Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XXXVI - Luka Baru -


__ADS_3

Ayud mendengus kesal. Laki-laki itu kelihatan sedang marah besar. Erin yang baru saja keluar dari ruangan laki-laki itu tampak pucat. Rachel menghampirinya,


"Ada apa Er? Kamu sakit?".


Erin kelihatan gemetar lalu meletakkan berkas di tangannya dengan hati-hati.


"Pak Ayud Ra, dia seperti orang g*la. Marah-marah terus bawaan nya. Masa tadi aku mau minta tanda tangan saja, sampai mau di tendang. Aku takut sekali. Belum pernah ku lihat dia marah begitu".


Rachel tampak berpikir sejenak. Pastilah perubahan sikap Ayud ada hubungannya dengan berita yang ada di koran. Ia tersenyum dan memegang tangan Erin.


"Sudah, nanti juga dia akan kembali seperti biasa. Mungkin sekarang pak Ayud lagi ada masalah Er, di maklumi saja lah".


Gadis itu mengangguk sambil membereskan berkas-berkas yang berantakan. Ia kemudian melanjutkan kembali pekerjaan nya.


Sementara itu di dalam ruangan nya, Ayud menggebrak meja dengan keras. Ia melemparkan dengan kesal koran yang sedang di bacanya. Wajah laki-laki itu mengeras,


"S*alan, benar-benar s*al semuanya. Bagaimana bisa semua orang merasa bahagia, sedangkan aku seperti mau m*ti dalam kesedihan ku. Bagaimana bisa Carene pacaran dengan orang ini? Bagaimana bisa?".


Ayud merasa sangat kesal. Koran yang di bacanya itu menulis berita tentang Carene. Salah satu gadisnya itu menjalin hubungan asmara dengan seorang dokter di negara Jepang. Amarahnya benar-benar memuncak.


Belum habis rasa kesalnya itu, Tiba-tiba HP miliknya berdering. Mertuanya, Darwin yang tak pernah ramah padanya itu menghubungi nya. Laki-laki itu mengernyitkan dahi nya,


"Ay, apa kabar?".


Ayud mendengus pelan, berusaha terdengar baik-baik saja.


"Saya baik. Ada apa anda menghubungi saya?".


Terdengar suara tawa Darwin di seberang sana, Ayud menjadi muak karenanya.


"Tentu kau sudah membaca berita hari ini kan? Seminggu dari sekarang aku akan menikahkan putriku satu-satunya. Kamu datang ya, bawa istrimu juga. Oh ya apa gadis itu patuh padamu?".


Ayud bertambah kesal dengan pertanyaan bernada merendahkan itu. Ia menarik nafas berat,


"Tentu saja dia patuh padaku. Aku kan suaminya dan itu benar-benar bukan urusan anda. Oh ya satu lagi, saya akan menyempatkan diri untuk datang. Itu juga kalau saya tidak sibuk. omong-omong selamat ya?".


Darwin merasa muak dengan laki-laki yang menjadi lawan bicara nya itu. Ia menyindir keluarga Darwin secara terang-terangan. Darwin mengepalkan tangan nya, geram.


"Wah saya sangat merasa bangga sekali kalau pemimpin Liam's Group bisa hadir di cara pernikahan putri saya. Saya benar-benar tidak menyangka laki-laki yang dulunya b*jat sekarang sudah berubah. Selamat ya?".


Ayud mengepalkan tangannya dengan geram. Ingin sekali dia melayangkan tinju nya ke wajah laki-laki itu.

__ADS_1


"Ah terimakasih karena sudah mengundang saya. Saya tutup dulu ya, biasalah saya banyak urusan. Selamat siang pak Darwin".


Dengan cepat Ayud memencet tombol akhiri panggilan di ponsel miliknya. Ia membanting benda mungil itu ke lantai dengan perasaan kesal. Semuanya seolah bekerjasama untuk menghancurkan harinya.


Di sisi lain, Darwin juga mengundang Albert untuk hadir di pesta pernikahan Carene. Semua orang-orang kaya dan terpandang di negara itu mendapatkan undangan secara khusus oleh Darwin. Albert menghubungi Rachel,


"Ada apa Al? Tumben nelpon jam segini?".


Albert tersenyum,


"Kamu juga dapat undangan pernikahan nya Carene kan Ra?".


Rachel menempelkan HP miliknya itu ke telinganya. Tangan nya yang lain sibuk mengetik sesuatu di komputer,


"Iya, barusan Mama angkat ku nelpon. Kamu juga di undang ya Al?".


"Iya Ra, ayo kita pergi bareng saja. Ini bisa semakin menyempurnakan sandiwara kita. Aku lihat pak Ayud sudah mulai di bakar api cemburu pada mu".


Laki-laki itu tertawa, Rachel mengernyitkan alisnya.


"Baiklah kalau begitu. Aku tutup dulu ya Al, masih jam kerja ini. Tidak enak sama yang lain".


Albert tersenyum,


Rachel menutup telepon nya dan berkosentrasi pada pekerjaan di depannya. Ia tertawa kecil, Albert memang partner kerja yang baik. Laki-laki itu selalu bisa di andalkan.


Rachel melirik arloji miliknya,


"Sudah jam makan siang".


Ia bergumam pelan lalu melirik Erin yang masih fokus dengan pekerjaan nya. Rachel memanggil gadis itu,


" Er, makan dulu yuk. Nanti baru di lanjutkan lagi pekerjaan mu itu".


Erin tersenyum dan mendesah,


"Lelah sekali aku Ra. Ulang lagi ulang lagi, entah apa maunya".


Erin menguap malas dan bangkit dari kursinya,


"Pak Ayud benar-benar menyebalkan hari ini. Entah mau di perbaiki berapa kali file s*alan ini. Ah, aku benar-benar kesal".

__ADS_1


Rachel tersenyum lalu berjalan di belakang Erin. Gadis itu terus mengumpat kesal dengan perlakuan bos mereka. Rachel menggandeng tangan rekan kerjanya itu,


"Sabar ya Er, besok kan sudah akhir pekan. Kamu bisa istirahat seharian dan melupakan kejadian hari ini".


Erin tersenyum. Di kantor ini hanya Rachel yang selalu menjadi tempat ia mengeluarkan keluh kesah nya. Kedua sahabat itu berjalan beriringan menuju kantin sambil sesekali bercanda ria.


Di kantornya, Ayud masih melamun dan sesekali menggertak kan gigi-gigi nya. Manager Huang menghampiri sang majikan yang tampak sedang dalam keadaan tidak baik itu.


"Tuan, ini sudah waktunya makan siang. Anda mau saya belikan makanan?".


Ayud menggeleng pelan,


"Sudahlah Huang, tak ada sedikitpun selera ku untuk makan hari ini. Aku benar-benar merasa kesal".


Manager Huang menatap laki-laki itu sekilas lalu menunduk,


"Ada masalah apa tuan? Biar saya bereskan untuk anda, seperti biasanya. Beritahu saya apa yang harus saya lakukan, tuan".


Ayud mendesah,


"Huang, menurut mu mengapa Rachel lebih memilih Albert daripada aku?. Bukankah aku sudah jadi lebih baik sekarang?. Aku bahkan seorang CEO? Apa yang masih kurang dariku Huang?".


Manager Huang menatap tuannya dengan pandangan bingung. Tak lama kemudian ia tersenyum,


"Maaf tuan, kalau masalah itu saya benar-benar tak bisa membantu. Saya juga bingung bagaimana bersikap yang benar kepada wanita. Mereka benar-benar sulit untuk di pahami".


Ayud tersenyum masam,


"Cari tahu tentang calon suami Carene untuk ku. Aku begitu penasaran, bagaimana bisa gadis itu tiba-tiba memutuskan untuk menikah?. Ah semua orang saat ini sedang bahagia, mengapa hanya aku yang menderita?".


Manager Huang mengangguk dan segera pergi meninggalkan majikan nya. Dia tertawa kecil menyaksikan bagaimana terlalu over nya reaksi sang majikan. Seolah dia yang paling menderita di dunia ini, dan orang lain tidak.


Sementara itu, di rumah Darwin. Orang-orang terlihat sibuk memasang hiasan, berbagai macam bentuk bunga dan hiasan lainnya. Jeny terlihat begitu antusias mengarahkan para pekerja.


Pernikahan putri tunggalnya itu harus terlihat semegah dan semeriah mungkin. Tak peduli berapa biaya yang akan di habiskan untuk mewujudkan hal itu.


❤️❤️❤️❤️


Hy guys, terimakasih ya telah sudi membaca novel ini. Author akan berusaha yang terbaik buat para reader sekalian 😊😊😊


Semoga kalian semua sehat selalu ya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2