
"Nanti malam, mau lagi gak?" Tanya mama
Zea menggeleng cepat
"Yakin?"
Zea mengangguk
"Walah bocah, bocah! Nanti klo udah terbiasa, ketagihan kamu pasti Hihihi". Batin mama sambil cekikikan
Ketika tepat pada pukul lima sore hari, Alvin sudah pulang dari rumah sakit milik orang tuanya itu.
"Assalamualaikum". Salam Alvin
"Waalaikumsalam". Lalu Zea membukakan pintu
"Eh, Om suami udah pulang". Sapa Zea
Alvin tak menjawab. Ia langsung masuk begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun
"Om!" Panggil Zea sedikit berteriak
Alvin berhenti, dan diam di tempat.
"Om kenapa? "Tanya Zea
Alvin tak menjawab, dan terus berjalan lagi menuju tangga
"Kenapa sih tu orang? Rugi kali ya kalo ngomong. Heran apa salahnya tinggal jawab dong!" Batin Zea
Zea segera mengikuti Alvin yang mungkin sudah sampai di kamar
Zea memeluk tubuh Alvin dari belakang
"Om marah ya sama Zea?" Tanya Zea sambil mengeratkan pelukannya ke Alvin
Lagi-lagi Alvin hanya diam, dan tak mengucapkan apa pun
"Zea gak bisa loh, Om klo di giniin! Kalo emang Om marah sama Zea, Om bilang dong salah Zea apa? Dimana? Jadi Zea gak bingung". Ucap Zea sambil terus menatap wajah Alvin
Alvin masih tetap diam, dan seperti tak ada niat ingin menjawab setiap ucapan Zea
Zea mengambil koper di atas lemari, dan memasuki semua pakaiannya kedalam
__ADS_1
"Mau kemana? "Tanya Alvin dingin
"Mau ke rumah mami!" Sahut Zea sambil terus memasukkan pakaiaannya
"Ngapain?"
"Zea mau tinggal di sana aja". Sahut Zea lagi
Lalu Alvin segera memeluk tubuh mungil Zea
"Kamu gak boleh pergi!" Lirih Alvin
"Buat apa Zea disini?" Ucap Zea lantang
Air mata Zea terus mengalir
"Maaf kan saya!" Ucap Alvin dan semakin erat memeluk tubuh mungil itu
"Om jahat sama Zea, Om udah gak ngepeduliin Zea lagi". Ucap Zea sambil terus menangis
Kini berbalik. Yang tadi nya Zea yang nangis, ini malah Alvin pun ikutan
"Loh, Om ngapain nangis?" Tanya Zea bingung sambil mengusap cairan bening di pipinya
"Nah, minum Dulu Om!" Zea memberikan segelas air putih
"Coba ceritain pelan-pelan". Ucap Zea
"Tadi ada ibi-ibu yang sedang operasi".
"Terus?"
"Penyakit dia itu udah sangat parah, dan kami gak bisa nyelamatkan nyawanya". Tangis Alvin pecah kembali
"Saya menyesal!" Lirih Alvin
Kini Zea paham, mengapa suaminya itu diam saja
"Itu bukan salah Om suami , itu semua udah takdir."
Tangis Alvin pun mulai sedikit mereda
"Oh iya Om suami, Zea tadi dapat kado loh dari mama". Ucap Zea
__ADS_1
Alvin menghapus air matanya dan menatap Zea
"Kado apa?" Tanya Alvin
"Zea juga gak tau sih!"
Lalu Zea mengambil sebuah kado yang berukuranakan tak terlalu besar.
"Ini apa ya?" Tanya Alvin sambil membolak balikkan kado itu
"Kita buka yok, Om! "
Lalu keduanya membuka kado itu. Dan saat kado telah di buka, keduanya kaget akan isi di dalamnya
"Oh, astaga! Ini apa?" Teriak Zea sambil terus mencampakkan semua isi kado itu ke sembarang arah
"Ini apa Om?" Tanya Zea lagi
"Kamu gak tau?" Tanya Alvin
Zea menggeleng
"Kamu gak tau? "Tanya Alvin lagi
"Zea, Zea! Kamu itu perempuan apaan sih? "Tanya Alvin yang mulai gemas dengan kepolosan istri bocilnya
"Ntah , Zea pun gak tau". Sahut Zea sambil tersenyum
"Sekarang udah tau belum cara buat dede gimana?" Tanya Alvin
"Gak ada gunanya juga pun Zea tahu!" Sahut Zea
"Kok gitu? Kenapa?" Tanya Alvin
"Tau gak taunya, itu sama aja gak ada ngaruhnya juga sama Zea. orang Zea cuman diam aja pun! Bagusan juga gak tau kan?" Ucap Zea
"Salah kamu kenapa diam?"
"Karena Om berat! Zea kejepit". Sahut Zea membuat Alvin ketawa terbahak-bahak
"Udah Om, jawab dulu itu apa?" Tanya Zea semakin penasaran
bersambung....
__ADS_1
Kira-kira kadonya apa ya? Itu juga pun si Zea, siapa suruh coba diam aja. Gak tau kepo, giliran di praktekin malah rugi katanya wkwkwk