tak mengikuti.
Dan berhasil, Ahem tak terlihat di belakang aku pun tersenyum puas. Dan melanjutkan langkah ku untuk....
"Ahem? "
"Masih mau kabur? "
Mati sudah...
__ADS_1