Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XXIV -Jalan Yang Berbeda -


__ADS_3

5 bulan lebih sudah berlalu semenjak kepergian kakek Liam. Tak banyak yang berubah selain kepemimpinan Liam's Group, tentu saja.


Cucu satu-satunya itu, Ayud Jonathan telah mengambil alih perusahaan Liam's Group sebagai CEO menggantikan Liam Thang. Meskipun awalnya, banyak yang meragukan kepemimpinan laki-laki itu.


Namun melihat sang legenda, Liam Thang mempercayakan perusahaan besar miliknya kepada sang cucu. Maka, tak di ragukan lagi. Pasti ia tahu bahwa pemuda itu berkemampuan, terlepas dari semua skandal yang di lakukan nya dulu.


Meski kepergian Liam Thang masih menyisakan luka yang sangat mendalam bagi semua pihak, namun hidup masih harus tetap berjalan seberapa berat pun itu.


...Ayud POV...


Aku mengurut kening ku yang terasa agak panas. Sudah hampir 5 bulan, sejak kepergian kakek ku. Dan selama itu pula, aku harus mengemban tugas memimpin Liam's Group dengan baik.


Meski tanggung jawab ini terasa begitu mendadak, harus ku jalani dengan sepenuh hati. Itu adalah permintaan terakhir dari kakek sebelum ia meninggal dunia.


Kepergian kakek Liam yang terasa sangat mendadak seolah sukses meruntuhkan dunia ku.


Tak akan ada lagi, orang yang akan memperlakukan ku dengan penuh kasih sayang. Seperti yang di lakukan kakek pada ku.


Namun, aku tak boleh terlalu larut dalam rasa sedih yang tak berkesudahan ini. Aku harus bangkit dan melangkah ke depan demi kemajuan Liam's Group. Ada ribuan karyawan yang nasibnya bergantung di tangan ku sekarang.


Awalnya, aku agak kewalahan untuk mengurus perusahaan kakek yang sangat besar. Apalagi menjadi CEO di usiaku yang masih sangat belia, ini rasanya seperti memikul beban yang tak sanggup ku bawa sendiri.


Namun, aku beruntung. Kakek Liam memiliki orang-orang kepercayaan yang bisa di andalkan. Mereka memandu ku untuk belajar tentang urusan kantor. Aku bersyukur bisa belajar dengan sangat cepat.


Aku juga belajar secara otodidak tentang bagaimana mengurus perusahaan dengan baik, di bantu oleh Manager Huang. Semua terasa berjalan dengan sangat baik. Ini pasti berkat doa-doa tulus dari mendiang kakek, batinku.


Terkadang, di tengah kesibukan ku sering terlintas wajah gadis itu. Namun, apa hak ku untuk mengurusi semua hal tentang dia?. Aku hanya berharap gadis itu selalu bahagia, dimana pun dia berada.


Jalan kehidupan kami sudah sangat berbeda sekarang. Aku sendiri masih sibuk memperbaiki kehidupan ku agar menjadi lebih baik. Aku berusaha menjadi lebih baik dari versi ku sebelumnya.


Aku tak ingin lagi hidup dalam foya-foya. Semua sudah tak ada artinya lagi bagiku sekarang. Aku sadar, sikap ku yang seperti itu hanya akan menciptakan luka bagi orang-orang terdekat ku. Terutama, mendiang kakek Liam.


Aku masih sangat sering merindukan sosok lembut itu. Andai saja waktu bisa di ulang, aku ingin jadi cucu yang lebih penurut. Aku tak akan membuat kakek sedih sepanjang waktu.

__ADS_1


Sekarang, yang bisa ku lakukan hanyalah bekerja lebih keras dari orang lain. Aku terus menekan diriku untuk melakukan yang terbaik. Tak ada waktu lagi untuk bermain-main, aku benar-benar harus berubah.


Semoga suatu saat, aku dan gadis itu bisa bertemu lagi. Bertemu di garis takdir yang baik, dengan kehidupan yang lebih baik pula. Jika masih ada kesempatan, aku ingin membuat gadis itu bahagia walau hanya sebentar.


...Ayud POV End...


Rachel berjalan dengan anggun sambil menempelkan beberapa map ke dadanya. Gadis itu sekarang menjadi sekertaris pada sebuah perusahaan di Seoul. Ia tampak telah banyak berubah, penampilan nya terlihat lebih ceria.


Hari itu, ketika ia pergi meninggalkan keluarga Ayud. Takdir mempertemukan dengan dengan laki-laki itu. Namanya Albert, ia memimpin perusahaan ayahnya Mayora Enterprise.


Pertemuannya mereka seolah sudah di atur dengan sangat apik oleh sang pemberi takdir. Albert sendiri, adalah seorang laki-laki yang sangat peduli dengan keadaan orang-orang di sekitarnya.


Ia terbiasa membantu mereka yang mengalami kesusahan, bahkan sejak ia masih di bangku sekolah TK. Hal itu pulalah yang mendorong nya untuk memperkerjakan Rachel di perusahaan milik ayahnya itu.


Siang itu matahari bersinar dengan teriknya. Gadis itu sedang duduk di bangku taman sambil sesekali menyeka peluh di wajahnya. Ketika itulah pertemuan di antara mereka terjadi.


Kesan pertama yang di dapat Albert dari gadis itu adalah, manis. Gadis itu bertubuh mungil namun dengan kulit wajah yang sedikit pucat. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan langsung gemas.


Perkenalan mereka terjadi begitu saja. Gadis polos itu menceritakan apa adanya apa yang terjadi pada dirinya. Saat itu pulalah, Albert menawarkan bantuannya. Gadis itu menerima nya dengan senang hati.


Mereka banyak menghabiskan waktu berdua. Albert sering bercerita soal keluarga, soal penyakit ayahnya. Gadis itu selalu memberi Albert semangat. Meski hidupnya sendiri tak terlihat memiliki banyak harapan.


Rachel melangkah dengan anggun menuju kantor tempat ia bekerja. Dia terbiasa berjalan kaki menuju tempat kerjanya. Albert mencari kan sebuah Apartemen yang memang terletak tak jauh dari kantor.


Rachel merasa sangat bersyukur bisa mengenal laki-laki sebaik Albert. Begitu banyak kebaikan laki-laki itu yang bahkan tak bisa di balas dengan jumlah uang berapapun.


Sebagai bentuk terimakasih nya, ia bekerja lebih rajin dan tekun di banding karyawan yang lain. Meski sering di tuding mencari perhatian, Rachel tak memperdulikan hal itu.


Gadis itu berharap kerja kerasnya ini dapat membuat perusahaan laki-laki itu lebih maju. Ia tak ingin terlalu berhutang budi dengan bekerja seperlunya saja.


Begitu wanita muda itu sampai di meja kerjanya, semua teman-teman menyambutnya dengan ramah. Salah seorang rekan nya Reni menepuk pundaknya,


Ra, di panggil pak Albert. Katanya ada yang mau di sampaikan padamu".

__ADS_1


Rachel tersenyum dengan kedua lesung pipi nya, gadis itu terlihat sangat manis.


"Oke, terimakasih ya".


Reni mengacungkan jempol nya. Rachel berlalu meninggalkan gadis itu dan segera menuju ruangan Albert. Ia mengetuk pintu sang majikan pelan,


"Selamat pagi pak, ada apa ya memanggil saya?"


Rachel menatap sang majikan, menunggu perintah. Albert tersenyum,


"Silahkan duduk dulu".


Wanita itu mengangguk dan duduk di depan sang majikan. Albert menatap nya lembut gadis itu benar-benar manis.


"Nanti siang kita akan meeting dengan perusahaan Liam's Group, terkait pengajuan kerja sama yang kita ajukan beberapa hari lalu. Saya mau kamu siapkan semua berkas yang di perlukan ya".


Rachel mengganggu dan mengiyakan permintaan Albert. Laki-laki muda itu mendesah,


"Oh ya satu lagi, kalau di ruangan saya panggil Albert saja. Kan saya ini majikan tapi juga sahabat kamu".


gadis itu tersenyum dan menunduk, matanya berkaca-kaca.


"Terimakasih Al, selama ini kamu sudah sangat baik sekali padaku. Kalau tak ada kamu, mungkin aku sekarang sudah jadi g*mbel di luar sana. Aku akan bekerja keras untuk membuat pertolongan mu tak sia-sia Al".


Lagi-lagi Albert tersenyum, tatapan nya sangat hangat dan lembut.


"Saya hanya ingin kamu hidup dengan baik Ra, saya tak mengharapkan balas budi apapun. Jangan membebani pikiran mu dengan hal-hal seperti itu ya. Saya ingin kamu bahagia, saya akan membantu kamu mewujudkan nya".


Rachel tersenyum dan menunduk hormat kepada sang majikan,


"Baiklah Al, aku pergi dulu ya. Ada beberapa file yang harus ku siapkan untuk rapat nanti. Sekali lagi terimakasih ya. Aku permisi dulu, pak bos".


Gadis itu tertawa kecil dan meninggalkan ruangan Albert dengan cepat. Albert menatap punggung gadis itu, ingin sekali rasanya dia merengkuh tubuh itu dalam pelukannya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


Stay Healthy always my beloved reader😊😊😊


__ADS_2