Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LXII - Sadar Diri Itu Baik -


__ADS_3

Kim dan Anna kaget melihat gadis yang di bawa Ayud. Mereka menatap muak pada gadis itu, sementara sang gadis kelihatan tak peduli. Ia tak menghiraukan tatapan penuh amarah mertuanya, dan memilih duduk di samping suaminya.


"Ma, pa, istriku sekarang sudah tinggal disini lagi bersama kita. Ay harap kalian berdua dapat memperlakukan dia dengan baik".


Gadis itu tersenyum dan melipat kedua tangannya ke dada. Anna menatap gadis itu dengan geram,


"Apa maksudmu dengan memperlakukan dia dengan baik Ay?. Memangnya selama ini, kami jahat padanya?. Dan wah, apa-apaan tatapan matamu itu?. Sudah merasa jadi nyonya besar sekarang?".


Rachel balas menatap Anna sengit, tak ada sedikitpun rasa takut dari tatapan yang diberikannya. Gadis itu memutar bola matanya, lalu mencibir Anna.


"Lah, memangnya apa yang sudah saya lakukan sehingga anda merasa terbebani begitu?. Satu lagi, saya memang nyonya di rumah ini kan?. Ayolah, ini rumah suami saya. Dan, bukankah kalian yang menumpang?".


Rachel menatap Anna dan tersenyum mengejek, wanita itu memeluk erat lengan suaminya. Ia bersandar manja di lengan sang suami, Ayud hanya bisa menatap istri dan ibunya bergantian. Rachel memanyunkan bibirnya,


"Sayang, aku salah apa?. Mama kasar sekali padaku, aku jadi merasa sedih. Aku, aku salah apa sayang?".


Rachel pura-pura menangis dan merengek manja pada suaminya. Kim dan Anna menatap gadis itu dengan muak. Namun gadis itu tak peduli, Ia menjulurkan lidahnya dan kembali merengek manja pada sang suami.


Anna semakin sebal dengan sikap wanita itu. ia menunjuk wajah gadis itu dan membentak nya dengan kasar.


"Dasar kamu ya, hidup menumpang pada anak saya saja gayamu selangit. Ingat, dulu kamu itu hanya seorang pembantu. Jangan besar kepala kamu, mau aku belikan kaca?. Dasar gadis miskin tak tahu diri".


Ayud mendesah, laki-laki itu menatap orang tuanya tajam. Rahangnya mengeras, pertanda emosinya sekarang sedang tak baik-baik saja.


"Ma, pa, maaf sebelumnya. Tolong kalian hormati istri Ay, dia tak pantas mendapatkan perlakuan kasar. Dia disini bukan menumpang, atau pembantu. Dia istri Ay, dan sudah seharusnya dia selalu berada disisi Ay untuk Ay sayangi".


Anna bangkit berdiri, wanita itu gusar dan membentak Ayud.


"Menghormati istrimu?, Hah yang benar saja. Bukankah seharusnya dia yang menghormati kami?". Ah, aku tak habis pikir lagi, benar-benar menantu kurang ajar. Ay, ajari istrimu ini sopan santun pada orang tua".


Rachel kembali menjulurkan lidahnya, dan merengek merengek lagi pada sang suami.


"Sayang, kenapa kata-kata mama kasar sekali?. Itu melukai hatiku, aku merasa terintimidasi disini. Ah, tolong seseorang selamat kan aku. Tolong aku sayang, aku takut sama mama".


Kim yang melihat sikap gadis itu menjadi berang, ia menatap gadis itu tajam.


"Jaga sikapmu ya, hormati istri saya. Jangan lupa, kamu masih bisa tinggal di rumah ini itu semua karena kebaikan hati kami. Terutama kebaikan hati istri saya. Cepat, minta maaf sekarang".


Rachel yang mendapat perlakuan tak menyenangkan itu, pura-pura menggigil ketakutan dan bersembunyi di belakang suaminya. Ayud menarik nafas dalam, laki-laki itu mengusap lembut kepala sang istri.


"Ma, pa, kakek Liam sudah memberikan rumah ini atas nama istriku. Kita, benar-benar menumpang di rumah ini ma, pa. Selama ini aku tak mengatakan nya, karena menjaga perasaan kalian. Tolong, sudahi lah pertengkaran ini".


Rachel tertawa kecil, wanita itu merasa sangat bahagia.


"Baguslah kalau kalian sudah tahu, aku akan sangat berterimakasih kalian mau melakukan itu. Sadar diri itu bagus bukan, iyakan ma, pa?. Apalagi, diposisi ketika kita hidup hanya mengharapkan belas kasihan orang".


Wajah Anna dan Kim mengeras mendengar kata-kata menyindir secara terang-terangan itu. Mereka menatap gadis itu tajam, tetapi gadis itu acuh. I bangkit berdiri dan menguap dengan malas.


"Sayang, aku ngantuk. Gendong aku ke kamar, kakiku tak kuat berdiri setelah mendengar kata-kata mama".


Ayud tersenyum, ia bangkit dan membungkuk di hadapan kedua orang tuanya.


"Kami mau istirahat dulu, selamat malam".

__ADS_1


Ayud menggendong sang istri ke kamar, gadis itu tersenyum dan mempererat pelukannya pada sang suami. Anna dan Kim menatap keduanya dengan tatapan benci yang membara.


Di kamar..


Ayud menurunkan sang istri, dan menatap gadis itu heran.


"Ra, darimana kamu dapatkan semua keberanian mu itu?. Bukankah biasanya kamu selalu terlihat ketakutan di depan mama?".


Gadis itu mendesah, ia menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum puas.


"Sudah cukup lama kan aku menahan semua ini?. Banyak hal yang ku pelajari dalam hidup, semakin kau baik semakin kau ditindas. Aku bosan menjadi orang yang selalu ditindas, apakah kau keberatan sayang?".


Laki-laki itu tersenyum, ia menatap punggung sang istri.


"Tentu saja tidak, aku senang dengan perubahan sikapmu ini Ra. Kau kelihatan berbeda, benar-benar menjadi wanita dewasa. Tapi, tetap jaga sikapmu di depan papa dan mama ya sayang".


Gadis itu mengangguk sambil mencari-cari sesuatu di dalam laci. Namun gusar, karena tak menemukan apa yang dicari. Ia melirik laki-laki, yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil melamun itu.


"Dimana kamu letakkan peralatan make up ku Ay?. Mereka semua seharusnya ada disini. Kau membuangnya ya?. Itukan peralatan make up mahal".


Ayud diam, tatapan nya menerawang. Rachel menghampirinya dan menepuk pundak laki-laki itu, sehingga ia kaget dan sontak menoleh,


"Hah?",


Rachel mengernyitkan dahinya, gadis imengeluh pelan.


"Masa pertanyaan ku yang begitu saja bisa membuat mu kaget begini Ay?. Benar-benar tak terlihat seperti dirimu. Kau kan tukang bentak. Ah sudahlah, mana peralatan make up ku?".


Laki-laki itu diam sejenak, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh sang istri. Beberapa detik kemudian, ia menunjuk dengan mulutnya.


Rachel berteriak,


"Apa?, wah berani sekali ya dia. Baiklah, aku akan ke kamar mama mu dulu. Kau tunggu disini saja".


Ayud menahan tangan gadis itu,


"Jangan Ra, ikhlas kan saja. Nanti aku belikan yang baru untuk mu. Katakan saja berapapun yang kau inginkan, aku pasti sanggup membelikannya untuk mu".


Gadis itu menatap suaminya marah,


"Tidak, aku tak mau. Aku tetap menginginkan peralatan make up ku yang sudah di ambil mama mu. Lagipula, jangan jadi kebiasaan burukmu selalu membenarkan semua kelakuan mama. Dia yang salah disini bukan?".


Ayud melepaskan tangan istrinya, perasaannya bercampur aduk.


"Sayang, aku tahu mama salah. Tapi, jangan sampai masalah sekecil ini menjadi besar karena ego kalian. Aku sendiri yang akan menegur mama, sekarang kamu mandi dan istirahat ya sayang".


Rachel kekeuh dengan keputusannya,


"Tidak, aku sendiri yang harus menegur mamamu. Tolong jangan ikut campur, atau kau akan menyesali ini".


Ayud pasrah, laki-laki itu merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan membuang nafas beberapa kali.


Sementara itu..

__ADS_1


Rachel menggedor kamar Kim dan Anna dengan kasar. Bi Sri menghampiri nya, raut wajah wanita tua itu pucat.


"Aduh bu, ibu kapan kembali?. Bu, jangan begini nanti nyonya besar marah".


Rachel tersenyum dan tak berkomentar apa-apa. Lalu kembali menggedor pintu tersebut dengan keras. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Anna ingin menarik rambut gadis yang dinilainya sangat kurang ajar itu.


Namun Rachel berkelit, sehingga tangan wanita itu hanya menangkap udara hampa. Rachel menatap wanita itu sinis,


"Mana peralatan makeup ku?, dasar pencuri. Memangnya kau tak mampu ya membeli sendiri alat-alat makeup, sebegitu miskin nya kah dirimu?. Cih, kasihan".


Wajah Anna merah padam, ia mengepalkan tangannya dengan geram. Kim yang sedang tiduran menghampiri istri dan menantunya itu.


"Ada apa ini?, apa yang kau lakukan malam-malam begini di depan kamar mertuamu?".


Rachel berdecih sambil bersedekap dada.


"Cih, tanyakan sendiri pada istri tercinta mu ini pa. Kenapa dia berani sekali mengambil barang yang bukan miliknya. Benar-benar tak tahu malu".


Kim menatap istrinya,


"Benar itu ma?, memangnya apa yang kau ambil dari gadis miskin ini?".


Anna tergagap,


"Ma... mana ada. Kau jangan seenaknya memfitnah ya gadis miskin. Kau bisa ku tuntut karena menuduhku seenaknya".


Rachel jengah, ia berteriak memanggil suaminya. Ayud berlari kecil dan mendekati istrinya.


"Ada apa sayang?".


Rachel mengubah mimik wajahnya menjadi cemberut.


"Mama bilang aku menuduhnya mengambil barang ku sayang. Aku butuh pembelaan mu".


Ayud kembali mengacak rambutnya, laki-laki itu benar-benar serba salah melihat tingkah laku penghuni rumah ini.


"Ma, ayo cepat kembalikan peralatan makeup istriku. Biar kita tak usah memperpanjang masalah ini dan sama-sama bisa istirahat. Ayolah, ini sudah jam berapa dan kalian masih sibuk dengan masalah sepele ini?".


Kim geram,


"Memangnya kau pikir papa tak mampu membelikan mama mu peralatan makeup ya sampai kau tega menuduhnya mencuri dari istrimu?".


Kim berbicara tanpa jeda, nafasnya memburu. Rachel acuh dan masuk ke dalam kamar mertuanya. Ia mengambil peralatan makeup yang tergeletak di atas meja rias.


"Aku cuma mau mengambil barang ku dari di curi, memangnya salah?. Lagipula, sudah jelas-jelas ketahuan begini masih mau ngelak?. Cih, memalukan".


Gadis itu berjalan angkuh dan meninggalkan suami serta mertuanya. Ayud menatap mamanya datar,


"Ma, kan dah Ay bilang tadi jaga sikap kalian. Lagipula, kan memang mama yang mengambil makeup dia. Tinggal kembalikan saja apa susahnya?. Kenapa sampai harus ribut begini, malu sama tetangga".


Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, lalu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih bengong. Nampaknya, setelah ini pertengkaran mereka akan terus berlanjut.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel ini 😊😊


Like dan favoritnya jangan lupa guys🙏


__ADS_2