
Berteman atau Ditinggalkan? Ya kata itu sulit untuk ku lakukan bagi seorang introvert. Aku yang introvert ini sering waspada jika ada orang yang mendekati ku, karena aku tipikal orang yang tak punya bahan obrolan jika di luar, tapi liar di lingkungan keluarga, entah mengapa? Aku tak tahu.
"Baiklah anak-anak sampai di sini pertemuan kita, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Jawab kami serempak.
Guru pun pergi meninggalkan kelas ku yang tadi nya adem ayem sekarang berubah kayak pasar kebakaran.
Aku merapihkan buku-buku ku dan melihat sejenak pada makhluk sebelah ku yang tidur dengan nyaman nya, berasa di syurga sepertinya.
"Mar! Mar! Bangun" Aku mengguncang bahu Ammar, yang masih setia nemplok di meja dengan mata tertutup.
"Paan Sih Dey? Gue masih ngantuk" Balasnya dengan mata yang tak kunjung terbuka.
Aku pun hanya menghela nafas membiarkan ia kembali mengarungi pulau kapuk nya.
"DEIR yuhu" Teriakan itu sungguh membuat telinga ku pengang mendengar nya.
Dan munculah cewek jangkung nan ramping memasuki kelas ku tanpa sungkan.
Sepertinya penduduk kelas ku sudah terbiasa dengan nya, bagaiamana tidak? Jika sudah berbicara seketika mulut pedas nya mampu membuat orang kicep.
"Apa lo? " Tatap nya sinis melihat anak-anak kelasku yang melihat nya jengah.
Teriakan dan kehebohan itu ternyata berhasil membuka mata Ammar, mungkin telinga nya berasa berair mendengar suara cempreng teman ku yang satu ini.
Baiklah perkenalkan ia Sera Raqueenna Zaveera, wajah cantik, tubuh ramping dan suara cempreng tak urung dari mulut pedas nya yang akan berkicau jika sudah merasa gedek dengan lawan nya.
"Woy berisik Rakun" Hardik Ammar yang terbangun dan melihat Sera berjalan memasuki kelas.
"Apa lo bilang? " Amuk Sera dan menghampiri ke meja Ku dan Ammar.
Baiklah sepertinya mereka akan beradu mulut sampai berbuih, jika begini kupingku yang akan teraniaya sepertinya.
"Heh! Memar, ngomong apa lo? " Tanya nya menggebu-gebu.
"Berisik RAKUN" jawab Ammar menekan kata Rakun dengan santai.
Ok sepertinya Sera akan mengamuk dengan perkataan Ammar yang tak bisa ia Terima.
"Dan jangan panggil gue Memar" Lanjutnya menatap Sera sinis.
__ADS_1
"Ammar Kam___"
"Stop" Potong ku cepat sebelum telinga ku yang normal ini terkontaminasi dengan teriakan dan cekcok dua teman ku.
"Ok, karena Deira yang minta. Gue ngalah deh" Sera menyerah dan ia juga malas sepertinya bertengkar dengan Ammar.
"Lo kesini mau Apa Ra? " Tanya ku.
"Nah kan jadi lupe gue gara-gara si Memar sengkleh" Jawabnya menepuk dahinya.
"Yok Kantin Dey, laper gue" Lanjut nya menarik tangan ku.
Aku pun langsung bangkit dan berjalan seperti maling yang di seret tanpa ampun oleh Sera.
"Wey Rakun! Beliin gue ya" Teriak Ammar saat aku terseret sampai pintu.
"Ogah! Gak lepel sama orang jelek kayak lo" Jawab nya ketus dan kembali menarik tangan ku.
Dan sekarang aku tewas di kantin dalam artian duduk dengan menunduk, entah kenapa? Padahal Sera ada di sini.
"Beli apa ya kira-kira? " Tanya Sera sembari mengetuk jari nya ke dagu.
"Dey punya rekomendasi gak? " Tanya Sera padaku.
Dan Sera pun memesankan makanan favorit kami yang tak lain iya lah Siomay dan Es jeruk peras yang asam nya kayak liat si doi mesraan sama yang lain. Yah malah curhat.
Pesanan datang, aku dan Sera langsung menyerang nya tanpa Babibu atau siomay itu akan dingin dan tak sedap di makan.
"Woy! Kamvret main tinggalin gue aja lo"
"Uhuk.. Uhuk.. Bego sakit nih tenggorokan gue" Sera memukul bahu Ammar yang datang tiba-tiba.
Aku mengangguk setuju dengan perkataan Sera dan meminum cepat es jeruk ku.
"Hahaha, muka lo mirip Rakun beneran" Cibir Ammar melihat Sera yang tersedak siomay.
"Mulut lo ya, minta gue iris trus gue geprekin, udah gitu gue jual gopean di pinggir comberan" Ketus nya kesal dengan Ammar.
"Heh, murah banget njir! " Tandas Ammar tak Terima.
"Emang sape yang mau beli mulut terong murahan kayak lo? "
__ADS_1
Oke sepertinya mulut pedas Sera sudah berkumandang karena kesal dengan Ammar.
Dan aku hanya menggeleng saja melihat perlakuan mereka yang sudah biasa, aku berteman dengan Ammar baru sebulan yang lalu. Sedangkan, untuk Sera sempat satu SD namun pisah saat SMP, dan beruntung nya kami satu SMA walau beda kelas. Dia di IPA akau di IPS, hell. Dia pintar di banding aku.
Siapa yang tak takluk dengan kecantikan Sera, udah body goals, pinter kaya lagi. Aku? Miris.
"Udah Ra! Gak baik ribut di depan makanan" Lerai ku, karena mereka sudah mulai terpancing emosi.
"Ya itu tuh! Temen somplak lo ngeselin banget! Ngapain coba pake temenan sama lo" Ketus nya.
Aku pun tak tahu, kenapa Ammar mau berteman dengan ku. Batinku.
"Mau tau aja urusan orang" Sinis Ammar.
"Mending ye! Si Deir itu temenan sama gue. Sama lo mah kasian kuping nya pengang kalo dengerin bacotan lo" Lanjut nya.
"Sama lo mah nambah-nambah masalah PeA, style badboy begitu mau temenan sama Deira, ngaca... Ngaca sana? Kalo lo gak dengerin guru si Deira noh yang kena imbas nya" Kesal Sera.
"Emang iya Dey? " Tanya nya tak percaya.
Bodoh nya aku hanya mengangguk membenarkan, Ammar selalu tertidur di kelas membuat guru-guru mengeluh dan sering memberi ku peringatan agar membangunkan Ammar.
"Noh kan? Kagak percaya si lo"jawab Sera.
" Kok lo gak pernah bilang si Dey? "Tanya nya dan ku balas dengan gendika bahu.
" Gimana mau bilang, lo tidur mulu kamvret"Sera menoyor kepala Ammar.
"Ck. Rakun diem deh kagak bisa diem amat lo, gue cium tau rasa lo"
Perkataan Ammar sukses membuat aku dan Sera melotot ke arah nya.
"Bercanda elah, biasa aja tuh mata" Lanjut nya sambil tertawa melihat reaksiku dan Sera.
"Ye dasar upil nyamuk" Ketus Sera.
Dan obrolan pun berakhir sampai di situ, malas untuk kami melanjutkan dan bosan jika dengar pertengkaran.
Alhasil kami saling diam dengan sesekali Ammar tak kunjung berhenti menjahili Sera yang tengah makan siomay nya.
Aku hanya menggeleng saja melihat tingkah mereka, bersama mereka terkadang membuat nyaman dan kesal secara bersamaan.
__ADS_1