
Ayud memegang dengan gemetar surat cerai di tangannya. Dadanya bergemuruh, perasaannya benar-benar tak karuan.
Pada saat yang sama, Anna yang baru keluar dari kamarnya menghampiri Ayud. Wanita paruh baya itu tersenyum,
"Ada apa sayang?, ayo kita makan malam dulu. Mana istrimu, ajak dia makan sekalian".
Ayud menggertak kan giginya,
"Ini semua salah mama. Kalau bukan karena mama memaksaku untuk menikah dengan Resti ini semua tidak akan terjadi. Aku tak ingin bercerai dengan Rachel, tidak akan pernah".
Laki-laki itu gusar, lalu memanggil nama istri mudanya dengan geram. Beberapa saat kemudian, Resti datang tergopoh-gopoh dari dalam kamar.
"Ada apa kak?. Memanggil orang seperti mengajak berantem. Papa mama saja tak pernah begini padaku".
Gadis muda itu mendengus kesal, sifat manjanya kumat lagi. Ayud menatap tajam pada gadis itu dan membentaknya.
"Mulai hari ini, kau bukan lagi istriku. Aku ceraikan kau di hadapan mama dan di hadapan Tuhan. Menikah denganmu benar-benar suatu kesalahan, aku menyesal melakukannya".
Anna kaget mendengar perkataan sang putra,
"Hey, sayang tenangkan dirimu dulu. Pernikahan bukanlah hal yang bisa di jadikan mainan. Apa yang sudah di satukan Tuhan tak bisa di ceraikan manusia. Kau tahu itu kan?".
Ayud gusar, ia sangat merasa serba salah sekarang. Di satu sisi, ia menyayangi Rachel. Tapi, disisi lain perusahaan kakek juga penting bagi keluarganya. Laki-laki itu meninggikan suaranya,
"Aku tak peduli lagi. Pokoknya aku tak mau lagi gadis s*alan ini menjadi istriku. Persetan dengan semua ini, aku tak sanggup lagi hidup berpura-pura. Aku muak dengan kalian semua, sekarang cepat pergi dari hadapan ku".
Resti menangis, gadis itu menghambur ke pelukan Anna. Kim yang baru saja selesai mandi, menghampiri mereka karena mendengar keributan itu.
"Apa apa ini, mengapa kalian ribut-ribut seolah kucing yang sedang berebut makanan?".
Anna melirik Ayud,
"Tanya putramu pa, entah setan apa yang merasukinya. Dia mau menceraikan Resti, hanya gara-gara wanita tak tahu diri itu".
Kim menarik nafasnya, wajah laki-laki paruh baya itu berubah mengeras.
"Kau sadar apa yang kau bicarakan ini bukan?. Kau sudah gila atau bagaimana?. Memangnya kau siap hidup jadi gembel dan mengemis di jalanan?. Cih, dasar anak tak berguna kau".
Kim meninggalkan Ayud dan mengelus pelan kepala menantunya
"Sudah sayang, jangan dengarkan suami g*la mu itu. Ayo sini, kita makan dulu. Papa yakin, ini semua hanya salah paham".
Resti mengangguk dan segera mengikuti langkah Kim. Kim memberi isyarat dengan matanya, agar Anna segera membujuk putranya.
"Sayang, sudahlah. Kalau memang dia menginginkan perceraian ini lakukan saja. Toh, dia hanya memiliki rumah ini bukan?. Setelah kita memiliki banyak uang, kita benar-benar tak membutuhkan dia".
Ayud menarik nafas berat,
"Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah menceraikan Rachel. Kalau mama ingin aku mempertahankan Resti, tolong mama bujuk Rachel agar tak meminta cerai dariku. Pilih salah satu, atau tidak sama sekali".
Anna mengangguk cepat, di raihnya tangan sang putra.
"Baiklah sayang, mama berjanji akan melakukan nya dengan mudah. Kau tahu bukan, wanita merajuk hanya karena dia haus perhatian. Sudah, serahkan saja semua urusan ini sama mama".
Ayud menatap Anna datar, lalu segera berlalu pergi entah kemana.
Di kamar..
Rachel sedang bersenandung ria sambil memperhatikan foto sang keponakan di HP miliknya. Gadis itu mengelus perutnya pelan,
"Nanti setelah adek lahir, adek juga pasti seimut kakak ya nak".
Ia terus mengajak calon buah hatinya ngobrol, sebelum terdengar ketukan keras di pintu kamarnya. Gadis itu meletakkan HP nya di atas tempat tidur, lalu membuka pintu. Begitu melihat Anna, raut wajahnya berubah datar.
"Ada apa?".
Anna melipat tangannya ke dada, ia melangkah masuk.
"Ah, kalau bukan karena Ayud aku benar-benar tak ingin masuk kesini. Sudahlah, diam saja dengan baik di tempatmu dan jangan banyak tingkah. Jangan buat kekacauan di sini".
Rachel menghentikan langkah mertuanya yang kelihatan sangat tak tahu malu itu.
"Hey, siapa bilang kau boleh masuk ke dalam kamar ini?. Dan satu lagi, aku mau diam di tempat ku atau aku mau apapun, itu urusanku. Jangan lupa, besok kalian semua sudah harus pergi dari sini".
Anna menatap gadis itu tajam, ia berdecak muak. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kebencian yang sangat mendalam.
__ADS_1
"Dasar gadis tak tahu diri. Mungkin kau berhasil merayu ayahku sehingga dia memberikan rumah ini atas namamu. Tapi kau pikir, kau bisa menutupi ini selama nya dariku?".
Rachel mendesah tak sabaran,
"Buktikan saja apapun yang ingin kau buktikan wahai wanita tua. Yang aku tahu, besok kau dan yang lainnya harus sudah meninggalkan rumahku titik. Sudah, keluar sana".
Gadis itu mendorong dengan kasar tubuh Anna agar segera keluar dari kamarnya. Tapi, Anna mencengkeram pinggiran pintu dengan kuat.
"Hey gadis g*la, dengar dulu aku belum selesai ngomong denganmu. Aduh sakit sekali, dasar wanita tak tahu diri ini".
Rachel kembali mendorong wanita itu dengan keras. Sehingga ia jatuh terjengkang, dan lututnya berdarah.
"Tapi, aku sudah selesai denganmu. Pergi yang jauh sana".
Ayud yang kebetulan selesai mandi, melihat ibunya yang jatuh berlari dan menghampiri Rachel. Laki-laki itu kelihatan murka, lalu melayangkan tamparan ke wajah Rachel.
"Apa yang telah kau lakukan pada mama?. Dimana sopan santun mu?. Kau boleh marah padaku, tapi jangan perlakukan mama dengan kasar begini".
Rachel memegang pipinya yang baru saja kena tamparan, lalu menatap laki-laki itu dengan tatapan terluka.
"Lagi-lagi kau menamparku tanpa bertanya lebih dulu apa yang sebenarnya terjadi ya?. Baiklah, segera tandatangani surat cerai itu dan tinggalkan rumah ini br*ngsek".
Ia membanting pintu kamar dengan keras lalu menguncinya dari dalam. Kim dan Resti yang baru selesai makan menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi.
Ayud kembali mendesah, ia mengetuk dengan keras kamar gadis itu. Tapi, tak ada jawaban apapun di sana. Ia mulai putus asa dan menendang pintu itu dengan kuat.
Tak lama setelahnya, pintu itu dapat dibuka dengan paksa dan terlihat Rachel sedang menatap HP nya datar. Ayud melirik kedua orangtuanya dan Resti. Memberi isyarat agar mereka segera pergi.
Ia menghampiri gadis itu, dan duduk di sebelahnya.
"Ra, bisakah kita bicarakan lagi masalah ini baik-baik?. Oke, aku minta maaf karena telah menyakitimu tapi aku hanya khilaf. Manusia bisa khilaf kan, dan kau juga pasti pernah melakukan itu".
Gadis itu tak bergeming, ia menatap layar ponselnya datar. Ayud kesal, ia merampas ponsel itu dan membantingnya ke lantai. Rachel bangkit dan memungut ponsel yang sudah berserakan itu.
"Rachel, ayo kita bicara. Kau dengarkan, ayo kita bicara".
Gadis itu mencoba menghidupkan kembali ponselnya, lalu menghubungkan seseorang.
"Pak, bisa anda datang sekarang?. Saya butuh bantuan anda".
"Baiklah, terimakasih pak".
Ia meletakkan benda mungil yang penuh retakan itu di atas meja lalu masuk ke kamar mandi. Ayud benar-benar kesal melihat tingkah gadis itu.
"Hey Rachel, walau bagaimanapun aku ini masih suamimu dan selamanya akan begitu. Aku berhak atas dirimu, dan semua yang kau miliki. Tak ada hukum yang bisa menentang itu".
Gadis itu hanya diam membisu, ia keluar dari kamar mandi lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Ia memejamkan matanya, tak peduli Ayud masih ada di sana.
Ayud mendesah frustasi, ia sudah benar-benar kehabisan akal menghadapi sikap cuek yang di tunjukkan Rachel padanya.
Beberapa menit kemudian...
Albert datang dengan di dampingi seorang anggota dari kepolisian. Mereka langsung masuk ke rumah dan mencari Rachel. Kim, Anna dan Resti yang sedang duduk di ruang tamu terkejut melihat kedatangan orang-orang itu.
"Ada apa ini pak?".
Kim bertanya sesaat setelah kedua orang itu masuk ke rumah. Albert tersenyum,
"Saya datang membawa bapak ini, karena mendapat laporan adanya kekerasan dalam rumah tangga di keluarga ini. Lalu, laporan tentang orang-orang yang mengganggu kenyamanan pemilik rumah".
Anna gusar mendengarnya, ia segera berlari kecil menuju kamar gadis yang pintunya sudah rusak itu. Saat itu, Rachel sedang asyik menatap layar ponselnya yang penuh dengan retakan.
"Apa-apaan kau ini wanita j*lang. Kau laporkan ke polisi dan bilang kami pengganggu, dasar j*lang".
Gadis itu melihat Anna sekilas, lalu bangkit dan menemui tamunya. Ia tersenyum ramah pada Albert, seolah tak ada orang lain di sana.
"Hai Al, selamat malam. Terimakasih ya sudah mau datang malam-malam begini. Omong-omong ini siapa?".
Albert tersenyum, ia memegang pundak gadis itu.
"Ini om saya, pak Rizaldi. Beliau bisa membantu mu perihal masalah yang saat ini kau hadapi Ra".
Gadis itu kembali tersenyum, lalu menatap sinis pada Kim, Anna dan Resti.
"Aku minta tolong padamu, pastikan besok mereka segera meninggalkan rumahku ya Al. Aku benar-benar terganggu dengan kehadiran mereka".
__ADS_1
Resti segera mengambil ponselnya, gadis itu menghubungi kedua orangtuanya tanpa sepengetahuan Rachel. Tak lama kemudian, mobil sedan mewah berhenti di depan rumah itu.
Rachel melihat keluar sebentar, gadis itu mendesah sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Pasti akan jadi malam yang panjang dan membosankan, batinnya.
Pak Elia dan bu Rini kelihatan masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. Mereka melirik sekilas ke Rachel dan Albert yang sedang berdiri, lalu bu Rini memeluk anaknya.
"Kamu baik-baik saja kan Res?".
Gadis itu mengangguk, dan memeluk tubuh ibunya. Pak Elia menghampiri Rachel,
"Kau madu anak ku ya?. Di lihat dari manapun, jelas Resti lebih unggul darimu. Lalu, apa masalahmu sekarang j*lang?. Kau tahu siapa aku, kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?".
Rachel mendesah, ia merasa sangat muak sekarang.
"Hey, pak tua yang katanya kaya raya kau siapa?. Lalu, menurut anda saya takut hanya karena anda orang kaya?. Dengar, ini adalah rumah saya dan saya berhak melakukan apapun yang saya mau".
Gadis itu kembali berdecak kesal, ia melirik pak Rizaldi sekilas.
"Pak, tolong masukkan dalam laporan kata-kata yang baru saja di ucapkan laki-laki tua ini. Saya tak terima di katakan seperti itu, itu melukai harga diri saya. Nama baik saya jadi tercemar kan pak?".
Gadis itu membuat wajah memelas, lalu pura-pura mengusap air matanya. Pak Rizaldi yang dari tadi diam, mendekati pak Elia.
"Maaf pak, saya rasa anda sama sekali tak memiliki wewenang di sini. Sebaiknya, anda sekeluarga segera tinggalkan rumah ini. Bawa semua barang-barang kalian, jangan buat masalah ini tambah runyam".
Pak Elia mendesah kesal,
"Resti, Rini, ayo kita pergi dari tempat ini. Dan kau Kim, Anna, lupakan masalah investasi dana yang ku janjikan kemarin. Aku menikahkan anak ku dengan anak mu, bukan untuk di permalukan seperti ini".
Pak Elia bergegas meninggalkan rumah itu, disusul bu Rini dan Resti. Gadis itu menangis dan mencari-cari keberadaan suaminya, namun laki-laki itu tak tahu entah dimana. Rachel menatap kedua mertuanya,
"Sekarang, giliran kalian. Nampaknya, aku tak bisa menunggu sampai pagi untuk mengusir kalian para kecoa menjijikkan. Lalu, mana laki-laki br*ngsek itu. Enyah dari sini sekarang".
Rachel melirik Albert dan pak Rizaldi.
"Aku serahkan urusan ini pada kalian berdua. Pastikan mereka segera pergi dari sini".
Keduanya mengangguk dan mendesak Anna dan Kim untuk segera pergi. Sementara itu, Ayud sedang menatap sendu foto pernikahan nya bersama Rachel di kamar. Albert menghampiri laki-laki itu,
"Pak, sebaiknya anda segera tinggalkan rumah ini. Saudari Rachel sudah tak menginginkan kehadiran kalian di sini. Tolong, jangan persulit keadaan ini".
Ayud menatap Albert, mata laki-laki itu tampak merah.
"Baiklah, mungkin ini memang sudah saatnya aku meninggalkan Rachel. Titip istriku ya pak, jaga dia baik-baik. Sampaikan maaf ku padanya. Aku pergi dulu".
Laki-laki itu mendekap foto pernikahan mereka ke dadanya, lalu segera mengendarai mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Di kamar...
Rachel menatap dirinya di depan cermin, senyuman nya perlahan-lahan terbentuk. Pada saat itu, Albert menghampiri nya,
"Ra, saya sudah menyuruh keluarga besar pak Ayud meninggalkan rumah ini. Bahkan, sekarang tak ada siapa-siapa lagi selain kita berdua".
Gadis itu tersenyum, ia memeluk Albert.
"Terimakasih ya Al, terimakasih karena kamu tetap bersamaku sampai akhir. Terimakasih karena kamu selalu ada untuk ku, terimakasih".
Airmata gadis itu tiba-tiba mengalir, ia menyekanya dengan cepat.
"Mungkin, aku akan mengajak papa mama dan Carene tinggal di sini Al. Lalu, membesarkan calon bayiku sendirian. Ah, akhir yang menyedihkan bukan?".
Laki-laki itu tersenyum, ia melepaskan pelukan mereka dan menggenggam tangan Rachel.
"Untuk kesekian kalinya, izinkan saya menggantikan posisi pak Ayud untuk membahagiakan mu Ra. Saya akan menerima semuanya, masa lalu mu, semuanya".
Albert kembali menatap mata gadis itu,
"Adakah peluang bagi saya, untuk mengisi posisi itu Ra?".
Rachel tersenyum, ia mengangguk dan memeluk tubuh sahabatnya itu erat.
Mungkin memang benar, untuk melupakan sakitnya sebuah kehilangan harus dengan cara menemukan orang baru dan mencintainya dengan sepenuh hati.
❤️❤️❤️❤️
Guys.. terimakasih sudah menemani Thor sampai episode ini. Btw, maaf kalau endingnya nanggung atau ga sesuai ekspektasi kalian ya🙏
__ADS_1
Author sedang mengerjakan novel baru, jangan lupa mampir ya🤗🤗🤗