
"selamat sayang, kamu
hamil, trimakasih, untuk semuanya, sekarang keluarga kita sudah lengkap, sekali
lagi terima kasih nyonya Prasetya, aku sangat mencintaimu dan anak kita."
jantung
clarisa berdegup dengan kencang mendengar, arka mengucapkan bahwa ia hamil, ia
tidak merespon sama sekali ucapan arka, ia juga tidak balas memeluknya, tatapan
nya menjadi dingin dan seperti patung tidak bergerak sama sekali.
arka
memeluk clarisa erat, tapi lama kelamaan ia merasa ada yang aneh dengan
clarisa, ia melepaskan pelukanya dari Clarisa dan menatap wajah clarisa yang
tidak berekspresi sama sekali.
"nyonya Prasetya ada apa denganmu?" kata arka mulai aneh dengan clarisa,
saat ia melihat wajah clarisa sama sekali tidak senang dengan ucapan nya, bahwa
ia hamil
"kenapa?"
kata clarisa dingin
"kenapa apa nya sayang?" kata arka tidak mengerti
"kenapa?
kenapa aku bisa hamil?, padahal aku setiap hari rutin selalu meminum obat yang
kamu berikan itu! apa aku tidak ingat, meminum obat itu, apa kita gugurkan saja
__ADS_1
bayi ini?" kata clarisa berbicara cepat.
"clarisa firnanda!!!" teriak arka murka.
arka marah karna clarisa mau menggugurkan calon bayinya. clarisa terkejut, ini ke
dua kalinya ia, di panggil dan di bentak seperti itu, setelah ia bertemu dengan
Rion dulu.
"kenapa kau membentak ku!!!!" balas clarisa berteriak, pada arka ia sedang
di selimuti emosi Sekarang, karna dirinya mengetahui bahwa ia mengandung
membuat ia emosi dan juga arka yang membentak nya.
"maapkan aku. tapi aku tidak suka kamu mau mengugurkan anak ku, anak kita
clarisa" kata arka merasa bersalah karna hilaf membentak clarisa.
"tapi aku tidak menginginkan nya, ini semua salah mu! dan bayi ini, aku tidak suka
nya pada arka.
ia berlari ke kamar nya, dan mengunci kamar nya cepat, arka mengejar nya tapi
telat karna clarisa sudah mengunci pintu nya duluan.
arka terkejut mendengar suara barang barang berjatuhan ke lantai, dan suara
kaca pecah, berserakan. dan ia juga mendengar suara clarisa yang menangis
meraung Raung.
"Clarisa! buka pintu nya!!! nyonya Prasetya buka!!" arka panik dan
menggedor gedor pintu kamar mereka, tapi clarisa seakan tuli tidak mendengar
kata kata arka lagi.
__ADS_1
arka mencoba mendobrak pintu itu, dengan sekuat tenaga nya, beberapa kali ia mencoba
dan akhirnya pintu itu terbuka, ia terkejut melihat clarisa menggenggam kaca
yang sudah pecah, dan itu membuat tangan nya berdarah.
arka mendekati clarisa, tapi clarisa mengancam arka, kalau arka mendekat ia akan
menusuk perut nya sendiri dengan kaca yang ada di genggamanya.
"clarisa apa yang kau lakukan, ingat dia darah daging mu sendiri, lepaskan kaca
itu!" kata arka mulai jengah, dan emosi melihat tingkah bodoh istrinya
yang melukai dirinya dan calon bayi Mereka.
"kau tidak mengerti arka Prasetya!" kata clarisa meneriakan nama lengkap arka, emosinya sudah di ambang batas kesabaran, di tambah mood orang hamil yang
mengerikan.
"apa, yang aku tidak mengerti?" kata arka bingung, ia senang clarisa hamil, tapi
melihat reaksi clarisa menjadi seperti ini, ini di luar perkiraan Anya,
walaupun begitu ia tidak suka dengan perilaku clarisa yang ingin membunuh calon
bayi mereka sendiri.
"kau tidak mengerti, jika anak ini lahir hiks nanti, aku takut , ia akan seperti ku
nanti hiks, apalagi seperti alvaro , aku belum siap menjadi orang tua , aku
takut melukai nya, kalau sudah besar , aku takut , menjadi orang tua yang jahat
saat ia besar nanti hiks"
tangisan clarisa pecah, ia menggenggam kaca di tangan nya erat, hingga tangan nya
berdarah pun ia sama sekali tidak merasakannya.
__ADS_1