
Bel pulang sudah sejak tadi berbunyi, aku sedang membereskan perlengkapan ku yang ku simpan di kolong bangku.
"Dey! Mau bareng kagak? " Tanya Ammar yang sudah memakai tas nya di bahu kanannya.
"Nggak deh Mar! Duluan aja" Jawabku yang masih menunduk meneliti barang ku.
"Yaudah gue duluan ya! Ati-ati di jalan, lo pulang sama si Rakun kan? Gue cuma peringatin aja, kapan-kapan kalo balik sama dia pake Headset biar kuping lo gak sakit" Kekeh nya, dan aku pun ikut tertawa mendengar nya.
"Iya, tapi gak gitu juga kali" Sahut ku.
"Serah deh ya! Gue balik duluan, bye" Pamit Ammar yang ku jawab anggukan.
Kini aku dan Sera sedang menunggu angkot di halte, sebenarnya hanya aku yang menunggu. Sedangkan Sera menunggu sopir nya datang menjemput.
"Gimana udah ada blom angkot nya? " Tanya Sera saat kami duduk di banbku halte.
"Belum deh kayak nya" Jawab ku sambil celingukan.
Dan datang lah mobil mewah bertengger di depan ku, sayang nya bukan menjemput ku. Melainkan sahabat ku.
"Ekh Deir, gue balik dulu ya! Maaf gak bisa nemenin lo sampe nemu angkot" Sahut Sera beranjak dari bangku.
"Iya gak apa-apa Ra! Hati-hati ya" Jawab ku melambaikan tangan dan mobil Mewah itu pun melesat mengantarkan sang putri, meninggalkan aku sendiri.
Aku pun hanya menghela nafas, sendiri tak membuat ku prustasi. Karena aku sudah terbiasa dengan itu, sampai suara pesan masuk dari ponselku pun berdering.
Ibu sayang:
Dek pulang nya ketempat ibu dulu ya, ibu mau ngasih uang bulanan.
Ternyata itu pesan dari Ibu, menyuruhku ketempat kerja nya. Ini sudah akhir bulan, ibu pasti mau memberi uang bulanan tapi itu bukan untuk ku.
Itu untuk membeli bahan-bahan rumah, ibu yang menjadi PRT di rumah Pak Mahes alias Ayah kak Gara, jarang sekali pulang. Paling ibu akan pulang seminggu sekali atau kadang sebulan sekali, dan karena itu pula, tanggung jawab rumah aku yang mengatur.
Kak Yasha bekerja sebagai guru Honorer di sekolah SMP, karena kesibukan nya alhasil aku harus menjadi babu di rumah sendiri.
Bagaimana tidak? Kakak laki-laki ku yang seenak nya itu sering memerintah ku tanpa ampun, aku mana bisa menolak? Dia kakak ku. Lagian sudah tugas ku untuk memenuhi kebutuhan nya.
Ibu ku bekerja saat aku berusia 7 tahun, saat itu keluarga ku mengalami krisis ekonomi, dan akhirnya Bapak dan ibu menitipkan Bang Azzam dan Kak Yasha tinggal di rumah nenek, sedangkan aku di ajaknya untuk tinggal bersama di Jakarta.
Entah bagaimana ceritanya, ibu mengajak ku kerumah mewah bak istana, aku tertegun melihat nya. Ternyata itu rumah Pak Mahes ia membutuhkan PRT yang bisa merawat rumah dan kedua anaknya, dan Pak Mahes mempercayakan ibu untuk mengurusnya.
Dan berakhirlah di sini, aku bertemu dengan Kak Gara, dan adiknya Ahem yang seenaknya menyuruhku dan menjadikan ku Babu nya.
Aku menyukai kak Gara, dia baik, tampan dan tentunya penurut, saat aku pertama datang pun dia yang menyapa ku pertama kali, sedangkan si tengil Ahem malah merengek tak ingin melihat aku yang saat itu berpakaian lusuh.
Ibu mereka telah lama tiada saat mereka masih kecil karena penyakit kanker, sungguh kasihan melihat mereka yang ditinggalkan ibunya dalam keadaan masih membutuhkan pelukan hangat seorang ibu.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, kini mereka tumbuh dengan baik, menjadi anak-anak yang tampan, dan baik pengecualian untuk Ahem, dia selalu menjahili dan menyuruhku seenaknya tetapi ada yang aku kagumi dari mereka berdua, mereka sama-sama pintar. Aku jadi iri dengan otak mereka.
"Makasih ya pak" Ucapku saat turun dari angkot yang aku tumpangi.
Supir angkot itu pun mengangguk dan melanju angkotnya, aku berjalan memasuki rumah. Ralat bisa dikatakan ini mansion karena begitu megah bak istana.
Aku menyapa Pak satpam yang sudah akrab dengan ku sejak kecil, dan berjalan masuk melalui pintu belakang.
Aku tak mau lewat pintu depan, jika Ahem ada mungkin otak cerdasnya akan bergerak memikirkan hal yang pantas untuk mengerjai dan menyuruh ku.
"Ibu" Ucapku memeluk ibu dari belakang.
Ibu sedikit menegang tapi lama kelamaan ia pun mulai nyaman, terlihat ibu sedang mencuci piring sambil tersenyum.
Wangi ibu dan pelukan ibu, aku merindukannya. Dulu aku selalu membantu ibu di sini, ibu juga yang mengajari ku memasak, membereskan rumah dan lainnya.
Sampai ayah dan ibu mampu membeli rumah sederhana dan mengajak anak nya tinggal di kota besar ini, aku yang di tugaskan untuk mengambil alih rumah seperti seorang ibu.
"Udah pulang Dek" Ucap ibu setelah selesai membersihkan tangan dan membereskan piring.
Aku hanya mengangguk dari belakang nya, aku ingin tidur di sini. Rasanya nyaman. Ibu pun berbalik dan tersenyum.
"Ibu kok gak pulang? " Tanya ku cemberut.
Ibu memeluk ku dan mengelus rambutku sayang, jujur aku rindu saat-saat ibu mengepung rambut ku di beranda rumah di kampung.
Aku rindu saat ibu mengajak ku ke kebun untuk sekedar mencari sayuran untuk kami masak bersama-sama.
"Gimana sama Abang dan kak Yasha?" Tanya ibu yang kini tengah mengajak ku berbincang di meja makan.
"Abang baik kok Bu, cuma ya gitu deh Bu"jawab ku malas membahas Abang ku yang nyebelin itu.
"Abang kamu masih suka jahil dan nyuruh-nyuruh kamu? " Tanya Ibu dan ku jawab anggukan saja.
"Maaf ya Dek! Gara-gara ibu kerja, kamu harus urus rumah"
"Nggak kok Bu! Gpp Dei baik kok Bu. Ibu tenang aja" Sangkal ku cepat dan tersenyum.
Ini yang tak bisa aku tolak dari Abang ku, aku tak ingin melihat kekecewaan tersirat dari Ibu, jadi sebisa mungkin aku mematuhi perintah Abang ku.
"Sabar ya sayang! Ini juga sebagai pembelajaran untuk kamu di masa depan" Ujar ibu mengelus pipi ku.
"Bapak bagaimana? " Tanya Ibu mengalihkan ku dari mata yang ingin meminum coklat panas yang ibu sediakan tadi.
"Owhh Bapak masih sepeti biasa Bu, pulang larut berangkat subuh" Jawab ku sambil nyengir.
"Minum Aja Dek" Ujar ibu mengetahui mata ku yang terus melirik coklat panas di meja.
__ADS_1
"Emang boleh Bu? " Tanya ku memastikan.
"Boleh, tadi Ahem udah gak mau. Kamu minum aja" Jawab ibu dan ku jawab anggukan.
Terserah deh ini punya Ahem, kan tadi ibu bilang Ahem nya gak mau. Jadi aku minum gpp kali ya? Uluh.. Uluh.. Coklat panas nya menghipnotis ingin di minum.
Aku pun mengambil coklat panas itu yang berdiri manis di meja.
"Ibu kebelakang dulu ya" Ujar ibu beranjak dari meja makan dan meninggalkan ku.
Aku pun mengangkat cangkir yang berisi coklat panas yang tadi ku ambil.
"Ekh.. Ekh.. Coklat panas gue" Suara cowok mengintrupsi ku dari belakang dan membuat aku hampir tersedak.
Aku pun berbalik sambil menepuk dada ku yang sakit karena suara cowok itu membuat ku terkejut.
"Heh! Upik punya gue itu" Ucapnya mendatangi ku dengan wajah yang menahan geram.
Aku hanya mengernyit bingung dengan nya.
Apa? Coklat panas dia? Bukannya ibu bilang dia gak mau. Batin ku sembari mengernyit bingung melihat ke arah nya.
"BIBI" Teriaknya memanggil Ibu, jika kalian melihat wajah nya mungkin kalian akan melempar sepatu ke wajah nya, karena wajah manja nya.
"Iya Ada apa Den? " Tanya ibu setelah mendengar teriakan manja nya.
"Bi kok coklat panas saya sama dia? " Tanya nya menunjuk ku dengan kilatan tak suka.
"Maaf Den, katanya Aden gak mau! Yaudah saya kasihkan ke Deira" Jawab ibu.
"Ish! Gak mau tau! Pokoknya saya ingin coklat panasnya kembali, upik tanggung jawab lo" Ketus menunjuk ke arah ku.
"Iya maaf Den! Bibi buatin lagi ya" Jawab ibu dengan senyuman.
Ya Allah ibu, anak manja kayak gitu masih di senyumin, kalo aku sih udah di tabok aja. Ngeselin banget wajah nya.
Ibu pun beranjak kembali ke dapur.
"Gak perlu Bu! Biar si Upik aja yang buat. Bibi balik lagi aja kerja"
Lah kok aku? Emang salah ku apa? Otomatis aku memicing ke arah nya, dan ia balas tatapan tajam.
"Yaudah, permisi ya Den Ahem. Dek maaf ya tolong buatin coklat nya lagi" Ujar ibu tak enak dan ku balas anggukan.
Ibu pun melangkah kembali kebelakang melanjutkan kerjaan nya memasak makan malam, sedangkan aku masih di meja makan melihat si tengil Ahem berjalan dengan songong nya ke arah ku.
"Heh Upik! Cepetan buatin coklat panas gue" Ketus nya yang sekarang berdiri di hadapan ku.
__ADS_1
Aku pun hanya mengangguk, ikuti saja perintah nya. Demi ibu, aku tak ingin di cap anak kurang ajar atau pun di cap menjadi anak tak tahu di untung.
Sebagai anak yang baik aku pun mengikuti perintah sang Majikan untuk membuat coklat panas, tapi ini akan terasa spesial. Tunggu saja Ahem Sergio Mahesa, bocah tengil.