
Ayud melepaskan tangan istrinya begitu mereka tiba di kamar. Ia duduk di pinggiran tempat tidur dan menatap gadis itu. Laki-laki itu mendesah,
"Sayang, mengapa kau harus melakukan ini?. Bukankah aku bisa membeli semua yang kau inginkan, tinggal katakan saja pasti akan ku berikan. Mengapa harus seperti ini?".
Gadis itu menatap suaminya, raut wajahnya terlihat begitu kecewa.
"Jadi, kamu benar-benar percaya kalau aku yang melakukan semua itu Ay?. Kau bahkan menelan mentah-mentah semua hal yang dikatakan oleh orang tuamu. Apa benar, kau menikahi ku karena cinta?. Aku agak meragukannya".
Gadis itu mulai menangis,
"Aku tak mungkin melakukan hal konyol seperti itu Ay, dan kamu harusnya lebih mengenalku dari siapapun. Tapi, aku benar-benar tak menyangka kamu bahkan langsung percaya apa yang dikatakan orang tuamu".
Ayud mendesah, ia menepuk pelan kasur di sampingnya. Meminta gadis itu untuk duduk, namun Rachel menolak.
"Ah, aku tak tahu harus mempercayai siapa sekarang. Semua bukti mengarah padamu, aku bahkan tak melihat sedikitpun celah untuk membenarkan mu. Aku benar-benar bingung".
Gadis itu menyeka air matanya,
"Baiklah, kalau memang itu keputusan mu. Tak ada lagi yang perlu aku jelaskan disini. Percaya saja apa yang ingin kamu percayai".
Gadis itu masuk ke kamar mandi dan mengunci diri disana. Ayud memanggilnya, namun ia tak bergeming.
...Rachel POV...
Tega sekali dia. Bahkan, dia sedikit pun tak mau mendengar penjelasan ku?. Kalau begitu, buat apa pernikahan ini?. Apakah dari awal, pernikahan ini adalah sebuah kesalahan?".
Aku tak ingin lagi berdebat dengannya lama-lama, biarlah aku menyendiri dulu. Merenungi semuanya, merenungi kesalahanku. Aku tahu, kedua orang tua suamiku tak pernah menyukai ku.
Tapi paling tidak, ada satu orang yang akan mempercayai ku, dan aku berharap itu dia. Tapi, dia bahkan ikut menuduhku melakukan sesuatu yang sama sekali tak kulakukan. Aku benar-benar merasa kecewa padanya.
Pernikahanku baru saja berusia seminggu, dan sudah ada masalah seberat ini. Aku pikir, drama seperti ini hanya ada dalam sinetron. Ternyata, aku mengalaminya sendiri hari ini.
Aku benar-benar tak tahu perihal kalung itu. Berulang kali pun aku coba mengingat nya, aku tetap tak tahu. Aku tak pernah memasukkan benda itu ke dalam tas ku, aku bahkan tak pernah memasuki kamar mereka.
Tega sekali semua tuduhan itu di lemparkan padaku. Tega sekali dia tak mempercayai aku sebagai istrinya. Padahal, sudah ku serahkan semua yang aku miliki. Tapi, aku tetap tak mendapatkan kepercayaan darinya.
Ah, Tuhan. Entah cobaan apalagi ini, entah ujian apalagi ini. Aku baru saja ingin bahagia, tapi mengapa lagi-lagi aku harus menangis lagi.
Aku meringkuk di dalam kamar mandi sambil menangis dengan puas disana. Setidaknya, aku harus berdamai dengan hatiku terlebih dahulu. Saat ini, aku tak sanggup jika harus berhadapan dengan nya.
Rasa kecewa yang begitu dalam ini membuat hatiku terasa perih. Seakan, beribu jarum menusuk dan mengiris hatiku tanpa mengenal kasihan. Aku benar-benar tak kuat.
...Rachel POV End...
Setelah puas menangis, Rachel memutuskan untuk mandi. Matanya benar-benar sembab, ia tersenyum masam melihat pantulan dirinya di cermin itu. Selesai mandi, gadis itu mencari keberadaan sang suami. Namun, laki-laki itu tidak ada.
__ADS_1
Ia memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuat sedikit makanan ringan untuk diri sendiri. Baru saja ia melangkah memasuki dapur, ia di sambut tatapan tak bersahabat dari mertuanya.
Wanita paruh baya itu berdehem, seraya menuangkan minuman ke dalam gelasnya.
"Wah, baru bangun tidur?. Enak sekali ya kamu, tidur dari sore dan baru bangun sekarang. Kasihan bi Sri tidak ada yang bantu".
Ia menyesap minumannya, lalu berjalan menghampiri gadis itu.
"Kamu sedang apa?",
Gadis itu mencoba tersenyum,
"Bikin makanan ma, saya belum makan".
Anna tersenyum sinis, seraya berdecak pinggang.
"Ah, kasihan. Mau makan?, makanan sisa kan ada di atas meja itu. Makan itu saja, tak usah masak-masak lagi. Kamu itu jangan pilih-pilih makanan, ingat kamu itu tak menghasilkan uang sedikitpun".
Anna menatap beberapa sayuran dan daging yang baru saja di keluarkan gadis itu dari kulkas. Ia mengambilnya,
"Simpan ini sekarang, enak saja kamu mau makan daging. Kamu baru saja ketahuan mencuri kalung saya, lalu sekarang enak-enakan mau makan. Eh, kalau bukan karena saya kamu sudah diusir dari rumah ini".
Gadis itu menatap mertuanya datar,
Anna geram, lalu menampar pipi gadis itu. Tamparan itu, menciptakan bekas kemerahan disana.
"Berani sekali kamu, memangnya kamu punya bukti kalau saya yang memfitnah kamu?. Kurang ajar sekali kamu ya, sudahlah menumpang malah tak tahu diri".
Rachel menatap tajam kepada Anna, bibirnya menyunggingkan senyum mengejek.
"Tak salah ya ma, bukannya kalian berdua yang sekarang menumpang hidup pada suamiku?. Bukan nya kalian sekarang tak memiliki apa-apa lagi, makanya kalian mengemis simpati suamiku?. Aku tak akan tinggal diam".
Gadis itu merampas daging yang tadi di ambil mertuanya dan mulai mengolahnya. Anna menatapnya geram, wanita itu hendak menampar Rachel lagi. Namun, tiba-tiba Ayud datang. Anna salah tingkah,
"Ada apa ini ma?, mau mama apakan istri Ay?.
Ia melirik istrinya yang sedang fokus memotong daging,
"Pipimu kenapa sayang?, siapa yang melakukan ini?".
Gadis itu tetap diam dan fokus pada pekerjaannya. Ayud menatap mamanya,
"Ma, ada apa ini?. Mama yang menampar istriku?, memangnya apa salah dia?. Kalau masalah kalung itu, bukankah sudah selesai. Kalung mama juga sudah ketemu kan?".
Anna tersenyum, ia memegang pundak putranya. Tangan wanita paruh baya itu gemetar,
__ADS_1
"Ah, sayang. Kamu salah paham, mama tidak bermaksud menampar istrimu. Dia yang marah-marah ke mama, karena tak terima di tuduh mengambil kalung mama. Padahal, mama sudah melupakan kejadian itu".
Ayud menatap istrinya,
"Benar itu sayang?".
Rachel membawa potongan daging itu untuk di cuci. Gadis itu mendesah, ia benar-benar muak dengan sandiwara di keluarga ini.
"Ay, terserah kamu mau percaya yang mana. Percuma juga aku ngomong apapun, aku akan tetap salah di matamu. Sekarang, kalian pergi saja. Aku mau masak".
Ayud memegang pipi sang istri,
"Apa maksudmu sayang, aku akan percaya jika yang kamu katakan adalah kebenaran. Dan, kejadian tadi siang itu kan memang kesalahan mu?. Aku tak mungkin membelamu, jika kamu memang bersalah".
Gadis itu melepaskan kedua tangan laki-laki itu dari pipinya,
"Sudahlah, aku mau masak sekarang. Tolong pergi dari sini, atau seluruh tubuh kalian akan bau makanan".
Ayud menatap istrinya heran,
"Kamu belum makan malam sayang?. Bukankah tadi bi Sri sudah masak, kamu tinggal makan itu saja kan. Buat apa repot-repot begini sayang".
Anna menyela,
"Dia pemilih soal makanan Ay, dia hanya mau makan masakannya sendiri. Ada-ada saja".
Ayud gusar, ia menatap tajam ke arah Anna.
"Ma, biarkan saja. Inikan rumah kami, jadi terserah istriku mau makan dengan cara apapun. Mengapa hal ini juga jadi masalah untuk mama?. Sudahlah ma, jangan cari masalah lagi. Ayo kita pergi".
Anna menatap gadis itu dengan tatapan muak dan meninggalkan tempat itu. Ayud berbisik di telinga istrinya,
"Sayang, aku pergi dulu ya. Masak saja apa yang kamu inginkan, aku tunggu di kamar".
Ia mengecup pipi sang istri dan gadis itu tak bergeming. Ketika tidak ada siapapun lagi disana, gadis itu menangis dan terisak dalam diam. Begitu dalam luka yang ia rasakan dari orang-orang terdekatnya.
Malam itu, Rachel lagi-lagi makan sendirian. Walaupun sudah menikah, gadis itu sering merasa sendirian. Terlebih saat ini, sang suami lebih memilih percaya ucapan dari sebelah pihak. Tanpa sedikitpun, berniat mendengarkan nya.
❤️❤️❤️❤️
Love you guys😊😊😊
Terimakasih untuk semua dukungan nya🙏🙏
Sehat slalu orang-orang baik 😊😊
__ADS_1