Introvert

Introvert
5


__ADS_3

Aku meneguk saliva ku gugup.


Di depan ku Ahem sedang berdiri dengan nafas ngos-ngosan dan berkacak pinggang.


"Huft,  akhirnya ketemu juga lo upik"


Dia membuang nafasnya karena lelah mengejar ku.


Gawat


Dangerous


Aku segera membalik badan dan berjalan cepat,  namun Ahem sudah terlebih dahulu menarik kerah belakang kemeja ku,  dan membuat aku terseret.


"Mau kemana lo? " Tanyanya dengan nada sinis.


Aku hanya nyengir dan menggaruk tengkuk ku yang tak gatal.


"Ikut gue"


"Tap_tapi___"


"Paan? "


"Aku mau pulang,  ngasih belanjaan Abang" Jawab ku takut.


"Yaudah" Jawabnya dan melepaskan cekalannya.


Huft


Ia pun berjalan ke arah mobilnya,  aku mengikuti nya dari belakang.


"Ngapain lo? " Tanya nya.


"Ikut"


"Apaan?  Lo jalan ke rumah lo,  gue ikutin di belakang"


HAH


Aku melongo.


"Yeh..  Ni bocah malah bengong"


"Hoi,  masih idup gak lo? " Ia menggeplak bibir ku.


Sakit.


Jahatnya spesies satu ini.


Aku hanya mengusap bibir ku yang di geplak nya. Dan mengangguk.


Di perjalanan dia terus saja mengomel.


"Woi cepetan jalannya,  lelet amat kayak keong bunting"


Bodo


"Cepetan upik"


Ogah


"Cepetan gak?  Kalo lelet gue laporin apa yang udah lo lakuin" Ancam nya.


Terpaksa aku mempercepat langkah ku.


Sampai di rumah,  aku buru-buru masuk.  Malas rasanya menawari atau melihat wajah Ahem.


Demi apapun hari ini adalah hari sial karena melihat dan bertemu dengannya.


"Mana? " Tagih bang Azzam ketika aku masuk.


"Ini bang"


Aku memberikan pelastik yang berisi snack.  Sedari aku kecil,  aku tak pernah sanggup melihat wajah bang Azzam.


Ia sangat tegas,  seberapa aku sering mengatakan ia adalah abang yang menyebalkan,  tapi sampai sekarang aku tak pernah bisa menolah titahnya.


Suara tegas nya membuat aku takut,  seolah aku ini ialah sebuah penghancur kebahagian.


"Mana struk nya? "


Aku pun mengeluarkan struk belanjaan dari kantong celana ku.

__ADS_1


"Masih sisa 10ribu, mana"


Tanpa basa-basi aku langsung menyerahkan uang sisa kembaliannya.


Ku pikir tak akan di tagih,  ternyata.....


Yasudahlah.


"Udah pergi sana"usir nya tegas.


Aku hanya mengangguk dan berjalan ke kamar.


Baru saja aku merebahkan tubuh ku di kasur.


" Akhi"teriak Abang ku dari ruang TV.


"Iya bang sebentar"


Buru-buru aku bangun dan berlari ke arahnya.


"Ada apa bang? " Tanya ku sambil menunduk.


Bugh


Bang Azzam mendorong ku sampai aku terduduk ke lantai.


Sakit.


Itu yang aku rasakan.


Ia langsung melemparkan sebungkus cemilan ke wajah ku.


Aku hanya mampu mengigit bibir bawah ku ,takut.


"Apaan lo beli cemilan kadaluarsa" Bentak nya marah.


Aku hanya menunduk takut.


"Dari dulu emang gak becus lo"


Aku diam tak menyahut,  bagiku...


"Gak berguna"


Bang Azzam pergi dari ruangan itu. Tanpa menoleh sedikit pun padaku.


"Seharusnya dari dulu! Lo gak harus ada"


Jleb


Air mata ku ingin mengalir rasanya.  Aku bisa Terima jika di perlakukan seperti Babu,  di tampar atau pun di usir.


Tapi aku mohon!  Jangan katakan seolah,  aku ini kesalahan yang tak seharusnya ada.


Aku mencoba berdiri dari posisi ku.  Ku lihat sikut ku memar karna terkatuk dengan meja.


Aku berjalan dengan sesekali meringis,  kaki ku lelah,  tubuh ku lemas.


Yang bisa aku lakukan ialah berbaring di kamar,  dan mengompres memarnya.


Sudah selesai,  tanpa sadar aku tertidur.


Aku terbangun kembali ketika jam menunjukan pukul 17:50.


"Ya Allah ketiduran"


Cepat-cepat aku menyambar handuk dan mandi,  setelah mandi dan berganti pakaian,  aku langsung ke dapur.


Bodohnya!  Aku lupa belum belanja,  kalo begini bagaimana Bang Azzam akan makan?.


"Lo gak usah Masak"


Aku terhenyak kaget,  ketika Bang Azzam sedang berdiri di depan kulkas mengambil minum.


"Iya Bang" Cicit ku.


Aku masih takut untuk melihatnya.


Tanpa menjawab Bang Azzam langsung pergi,  terdengar suara gaduh di ruang televisi.


Sepertinya teman-teman Bang Azzam sudah datang.


Akhirnya aku hanya bisa terdiam di kamar setelah menunaikan shalat maghrib aku mengerjakan tugas matematika.

__ADS_1


Demi apapun, aku tak bisa mengerjakan tugas karena suara gaduh itu.


Aku akui,  aku ini memang bodoh.  Tapi masalah nya tugas ini harus di kumpulkan esok hari.


Ini yang aku tak sukai jika Bang Azzam membawa teman-teman nya ke rumah.


Mereka sering gaduh dan terkadang bersikap menyebalkan.


Itu sebabnya jika teman-teman nya datang aku selalu pergi keluar rumah dan duduk di bangku taman,  sampai teman-teman Bang Azzam pergi.


Tapi untuk kali ini,  aku harus bertahan.


"haha zam muka lo udah cemong"


"kalah lo,  cepetan kocok"


"******* banget lo semua"


"huhu...  gue menang woyyy"


"zam adek lo mana? "


Tapi sekarang aku harus buru-buru membereskan barang-barang ku.


"ngapain nanyain si akhi?"


Aku segera mempercepat memasukan buku-buku ke dalam tas.  Dan langsung menyambar jaket ku.


"Mau gue ajak maen lah"


Aku memakai kupluk jaket,  dan mengendap keluar rumah.


Untungnya mereka tak menyadari kehadiran ku,  dan masih asik bermain kartu.


"Halah, so iya lo.  Emang lo pernah ketemu adek nya si Azzam? "


"Kagak sih! Lagian tuh anak kagak pernah keliatan kalo gue main"


Iya benar,  teman-teman Bang Azzam tak pernah bertemu denganku langsung,  mereka hanya tau bahwa Bang Azzam punya adik.


"Lagian,  lo pelit banget sih Zam,  punya adek suka di umpetin"


Bang Azzam tak menyahut,  dia hanya diam saja dengan ekspresi datarnya.


Aku terus berjalan untuk sampai ke pintu,  sejauh ini aku berhasil berjalan sampai pembatas ruang TV dan tamu.


"Btw,  adek lo laki atau cewe Zam? "


Aku menghentikan langkah ku, aku penasaran.  Sejauh mana teman Bang Azzam tak mengetahui ku.


"Udah pasti Laki lah"


"Emang iya Zam?  Emang lo udah pernah liat"


Aku bisa melihat teman Bang Azam menoyor teman satunya lagi.


Aku ingin tertawa rasanya.  Bang Azzam terlihat berbeda dengan temannya, Berbanding terbalik saat dengan ku.


Aku pun segera melangkah keluar,  sebelum aku tertawa dan membuat mereka sadar.


Tanpa mendengar percakapan mereka yang selanjutnya,  tanpa tahu apa yang akan Bang Azzam jawab dan jelaskan.


Yang aku inginkan sekarang pergi,  layaknya di sekolah.


Tanpa ada yang mengenal,  dan tak pernah terkenal.


Oleh siapapun, kapan pun itu.  Dan dimana pun itu.


Sendiri...


Menurutku berarti nikmat hidup yang tenang.


"Ya kagak sih! Tapi kan si Azzam suka bilang 'Akhi' ya gue pikir cowok lah,  secara nih ya.  'Akhi' dalam bahasa Arab itu Laki-laki. " 


"Iya juga ya!  Jangan-jangan adek lo laki ya Zam? "


"Gue menang"


"Bangke lo Zam,  gue ngomong sana sini,  lo masih mantengin kartu. Pake acara menang lagi"


"Ribut aja lo pada.  Siapa pun adek gue!  Cukup gue yang tahu"


"Bahasa lo,  kek Abang yang Over sama adek"

__ADS_1


"..."


__ADS_2