
Laki-laki tampan itu melangkah masuk ke kantornya dengan seulas senyum manis yang jarang hilang dari bibirnya. Pak Mus yang baru saja datang, tersenyum lalu menyapa majikannya itu.
"Selamat pagi pak. Wah, anda kelihatan ganteng sekali hari ini".
Laki-laki muda itu berhenti dan menatap karyawan nya,
"Sudah, jangan terlalu memuji. Tidak ada kenaikan gaji bulan ini, kerja yang rajin. Ingat, sekarang tidak ada lagi orang yang akan membantu kalau kamu melakukan kesalahan".
Pak Mus tertawa kecil,
"Ah iya pak. Saya ikut senang melihat perubahan bapak yang sekarang. Ah, saya rasa bukan hanya saya tapi semua karyawan disini sedih ketika anda murung".
Albert, sang laki-laki tampan itu tersenyum.
"Tak ada gunanya pak terlalu larut dalam rasa sedih. Hidup tetap harus berjalan kan, walau sesulit apapun itu. Sudah dulu pak Mus, kerja yang semangat".
Pak Mus membungkuk hormat,
"Baik pak".
Albert masuk ke ruangannya, laki-laki muda itu menghela nafas. Tak mudah untuk tetap terlihat baik-baik saja, apalagi setelah merelakan sang pujaan menikah dengan orang lain.
Sebulan yang lalu, ia terlihat begitu frustasi dan kehilangan semangat kerja. Semua karyawan, kelihatan sangat mengkhawatirkan nya. Namun hari ini, laki-laki itu sudah kembali menjadi Albert yang selalu ceria di depan semua orang.
Laki-laki itu mengambil ponselnya, menekan nomor Rachel. Ia diam sejenak, kemudian kembali menutup ponselnya. Albert mendesah,
"Tak seharusnya aku begini, dia sudah menjadi istri orang sekarang. Ah, apa yang kupikirkan".
Laki-laki itu melamun, tak lama kemudian ia tersenyum.
"Apa salahnya sebagai teman aku menanyakan kabarnya?. Tentu itu hal yang sangat wajar bukan?".
Albert menyeringai sambil memperlihatkan gigi kelinci miliknya. Beberapa saat kemudian, benda mungil itu menempel di telinganya. Ia sedang menunggu telepon nya, di angkat oleh seseorang di seberang sana.
Sementara itu..
Rachel sedang membantu bi Sri menyiapkan sarapan pagi. Wanita itu tampak sedang memotong-motong sayur, sesekali ia bercanda dengan pembantu nya itu. Tiba-tiba Hp miliknya berdering, gadis itu mengangkatnya.
"Halo",
"Halo Ra, apa kabar?".
Suara Albert terdengar begitu renyah di telinga, suaranya benar-benar menyejukkan hati. Gadis itu menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia tersenyum,
"Aku baik Al, kalau kamu bagaimana?".
Albert tertawa kecil,
"Kantor ini sepi sekali semenjak kamu sudah tak disini lagi Ra. Ah, aku telepon jam segini apakah mengganggu mu Ra?".
Rachel tersenyum, ia melirik bi Sri yang sedang memasak sup.
"Aku lagi bantu bi Sri menyiapkan sarapan Al. Maaf ya, semenjak menikah aku belum sempat menghubungi mu".
__ADS_1
laki-laki itu mendesah, hatinya sangat merindukan kebersamaan mereka dulu.
"Ah, tidak apa-apa Ra. Kamu yang dulu sangat berbeda dengan kamu yang sekarang. Aku mau tidak mau harus memahami itu. Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, mari kita bertemu".
Gadis itu mengangguk, ia mengetuk-ngetuk jarinya di atas talenan.
"Baiklah, itu juga kalau suamiku mengizinkan ya Al".
Rachel tertawa begitu juga Albert. Laki-laki itu mendesah,
"Iya, baiklah. Aku tutup dulu ya Ra, mau ada meeting sebentar lagi. Bahagia terus ya mantan sekretaris ku".
Rachel tersenyum dan segera menyudahi percakapan mereka. Tiba-tiba, Anna muncul entah darimana. Wanita itu menghampiri menantunya,
"Hebat ya, suamimu belum bangun dan kau sudah sibuk di telpon laki-laki lain. Istri macam apa kau ini?".
Rachel mendesah, ia benar-benar tak ingin terlibat pertengkaran di pagi hari yang sangat damai ini. Ia melanjutkan pekerjaannya, namun Anna membentak nya.
"Jadi begini kelakuan mu kalau di belakang suami mu ya?. Dasar, wanita tak tahu diri. Awas saja kamu, akan ku adukan kelakuan mu ini pada Ayud".
Rachel memotong dengan kasar sayuran di depannya, wanita itu mendesah. Ia membalikkan badannya, dan menatap Anna tajam.
"Ma, memangnya mama tahu dia siapa?. Jadi, menurut mama setiap kali aku menerima telepon dari laki-laki, itu artinya aku selingkuh ya?. Belajar dari mana mama, sampai jadi seb*doh ini".
Anna geram mendengar kata-kata merendahkan dari menantunya itu. Ia ingin menjambak rambut gadis itu, namun bi Sri menghentikan nya.
"Sudah nyonya, saya mohon jangan begini. Nanti, kalau tuan dan tuan besar tahu bakal kacau".
Anna mendorong wanita tua yang berusaha melerai pertengkaran mereka. Wanita tua itu jatuh terjengkang, Rachel berlari memeluk tubuh tua itu. Anna menatap mereka muak,
Wanita paruh baya itu menatap tajam pada bi Sri dan Rachel,
"Kau, kau camkan perkataan ku ini baik-baik. Anakku itu lebih percaya pada perkataan ku, daripada kau. Jadi, siap-siap saja kau menerima balasan atas apa yang kau lakukan hari ini".
Anna pergi sambil melemparkan sayuran yang tadi sudah di potong gadis itu. Rachel menatap bi Sri,
"Bi, bibi tidak apa-apa?. Maafkan saya bi, ini semua salah saya".
Bi Sri tersenyum,
"Tidak apa-apa bu, justru bibi lebih khawatir melihat ibu. Mereka memperlakukan ibu dengan sangat kasar, apa ibu baik-baik saja?".
Gadis itu tersenyum, meski matanya terlihat memerah.
"Iya bi, saya tidak apa-apa. Terimakasih sudah bertanya, bibi istirahat saja. Biar saja yang melanjutkan masakan ini".
Bi Sri menggeleng cepat,
"Tidak bu, hanya tangan saya saja yang sedikit sakit. Saya masih sanggup menyelesaikan pekerjaan ini. Lagipula, nanti kalau tuan tahu saya bisa di marah habis-habisan".
Gadis itu membimbing bi Sri untuk berdiri, ia mengelus pelan punggung tangan wanita tua itu.
"Sudah bi, kita kerjakan bersama saja. Nanti kalau sudah selesai, bibi cepat-cepat istirahat ya".
__ADS_1
Wanita tua itu mengangguk dan mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu..
Anna mengetuk pintu kamar anaknya dengan keras. Laki-laki itu tampak baru selesai mandi, ia mengenakan setelan kerjanya.
"Ada apa ma?".
Anna melipat kedua tangannya ke dada,
"Suami macam apa kau ini?. Istrimu selingkuh dan kau tak tahu apa-apa. Benar-benar kasihan mama melihat mu".
Ayud mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, ia menatap wanita paruh baya itu heran.
"Maksud mama selingkuh bagaimana?. Setahu saya, Rachel membantu bi Sri di dapur kan?".
Anna menjawab cepat,
"Iya, tapi tadi dia kepergok sedang asyik telponan dengan laki-laki. Apa menurutmu wajar, wanita bersuami menelepon laki-laki dengan mesra begitu?. Didik dengan benar istrimu itu, jangan biarkan dia mempermalukan keluarga kita".
Ayud melempar handuk kecil itu ke lantai,
"Dimana Rachel ma?".
Anna menunjuk dengan mulutnya, laki-laki itu segera menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan sarapan.
"Rachel",
Panggilnya dan wanita itu menoleh kaget. Ada rasa sedih dalam hatinya mendengar panggilan itu dari suaminya. Setelah mereka menikah, laki-laki itu belum pernah memanggil namanya.
"Iya, ada apa?".
Ayud menatapnya tajam,
"Benar yang dikatakan mama?. Kamu telponan dengan siapa pagi-pagi begini?. Kamu selingkuh?".
Rachel menatap suaminya itu, raut wajahnya terlihat kecewa.
"Kamu sadar apa yang kau katakan ini kan?. Selingkuh?, wanita b*doh mana yang mau selingkuh terang-terangan seperti ini?. Aku menerima telepon Albert, dan kalian menuduh aku selingkuh?".
Wanita itu melepaskan celemek nya, lalu membanting benda itu ke lantai.
"Kalau dari awal aku menginginkan Albert, aku tak akan memilih menikah dengan mu. Kau b*doh sekali menuduh ku melakukan hal konyol begini. Ah, aku seperti tak mengenal lagi laki-laki yang membuat ku jatuh cinta itu".
Ia melangkah meninggalkan Ayud yang masih mematung disana. Bi Sri membungkuk hormat lalu melanjutkan masakannya. Laki-laki itu mendesah sambil bergumam pelan,
"Aku juga merasa telah kehilangan wanita polos, lembut, yang membuat aku tergila-gila itu Ra. Mengapa sekarang kamu benar-benar berubah?".
Laki-laki itu meneteskan air matanya dan memutuskan berangkat ke kantor tanpa sarapan lebih dulu. Sementara, gadis itu juga menangis sesugukan di kamarnya. Ia benar-benar merasa kecewa dengan sikap sang suami kepadanya.
❤️❤️❤️❤️
Terimakasih untuk 500 pembaca😘😘😘
__ADS_1
Saya sangat berterimakasih kalian sudi membaca novel amatir ini🙏🙏🙏
Sehat selalu orang baik 😊😊😊