Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XXVIII - Cinta Segitiga -


__ADS_3

Rachel menyerahkan berkas yang tadi di bawanya kepada Albert,


"Pak, saya sudah mendiskusikan proyek yang akan kita kerjakan bersama dengan Liam's Group, berikut aturan-aturan nya. Nampaknya beliau menyetujuinya".


Albert mengambil berkas itu dan membukanya,


"Padahal, dia bukan orang yang dengan mudah memutuskan sesuatu seperti ini. Saya malah menyangka dia akan marah, karena bukan saya yang datang secara langsung. Sungguh ajaib beliau langsung menyetujuinya".


Rachel menarik nafas,


"Anggap saja ini hari keberuntungan kita pak. Saya permisi dulu, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan".


Baru saja gadis itu berbalik dan melangkah kan kakinya, Albert langsung memanggil nya.


"Ra, nanti siang temani saya lunch ya. Bosan makan sendiri melulu".


Albert nyengir, Rachel memutar bola matanya,


"Baiklah".


Laki-laki itu selalu saja punya cara, untuk membuat mereka terikat dalam kebersamaan. Rachel melanjutkan pekerjaannya, ia mencoba berkosentrasi dengan apa yang dia kerjakan.


Namun lagi-lagi pikirannya melayang jauh, betapa ia tak menyangka kepergian kakek Liam terasa bagai mimpi. Airmata nakal itu lagi-lagi ingin tumpah, namun cepat di seka nya dengan kasar.


Begitu banyak pasang mata yang saat ini bisa melihatnya, ia tak ingin menjadi pusat perhatian hanya karena hal konyol. Gadis itu melirik arloji yang melingkar dengan manis di pergelangan tangan nya, ternyata sudah jam makan siang.


Ia merasa begitu malas ketika harus berpura-pura baik-baik saja, lagi dan lagi di depan Albert. Rasa kehilangan yang dia rasakan begitu dalam, sehingga sepertinya hal itu mengharuskan nya habis-habisan bersedih.


Gadis itu merasa begitu lemah untuk memulai aktivitas lain, meski hanya sekadar makan siang.


Ketika ia asyik dengan lamunan nya, sebuah tangan menepuk lembut pundaknya. Rachel kaget dan spontan menoleh ke belakang.


"Pak Albert".


Laki-laki itu pura-pura batuk,


"Melamun lagi?".


Rachel segera merapikan meja kerjanya,

__ADS_1


"Pak, saya sudah siap. Bisakah kita pergi sekarang?".


Albert mengangguk dan mempersilahkan gadis itu berjalan di depannya. Beberapa karyawan lain menatap mereka dengan iri, namun mereka tahu wanita yang di sukai sang majikan hanya gadis itu.


Rachel duduk di mobil bos nya ini dan menatap lurus ke depan. Jalanan terasa begitu lengang, hanya satu dua kendaraan yang terlihat berlalu lalang.


"Al, kita mau kemana?"


Rachel memulai percakapan setelah mereka diam dalam waktu yang cukup lama. Laki-laki itu tetap fokus menyetir,


"Ikut saja, nanti juga kamu tahu".


Mobil mereka memasuki sebuah area pemakaman yang sangat besar dan luas. Rachel melihat sekeliling dengan pandangan bingung. Ia mengikuti punggung Albert, sambil terus mengedarkan pandangannya.


"Kita sudah sampai. Ayo kita kesana".


Rachel menatap makam yang berjejer dengan rapi di sepanjang jalan yang mereka lewati. Ada banyak sekali pertanyaan dalam kepalanya, namun ia tak berani untuk bertanya.


"Tunggu disini sebentar ya Ra, saya mau kesana dulu".


Perintah nya dan Rachel mengangguk. Dari kejauhan, terlihat laki-laki itu menaburkan beberapa bunga segar yang tadi di belinya.


"Ayo kita pergi. Kamu mau makan apa?".


Albert menatap gadis itu sambil tersenyum. Namun, raut wajahnya terlihat sangat sedih.


"Saya ikut saja".


Albert tersenyum lalu melangkah menuju ke mobilnya.Di sepanjang perjalanan laki-laki itu terdiam, pikiran yang entah kemana. Rachel sesekali menatapnya, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa.


Ia ingin bertanya, namun seolah keberanian itu tak kunjung ia dapatkan. Tampaknya Albert menyadari hal itu,


"Ada yang mau kamu tanyakan Ra?. Tanya saja. kalau bisa saya jawab, pasti akan saya jawab. Kalau saya tak bisa menjawab nya, akan saya jadikan pekerjaan rumah".


Laki-laki itu terkekeh, menyadari betapa konyolnya kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Rachel memainkan ujung kemejanya,


"Tadi itu makam nya siapa Al?".


Albert menarik nafas,

__ADS_1


'Itu makam nya Mama. Mama meninggal seminggu setelah kamu kerja di perusahaan ku".


Rachel mengangguk. Ia ingat, dulu Albert pernah hampir dua minggu tidak masuk kerja. Dengan alasan, ada masalah keluarga.


Waktu itu, ia tak terlalu ingin ambil pusing. Karena sedang sibuk belajar, tentang bagaimana bekerja dengan baik, di perusahaan laki-laki itu.


Ia menatap laki-laki itu secara diam-diam, dan mengagumi sosok nya yang begitu tegar menghadapi masalah hidup. Tidak seperti dirinya yang memilih pergi, karena tak kuat memikul beban hidup nya sendirian.


"Mama meninggal secara mendadak Ra. Sampai saat ini, saya masih terus berusaha meyakinkan diri sendiri, bahwa ini semua bukan mimpi".


Albert menatap nanar jalanan yang terasa agak lengang itu. Rachel merasa tidak enak karena nya, namun tak bisa berbuat apa-apa.


"Mama ingin saya segera menikah Ra. Hanya saja sampai saat ini, saya belum bisa menemukan seseorang yang bisa saya ajak untuk itu, kecuali kamu".


Albert menghentikan kata-kata nya, ia menarik nafas berusaha menguatkan hatinya.


"Maaf kalau perkataan saya ini membuatmu merasa terbebani".


Rachel mengangguk, tak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi dia kasihan kepada laki-laki itu, tapi di sisi lain ia belum bisa membuka hatinya untuk laki-laki itu.


Sementara itu, di tempat lain. Ayud tampak menatap foto gadis yang terbingkai dengan manis di atas mejanya itu. Beberapa kali ia menyeka air matanya yang keluar secara tiba-tiba.


Setelah membaca berkas yang di berikan oleh manajer Huang, Ayud benar-benar tak bisa menahan perasaannya. Selama ini ia mengira, gadis itu hanya beban dalam hidupnya.


Ia begitu tak menyangka, betapa banyaknya luka yang harus di rasakan gadis itu karena dirinya. Karena ketidaktahuannya, dalam memahami perasaan gadis itu.


Ia merasa sangat menyesal, ketika mengingat bagaimana ia memperlakukan gadis itu dengan sangat kejam. Namun, semua tak bisa di ulang kembali. Gadis itu pasti telah sangat terluka karena sikap dan perlakuan nya selama ini.


Beberapa kali ia menggertak kan giginya. Albert, majikan gadis nya itu, ternyata menaruh perasaan yang sama pada Rachel, seperti dirinya.


Ia tak ingin membiarkan hal itu terjadi. Namun, ia tak memiliki kendali atas itu. Gadis itu sekarang bukan siapa-siapa nya lagi, apalagi setelah kakek Liam meninggal.


Laki-laki itu menatap langit jauh di atas sana yang berwarna jingga. Ia merindukan apa yang dulu menjadi hal yang tak di sukai nya. Ia merindukan, saat-saat dimana gadis itu datang. Dengan wajah polosnya, dan tersenyum padanya.


Andai waktu bisa di ulang.


❤️❤️❤️❤️


Reader terkasih, tinggalkan jejak untuk Author ya kalau kamu suka novel ini😊😊

__ADS_1


__ADS_2