
Cahaya matahari menerobos masuk dari celah-celah jendela, petanda hari sudah siang.
Zea terbangun abibat cahaya matahari yang masuk dan membuatnya silau. "Ughht!" Dengan sedikit mengulet, khas orang bangun tidur.
"Kok haus ya?" Ucapnya. Saat tangannya hendak mengambil gelas yang sudah berisi air di atas meja, Zea tak sengaja menyenggol gawai Alvin hingga terjatuh.
"Astaga!" Terkejutnya. Saat Zea melihat benda pipih itu, betapa terkejutnya dia, ternyata gawai milih Alvin sudah hancur lebur. Hingga meninggalkan sompel sana, sompel sini.
"Yah, pecah! Mampus lah aku". Gumamnya. Bagaimana tidak panik, benda pipih itu baru saja seminggu yang lalu di beli Alvin. Sebab, Zea juga yang telah merusaknya.
"Duh! Bisa di pecat jadi bini nih, klo gini ceritanya. Yang semalam habis di laundry, yang ini nyium lantai. Mati-mati!" Gerutunya sambil menepuk-nepuk jidatnya.
"Mana handphone nya mahal lagi. Bisa-bisa potong jatah bulanan dong klo begini". Ya, gawai Alvin itu bukan gawai yang murahan. Harganya saja sangat fantastis. Gawai yang ber logo apel separuh itu kini telah hancur di makan lantai.
"Tarik nafas, buang! Tarik nafas, buang!" Instruksinya supaya lebih tenang.
"Tenang, Zea! Gak boleh panik. Nanti klo tuannya marah, bilang aja bukan salah Zea. Kan yang buat hp nya pecah itu lantai, jadi Zea gak salah dong?" Pikirnya seraya mencari cara agar tak di salahkan
Ceklek!
Pintu pun terbuka.
"Morning, baby!" Sapa Alvin saat masuk kamar
"Morning". Sahut Zea dengan raut wajah gugup. "Kenapa? Kok masih pagi udah keringat dingin aja? "Tanya Alvin
"A..ah... e..nggak kok". Sahutnya dengan terbata. Alvin menatap Zea lekat. "Ada apa sih, manusia ini? Kok aneh banget". Batin Alvin
"Astaga, masih pagi sudah berusaha menggoda ku saja". Batin Alvin. "kenapa?" Kini Zea yang kembali bertanya
"Masih pagi loh, Ze masak udah pengen aja". Ucap Alvin sambil mengedipkan matanya sebelah. "Apa sih, kok gak jelas banget?" Omel Zea
Karena gugup, Zea akhirnya menggigit bibir bawahnya. Namun si Alvin salah tanggap. Alvin beranggapan, bahwa Zea sekarang sedang menggodanya
"Itu? Ngapain mainin bibirnya gitu? Nanti klo khilafku kambuh, bisa bahaya loh".
"Gini, menggoda?" Ucap Zea sambil menunjukkan apa yang Alvin maksud barusan. "Nah, betul tuh!" Sahut Alvin sambil tertawa
"Gini doang? Klo Zea ga pake baju, itu baru namanya menggoda. Dasar aneh!" Cibir Zea
Cup!
"Ih, kebiasaan deh!"
"Salah sendiri. Tadi minta, giliran di kasi ngomel".
"Bilang-bilang dulu kek, ini langsung nyamber aja. Kan terkejut". Sahut Zea. "Tapi enakkan?" Ucap Alvin sambil mengedipkan matanya sebelah
"Iya, sih.hahaha". sahut Zea sambil tertawa. "Mau lagi?" Tawar Alvin. "Ih, ketagihan". Sahut Zea sambil memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Alvin pun sibuk mengobrak-abrik laci yang berada di kamar mereka. "Duh, mati lah aku". Batin Zea
"Nyari apa, Mas?" Ucap Zea basa basi. "Liat hp aku, gak?" Tanya nya. "Duh, gak ada liat tuh". Alibi nya
"Perasaan tadi malam aku letak di sini deh, kok sekarang gak ada ya? "
"Nanti kamu salah letak kali, Mas". "Enggak kok, aku masih ingat. Memang di sini aku letaknya". Keukeh Alvin
Kini mata Alvin beralih menatap Zea. "Apa? "Tanya Zea. "Pasti kamu yang ngumpetinkan?" Tebak Alvin
"Ih, kok fitnah sih! Mana buktinya?" Ucap Zea dan berusaha tidak terlihat gugup
"ZEA!" ucap Alvin berharap mendapatkan jawaban dari bibir mungil milik Zea itu. "Ih, kok jadi nuduh Zea sih?"
"Jawab jujur, atau potong uang bulanan?" Ancam Alvin. "Ih, kok gitu sih?"
"Udah! Cepat katakan, di mana hp ku?" Desak Alvin lagi. "Tapi janji, Mas jangan marah ya?"
"Iya! Udah cepat, mana gawai ku?" Dengan tangan gemetar, Zea memberikan benda pipih itu pada Alvin
"Nah, ini dia". Sahut Alvin lega. Saat hp miliknya telah sampai di tangannya, Alvin langsung di buat terkejut bukan main
"Lah? Ini hp ku? Kok bisa gini?" Amuk Alvin, dan menatap Zea tajam. "Eh, jangan nyalahin Zea".
"Jadi nyalahin siapa?" Marah Alvin. "Lantai! Ya, lantai yang udah bikin hp Mas jadi begini".
"Gitu doang? Kamu mau tau harga nya berapa?".
"Gak usah di bilang, Zea juga tau". jawab Zea.
"Nah, itu tau, jadi kok di hancurin?"
"Namanya gak sengaja. Naroh hp pun di situ, salah sendiri". Sahut Zea merasa tak bersalah
"Hp yang kemaren udah kena laundry. Ini nyium lantai, besok apa lagi? "Geram Alvin
"Zea bikin supaya menjadi penyelam yang handal". Sahut Zea bangga.
"Oke, jatah untuk bulan depan di potong! "
"Kan? Selalu gitu".
"Harus!" Sahut Alvin. "Lagian pun, mas. Hp segitu aja di permasalahin, kan bisa beli baru".
"Gak perlu canggih-canggih, yang biasa juga bisa". Ucap Zea
"Ya beda lah". Sahut Alvin. "Itu kurma loh, Mas. Eh karma maksudnya hehehe".
"Karma apan?" Tanya Alvin. "Ya iyalah. Karena kamu gak adil sama aku. Kamu hp nya canggih, lah aku,murahan. Mana merk lama lagi". Sahut Zea
__ADS_1
"Udah, pokoknya jatah bulanan, di potong!" Tegas Alvin. "Oke, jatah malam di blokir mulai dari malam ini". Sahut Zea tegas, dan berhasil membuat Alvin langsung menoleh ke Zea
"Apa liat-liat? "
"Jangan gitu dong, Yang".
"Kenapa? Gak suka? Potong aja, gak masalah". Sahut Zea sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa? Masih mau di potong?" Tanya Zea. "Ya udah, iya. Gak jadi di potong". Sahut Alvin pasrah.
"Nah, gitu dong". Sahut Zea senang.
"Udah yok, yang. Aku mau berangkat kerja nih, ntar telat". Ucap Alvin. "Ya udah pigi aja, kok malah nangis".
"Siapa yang nangis, markonah?" Batin Alvin geram
"Kan belum sarapan, yang. Laper, ntar aku mati gimana?"
"Tinggal kawin lagi, kok susah. Malah aku bisa cari brondong lagi. Janda muda, kaya raya. Sepuluh kaya kamu bisa, mas". Sahut Zea sambil tertawa
"Terserah deh, yang penting aku sarapan dulu". Ucap Alvin
"Mau sarapan pake apa? Batu? Emang kamu ga liat ya, aku baru bangun gini, kapan masaknya?" Omel Zea
"Jadi gak sarapan nih?"
"Warung nasi banyak! Tinggal pilih. Udah sana, aku mau tidur lagi". Zea pun langsung tidur kembali tanpa memikirkan Alvin
"Nasib-basib! Hp rusak, bini ga masak. Kawin lagi aja udah". Sindir Alvin
"Ya udah sana kawin lagi, emang mau di coret dari kartu keluarga?".
Ya, mama Alvin selalu mengancam Alvin. Bila Alvin menikah lagi, maka akan di coret dari KK oleh mama nya
"Huh!" Sungut Alvin
Zea pun tertawa di balik selimutnya. "Gak di cium, yang?"
"Gak ngasih duit, buat apa?" Jawab Zea.
"Tapi kemaren udah yang? Sekarang ya belum gajian lah".
"Kemaren, ya kemaren. Ini kan sekarang". "Udah ah, sebel aku sama kamu"
"Idih, udah kaya cewe aja ya? 'Sebel' hahaha" ledek Zea
"Terserah!"
"Idih, ngambek"
__ADS_1