
...***...
"H-hai" Sapa Liandra kikuk.
Axsel langsung mengalihkan perhatian nya kedepan. Tanpa menyapa Liandra balik.
Arion yang berada dekat Axsel tersenyum geli melihat Axsel di sapa Liandra. Arion mempunyai ide cemerlang.
"Hai juga manis" Bukan Axsel ataupun Arion yang menjawab. Melainkan Zaidan.
Zaidan duduk di belakang Liandra, dari tadi Zaidan memperhatikan Axsel yang menatap Liandra. Dan Zaidan melihat Axsel langsung membuang muka nya kedepan.
Zaidan melihat Arion yang senyum-senyum sendiri. Sebagai sahabat dekat, Zaidan mengetahui rencana Arion. Tanpa pikir panjang Zaidan menyapa Liandra.
Axsel, Nathan, dan Arion melihat ke arah Zaidan. Yang dilihat hanya nyengir lebar sambil mengedip kan mata nya.
Nathan menyenggol lengan Zaidan.
"Apa-apa'an sih lo".
Apa nya yang apa - apa'an. Gue kan cuma balas sapaan nya Liandra."
Liandra yang mendengar nama nya di sebut menoleh ke arah belakang. Zaidan langsung senyum.
"Hai manis" Goda Zaidan sengaja memanas-manasi Axsel.
Liandra hanya tersenyum canggung.
Zaidan menjulurkan tangan nya
"boleh kenalan gak?"
Liandra mengangguk
"Liandra"
Senyuman Zaidan mengembang.
"Zaidan Delano Winata".
Liandra langsung melepaskan tangan nya dan ingin menghadap depan lagi, namun sebelum Liandra menghadap ke depan suara Zaidan terdengar lagi.
"Yang di samping gue nama nya Nathan Mahendra Adijaya"
Nathan lantas menoyor kepala Zaidan menggunakan Pena yang dia pegang.
"Ishh... Apasih lo Nath maen noyor-noyor segala" Keluh Zaidan memegang jidat nya.
"Lo ngapain pake ngenalin gue segala"
"Ya kan biar dia kenal lo gimana sih"
"Kan gue bisa kenalan sendiri"
"Oh jadi cerita nya lo mau kenalan sendiri gitu" Zaidan menaik kan alis nya dan menatap Nathan.
Nathan yang ditatap seperti itu bergidik ngeri, dan menghiraukan celotehan Zaidan.
Guru yang menjelaskan di depan merasa terganggu dengan kebisingan antara Zaidan dan Nathan menghampiri kedua nya dengan wajah garang.
Zaidan lantas pura-pura menulis supaya sangat guru tidak memberi nya hukuman atau ceramah.
BRAK
Bu Santi menggebrak meja Zaidan dengan kuat sehingga membuat semua murid yang fokus menulis terlonjak kaget termasuk Zaidan.
Atensi semua murid mengarah ke meja Zaidan.
__ADS_1
"Kamu ini sudah saya katakan berapa kali, jangan pernah berbicara di dalam kelas ketika saya mengajar. Saya tidak suka murid yang berisik, itu mengganggu ketenangan murid lainnya. Walaupun kamu berbisik-bisik saya tetap dengar. Saya punya mata dan telinga, saya bisa melihat dan mendengar semua yang kamu lakukan."
"Sekali lagi kamu berbicara ketika saya masuk minggu depan. Kamu silakan keluar" Tegas bu Santi meninggalkan Zaidan.
Zaidan hanya pura-pura menunduk ketakutan saat bu Santi berceloteh panjang lebar, selalu itu saja yang di ucapkan oleh bu Santi membuat Zaidan muak.
Sedangkan Arion, dia tersenyum mengejek Zaidan. Untung saja tadi dia tidak sempat mengerjai Liandra.
Zaidan yang melihat Arion mengejek nya memasang raut marah."Awas aja ntar lu Ar" Batin Zaidan.
Sedangkan Varina yang berada di depan kelas, sudah pergi meninggalkan kelas ke toilet dengan perasaan gelisah.
"Al gak bisa gitu dong, masa gue yang harus nyamar, kenapa gak yang lain aja" Protes Arthur mata-mata Genk Bruiser.
"Arth, lo gue jadikan sebagai mata-mata buat apa coba? Buat dijadikan pajangan, kagak kan! Sekarang lo gue kasi pekerjaan buat nyamar sebagai anggota Serigala Hitam." ucap Alaric
"Tapi..akhhh.. lye iye ah gue nyerah. Tapi Al gue gak mau lo gak nepatin janji lo"
"Santai Brodi" Ujar Alaric menghembuskan asap
rokok nya.
"Jadi gue lakuin apa yang lo suruh tadi?" Arthur memastikan.
"Yes"
"Yaudah nanti gue minta tolong anak lainnya supaya rencana kita berhasil".
Alaric hanya mengangguk sebagai jawaban.
Alaric ingin membalas dendam, adik nya dengan menggunakan anggota Bruiser tanpa harus mengotori tangan nya sendiri.
Varina mencengkram kuat sisi wastafel, tatapan nya menajam menatap diri nya di cermin.
Nafas Varina memburu mengingat Kejadian satu tahun lalu. Hal yang sama dilihat nya walaupun sedikit berbeda. Varina seperti merasakan dejavu.
"Akhhh" Varina berteriak nyaring.
"Bukan gue yang nabrak, bukan gue" Varina terus saja menjambak rambut nya.
Seseorang masuk ke toilet dan menghentikan
aksi Varina yang terus saja menjambak rambut
nya.
"Var, tenang Var, tenangin diri lo. Ini gue, liat gue Var" ujar Audrey.
Varina melihat Audrey langsung saja Varina memeluk cewek berambut pendek tersebut.
"Tenang Var ada gue" Audrey mengusap punggung Varina.
"Drey bukan gue, bukan gue yang nabrak" Gumam Varina.
"Iya bukan lo".
Varina melepaskan pelukan nya dan menatap Audrey lekat.
"Jangan pernah cerita ke siapapun".
"Gue janji."
Audrey membantu Varina berdiri dan membawa nya keluar, penampilan Varina sangat acak-acakan. Membuat langkah Audrey berhenti seketika.
"Kenapa" Heran Varina
"Ck!" Decak Audrey
__ADS_1
"lo gak mau kan diliatin begini sama semua orang, beresin dulu rambut sama seragam lo"
Varina memutar bola matanya nya malas dan meninggalkan Audrey begitu saja. Audrey lantas mengejar Varina.
"Var lo gak malu di liatin banyak siswa tuh" Ucap
Audrey setelah dekat Varina.
Bell istirahat sudah berbunyi 5 menit yang lalu sehingga banyak siswa yang berlalu lalang.
"Lo emang gak ngerti ya sama gue" ucap varina sambil menatap Audrey.
"Hah. Gak ngerti gimana" Tanya Audrey bingung.
"Lo kayak gak tau gue aja si Drey. Gue akan makai keadaan gue yang kayak gini buat mendapatkan perhatian Axsel, gitu aja lo gak tau" Sebal Varina.
"Jadi lo make kesempatan dalam kesempitan nihh Hahahah var var paling si Axsel bakal cuekin lo."
"Gak bakal, Axsel gak akan cuekin gue kali ini"
"Lo gak ingat waktu lo buat diri lo kek gembel. Axsel aja gak peduli dia bilang.. Gue gak liat, apa'an sih lo, mending lo pergi sekarang... Bahkan lo aja di cuekin" Audrey mengingat perkataan Axsel.
Varina mendengus tak suka, Audrey mengingat kan nya bahwa Axsel gak akan pernah perhatian sama nya. Varina mencak-mencak sendiri.
Masih dengan keadaan kacau, Varina masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan tatapan aneh.
"Hahah Var lo abis dari mana sampe kayak begini" Tawa Latasha.
"Diam lo berisik amat" Ketus Varina.
Latasha lantas melihat ke arah Audrey meminta jawaban, Audrey yang peka langsung menceritakan semua nya.
"Ohhhh" Latasha mengangguk kan kepala nya.
"Yaelah Var gitu aja lo sampe segini nya" Ledek Latasha.
"Ini punya kamu kan" Seseorang menyodorkan jepitan rambut kepada Varina.
Varina menoleh ke arah orang yang menemukan jepitan rambut nya. Varina segera mengambil nya dari tangan Liandra tanpa mengucapkan terimakasih.
Liandra hanya tersenyum kemudian kembali ketempat duduk nya.
Saat Varina sedang asyik menata rambut nya kembali, Audrey membisikkan sesuatu ke Varina.
"Gimana, lo harus baik-baik sama tu anak biar rencana kita lancar"
"Ck! Lo kayak kekurangan uang aja sih, kalok lo mau manfaatin tu anak, sono gue gak,"
"Gak asik lo Var, padahal kan lo yang punya rencana"
"Gue berubah pikiran gue gak mau, lebih baik gue bully tu bocah" Ucap Varina menatap ke arah Liandra yang sedang menyantap makan siang nya.
Varina merasakan ada nya sesuatu yang membuat nya gelisah saat melihat Liandra.
Bell masuk berbunyi semua siswa memasuki kelas nya masing-masing.
.
.
.
.
maaf baru update soalnya sibuk hha,sibuk padahal nggak ngapa-ngapain.hi bestiee yuk lanjut baca.jangan like komen votenya yaa.maaciw bestie
note: cerita ini untuk dibaca, like, vote dan komen. bukan di-copy paste.ingat hukum:v
__ADS_1