
arka menghela napas nya, ia memeluk clarisa
erat, lalu melepaskan tangan clarisa
yang masih menggenggam benda tajam itu,
dan clarisa masih menangis sesenggukan.
"dengarkan aku, kita bisa mencoba menjadi orang tua yang baik, dari pengalaman
masa lalu" kata arka lembut arka mengerti
dengan keadaan clarisa yang tidak mau menerima calon bayi itu, karna clarisa
masih terauma dan takut atas kejadian
yang menimpa mereka, seperti bayang bayang yang selalu mengikuti mereka ingatan
itu membuat clarisa masih menutup diri untuk tidak menerima calon bayi mereka, clarisa dulu juga, tidak terlalu mendapatkan
kasih sayang orang tuanya karna mereka sangat sibuk , baru baru ini saja orang
tuanya ada waktu luang untuk nya, tapi belum cukup puas meraup kasih sayang
orang tuanya, tapi kini orang tuanya
sudah tiada.
apalagi saat clarisa mendengar alvaro menceritakan masa kecilnya, clarisa
menjadi takut, kalau kalau ia menjadi
orang tua yang seperti itu untuk anak anak nya nanti.
__ADS_1
"aku hiks takut melukai perasaanya nanti, karna masih belum tau menjadi orang
tua baik itu bagaimana?" kata clarisa berbicara sesenggukan di pelukan
arka.
"shhhtt dengarkan aku, apa kamu tidak berpikir nyonya Prasetya? bahwa Sekarang
anak kita terluka, saat ibu nya tidak menginginkannya dan ingin menghilangkan
nya sebelum ia lahir, ia bahkan belum melihat wajah orang tuanya seperti apa,
itu juga kejam clarisa, itu bahkan lebih kejam untuk menghilangkan nya, jangan
bersikap bodoh clarisa" kata arka menjelaskan, dan menasihati clarisa, sambil mengelus lembut perut clarisa, lalu mengecup nya pelan.
"maaf kan aku, maaf kan aku aku ibu yang jahat maaf kan aku" kata clarisa
meminta maaf berulang ulang, ia sadar dengan perkataan arka bahwa ia sangat
kandungan, ia merasa lebih jahat dari ibunya alvaro sekarang."
sudah, sudah jangan menangis lagi, kita bisa bersama sama belajar menjadi orang
tua yang baik untuk anak kita, dan kamu pasti bisa menjadi ibu yang baik, karena
istri ku sangat bertanggung jawab dan baik" kata arka lembut dan mengecup kening
clarisa, setelah itu, arka menggendong clarisa dan mendudukkan Kanya di sofa, ia lalu berlalu
dan mengambil kotak obat, untuk mengobati luka clarisa yang masih berdarah.
clarisa merintih saat arka mulai membersihkan luka nya dengan cairan desinfektan, dan
__ADS_1
meneteskan obat, lalu membalut luka nya, dengan telaten.
"nanti setelah anak ini lahir kamu hiks yang mengurusnya" kata clarisa pada
Arka, setelah tangisan nya mulai reda.
"baiklah" kata arka dengan sigap
"jika menangis kamu yang menghentikan tangisanya" kata clarisa lagi
"iya"
"jika dia lapar kamu yang memasak dan memberikan dia makanan""
iya"
"pokok nya kamu harus bertanggung jawab mengurus anak ini, dan melakukan
semuanya" kata clarisa lagi, ia tidak senang dengan Jawaban arka yang
seperti itu
"baiklah, aku akan mengurus semua kebutuhan anak kita, dan mengurus semuanya, apa kamu
puas nyonya Prasetya?" kata arka akhirnya, jengkel juga
"hehe sangat puas" kata clarisa tertawa lebar dan mengecup bibir arka, arka terkejut tapi tidak menolak kecupan clarisa, ia senang masalah mereka sudah terselesaikan, karena clarisa Sudah mau menerima calon bayi mereka, tapi ia agak khawatir juga dengan kesehatan clarisa, paska kehamilan karena clarisa masih tergolong muda untuk hamil, di usianya sekarang ini masih belum cukup
umur untuk melahirkan.
ia
harus sering sering berkonsultasi dengan dokter nanti nya, supaya bisa mencegah
__ADS_1
hal yang tidak diinginkan terjadi, Sekarang ia harus menjadi suami yang siap
siaga untuk istrinya, karna istrinya Sekarang tengah berbadan 2.