Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LX - Anak Kesayangan -


__ADS_3

Di dalam ruangan kantor yang lumayan besar, Natan terlihat sedang fokus membaca file yang ada di depannya. Laki-laki muda itu, terdengar mendesah beberapa kali.


"Urusan kantor selalu saja membuatku pusing, ada-ada saja masalahnya. Yang paling enak itu, memeras orang b*doh. Menikmati ketakutan mereka, sangat membuatku merasa bahagia".


Laki-laki itu tertawa kecil, ia menatap foto-foto dirinya dan Rachel di HP miliknya. Tiba-tiba, terdengar seseorang mengetuk pintunya. Natan meletakkan gadget miliknya di atas meja,


"Iya, masuk saja".


Suster Tina masuk dengan membawa beberapa kertas tebal. Gadis itu menyunggingkan senyum,


"Pak, ini ada beberapa data pasien yang harus bapak lihat. Setelah bapak membacanya, mohon tanda tangan di sini. Ada beberapa pasien yang harus di rawat inap, kami membutuhkan persetujuan anda pak".


Gadis itu menunjuk tempat yang di maksud sambil setengah membungkuk. Pada saat yang sama, mata Natan melirik dada terbuka wanita itu dari lubang kerah bajunya. Laki-laki itu tersenyum nakal,


"Baiklah. Tapi, bukankah saya harus mendapatkan imbalan untuk tanda tangan saya yang berharga?. Sini, duduk dulu di pangkuan saya".


Tina tersenyum, ia dan Natan memang sering bermain kucing-kucingan seperti ini tanpa ketahuan staf yang lain. Wanita itu menghampiri bosnya dan duduk di paha sang laki-laki. Natan memeluk nya dari belakang.


"Kau genit sekali sayang, sengaja ya mencari perhatianku?. Dasar gadis nakal".


Tina tersenyum, ia membalikan badannya dan segera memagut bibir sang majikan. Keduanya tampak sangat menikmati keintiman mereka, tanpa memperdulikan pasien-pasien di luar yang membutuhkan penanganan segera.


Sore hari..


Natan membuka kamar, sambil menyapa dengan ramah istrinya yang sedang duduk menghadap cermin rias. Laki-laki itu memeluk istrinya dari belakang, dan menempelkan bibirnya di leher sang wanita.


"Sayang, aku rindu sekali padamu. Ah, kau sangat wangi sekali. Aku jadi ingin pulang cepat tiap hari kalau begini".


Ia mengelus lembut perut Carene,


"Sayang, hari ini kamu tidak nakal kan?. Kamu jaga mama dengan baik kan sayang?".


Laki-laki itu terus mengelus perut sang istri. Tetapi, Carene yang mendapat perlakuan tersebut merasa tak nyaman. Gadis itu bangkit berdiri dan melepaskan dengan kasar pelukan suaminya itu. Natan menatapnya heran,


"Ada apa Ane?, sikapmu sangat aneh. Apa aku melakukan kesalahan sayang?".


Carene menatap suaminya muak, ia berdecak pinggang.


"Kau yang aneh, kemana saja kau seharian ini?".


Natan jengah, ia menatap istrinya itu tak kalah tajam.


"Apa maksudmu dengan pertanyaan kau kemana?. Bukankah kau tahu sendiri dimana aku. Pertanyaan b*doh macam apa itu Ane?. Apa lagi-lagi kau berpikir, aku melakukan hal-hal yang tak baik?".


Wanita itu, melemparkan barang-barang yang ada di meja riasnya ke arah Natan dengan kasar. Laki-laki itu mengelak nya, ia menangkap kedua tangan wanita itu dan menahannya agar tak bisa bergerak.


"Ada apa Ane, kau seperti orang g*la?. Katakan, apa sebenarnya masalah mu?. Paling tidak, aku harus tahu dulu kan sebelum kau bertindak b*doh begini. Ingat Ane, kau itu sedang hamil".


Carene menggeliat, ia berusaha melepaskan diri dari suaminya. Wanita itu menghentakkan kakinya kesal,


"Lepaskan aku laki-laki s*alan. Harusnya kau tahu, aku begini tak mungkin tanpa sebab. Benarkah kau selingkuh dengan Rachel?. Ayolah Nat, selera mu benar-benar payah".


Laki-laki itu mendesah, ia tersenyum dan melepaskan kedua tangan istrinya. Lalu, membalikkan badan wanita itu agar menatapnya. Carene terlihat masih kesal. Ia memegang pipi wanita itu,


"Kau kan tahu sayang bagaimana seleraku. Dan kakak angkat mu itu, sudah pasti adalah pengecualian. Sudahlah, jangan dengarkan omong kosong tak penting seperti itu lagi. Aku adalah laki-laki setia, kau tahu itu kan?".


Carene mendengus kesal, namun suaminya itu segera memeluknya. Wanita itu terlihat pasrah menerima perlakuan lembut dari sang suami. Pada saat yang sama, HP milik laki-laki itu berdering.


Wajah Natan tiba-tiba berubah. Ia melepaskan pelukan mereka dan menatap istrinya.


"Sayang, aku angkat telepon dulu ya. Nanti, aku kesini lagi. Kamu istirahat saja dulu".


Carene mengangguk, dan merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya. Natan kemudian keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu. Ia menempelkan benda itu ke telinganya.


"Iya, ada apa?".


Tanpa basa-basi, wanita di seberang sana langsung mengatakan maksudnya.


"Berikan mama uang, sekarang. Jumlah pastinya akan mama kirim lewat pesan saja".


Natan memejamkan matanya sejenak, kesal sekali rasanya memiliki orang tua tak punya malu seperti ini.


"Bukankah baru kemarin kau minta uang padaku ma, dan sekarang uang lagi?. Ayolah, aku sedang dalam keadaan keuangan yang sulit. Berhentilah meminta uang kepadaku. Lama-lama, Darwin s*alan itu akan mencurigai ku".

__ADS_1


Suara wanita di seberang sana terdengar marah, nada suaranya meninggi.


"Ah, kau ini. Uang yang ku minta itu tak ada apa-apa nya, jika di bandingkan dengan kekayaan Darwin. Untuk apa kau menikah dengan orang kaya, jika membiarkan orang tuamu ini melarat?".


Natan mengeraskan wajahnya, ia merasa muak sekali menjadi bank berjalan buat kedua orang tuanya itu. Seminggu ini saja, sudah beberapa kali kedua orang tua tak tahu diri itu meminta uang padanya.


"Pokoknya, kau harus transfer uang sekarang. Kalau tidak..",


Wanita itu menghentikan kata-katanya sejenak, ia menggigit bibirnya sambil sesekali menatap keluar jendela.


"Kalau tidak, mama bisa m*ti di tangan orang ini. Mereka.. mereka bahkan sedang menunggu di luar sekarang. Pokoknya, kau benar-benar harus transfer uangnya sekarang".


Natan mendesah,


"Apa ini karena para rentenir itu lagi?".


Wanita tua itu terdiam. Melihat reaksi dari ibunya, Natan dapat menduga kalau perkataan nya barusan adalah kebenaran. Laki-laki itu merasa geram,


"Ah, berapa kali sudah kukatakan padamu ma jangan meminjam uang lagi pada mereka. Sudah susah payah aku melunasi hutang-hutang kalian, kalian sengaja melemparkan diri dalam hutang lagi".


Natan kesal, ia menutup telepon nya. Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke HP nya. Tertera dengan jelas, nominal yang harus di transfer laki-laki itu secepatnya.


Ia merasa sangat frustasi, lalu menghampiri istrinya yang sedang tidur-tiduran di kamar. Laki-laki itu mendesah, ia harus mendapatkan kepercayaan wanita ini kembali. Ia duduk di pinggir ranjang dan membelai rambut Carene.


Wanita itu membalikkan badannya,


"Ada apa Nat?",


Natan tersenyum, ia mengecup kening sang istri. Saat ini, hanya gadis ini yang bisa menolongnya. Dan ia, harus mendapatkan hati gadis itu kembali.


"Sayang, maafkan aku ya tadi sudah kasar padamu. Aku tahu aku salah, tak seharusnya aku membentak mu. Tapi, percayalah sayang tak ada wanita lain yang ku sayang selain kamu".


Natan menatap wanita yang tengah berbaring itu lembut, lalu merebahkan diri di sebelahnya.


"Sayang, percayalah. Selamanya aku tidak akan pernah menduakan apalagi meninggalkan mu. Aku benar-benar mencintaimu, Honey".


Wanita itu tampaknya termakan omongan Natan, ia tersenyum dan mendekatkan kepalanya ke dada Natan. Sikap manjanya kumat lagi.


"Tepati kata-kata mu ya sayang. Aku benar-benar tak mau kehilangan kamu".


"Iya sayang, aku pasti akan menepati kata-kata ku ini. Dengan memiliki mu sebagai satu-satunya istriku dan calon anak kita, kebahagiaan ku terasa sangat lengkap".


Carene mempererat pelukannya pada sang suami. Natan terdiam beberapa saat, laki-laki itu tampak memikirkan sesuatu. Carene mendongak,


"Ada apa sayang?",


Ia menatap wajah suaminya itu dengan tatapan bertanya. Natan kembali tersenyum, laki-laki itu mendesah,


"Benar kau mencintaiku Ane?".


Carene tersipu, ia memukul pelan dada sang suami.


"Tentu saja Nat. Bahkan aku sudah memilih mu menjadi suamiku".


Natan tersenyum, dalam hatinya ia terus memaki gadis itu dengan kata-kata kasar.


"Ane sayang, suamimu ini sekarang sedang mengalami masalah besar. Bisakah kau membantuku sayang?".


Carene mengangguk, ia menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


"Masalah apa Nat?. Kau tahu bukan, tak ada masalah yang tak bisa di selesaikan oleh keluarga ku".


Natan kembali tersenyum,


"Kantorku sedang mengalami masalah keuangan Ane. Baru-baru ini, aku membeli alat-alat medis dengan harga murah. Mereka ternyata menipuku dengan menjual barang palsu. Maafkan aku ya sayang".


Carene mendongak dan mengangguk pelan, ia selalu tak bisa menolak permintaan laki-laki satu ini.


"Jadi, kau ingin aku membantumu membeli peralatan medis yang baru ya?".


Natan mengangguk, ia memainkan anak rambut sang istri.


"Iya sayang, kamu pintar sekali. Sebenarnya, aku merasa tak enak terus-terusan menyusahkan papa Darwin. Tapi, keadaan ku sekarang benar-benar sulit sayang".

__ADS_1


Carene melepaskan pelukan mereka, ia memegang pipi laki-laki itu.


"Kau butuh berapa Nat, katakan saja. Nanti, aku akan bicara sama papa".


Natan tersenyum, dalam hatinya ia merasa sangat senang. Wanita kalau sudah berhasil di buat tunduk, maka tak ragu untuk menyerahkan segalanya.


"Tidak banyak sayang, hanya..",


Natan menyebutkan sejumlah uang dalam jumlah yang cukup besar. Carene sempat terkejut, namun laki-laki itu memeluknya dengan erat.


"Itu benar-benar untuk keperluan pekerjaan ku sayang. Kau tahu sendiri, aku benar-benar memulai ini dari bawah".


Carene kemudian kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik sang suami. Gadis itu bergumam lirih,


"Baiklah".


Malam harinya..


Carene mendatangi rumah Darwin sendirian. Terlihat laki-laki paruh baya itu sedang menonton televisi bersama istrinya, Jeny. Gadis itu duduk di samping ibunya dan mengambil camilan yang terletak di atas meja. Jeny melirik gadis itu sekilas,


"Datang dengan siapa Ane?".


Carene melepaskan sweater yang dipakainya,


"Sendiri ma, biasalah Natan sibuk dengan pekerjaannya".


Darwin yang sedang menonton televisi melirik anaknya itu, ia berdehem pelan.


"Pasti ada maunya kan kau datang kesini Ane?. Kalau tidak, mana pernah kau mengunjungi kami".


Carene tersenyum manja pada ayahnya itu,


"Ah papa, jangan selalu berpikir negatif sama anak sendiri lah. Carene datang kesini, benar-benar karena merindukan kalian. Sekalian, ada perlu sedikit".


Gadis itu memelankan suaranya,


"Pa, Carene lagi ada masalah. Carene tahu, papa pasti akan selalu membantu Carene. Papa kan baik".


Darwin melirik sekilas pada anak perempuan nya itu. Ia mengambil camilan di atas meja dan memakannya.


"Sudah papa duga, perlu uang berapa?".


Carene tersenyum, dan menyebutnya sejumlah uang yang sukses membuat mata Darwin dan istrinya melotot.


"Untuk apa uang sebanyak itu Ane?. Dan suamimu itu, selama dia bekerja papa tak pernah melihat uang yang dia hasilkan. Suami macam apa, yang tak menafkahi istrinya begini?".


Carene cemberut,


"Papa kan tahu sendiri, Natan sedang berjuang untuk kami. Beri dia kelonggaran sedikit pa, Ane yakin suatu saat dia akan menjadi orang yang papa banggakan".


Darwin jengah, susah sekali mengatakan tidak kalau sudah berhubungan dengan Carene. Ia terlalu menyayangi anak semata wayangnya itu.


"Iya sudah, nanti papa transfer uangnya ke rekening mu".


Carene bangkit dan memeluk papanya dengan manja.


Jauh disana, di sebuah klub malam...


Natan tersenyum menatap layar HP miliknya. Notifikasi yang baru masuk, sukses membuatnya melonjak kegirangan. Carene baru saja mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya.


Laki-laki muda itu segera menghubungi ibunya,


"Sudah aku transfer ma, tolong jangan minta uang lagi padaku dalam waktu dekat ini".


Wanita di seberang sana tertawa,


"Iya, tenang saja. Perkaya dulu dirimu secepat mungkin, mama sudah bosan hidup susah".


Natan menutup sambungan telepon nya dan segera menghabiskan minuman nya. Ia harus secepatnya menguasai seluruh harta milik Darwin. Lalu, menghancurkan keluarga Kim.


Laki-laki itu tertawa jahat dan segera mengambil kunci mobilnya untuk pulang.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Guys.. Apa kabar kalian hari ini?. Semoga selalu sehat dan bahagia yah😊😊


Btw.. Terimakasih selalu untuk semua pembaca setia novel ini 😘😘


__ADS_2