Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XLIV - Pesta Pernikahan -


__ADS_3

Rumah mewah pemberian mendiang kakek Liam telah di sulap menjadi sebuah ruangan yang sangat indah. Disana sini, di gantung berbagai macam hiasan bunga dan pita.


Di depan sana, di atas kursi pengantin yang sudah di sulap dengan sangat apik. Ayud dan Rachel duduk bersanding, dengan sangat bahagia. Beberapa wartawan yang di undang berbisik-bisik, sambil menatap dengan sinis.


Ya, di pesta itu hanya terlihat kedua pasangan itu saja yang berbahagia. Sementara, para tamu undangan menatap mereka datar. Ada yang mencibir, ada pula yang tak terima.


Di tengah meriahnya pesta yang sedang berlangsung, Kim dan Anna tiba-tiba datang. Mereka menatap sinis pada gadis yang sedang duduk bersama putra tunggalnya. Seorang wartawan mendekati mereka,


"Bu, bisa anda jelaskan mengapa ibu dan bapak memberi izin untuk pernikahan ini?. Apakah keluarga besar anda tidak merasa malu?".


Anna tersenyum dengan paksa,


"Iya, kami juga tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Namun bisa saya pastikan, pernikahan mereka tidak akan bertahan lama. Mana bisa perempuan yang tak memiliki apa-apa itu masuk di keluarga kami".


Anna meninggalkan wartawan itu dan menghampiri kedua pasangan itu. Ia memasang mimik bahagia, yang sengaja di buat-buat.


"Ah anak mama, akhirnya kamu menikah juga. Selamat ya sayang. Mama bangga sekali padamu".


Ayud tampak terkejut melihat reaksi tak biasa dari sang mama, namun ia berusaha membalas keramahan itu.


"Iya ma, terimakasih sudah datang. Ini istri saya ma".


Gadis itu bangkit berdiri dan mencium tangan Anna dengan sopan. Anna jengah, namun ia berusaha untuk tersenyum ramah.


"Ah menantu mama. Kamu cantik sekali sayang. Maaf ya atas perlakuan mama selama ini".


Rachel tersenyum, ia menatap Anna dengan penuh kasih sayang.


"Iya ma, tidak apa-apa. Saya sudah memaafkan mama".


Mereka kemudian berpelukan dalam keharuan. Tak lama setelahnya, acara kembali berlangsung dengan meriah. Anna permisi meninggalkan kedua pasangan itu dan kembali kepada suaminya.


"Pa, cepat kesana. Jangan terlalu di tunjukkan rasa tidak suka kita disini. Kita butuh rencana yang benar-benar matang, untuk mengusir gadis itu selamanya. Dan tentu saja, menguasai harta ayah ku".


Kim mengatur nafasnya, ia benar-benar tak suka melakukan ini. Namun, demi rencana mereka yang sempurna ia terpaksa melakukannya.


"Nak, selamat ya atas pernikahan mu. Papa ikut berbahagia bersama mu".


Ayud dan Rachel berdiri bersamaan, mereka saling pandang. Lalu dengan cepat, menyambut uluran tangan Kim. laki-laki paruh baya itu melirik ke arah Rachel,


"Gadis mu cantik sekali Ay, pintar kamu memilih istri".


Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada ayah mertuanya. Dari kejauhan, Albert menyaksikan itu semua dengan tatapan nanar. Hatinya sedih, namun ia harus rela demi kebahagiaan Rachel. Salah seorang wartawan mendekati nya,


"Selamat siang pak, mengapa anda tidak jadi menikah dengan gadis itu?. Bukankah sudah tersebar berita bahwa anda pacaran dengan dia".


Albert berusaha tersenyum ramah,


"Iya, mau bagaimana lagi kan. Jodoh itu Tuhan yang menentukan, kita hanya bisa berencana. Saya dengan dia tetap akan menjadi sahabat, dan itu selamanya".


Wartawan itu tampak tak puas dengan Jawa yang di berikan Albert. Ia bertanya lagi,

__ADS_1


"Bagaimana bisa anda membiarkan pernikahan ini terjadi pak?. Pak Ayud itukan bukan orang sembarangan".


Albert mendesah,


"Anda, saya, dan kita semua tidak bisa melawan ketentuan Tuhan. Apa yang sudah di takdir kan, itulah yang akan terjadi. Daripada terus bertanya mengapa dan mengapa, ada baiknya anda ikut mendoakan kebahagiaan mereka".


Wartawan wanita itu terdiam sejenak, ia ingin bertanya lagi. Namun, Albert menghentikan nya,


"Saya harus kesana dulu, permisi".


Laki-laki itu melangkah sambil menyunggingkan senyum. Ia berjalan ke arah kedua pasangan yang tampak sedang berbahagia itu. Albert mengulurkan tangannya kepada Ayud,


"Selamat ya pak, akhirnya anda menemukan kebahagiaan anda".


Ayud menyambut uluran tangan itu dan memeluk Albert dengan tulus.


"Terimakasih pak, anda sudah terlalu banyak menolong saya. Saya juga berharap, anda akan menemukan kebahagiaan anda sendiri".


Albert menepuk pelan pundak Ayud,


"Jangan kecewakan dia ya pak. Karena kalau tidak, kali ini saya tidak akan cukup baik untuk melepaskan dia bersama anda".


Ayud menyeringai,


"Tidak akan, dan bisa saya pastikan".


Albert mengalihkan pandangannya kepada gadis itu,


Rachel menyambut hangat uluran tangan mantan bosnya itu,


"Iya Al, kamu dan aku selamanya akan selalu menjadi sahabat. Tidak ada yang bisa mengubah itu".


Keduanya saling bertatapan sejenak, Ayud menyenggol pelan lengan Albert.


"Jangan di lihat lama-lama pak, istri saya itu".


Albert tertawa, lalu meninggalkan kedua pasangan yang sedang berbahagia itu.


Malam harinya, setelah pesta usai. Anna menghampiri Ayud yang sedang duduk santai di ruang tamu. Ia tersenyum ramah kepada laki-laki itu,


"Sayang, boleh mama duduk di sini?".


Ia menatap Ayud dengan hangat, laki-laki itu mengangguk.


"Sayang, mama sama papa sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi sekarang. Rumah lama kakek mu kan sudah kamu sewakan ke orang. Boleh kan kalau mama tinggal di sini bersama kalian, nak?".


Ayud menghela nafas, ia menatap wanita di depannya itu datar.


"Saya perlu mendiskusikan ini dengan istri saya terlebih dahulu. Karena sekarang, segala sesuatu yang saya miliki, adalah milik istri saya".


Laki-laki muda itu bangkit berdiri,

__ADS_1


"Saya mau ke kamar dulu. Mama sama papa carilah tempat yang nyaman, untuk beristirahat. Nanti akan saya beritahukan lagi, keputusan istri saya".


Anna tersenyum kepada putra tunggalnya itu. Lalu, sesaat setelah laki-laki itu pergi, ia mengumpat kesal. Kim menghampiri nya,


"Ada apa ma?".


Anna nyeletuk,


"Lihatlah anakmu itu sekarang pa, baru juga satu hari menikah. Tapi, sudah di buat tunduk oleh wanita miskin itu. Lihat saja dia, mama akan membuat wanita itu menyesal. Benar-benar tak tahu diri".


Sementara itu, Rachel sedang duduk di kamar pengantin milik mereka. Gadis itu merasa sangat gugup. Beberapa saat kemudian, Ayud mendekati nya.


"Ada apa sayang?. Apa kamu baik-baik saja?".


Rachel mendesah,


"Iya, aku sangat baik-baik saja. Hanya, hatiku yang seolah sedang berperang".


Ayud terkekeh sambil menatap lembut istrinya,


"Ada apa dengan hatimu sayang?. Bukankah kamu bahagia atas pernikahan ini?".


Ayud menggoda istrinya, wajah wanita itu memerah dengan cepat.


"Ay, aku gugup. Baru kali ini, aku sekamar dengan laki-laki. Rasanya, sungguh menakutkan".


Ayud mengangkat dagu sang istri,


"Hey, sayang. Jangan takut, aku ini adalah suami mu. Bukan hantu yang akan memakan mu".


Laki-laki itu tertawa, Rachel memukul perut suaminya pelan. Ayud pura-pura kesakitan,


"Ah, sayang. Kamu kasar sekali".


Gadis itu cemberut,


"Aku benar-benar takut Ay. Papa Darwin dan mama Jeny tidak datang ke pernikahan ku. Seolah, aku memang bukan siapa-siapa mereka. Sedih sekali rasanya".


Ayud memeluk istrinya,


"Sudah sayang, tidak apa-apa. Sekarang, kamu tidak sendirian lagi. Ada aku, yang akan selalu menjadi teman hidupmu selamanya. Sudah jangan sedih lagi, ini kan hari bahagia kita".


Wanita itu tersenyum, demikian pula Ayud. Malam itu, kedua mereka menikmati kebahagiaan seutuh-utuhnya dan mereguk cinta, sepuas-puasnya.


Sementara itu, jauh dari tempat kediaman Ayud. Albert sedang menangis sambil memandangi foto mama nya. Laki-laki itu bergumam pelan,


"Maaf ma, kalau bukan dengan Rachel saya lebih memilih tidak akan menikah selamanya. Maaf, telah mengecewakan mama. Al rindu mama".


❤️❤️❤️❤️


Terimakasih untuk semua dukungan nya guys😊😊😊

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, kalau kamu suka novel ini😘😘😘


__ADS_2