Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LXIII - Dekat Tapi Tak Tergapai -


__ADS_3

IPK BAB LXIII -


Di sebuah ruangan kantor yang sangat mewah..


Ayud memegang memelototi map yang ada di tangan nya. Angka-angka yang tertera disana, sukses membuat mata laki-laki itu membulat. Ia melirik Manager Huang


"Coba periksa sekali lagi perincian dana ini, kenapa kita bisa mengalami kerugian sebesar ini?. Pecat semua orang yang kau duga terlibat dalam kecurangan ini".


"Baik tuan. Tapi saya curiga kerugian kali ini ada campur tangan dari perusahaan pak Elia. Cuma itu baru sekedar kecurigaan saya, belum bisa saya buktikan kebenaran nya".


Ayud melempar map yang sedang di pegang nya itu ke atas meja.


"Baiklah, periksa lagi semua hal yang berkaitan dengan perusahaan itu. Apa yang telah mereka lakukan, sehingga kita bisa mengalami kerugian kali ini. Aku mau laporan tentang itu secepatnya kau siapkan".


Manager Huang mengangguk dan berlalu meninggalkan ruangan majikannya.


Sementara itu..


Anna berjalan mondar-mandir sambil sesekali menggigit bibirnya. Wanita paruh baya itu berkali-kali menengok ke arah jalan, seperti menunggu sesuatu.


Beberapa menit sebelumnya..


Ayud sedang mempelajari proyek nya yang baru. Sesekali, ia membasahi bibirnya yang terasa kering dengan lidah. Proyek baru ini, banyak menyita perhatiannya. Apalagi, dengan kondisi keuangan yang sedikit tak baik.


Ketika laki-laki itu sedang fokus, HP miliknya berdering. Ia mengangkat nya tanpa melihat terlihat dulu siapa yang menelepon.


"Ay, kamu sibuk ya sekarang?".


Ayud menjauhkan benda tersebut dari telinganya, dan melihat siapa yang menghubungi nya. Lalu, kembali menempelkan benda tersebut di telinganya.


"Iya ma, lagi banyak pekerjaan. Ada apa menghubungi Ay?".


Laki-laki itu mendesah tak sabaran, setumpuk pekerjaan sedang menunggu untuk di selesaikan secepatnya. Ingin sekali ia menyudahi percakapan mereka. Namun karena menghargai sang ibu, ia tak melakukannya.


"Ay, bisakah kamu pulang agak cepat hari ini?. Mama sudah menyiapkan makanan yang paling kamu sukai".


Laki-laki itu mengerutkan keningnya, wanita itu tak pernah baik tanpa maksud tertentu.


"Nanti Ay usahakan ma, tapi tak bisa janji. Soalnya, sekarang pekerjaan yang harus Ay selesaikan benar-benar banyak".


Anna mengiyakan kata-kata anaknya, dan segera menutup telepon. Wanita itu memanggil bi Sri dan menyuruhnya memasak makanan kesukaan sang putra. Dia tak mungkin mengotori tangan mulusnya untuk memasak, tidak akan pernah.


Kembali ke saat ini..


Anna tersenyum menyambut kedatangan anaknya,


"Ay, duduk dulu di sini. Mama mau bicara sebentar sama kamu, bolehkan sayang?".


Ayud mengikuti punggung Anna, dan duduk di samping wanita itu. Laki-laki itu melonggarkan dasinya,


"Ada apa ma?, sepertinya mama ingin membicarakan hal yang serius denganku?".


Anna tertawa kecil,


"Iya sayang, ada yang mau mama bicarakan padamu. Dan, ini sangat penting sayang. Terutama, untuk masa depan perusahaan mendiang kakek mu".


Laki-laki itu mulai menangkap arah pembicaraan sang ibu, ia merasa akan mendapatkan kabar yang tak menyenangkan.


"Iya, lalu apa hubungannya itu dengan Ay ma?".


Anna mendekatkan duduknya, ia membelai tangan sang putra tunggal.


"Mama tahu, sekarang perusahaan kakek sedang mengalami masalah dana. Hal ini juga sudah kita bicarakan dari sebulan yang lalu. Tapi, kau masih menunda-nunda nya karena istrimu".


Wanita itu diam sejenak, ia terlihat beberapa kali menelan saliva nya.


"Mama tahu, ini pasti berat buat kamu sayang. Tapi seperti yang kau tahu, kita benar-benar tak memiliki pilihan lain. Menikah lah dengan Resti, dengan begitu kita bisa menyelamatkan perusahaan kakek dan keluarga kita".

__ADS_1


Ayud tampak terpana mendengar permintaan aneh dari Anna. Laki-laki itulah bahkan harus mencerna dengan sempurna semua maksud dari perkataan ibunya itu. Setelah terdiam cukup lama, Ayud membuka suaranya.


"Ma, bukankah sudah berkali-kali Ay katakan tidak pada pernikahan ini?. Ay punya istri ma, Ay harus bisa menjaga perasaan Rachel. Bagaimana mungkin, mama memberikan pilihan yang sangat tak masuk akal ini padaku?".


Anna mendesah, wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ay, ini semua bukan untuk kepentingan mama sendiri. Tapi, semua hal di pertaruhkan di sini. Masa depan perusahaan, masa depan keluarga kita. Semuanya, ada di tangan mu sayang. Tolong pikirkan baik-baik tentang hal ini Ay".


Ayud menunduk, laki-laki itu merasa sangat putus asa.


"Baiklah, tapi nanti Ay bicarakan dulu dengan Rachel. Kalau dia setuju, pernikahan ini akan Ay lakukan. Tapi, mama jangan marah bila itu terjadi sebaliknya".


Anna mengangguk, ada rasa benci yang sangat besar di hatinya setiap kali mendengar nama gadis itu.


"Iya sayang, mama akan menunggu apapun keputusan mu. Tapi mama harap jangan kecewakan mama ya sayang. Kau tahu kan, mama ini sudah tua. Kapan-kapan saja bisa di panggil yang kuasa".


Anna tersenyum dalam diam, menyadari betapa liciknya pilihan kata-kata yang baru saja diucapkannya. Tak lama kemudian, laki-laki itu berpamitan dan masuk ke dalam kamarnya. Anna memegang tangan laki-laki itu,


"Ay, ayok makan dulu. Mama sudah siapkan makanan kesukaan mu. Mama akan merasa sedih kalau Ay tak memakannya".


Ayud tersenyum datar,


"Iya nanti ma sekalian Ay ajak Rachel makan bersama".


Wanita itu mengangguk patuh, namun dalam hatinya ia sibuk memaki sang menantu dengan kata-kata kasar yang terlalu kejam untuk di tulis.


Di dalam kamar..


Gadis itu sedang bersenandung kecil sambil membersihkan dirinya. Tiba-tiba, ia merasa mual dan badannya lemah. Gadis itu segera menyudahi mandinya, lalu memeriksa kalender.


Ia bergumam pelan, sambil mengelus perutnya yang masih datar.


"Sudah hampir masuk 2 minggu ya sayang, teruslah tumbuh dengan baik di sana. Mama akan selalu menjagamu dan memberikan semua yang terbaik".


Tiba-tiba, pintu kamarnya dibuka. Sontak, gadis itu menoleh dan terkesiap melihat kedatangan laki-laki itu. Ia segera menutup bajunya yang terbuka sampai perut, dan menghampiri suaminya.


Raut wajah laki-laki itu kelihatan tegang, ia duduk sambil memijit pelan keningnya. Rachel menghampiri laki-laki itu,


Laki-laki itu tak menjawab, ia terus memijit kepalanya yang terasa sakit. Karena pertanyaannya tak di respon, Rachel memutuskan untuk mengambil HP dan bermain dengan benda mungil itu.


Ayud tak mengatakan apapun, laki-laki itu merebahkan dirinya dan tidur masih mengenakan pakaian kerjanya. Rachel melirik laki-laki itu sekilas, lalu melanjutkan bermain dengan gadgetnya


...Rachel POV...


Kami akhirnya tinggal serumah lagi. Aku merasa bersyukur, tentu saja. Tapi, sepertinya hubungan kami saat ini hanyalah sebatas formalitas saja. Tak ada sedikitpun lagi cinta di dalamnya.


Aku sengaja memilih bermain dengan gadget ku daripada bertanya macam-macam padanya. Lagipula buat apa, sekarang dia benar-benar asing di mataku.


Laki-laki yang tak memiliki pendirian, laki-laki yang selalu terpengaruh oleh keadaan sekitar. Laki-laki yang terlalu gampang percaya, apapun yang dikatakan orang lain.


Aku harus bisa mengembalikan posisiku yang sebenarnya di rumah ini. Suatu saat, aku pasti akan membuat kedua orang tua cerewet itu pergi dari rumah ini.


Sudah cukup selama ini mereka memperlakukan ku semena-mena. Aku memiliki kuasa penuh atas rumah ini.


...Rachel POV End...


Setengah jam kemudian, Ayud bangun dari tidurnya. Laki-laki itu menoleh istrinya, wanita itu masih asyik dengan gadget nya.


"Mengapa tak membangunkan ku Ra?".


Wanita itu melirik suaminya sekilas,


"Buat apa, bukankah kau capek?".


Ayud mendesah,


"Sikapmu sudah benar-benar berubah Ra. Kamu bukan Rachel yang aku kenal dulu lagi, kamu benar-benar jadi seseorang yang asing bagiku".

__ADS_1


Laki-laki itu bangun dan mengambil handuk untuk mandi. Sekitar 15 menit kemudian, ia sudah memakai kaos oblong putih dan celana pendek. Laki-laki itu tampak sangat gagah. Rachel menghampiri suaminya,


"kamu marah ya sayang?. Ayolah, aku minta maaf oke?. Sekarang, ayo kita turun. Demi Tuhan, aku benar-benar merasa lapar sekarang".


Laki-laki itu menatap Rachel penuh arti. Gadis yang sedang diperhatikan itu kelihatan cuek, dan melengos pergi. Ayud memanggil lirih nama istrinya, wanita itu berbalik sambil memainkan ujung rambutnya.


Ia menatap Ayud sambil menguap dengan lebar.


"Ada apa, ayolah aku sedang kelaparan sekarang.


Ayud menatap istrinya sayu,


"Ada yang mau aku bicarakan denganmu. Bisakah kalau kita menunda makan malam, setidaknya selama 10 menit?".


Rachel mendesah lalu menghampiri suaminya,


"Baiklah, apa?".


Dada Ayud terasa ngilu, tak ada sedikitpun kelembutan dalam nada bicara sang istri. Gadis yang dulu selalu menunduk di depannya itu, kini menjadi wanita dewasa yang bahkan tak membutuhkan siapa-siapa.


"Ra, perusahaan kakek sedang dalam masalah keuangan. Tak banyak memang, tapi cukup berpengaruh. Kami memerlukan dana untuk kembali memperbaiki semuanya".


Rachel mengerutkan keningnya, ia merasa sesuatu apa yang akan di dengarnya kali ini pasti tak akan menyenangkan. Wanita itu berusaha untuk tetap kelihatan cuek, hanya itu yang bisa membuatnya masih memiliki harga diri.


"Mama memintaku menikah dengan Resti, hanya dengan cara ini kami bisa menyelamatkan perusahaan kakek".


Ayud berbicara dengan lirih, dan kata-kata itu sukses membuat Rachel membulatkan matanya. Ia benar-benar tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.


"Menikah?".


Ayud mengangguk pelan. Ia tahu ini akan sangat berat untuk di terima dengan nalar. Tapi, pilihan apa lagi yang ia miliki?. Dan lagi-lagi, kenyataan itu membuat dadanya terasa sesak.


Rachel menatap laki-laki itu, ia benci sekali dengan sikap lemah yang di miliki oleh suaminya ini. Selalu saja membuat keputusan berdasarkan permintaan Anna.


"Memangnya tak ada jalan lain selain harus menikah?. Tidakkah kau merasa ini hanya rencana licik mama mu saja untuk membuat kita berpisah?".


Gadis itu mendesah frustasi, ia berharap laki-laki di depannya ini dapat sedikit jadi orang yang tegas. Bukan orang yang terlalu mudah goyah, diombang-ambing kan oleh keadaan.


"Aku sudah mencari jalan lain itu Ra, dan kenyataan nya tak ada. Kau kan tahu, aku tak pernah bisa setia dengan wanita. Dan kalaupun aku setia, itu semata-mata murni hanya denganmu".


Ayud menatap nanar ke arah lain, ia tak ingin airmata yang sebentar lagi akan jatuh di saksikan oleh sang istri.


"Percayalah, aku sama sekali tak menginginkan pernikahan konyol ini. Aku harap kau mengerti Ra, posisiku saat ini benar-benar sulit. Aku tak pernah berbagi denganmu, itu karena aku hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan mu".


Wanita itu mendesah, sepertinya dia benar-benar tak punya pilihan apapun lagi sekarang. Apalagi dengan sejumlah fakta yang baru saja dikemukakan oleh laki-laki itu.


"Baiklah, jika memang itu yang harus kau lakukan. Tapi ingat, jangan salahkan aku kalau melakukan hal yang sama. Kau tentu tahu, mana ada wanita yang mau di madu?".


Ayud meneteskan dua butir airmata untuk pertama kalinya di depan sang istri. Hatinya benar-benar remuk, seolah hancur berantakan tak berbentuk lagi.


"Ra, tolonglah jangan lakukan ini padaku. Aku tak akan mampu jika harus tanpa kamu".


"Berarti kamu egois Ay, kamu bisa melakukan semua itu lalu mengapa aku tidak?".


Rachel nyeletuk, ia merasa benar-benar muak dengan sikap laki-laki di depannya ini. Ia merasa sedih harus mengalami hal seperti ini, tapi dia bukan di posisi yang berhak menentukan apapun.


"Sudahlah, aku mau tidur saja".


Ayud menatap istrinya sayu, ia menyeka kedua matanya yang basah.


"Bukankah kita mau makan Ra?. Ayok makan dulu, habis itu baru istirahat".


Gadis itu tak menggubris kata-kata suaminya. Ia berbaring dan memejamkan kedua matanya. Airmata kesakitan mengalir pelan dari pipinya.


Benar yang dikatakan pepatah, orang jahat berasal dari orang baik yang selalu teraniaya. Begitulah Rachel, mau tidak mau ia harus menjadi jahat karena keadaan lah yang telah memaksanya melakukan itu semua.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Hai guys🖐️


Terimakasih udah baca novel ini sampai episode ini. Semoga kalian semua selalu dalam lindunganNya 😊😊😊


__ADS_2