Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XXXIX - Karma -


__ADS_3

Diruang pesta, Jeny berjalan dengan wajah cemberut. Ia mengumpat kesal. Darwin yang sedang berbincang-bincang dengan para tamu menghampiri nya.


"Kamu kenapa Ma?. Jangan bersikap begini, tak enak di lihat tamu-tamu yang lain".


Jeny melipat tangannya ke dada. Dia benar-benar terlihat sedang kesal.


"Mama benci sekali dengan gadis m*rahan itu Pa. Bisa-bisanya dia berlindung di balik orang yang kuat. Si Albert s*alan itu, mengapa mau-maunya membela gadis seperti itu. Ah, benar-benar kesal sekali rasanya".


Darwin membimbing tangan istrinya untuk masuk ke kamar. Ia tak ingin para tamu melihat sang istri marah-marah.


"Tenang dulu, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?".


Jeny mendengus,


"Tadi Papa lihat sendiri kan gadis itu datang bersama Albert. Mama ingin membuat dia malu, biar dia mengerti posisinya. Eh malah Mama yang terpojok".


Darwin mendesah, ia juga merasa kesal. Namun, saat ini pesta putri tunggalnya itu sedang berlangsung. Tak boleh ada keributan apapun selama pesta, itu akan merusak citra dirinya.


"Sudah lah Ma, tidak ada gunanya marah-marah sekarang. Yang penting putri kita bahagia, tak usah pikirkan apapun tentang gadis itu. Ayo kita turun, tamu-tamu kehormatan kita sedang menunggu".


Jeny mengganguk, ia menggandeng tangan sang suami dan berjalan dengan anggun menuju para tamunya. Carene dan Natan terlihat sibuk berfoto ria, bersama kerabat-kerabat nya.


Setelah kepergian Rachel, Ayud memutuskan untuk meninggalkan ruangan pesta itu. Ia merasa kesal sekali melihat kedekatan Albert dan Rachel. Tadinya, ia ingin menghampiri gadis itu ketika para wartawan mengerumuni nya.


Namun, ia menghentikan langkahnya. Albert telah lebih dulu menghampiri gadis itu. Bahkan laki-laki itu mengakui hubungan mereka kepada publik. Ayud merasakan hatinya berdenyut nyeri, sakit sekali.


Laki-laki itu memperhatikan jalanan kota yang sangat ramai. Hiruk pikuk bunyi kendaraan berseliweran, membuat suasana kota Seoul tak pernah mati.


Ternyata suasana kota yang sangat ramai itu tak mampu membuat hatinya menjadi ramai juga. Ada rasa kekosongan yang menggerogoti hatinya. Membuatnya merasa mati secara perlahan-lahan.


Di tengah kegundahan hatinya, tiba-tiba HP miliknya berdering. Ia melirik sekilas benda mungil itu, tertera nomor tak di kenal. Laki-laki itu telah beberapa kali berganti gadget baru. Benda mewah itu tak pernah lama bersamanya.


Ia membiarkan ponsel itu berdering untuk kesekian kalinya. Ia benar-benar tak berminat untuk berbicara dengan siapapun sekarang.


Manager Huang melirik majikan nya dari kaca spion.


"Ada apa tuan? Mengapa anda tak mengangkat telepon nya?. Apakah ada masalah?".


Manager Huang bertanya, setelah untuk kesekian kalinya Ayud mengabaikan deringan benda mungil itu. Laki-laki muda itu mendesah,


"Tidak ada apa-apa, aku hanya malas".


Laki-laki itu diam sejenak, sementara Manager Huang fokus menyetir mobil.


"Huang, bagaimana informasi yang ku suruh kau cari?. Apakah sudah kau dapatkan?".

__ADS_1


Manager Huang tersenyum dan melirik tuannya sekilas,


"Sudah tuan. Dari informasi yang berhasil saya dapatkan, Natan adalah seorang mahasiswa kedokteran. Tuan Darwin menanggung biaya pendidikan laki-laki itu, dengan syarat dia harus menikahi nona Carene".


Manager Huang diam sejenak, laki-laki tua itu menarik nafas. Ia melanjutkan kata-katanya,


"Tuan, ada yang aneh dari saudara Natan. Dia sebenarnya bukanlah berasal dari keluarga baik-baik. Ayah nya seorang pemabuk berat sedangkan ibunya seorang pemakai obat-obatan terlarang".


Manager Huang melirik sang majikan dari kaca spion. Laki-laki muda itu tampak serius mendengarkan,


"Bagaimana mungkin tuan Darwin dan keluarganya tidak mengetahui hal itu?. Saya rasa ada yang agak aneh di sini tuan".


Ayud menghela nafasnya,


"Cari tahu lebih banyak tentang sesuatu yang terjadi di balik pernikahan mereka, Huang. Aku ingin tahu, permainan apa yang sedang terjadi di sini".


Manager Huang mengangguk,


"Baik tuan".


Ayud baru saja menyelesaikan kalimatnya, ketika tiba-tiba ponsel miliknya kembali berdering. Laki-laki itu mengeraskan rahangnya,


"Siapa?".


Laki-laki itu bertanya dengan tidak sabaran begitu ia meletakkan ponsel itu di telinga nya. Sesaat kemudian terdengar suara wanita, suara yang terdengar tidak asing di telinga.


Ayud menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha agar emosi tak menguasai nya.


"Ada keperluan apa lagi kamu denganku?. Bukankah hubungan kita sudah lama selesai?. Aku rasa sudah memberi peringatan yang sangat jelas padamu bukan?. Berani sekali kau masih menghubungi ku".


Suara wanita di seberang sana terdengar terisak, nampaknya ia sedang menangis.


"Aku tahu Ay, tapi berikan aku kesempatan untuk yang terakhir kalinya bertemu dengan mu. Aku janji, setelah kita bicara aku akan pergi dari kehidupan mu selamanya".


Ayud mengeram marah, gigi-giginya terdengar gemeletuk.


"Oke, kalau itu mau mu, kita ketemu sekarang. Dimana aku harus menemui mu?".


Wanita itu menjawab dengan cepat,


"Aku sudah ada di depan rumah mu Ay. Aku sudah menunggu mu dari tadi".


"Baiklah, tunggu aku".


Ayud segera menutup telepon nya dan meminta Manager Huang untuk menyetir mobilnya dengan cepat.

__ADS_1


"Ada apa tuan?".


Ayud lagi-lagi mendesah, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Haera, dia ingin menemui ku. Entah apa lagi yang di inginkan wanita itu. Huang, cepat sedikit. Dia sedang menunggu kita di depan rumah. Benar-benar menyebalkan".


Manager Huang mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya.


Setengah jam kemudian, mobil mereka telah memasuki halaman besar milik Ayud Jonathan. Dari kejauhan, tampak Haera sedang berdiri di balik pagar. Ayud mendengus kesal, ia turun dari mobilnya dan menghampiri gadis itu.


"Ada apa?. Kupikir kamu telah sangat mengerti apa yang kukatakan tentang kita. Katakan apa urusanmu kesini?".


Haera menunduk kan wajahnya, ia terlihat begitu sedih.


"Ay, aku di usir dari kontrakan ku. Aku benar-benar menyesal, telah mengkhianati mu dulu. Aku bahkan tak sanggup untuk membayar sewa kontrakan. Benar-benar menyedihkan".


Wanita itu terus menunduk, sambil meremas jari-jari tangannya. Penampilan nya tampak begitu lusuh.


"Aku benar-benar minta maaf Ay. Maafkan semua hal yang dulu pernah aku lakukan padamu. Seandainya masih bisa, aku ingin memulai kembali hubungan kita". Aku tak memiliki apa-apa lagi sekarang".


Ayud melipat tangannya ke dada, ia menatap wanita itu dengan tatapan muak.


"Sudah?".


Wanita itu mendongak,


"Hah?".


Ayud menghampiri wanita itu,


"Aku tanya, apa kau sudah selesai dengan bualan kosong mu itu?. Berani sekali kau datang kesini hanya untuk menyampaikan kata-kata yang tak bermakna seperti itu".


Haera mencium kaki laki-laki itu, memohon belas kasihan nya.


"Tolong Ay, aku benar-benar tak tahu lagi mau kemana. Keluarga ku telah mengusir ku, aku tak punya tempat untuk di tuju lagi. Tolong sayang, jangan lupakan semua kenangan manis yang telah kita lewati bersama".


Ayud melepaskan kakinya dari Haera, ia berjongkok sambil memegang dagu wanita itu.


"Aku tak pernah menjilat kembali ludah ku sayang. Jadi sekarang, kau boleh angkat kaki dan pergi dari sini. Kau dan aku tak memiliki urusan apapun lagi. Selamat tinggal dan nikmati lah hidup mu dengan baik".


Ia melangkah meninggalkan wanita itu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Haera terus memanggil nama laki-laki itu dengan frustasi. Namun, tak ada jawaban.


Diluar, hujan mulai turun rintik-rintik membasahi bumi. Haera melangkah pergi meninggalkan rumah laki-laki itu dengan langkah lemas. Airmata nya berlinangan.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Hy reader terkasih, terimakasih sudah membaca novel ini😊😊


Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🙏


__ADS_2