Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LIV -Pertemuan Keluarga -


__ADS_3

Anna tampak bersiap-siap dan memakai pakaian terbaik miliknya, begitu pula suaminya Kim. Keduanya kelihatan sangat bersemangat, sambil sesekali melemparkan canda.


Diruang tamu, terlihat Ayud sedang bersedekap dada. Wajah tampan laki-laki itu terlihat datar. Ia mengenakan baju kemeja yang dipadukan dengan jas hitam. Penampilan nya terlihat sangat elegan.


Sesekali, laki-laki itu mendesah sambil melihat-lihat gadget miliknya. Beberapa saat kemudian, kedua orangtuanya menghampiri laki-laki itu. Anna langsung mengambil posisi duduk di sebelah anaknya.


"Sudah siap sayang?, ayo kita berangkat. Maaf ya, mama sama papa membuatmu menunggu lama".


Kim melirik istrinya lembut sambil memperbaiki kancing bajunya.


"Mama mu itu Ay, kalau dandan lamanya mintak ampun. Papa sampai harus bolak-balik wc, sangking lamanya menunggu mama mu selesai dandan".


Anna tersenyum manja sambil memeluk lengan anaknya.


"Itu haruslah papa, inikan tamu penting kita. Mama harus tampil sesempurna dan semaksimal mungkin. Ayo sayang, kita berangkat sekarang".


Anna menarik tangan anaknya, namun laki-laki itu tak bergeming. Ia menghela nafas sambil menatap wanita paruh baya itu. Melihat hal itu, Anna kembali duduk.


"Ada apa sayang?, kita sudah harus berangkat sekarang kan?. Takutnya nanti kalau kelamaan kita akan telat".


Wanita paruh baya itu menatap anaknya,


"Kamu tidak berubah pikiran kan sayang?. Bukankah kita sudah sepakat untuk melakukan pertemuan malam ini?. Ayolah, jangan permalukan mama dan papa sayang".


Ayud mendesah, laki-laki itu bangkit berdiri. Ia menatap mata kedua orang tuanya.


"Ma, pa, mengapa kita sampai harus melakukan ini?. Istri Ay masih diluar sana, tak tahu entah bagaimana keadaannya. Dan kita disini, malah sibuk mencari pengganti nya. Bukankah ini keterlaluan ma, pa?".


Laki-laki itu mengacak rambutnya,


"Ay menyayangi istri Ay ma, Ay tak pernah berpikir untuk menggantikan tempat nya dihati Ay dengan siapapun. Ay hanya bisa mencintai seorang Rachel ma, pa. Mengapa Ay tak bisa berdiri atas keputusan Ay sendiri?".


Laki-laki itu menghampiri Anna yang sedang duduk dengan anggun. Lalu, duduk disampingnya.


"Ay tahu, mama sangat ingin melihat Ay bahagia. Tapi, jujur Ay katakan sama kalian berdua. Ay tak akan pernah bisa merasa bahagia, kalau bukan dengan Rachel".


Laki-laki itu menunduk, ia menekan kedua matanya. Anna mengelus punggung sang putra dengan pelan,


"Sayang, dengar. Mama bisa mengerti kalau Ay sangat mencintai istri Ay. Tapi, Ay juga harus tahu ada waktunya logika juga harus bekerja. Coba Ay pikir, kalau dia benar-benar menyayangi Ay, mengapa dia pergi?".


Wanita paruh baya itu memegang dagu sang putra, laki-laki itu mendongak.


"Wanita itu sudah memilih jalannya sayang. Tolong hargai usaha papa dan mama yang ingin membuat mu bahagia. Kami ingin menebus kesalahan kami di masa lalu sayang, ketika kakekmu meninggal".


Mata wanita itu berkaca-kaca,


"Ay, tolong izinkan mama sama papa menebus kesalahan kami ya sayang. Kami hanya ingin melihat Ay bahagia, hanya itu sayang. Tolong ya sayang, sekali ini saja bantu mama".


Laki-laki itu mendesah frustasi,


"Baiklah ma, pa. Kalau memang itu yang membuat kalian merasa senang, ayo kita kesana. Tapi, jangan terlalu berharap banyak, Ay benar-benar tak berkeinginan menikah lagi".


Anna menepuk lembut pundak anaknya,


"Kita hanya akan berkenalan sayang, bukan langsung menikah. Jangan terlalu tegang begitu ya, santai saja".


Laki-laki itu mengangguk dan mereka segera menaiki mobil menuju tempat pertemuan yang telah disepakati. Sepanjang perjalanan, Ayud terus menggeser layar HP miliknya. Seolah, ia sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


Anna yang duduk bersebelahan dengannya, menyikut lengan laki-laki itu pelan.


"Sayang, fokus dulu sama pertemuan ini ya. Tak usah pikirkan hal-hal tak penting lainnya. Mama benar-benar berharap, kamu tidak akan mengecewakan mama".


Laki-laki itu mematikan ponselnya lalu memasukkan benda mungil itu ke dalam saku celananya. Ia tersenyum,


"Iya ma, maaf".


Setengah jam kemudian, mobil mereka berhenti di sebuah rumah makan besar. Manager Huang membuka pintu bagi majikannya dan membungkuk dengan hormat. Ayud melirik laki-laki itu sekilas,


"Huang, kamu tunggu di mobil saja".


Manager Huang mengangguk, sambil membungkuk hormat.


"Baik tuan".


Anna menggandeng tangan suaminya dan melangkah dengan anggun disusul Ayud di belakangnya. Pelayan yang menyambut mereka langsung mempersilahkan keluarga besar itu masuk ke ruang VIP.


Disana, telah duduk dengan manis sepasang suami istri bersama seorang gadis bertubuh agak besar. Dandanan gadis itu sangat menor. Anna tersenyum kepada kedua pasangan suami istri itu beserta putri mereka.


"Selamat malam pak Elia, bu Rini. Maaf kalau kami datang agak telat, tadi macet parah di jalan".


Pak Elia dan bu Rini tersenyum hangat, lalu mempersilahkan para tamunya yang baru saja datang untuk duduk.


"Iya sus Anna, tidak apa-apa. Demi melihat putramu yang begitu tampan ini, anakku sampai rela untuk menunggu lama".


Anna tersenyum hangat kepada gadis bertubuh agak besar itu,


"Ah, terimakasih ya sayang kamu mau menunggu dengan sabar. Oh ya kenalkan, ini anak tante Ayud Jonathan. Dia CEO Liam's Group sayang".


Ayud mendengus, lalu dengan sangat terpaksa mengulurkan tangannya.


"Saya Ayud, salam kenal".


Gadis itu menyambut uluran tangan Ayud dengan cepat. Ia langsung bangkit berdiri dan menatap laki-laki itu dengan berbinar-binar. Karena tubuhnya yang agak gempal, meja di depannya sampai bergoyang.


"Aku Restiyanti kak, salam kenal. Omong-omong, kakak benar-benar ganteng".


Wanita itu menjerit manja. Ayud menarik tangannya dengan cepat dan duduk di samping Kim. Pak Elia menatap Ayud dengan takjub,


"Jarang sekali anak saya sampai langsung menunjukkan ketertarikan nya secara terang-terangan seperti ini. Anakmu sangat beruntung Kim".


Kim tertawa disusul Anna. Beberapa saat kemudian, pelayan datang membawakan berbagai jenis makanan mahal. Mereka makan sambil terlibat percakapan basa basi seputar bisnis.


Ayud menatap dengan muak wanita yang sedari tadi memelototi nya itu. Mata wanita gendut itu seolah tak bisa berkedip, bahkan air liurnya terlihat seolah akan menetes. Ayud bergidik ngeri karenanya.


Laki-laki itu benar-benar merasa tak nyaman berada disana. Ia melirik arlojinya berkali-kali, berharap waktu segera berlalu. Laki-laki itu menghela nafas,


"Ma, Ay permisi ke toilet sebentar ya".


Anna mengangguk,


"Baiklah sayang, jangan lama-lama".


Laki-laki itu mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu. Sekitar 15 menit kemudian, laki-laki itu keluar dari toilet. Alangkah terkejutnya dia, gadis bertubuh gempal itu sudah ada disana.


Gadis itu menatapnya dengan genit, Ayud ingin sekali menendangnya. Andai saja gadis ini bukanlah kenalan orang tuanya. Ayud mendesah,

__ADS_1


"Ada apa kamu kesini, bukankah ini bukan toilet wanita?".


Gadis itu tersenyum, ia memainkan ujung rambut yang dikuncir sebahu.


"Sengaja kak, habisnya aku ingin melihat kakak terus-terusan. Kakak ganteng sekali, mirip artis idolaku".


Ayud menarik nafas, ia mencoba menahan hasrat ingin menendang gadis di depannya ini.


"Sebaiknya, sekarang kamu kembali ke orang tuamu. Mereka pasti akan sangat marah, kalau tahu kamu di toilet laki-laki sekarang".


Gadis itu cemberut, sifat manjanya kumat.


"Biarkan saja kak, mereka akan menuruti semua yang Resti inginkan. Mereka tak bisa membantah".


Gadis itu menghampiri Ayud dan bergelayut manja di lengannya.


"Kak, Resti dengar dari mama papa katanya kita akan di nikahkan ya?. Wah Resti sangat beruntung sekali, Resti pasti akan menerima perjodohan ini dengan sangat senang".


Ayud mendesah, pelan ia melepaskan pelukan wanita itu dari lengannya.


"Sudahlah, masih sangat terlalu awal untuk membicarakan perihal pernikahan. Lagipula, om-om seperti ku sangat tak tertarik dengan anak kecil sepertimu. Seleraku sangat tinggi, kau tahu?".


Laki-laki itu tersenyum datar sambil berjalan meninggalkan gadis bertubuh gempal itu. Gadis itu menghentak kan kakinya, lalu berlari mengejar laki-laki itu.


"Kak, aku ini bukan anak kecil. Aku bahkan sudah sangat siap menjadi seorang istri bagimu. Aku bisa membuatmu menjadi laki-laki paling bahagia dalam dunia".


Ayud berhenti dan menatap wanita itu datar, wajahnya menegang.


"Memangnya kau tahu apa yang menjadi kebahagiaan ku?".


Ia meninggalkan gadis yang terus memanggil-manggil namanya itu, lalu memilih bergabung kembali bersama keluarganya.


Beberapa saat kemudian, Resti muncul dengan raut wajah cemberut. Bu Rini menatap anaknya,


"Ada apa Res?, Kenapa wajahmu begitu?".


Resti mendengus kesal, lalu menyesap minumannya.


"Ma, aku ingin menikah dengan kakak ini".


Gadis itu menunjuk ke arah Ayud dengan jari telunjuknya. Ayud kaget namun ia menguasai dirinya dengan cepat. Pak Elia tersenyum,


"Sabar Honey, semua ada waktunya. Kalau kamu terburu-buru begini, nanti nak Ayud nya kaget".


Pak Elia melirik kearah Anna dan Kim,


"Maaf ya sus Anna, pak Kim, anak saya ini memang begitu. Kalau sudah menginginkan sesuatu, pasti akan sangat ngotot. Harap di maklumi ya sus, pak".


Anna dan Darwin tertawa kecil. Anna memegang tangan bu Rini sambil nyeletuk,


"Ah biasalah jeng, namanya juga anak muda. Semangat nya masih sangat berapi-api".


Sementara para orang tua mereka sedang ngobrol, Resti tak henti-hentinya menatap Ayud. Laki-laki itu merasa sangat jengah, lalu memilih bermain dengan gadget miliknya.


❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa bahagia orang baik😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2