
"Sakit",
Ayud memijit pergelangan tangan nya yang terasa agak kram. Laki-laki itu mondar mandir di kantornya, sesekali ia melirik ke luar jendela. Manager Huang berdiri di dekatnya, memperhatikan tingkah laku sang majikan.
"Huang, coba cari informasi tentang perusahaan Albert. Cari tahu semua aset yang mereka miliki. Aku begitu penasaran, sekaya apa laki-laki itu".
Ayud menggigit bibir sambil memainkan kusen jendela,
"Cari tau juga tentang Rachel. Bagaimana dia bisa bekerja di perusahaan laki-laki itu".
Manager Huang mengangguk,
"Baik, tuan".
Laki-laki itu kembali memijit pergelangan tangan nya yang terasa sakit. Ia bergumam pelan,
"Aku harus membuatnya berhenti dari perusahaan itu".
Beberapa saat kemudian, Ayud tampak larut dalam kesibukan nya. Ketika hampir tiba jam makan siang, ia mendapat telepon dari salah satu karyawan Mayora Enterprise untuk membahas tentang proyek mereka.
"Minta sekertaris Rachel yang menjadi perwakilan dari Mayora Enterprise".
Katanya kepada penelpon di seberang sana. Laki-laki itu tampak tersenyum penuh arti. Tak lama kemudian, ia merapikan meja kerjanya. Lalu, segera berangkat ke tempat janjian mereka.
Di sepanjang perjalanan laki-laki itu terus tersenyum. Manager Huang yang melihat nya sedikit merasa heran, namun tak berani bertanya apa-apa.
...Ayud POV...
Sebelumnya mungkin aku gagal membuat wanita itu menjadi milikku seutuhnya. Namun, kali ini akan aku pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku bukanlah laki-laki tak berguna seperti dulu.
Aku sudah berubah dan tentu saja perubahan ku ini sedikit banyaknya termotivasi dari dia. Seandainya saja kakek ada disini saat ini. Beliau pasti akan merasa sangat bangga, melihat diriku yang sekarang.
Rasa kehilangan ini begitu berat. Namun aku tetap harus berdiri tegak demi perusahaan kakek, dan demi nasib ribuan karyawan yang bekerja padaku.
Dari kejauhan ku lihat wanita itu melangkah dengan anggun sambil membawa beberapa berkas berwarna biru di tangan nya. Betapa cantiknya dia. Seandainya aku menyadari itu lebih awal, sebelum semua rasa kehilangan ini.
...Ayud POV End...
Rachel berjalan dengan cepat untuk menemui laki-laki itu. Lututnya berkali-kali terasa gemetar, seperti mau terlepas dari tempatnya. Berkali-kali di telan nya saliva nya, dengan susah payah.
Laki-laki itu tampak sangat tenang. Ia duduk di kursinya, sambil melipat tangannya ke dada. Pesonanya itu mampu menghancurkan persiapan besar yang telah di lakukan Rachel. Gadis itu mengulurkan tangannya,
"Selamat siang pak, saya datang mewakili Mayora Enterprise".
Laki-laki itu menyambut uluran tangan wanita tersebut,
"Baiklah, silahkan duduk".
Ia memperhatikan wajah wanita itu, dan menyeruput kopi yang ada di depannya. Wajah bersemu merah milik wanita itu benar-benar alami. Ia terlihat sangat cantik.
"Silahkan pesan makanan yang kamu inginkan".
Ayud membuka percakapan setelah mereka sama-sama diam untuk sejenak. Gadis itu tersenyum,
"Terimakasih pak. Tapi saya lagi tidak ingin minum apa-apa untuk saat ini".
Laki-laki itu memperhatikan dengan serius berkas-berkas yang di bawa oleh Rachel,
"Siapa yang menyusun berkas-berkas ini?".
Tanya nya sesaat setelah memperhatikan betapa rapinya berkas itu tersusun. Rachel tersenyum,
__ADS_1
"Kebetulan itu saya pak. Silahkan bapak lihat-lihat dulu, lalu beritahu saya bagian-bagian yang harus diperbaiki".
Ayud meletakkan berkas itu ke meja, dan kembali menyeruput minumannya.
"Tidak usah, saya percaya kepada kamu. Pasti pekerjaan mu itu sangat baik, sehingga kamu bisa bekerja di perusahaan sebesar Mayora Enterprise?".
Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat goyah. Sangat jelas, laki-laki di depannya ini sedang berusaha merendahkan nya.
"Terimakasih kalau bapak menilai saya seperti itu. Mohon di baca dulu dengan baik mengenai kerjasama yang akan kita lakukan ini pak".
Gadis itu berhenti sejenak, menelan saliva nya dengan susah payah.
"Sekembalinya saya dari sini, tentu atasan saya tidak menerima komplain dalam bentuk apapun juga. Karena itu artinya, bapak menyetujui aturan yang tertera di dalam berkas ini".
Ayud menarik nafas, gadis di depannya ini benar-benar terlihat profesional.
"Baiklah, anggap saya menyetujui semua aturan yang tertera di dalam sini. Dan bisakah kita tidak mempermasalahkan hal ini lagi?".
Ia mengetuk berkas yang tadi di bawa Rachel,
"Demi Tuhan, bisakah kita membahas hal-hal selain pekerjaan membosankan ini?".
Rachel tampak terkejut,
"Maksud anda pak?".
Laki-laki itu tersenyum,
"Ceritakan tentang dirimu. Apa yang terjadi padamu selama ini, mengapa kamu bisa bekerja di perusahaan Albert".
Rachel merapikan berkas-berkas yang berantakan di atas meja dan berdiri,
Rachel melangkah kan kakinya lalu berhenti ketika teringat sesuatu,
"Bagaimana kabar kakek?. Apa beliau baik-baik saja?".
Ayud terkekeh geli,
"Duduk dulu. Mari kita bicara sebagai sesama teman".
Tidak ada pilihan lain bagi Rachel selain mengiyakan permintaan laki-laki itu. Ayud kembali menyeruput kopinya. Ia menarik nafas kesal, ketika menyadari kopinya begitu cepat habis.
"Kakek sudah tenang di alam sana. Ia pergi tepat setelah 2 bulan kamu meninggalkan rumah".
Rachel terkesiap, ia begitu tak percaya dengan hal yang baru saja di dengarnya.
"Apa?. Katakan kalau saya salah dengar".
Ayud mengangguk. Wajah tampan nya mendadak berubah sedih.
"Iya, kakek sudah meninggal. Sebelum meninggal, ia ingin sekali bertemu dengan mu. Namun, aku sama sekali tak bisa menghubungi mu".
Gadis itu merasa lemas, lututnya bergetar. Airmata mengalir begitu saja dari wajah cantiknya. Ia benar-benar tak menyangka, orang tua yang sangat baik itu sudah tiada.
"Tidak mungkin. Kakek berjanji akan menjaga kesehatan nya dengan baik. Bahkan aku sudah meminta nya untuk hidup dengan baik. Mengapa kakek membohongi ku?".
Kenyataan bahwa sang kakek telah meninggal, benar-benar membuat nya terpukul. Ada begitu banyak hal yang belum dia lakukan untuk membahagiakan sang kakek.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan Albert?".
Rachel tercengang,
__ADS_1
"Apa?".
Ayud tersenyum, ia menyesal mengapa baru sekarang menyadari betapa manisnya gadis yang sekarang ada di depannya ini. Ia memanggil pelayan dan memesan kopi kembali. Ayud mengulang pertanyaan nya,
"Sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan Albert?".
Rachel menyeka dengan kasar airmata nya yang tak kunjung berhenti itu,
"Mengapa anda menanyakan hal itu?. Apakah itu penting bagi anda pak?".
Ayud mengetuk meja di depannya,
"Berhenti dari sana. Perusahaan ku cukup besar, kamu pasti bisa bekerja dengan baik".
Rachel jengah, laki-laki ini terlihat memegang kendalinya dengan kuat. Ia mengatur nafasnya,
"Maaf pak, saya sudah bekerja dengan sangat baik di tempat saya yang sekarang. Lagipula, bukankah kita sudah berjanji untuk tak saling mengusik satu sama lain?".
Ayud menyeruput kopi yang baru saja di antar oleh pelayan. Laki-laki itu mengumpat pelan, ketika air panas itu menyentuh bibirnya.
Begitu membenciku, Ra?".
Rachel mengalihkan pandangannya,
"Saya rasa urusan kita sudah selesai pak. Saya permisi dulu. Oh ya, saya anggap bapak telah menyetujui semua yang tertulis di dalam berkas ini. Saya akan membuat laporan dengan segera, begitu saya tiba di kantor".
Ayud menyesap kopinya pelan,
"Baiklah. tapi kita akan bertemu lagi sesegera mungkin. Aku bisa memastikan itu".
Gadis itu mendelik kesal, lalu melangkah meninggalkan Ayud yang tampak sedang asyik menikmati kopinya.
Setelah gadis itu pergi, Ayud memanggil pelayan yang tadi mengantarkan kopi kepadanya. Ia memarahi pelayan itu,
"Kopi apa ini?"
Pelayan itu tergagap,
"Maaf tuan, itu kopi yang sama persis seperti yang anda pesan sebelumnya. Apa ada masalah tuan?".
Pelayan itu bertanya dengan hati-hati. Ayud meletakkan cangkir kopi itu, dengan kasar di atas meja.
"Tidak ada, kecuali sangat panas. Berniat membunuh ku?".
Ia meninggalkan tempat itu dan para pelayan hanya bisa saling pandang. Salah satu dari mereka nyeletuk,
"Bukankah wajar kopi yang baru di masak akan panas begini? Apanya yang salah?".
Sementara itu, Ayud dan Manager Huang menaiki mobil menuju ke kantor.
"Huang, sudahkah kamu menemukan apa yang aku suruh?".
Manager Huang mengangguk,
"Sudah tuan. Saya sudah mengumpulkan semua data yang tuan perlukan disini".
Ayud mengambil berkas yang diberikan manager Huang, lalu fokus membacanya.
❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak kalau kamu menyukai novel ini, terimakasih 🙏🙏
__ADS_1