Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LXI - Kembali Ke Rumah -


__ADS_3

Ayud menatap nanar foto istrinya, ia memeluk guling yang ada di sampingnya. Berkali-kali, diciumnya foto tersebut dengan perasaan sayang. Laki-laki itu bergumam lirih,


"Rachel, kamu dimana?. Aku sangat merindukan mu sayang. Andaikan kamu kembali, aku akan memaafkan semua kesalahan mu. Aku.. aku akan melupakan semuanya sayang. Oh Tuhan, aku sangat merindukannya".


Ia mendekap foto pernikahan mereka di dadanya dan menangis. Isak tangis laki-laki itu terdengar sampai keluar. Anna yang kebetulan lewat, mengetuk kamar anaknya pelan. Ia memutar kenop pintu yang kebetulan tak dikunci.


"Ay, boleh mama masuk?".


"Iya ma, masuk saja".


Laki-laki itu menyeka air matanya. Ia meletakkan kembali foto pernikahan nya di atas meja. Ia bangun dan duduk di atas ranjangnya,


"Ada apa ma?".


Anna tersenyum, wanita paruh baya itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Resti menyuruh mama memberikan ini padamu sayang".


Ayud menerima amplop itu dan membuka isinya. Terlihat beberapa lembar foto gadis itu disana. Laki-laki itu menatap foto tersebut tanpa minat, raut wajahnya datar.


"Untuk apa dia memberiku foto dirinya?".


Anna tersenyum,


"Ay, gadis itu anak yang baik. Dia sepertinya sangat menyukaimu. Pikirkan ulang tentang perjodohan kalian sayang. Pikirkan juga tentang perusahaan kakek mu. Semuanya, benar-benar tergantung padamu Ay".


Ayud mendesah, ia meletakkan foto gadis itu di depannya.


"Maaf ma, mungkin Ay egois. Tapi Ay mau jujur dengan mama, Ay tak bisa membuka hati untuk siapapun kecuali Rachel. Sekuat apapun Ay mencobanya, Ay tak bisa ma".


Mata laki-laki itu terlihat memerah, ia melirik sekilas foto pernikahan mereka di atas meja tadi.


"Ay harus memperbaiki hubungan kami, bukannya mencari pengganti dia. Walaupun mungkin dia sudah mengkhianati Ay, tapi bukan hak Ay untuk menghukum nya. Ay juga pernah salah di masa lalu".


Anna terdiam, benar-benar sulit sekali meyakinkan anaknya ini untuk menerima perjodohan itu.


Laki-laki itu terisak, Anna tak enak hati karenanya. Tiba-tiba, HP milik Ayud berbunyi menandakan ada pesan masuk. Laki-laki itu membukanya, matanya sukses membulat.


Anna yang melihat hal itu penasaran, ia bertanya dengan tak sabaran.


"Ada apa Ay?",


Laki-laki itu hanya menggeleng,


"Ma, Ay harus pergi sekarang. Ay permisi dulu".


Laki-laki itu mencium tangan ibunya dan meninggalkan wanita itu sendirian disana.


Beberapa jam sebelumnya...


Natan menunggu Rachel di halte bus seperti biasa, namun wanita itu tak kunjung datang. Ia pun menjadi kesal, lalu mendatangi tempat tinggal gadis itu.


Menjelang sore, gadis itu pulang di antar oleh Albert. Natan bersembunyi sambil memperhatikan gerak-gerik mereka. Beberapa saat kemudian, wanita itu berjalan masuk ke Apartemen nya.


Natan menghalangi jalan gadis itu. Ia menyeringai,


"Aku benar-benar capek menunggu mu seharian kakak ipar. Aku bahkan sampai tak sempat makan. Tapi, ternyata kau sedang bersama laki-laki lain ya, benar-benar nakal. Ini kelakuan mu yang sebenarnya ya?".


Rachel meraih ponselnya, ia ingin menghubungi polisi. Natan merampas ponsel itu,


"Jangan lakukan itu kak ipar, kau tahu maksud ku kesini baik bukan?. Aku hanya ingin menjadi lebih akrab denganmu".


Rachel menatap laki-laki itu muak, ia merampas dengan paksa ponselnya yang tadi di ambil laki-laki itu.

__ADS_1


"Apakah tamparan yang pernah kuberikan padamu belum cukup?. Mau aku tampar lagi?".


Gadis itu melipat kedua tangannya ke dada, ia menatap laki-laki itu dengan tatapan mengintimidasi.


"Ah, aku muak sekali dengan orang-orang kurang kerjaan seperti mu. Apalagi yang kau rencanakan sekarang?. Dan satu lagi, apa urusanmu dengan semua kelakuan ku?. Jangan merasa sok akrab denganku, aku benar-benar tak berminat".


Laki-laki itu menyeringai, ia menyodorkan HP nya kepada Rachel. Gadis itu tertegun sejenak, menatap beberapa foto yang ada di sana. Melihat reaksi gadis itu, Natan tersenyum puas.


"Kakak tentu tak mau foto-foto ini sampai diketahui pak Ayud kan?. Kakak tentu tak mau berita ini sampai ke publik bukan?. Ah, aku pasti bisa menyimpan rahasia kita dengan baik, tapi turuti semua keinginan ku".


Rachel menatap laki-laki itu cuek,


"Ah, apa katamu rahasia kita?. Pikir mu aku peduli?. Silahkan saja, sebarkan semua foto busuk itu kemana pun kau mau. Aku, benar-benar tak peduli. Satu lagi, kau pikir aku diam karena takut padamu?. Cih, kau terlalu naif".


Gadis itu mendorong Natan yang menghalangi jalannya, lalu membuka pintu Apartemen nya dan menutup benda tersebut dengan kasar.


Natan melongo, ia benar-benar tak menyangka reaksi gadis itu diluar dugaannya. Dengan marah, ia memilih beberapa foto di HP nya lalu mengirimkan nya pada Ayud.


Ayud yang melihat foto tersebut menjadi geram. Laki-laki itu bergegas mengambil kunci mobilnya, lalu menuju tempat tinggal Rachel.


Ia mengetuk dengan kasar pintu Apartemen gadis itu, tak ada jawaban disana.


Sementara itu..


Rachel menatap tubuh kurusnya di depan kaca kamar mandi. Beberapa saat yang lalu, ia merasa pusing di tempat kerja. Albert membawanya ke rumah sakit, dan dari hasil pemeriksaan gadis itu hamil.


Rachel mengelus pelan perut nya yang masih rata. Gadis itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca,


"Hanya kamu satu-satunya kenangan berharga mama bersama papa sayang. Tumbuhlah dengan sehat disana. Mama janji akan merawat mu dengan sepenuh hati".


Gadis itu kaget ketika mendengar pintu Apartemen nya digedor dengan kasar. Ia segera merapikan rambutnya, dan bergegas melihat siapa yang datang. Ia membuka pintu tersebut dan mulutnya ternganga,


"Ay..",


"Untuk apa kamu datang kesini?. Aku pikir, hubungan kita sudah benar-benar selesai".


Rachel berbicara pelan, dan berjalan ke ruang tamu. ia menghindari bertatapan dengan suaminya itu. Ayud mengikuti gadis itu pelan, ia memegang HP di tangannya dengan gemetar.


"Pulang sekarang",


Ia berucap datar. Rachel menatap laki-laki itu heran,


"Apa?",


Ayud masih menatapnya datar,


"Masih tidak mengerti?, pulang sekarang kata ku. Kau bisa mendengar dengan baik bukan?".


"Tapi.. tapi untuk apa?".


Rachel tergagap. Ayud membanting HP yang di pegang nya ke lantai. Bunyi yang di timbulkan benda itu, membuat Rachel kaget.


"Berapa lama lagi kau mau terus-terusan begini?. Berpelukan dengan suami adikmu?. Ah, sudahlah, aku benar-benar malas membahas ini sekarang. Aku masih suamimu bukan, dan itu sah secara hukum".


Gadis itu tak bergeming, Ayud menjadi kesal karenanya.


"Apalagi yang kau tunggu Rachel?. Kemasi barang-barang mu sekarang dan ikut aku pulang. Kau tak malu kah, berpelukan dengan suami adikmu sendiri atau kau memang suka hidup seperti itu?".


Ayud mendesah tak sabaran,


"Kalau kau tak mau ikut aku pulang sekarang, aku akan melaporkan kejadian ini pada polisi dengan tuduhan istriku lari dari rumah".


Rachel menatap laki-laki itu kesal, tubuhnya gemetar menahan amarah.

__ADS_1


"Darimana kau tahu semua ini?. Apa kau terus memata-matai ku?. Atau, diam-diam kau mengirim orang untuk mengikuti ku kemana-mana?. Ah, benar-benar mengerikan".


Ia mengambil ponsel yang tergeletak begitu saja di lantai, untung benda mungil tersebut masih baik-baik saja. Begitu ia menghidupkan benda tersebut, gadis itu terkesiap. Refleks, ia menempelkan tangan ke mulutnya.


"Astaga, laki-laki kurang ajar itu benar-benar mengirim foto ini padamu?. Apa lagi yang direncanakan laki-laki licik itu sekarang?".


Rachel merasa muak,


"Mengapa hidupku selalu di kelilingi orang-orang seperti ini ya?. Mereka senang menghancurkan hidup orang lain dan menikmati hal itu?. Bagaimana Carene bisa menikah dengannya?. Astaga, benar-benar tak masuk akal".


Ayud menatapnya tak sabaran,


"Bukankah kau suka hidup seperti itu?, sengaja pergi diam-diam dari rumah dan terlibat skandal seperti ini?. Ah, apakah memang benar kau itu wanita m*rahan?. Aku merasa kesal sekali karena semua ini".


Rachel menghampiri laki-laki itu, ia menatap tepat di manik matanya.


"Tak salah ucapan mu itu?, aku perempuan m*rahan?. Lalu, bagaimana dengan kelakuan mu yang seenaknya men*duri dan menghamili gadis-gadis selingkuhan mu?. Kau punya kaca di rumah kan?, ngaca dulu sana".


Gadis itu berdecak pinggang,


"Mentang-mentang sudah jadi orang hebat sekarang. Kau lupa apa yang pernah kau lakukan dulu. Ah, kau merasa di atas angin sekarang bukan?. Kau lupa semua dosa masa lalu mu itu?. Cih, licik sekali kau".


Gadis itu merasa pegal, berdiri terlalu lama. Ia melipat kedua tangannya ke dada, lalu menghempaskan dirinya di atas kursi tamu. Tatapannya masih seperti tadi. Mendapat perlakuan tak ramah itu, Ayud tak berkutik.


"Kau pikir, karena siapa aku pergi dari rumah?. Bukankah itu karena dirimu, kau yang tak pernah mau mendengarkan penjelasan ku. Kau yang terlalu gampang menerima semua kata-kata ibumu".


Gadis itu bergumam pelan, matanya berkaca-kaca.


"Kau bahkan menamparku karena membela diri. Bukankah kau benar-benar suami yang keterlaluan?. Dan lagi, masalah Natan aku tak tahu apa maksudnya mendekati ku. Kalau kau mau marah, marah saja sepuas mu".


Ayud mendesah, ia duduk di samping istrinya.


"Sudahlah, ayo kita pulang dulu dan perbaiki semua ini. Aku capek terus-terusan bertengkar dengan mu. Kita, kita bahkan baru menikah Ra. Pernikahan macam apa ini, sama sekali tak ada bahagia di dalamnya".


Rachel mendelik,


"Boleh, tapi kau harus terima syarat dariku dulu. Kalau kau tak bisa melakukannya, aku juga tak bisa ikut bersamamu. Terserah, apapun pilihan mu aku akan menyetujuinya. Lalu, tentang pernikahan, bukankah itu salahmu juga?".


Ayud memijit pelan keningnya yang terasa tegang,


"Iya, katakanlah apapun yang kau inginkan Rachel. Aku akan berusaha mengabulkan nya, kalau aku bisa".


Rachel tersenyum datar. Laki-laki di depannya ini, ternyata adalah orang lemah yang sama sekali tak memiliki pendirian.


"Aku tak mau kedua orang tuamu tinggal bersama kita. Lagipula, kau kan sudah menikah. Harusnya mereka tahu itu, dan tak ikut campur masalah rumah tangga kita".


Ayud terkejut mendengar permintaan istrinya itu,


"Sayang, kau tahu kan kalau papa dan mama tak memiliki tempat tinggal lagi. Rumah lama ku sudah ku jual, lagipula mereka sudah tua sayang. Apa salahnya, mereka tinggal bersama kita".


Ayud menatap istrinya dengan tatapan mengiba, ia berharap gadis itu masih memiliki sedikit kebaikan hati. Rachel membuang muka,


"Aku sudah menduga kau takkan bisa hidup lepas dari kedua orang tua kesayangan mu itu. Baiklah, kalau memang seperti itu. Tapi, bilang pada mereka jangan mencampuri urusan rumah tangga kita lagi, itu tawaran terakhir dariku".


Laki-laki itu mengangguk dengan cepat,


"Baiklah, aku pasti akan memberitahukan hal ini pada mereka. Sekarang, tolong cepat kemasi barang-barang mu Ra. Aku benar-benar sedang kelaparan sekarang. Bisakah kita pergi secepatnya dari sini?".


Gadis itu nyelonong pergi, tanpa menghiraukan perkataan dari suaminya. Ia mengemasi beberapa pakaian miliknya, lalu bergegas pergi dari Apartemen itu.


❤️❤️❤️❤️


Guys, di bulan yang penuh berkah ini hendaknya kita menjaga hati dan lisan kita dengan baik ya agar ibadah yang kita lakukan tak menjadi sia-sia 😊😊

__ADS_1


__ADS_2