
Gadis itu terus menangis di dalam kamar. Tak dipedulikannya bi Sri yang memanggil untuk mengajak sarapan bersama-sama. Beberapa saat kemudian, Ayud menghampiri nya. Laki-laki itu mendesah,
"Ada apa lagi Ra, semenjak menikah aku lihat kamu sering sekali begini. Apa pernikahan ini tak membuat mu merasa bahagia?".
Ayud duduk di samping istrinya, ia menggulung lengan bajunya.
"Ra, tolonglah kerjasama nya. Aku disini juga berjuang demi kebahagiaan kalian, demi papa, mama. Jangan terlalu sering lah terlibat dalam masalah seperti ini. Kau juga harusnya bisa lebih menjaga sikapmu di depan mama".
Wanita itu tetap menangis, tak di hiraukan nya kehadiran laki-laki itu. Ayud mendesah lagi, nafasnya terasa sesak.
"Aku bingung entah bagaimana harus menghadapi mu. Aku ingin berjuang membahagiakan kalian, tapi disini sepertinya aku berjuang sendirian. Kamu malah membuat masalah baru, lagi dan lagi".
Gadis itu menyeka dengan kasar airmata nya, ia bangkit dan berdiri di depan laki-laki itu.
"Kamu bilang kamu berjuang sendirian Ay?. Jadi, menurut mu disini hanya kamu yang paling menderita?. Dari awal, kamu mengizinkan orang tuamu tinggal disini, apa pernah kamu bicarakan ini denganku?".
Rachel tersenyum masam,
"Aku pikir, setelah kita menikah kamu akan lebih mempercayai aku sebagai istri mu lebih dari siapapun. Tapi, ternyata aku salah. Kamu menelan mentah-mentah semua yang dikatakan orang tuamu".
Ayud ingin memegang tangan gadis itu, namun gadis itu menepisnya dengan kasar.
"Setelah kita menikah, pernahkah sekali saja kamu mendengarkan perkataan ku?. Sekalipun aku katakan aku tidak melakukannya, apakah kamu pernah mempercayai ku?".
Laki-laki itu ingin memeluk tubuh sang istri, namun gadis itu mengelak nya.
"Pernahkah kamu peduli apa yang aku rasakan?. Sejak awal, pernahkah kamu mencoba sekali saja percaya apa yang aku katakan?. Tidak pernah, tidak pernah sama sekali".
Ayud gusar, ia menatap tajam gadisnya itu.
"Katakan padaku, bagaimana aku bisa percaya padamu?. Semua bukti, semua fakta mengarah padamu. Bukankah aku konyol jika mempercayai hal yang jelas-jelas salah?. Katakan, aku harus bagaimana?".
Rachel mendesah, gadis itu menatap suaminya datar.
"Sekalipun bukti dan fakta yang kau lihat itu salah, kau akan tetap mempercayainya kan?. Karena apa, karena yang mengatakan hal itu adalah ibumu. Kau akan tetap mempercayai semua yang dia katakan, semuanya".
Ayud geram, ia membentak gadis itu.
"Rachel, hentikan. Bukankah kau sudah keterlaluan?".
Gadis itu tersenyum masam,
__ADS_1
"Iya, aku keterlaluan karena membantah apa yang dikatakan orang tuamu. Aku keterlaluan, karena tak membenarkan semua kebohongan yang dikatakan orang tuamu. Aku keterlaluan, karena aku hanya gadis miskin".
Ayud mengancingkan giginya, laki-laki itu sedang dalam emosi yang sangat tak stabil.
"Ku bilang hentikan".
Rachel menatap tajam pada laki-laki itu, tatapannya mengintimidasi.
"Apanya yang hentikan?. Kau mau aku mengakui semua kebohongan yang dikatakan oleh Anna?".
Plakk!!
Sebuah tamparan telak mendarat sempurna di wajah gadis cantik itu. Seketika gadis itu terdiam, airmata mulai memenuhi pelupuk matanya. Ayud kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan. Laki-laki itu terkesiap.
"Ah, sayang maafkan aku. Aku tak sengaja melakukan ini. Sayang, maaf aku benar-benar minta maaf".
Gadis itu menatap suaminya sambil memegang pipi yang baru saja kena tamparan. Tatapan mata itu menyiratkan luka yang begitu dalam.
"Terimakasih. Sekarang, pergilah berangkat kerja. Aku rasa, kau benar-benar sudah terlambat".
Ayud menatap wajah sang istri khawatir,
Gadis itu memegang pipinya, ia masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci diri di sana. Sebelum menutup pintu, gadis itu bergumam pelan,
"Sudahlah, pergi saja".
Ayud mengetuk pelan pintu kamar mandi itu, ia berdiri mematung di sana.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Katakan dulu, kamu tidak apa-apa kan?".
Sunyi senyap, tak ada jawaban apapun dari dalam. Laki-laki itu melangkah lesu sambil meraih tas kerjanya. Anna yang melihat laki-laki itu segera menghampiri nya.
"Ada apa Ay?, sudah jam segini mengapa kamu belum berangkat kerja?. Kau bahkan melewatkan sarapan mu, ada apa sayang?".
Anna mengelus pelan tangan anak tunggalnya, laki-laki itu mendesah.
"Tidak apa-apa ma, Ay berangkat dulu. Titip Rachel ya".
Laki-laki itu mencium tangan ibunya dan segera berlalu. Setelah Ayud pergi, Anna menghampiri kamar tidur anak dan menantunya. Ia membuka pelan pintu itu, tidak ada siapa-siapa di sana.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan gadis itu namun tak menemukannya. Wanita paruh baya itu ingin menutup pintu kamar, ketika di saat yang sama Rachel keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Pipi gadis itu kelihatan merah, matanya sembab. Anna tertawa sinis melihat nya,
"Ah, disini kamu rupanya. Apa yang kau katakan pada anakku, hingga ia melewatkan sarapan nya dan terlambat berangkat kerja?. Mau mencari simpati darinya?".
Gadis itu mengambil handuk, ia mengabaikan wanita yang sedang mengajaknya ngobrol. Melihat itu, Anna menjadi kesal. Ketika gadis itu hendak masuk ke kamar mandi, ditariknya dengan kasar rambut gadis itu.
Gadis itu jatuh terjengkang dan merintih pelan. Anna tertawa melihatnya,
"Kau t*li?, kalau orang bertanya itu harus kau jawab. Itu namanya, sopan santun. Orang tua s*alan mu tak mengajarkan hal itu ya?. Pantas saja, kau kan cuma anak angkat".
Gadis itu mendesah, lalu menutup pintu kamar mandi. Ia benar-benar tak ingin terlibat pertengkaran apapun sekarang. Anna kesal dan berteriak bagai kesetanan, Rachel melanjutkan mandinya tanpa berniat peduli.
...Rachel POV...
Sejak kami menikah, ini pertama kalinya Ayud melayangkan tangan nya padaku. Sejak saat itu pula aku tahu, betapa tak berartinya aku dalam hidup seseorang yang ku panggil suami.
Aku tak pernah berniat ingin menjauhkan dia dari ibunya, tak pernah berniat merebut kasih sayang suamiku pada orang tuanya. Tak pernah sekalipun hal-hal itu terlintas di pikiranku.
Namun, tampaknya mertuaku sengaja melakukan itu. Dia ingin aku menjadi yang selalu salah dimata suamiku. Ia menuduhku melakukan semua yang tak ku lakukan.
Aku pikir, setidaknya suamiku akan mendengar penjelasan ku lebih dulu sebelum memutuskan apapun. Namun, aku benar-benar salah. Dia selalu memutuskan semua secara sepihak.
Dia selalu mempercayai apapun yang dikatakan oleh mamanya. Seolah, apapun yang dikatakan wanita itu adalah kebenaran. Bahkan, dia tega menampar ku untuk hal yang jelas-jelas bohong seperti ini.
Aku benar-benar merasa tak mengenali lagi siapa laki-laki yang telah ku nikahi ini. Aku merasa benar-benar telah kehilangan dirinya.
Ku kemas semua baju-baju ku yang ada di lemari dan bergegas meninggalkan rumah ini. Tak ada lagi alasan mengapa kami harus tetap bersama. Pernikahan tanpa kepercayaan, adalah hal yang benar-benar sulit.
Aku tak tahu harus kemana, aku benar-benar tak bisa lagi menahan semua ini. Biarlah jika ini memang yang terbaik buat kami, biarkan dia bahagia bersama kedua orang tuanya.
...Rachel POV End...
Gadis itu pergi diam-diam dan meninggalkan rumah mewah mereka. Anna dan Kim sedang pergi, bi Sri sedang memasak di dapur. Jadi, tak ada satupun orang yang mengetahui kepergiannya. Kecuali cctv, tentu saja.
❤️❤️❤️❤️
Hy guys terimakasih sudah membaca novel ini
Selamat menyambut bulan suci Ramadhan 😊😊
Tetap semangat ya, love you all😘😘😘
__ADS_1