
Menjelang tengah malam, Rachel kembali ke rumah. Ia merasa sangat lelah, tapi juga bahagia. Sekarang, ia sudah resmi menjadi seorang tante. Keponakan nya sangat lucu sekali.
Tadi sebelum ia meninggalkan rumah sakit, ia telah mengambil beberapa foto sang keponakan. Meskipun ia belum di perbolehkan mencium bayi mungil tersebut, ia merasa sangat bahagia sekali.
Ketika berjalan melewati ruang tamu, ia melirik sekilas ke depan pintu kamar suami dan madunya. Gadis itu mendesah pelan, lalu memalingkan wajahnya. Saat ini, suaminya pasti sedang bersenang-senang dengan madunya.
Rachel membuka pintu kamarnya pelan, dan tersenyum pahit. Lagi-lagi, disana yang ada hanya dirinya sendiri bersama kesepian. Gadis itu bergegas mengambil handuk dan membersihkan dirinya.
15 menit kemudian, ia turun ke bawah untuk memasak sesuatu. Dari tadi siang, perutnya memang belum diisi oleh apapun. Masalah Carene, telah menguras banyak sekali tenaga nya .
Ia mengambil sebungkus mie instan dari dalam kulkas dan mulai mengolah benda tersebut. Ketika ia sedang merebus air, tiba-tiba seseorang berdehem di belakangnya. Gadis itu menoleh,
"Ra, kenapa kamu baru pulang jam segini?. Darimana saja, lalu mengapa kamu tak mengangkat telepon dariku?. Aku mengkhawatirkan mu seharian ini".
Gadis itu tak menanggapi perkataan Ayud dan sibuk berkosentrasi pada masakannya. Ia meraih ponsel dari saku celananya, dan mulai menelepon seseorang. Ia tertawa kecil begitu benda mungil tersebut tersambung.
"Hai, selamat malam. Belum tidur ya?".
Gadis itu memulai percakapan, dan tak lama kemudian asyik dengan obrolan mereka. Ayud beberapa kali mendengus kesal, istrinya seolah benar-benar tak lagi menganggap keberadaan nya.
5 menit kemudian, Rachel membawa mie instan yang baru di masaknya ke meja makan. Gadis itu makan sambil sesekali tertawa kecil dengan lawan bicaranya. Ayud duduk di depannya dan menatap tajam pada gadis itu.
Beberapa menit kemudian, setelah makanan di dalam piringnya habis gadis itu menyudahi obrolan mereka dan mengantar piring kotor ke dapur untuk di cuci. Ayud berdiri mematung sambil bersedekap dada.
Gadis itu berlalu meninggalkan nya. Ayud gusar, ia menarik tangan gadis itu dan membentak nya.
"Hey Rachel, kau t*li atau apa?. Aku lagi mengajakmu berbicara dan kau menganggap ku tidak ada?".
Rachel tertawa kecil,
"Enak kan menjadi orang yang tak di anggap?. Itu yang telah kau lakukan padaku, jadi sekarang mungkin giliran mu untuk menikmatinya".
Gadis itu melepaskan dengan kasar tangannya yang sedang di pegang Ayud, lalu segera berlalu menuju ke kamarnya. Laki-laki itu mengusap wajahnya gusar, ia merasa benar-benar tersiksa dengan perlakuan sang istri.
Sesaat kemudian, Ayud membuka pelan kamar pengantin nya. Lalu merebahkan diri di sofa dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Resti terbangun, gadis itu mengucek matanya. Ia menghampiri Ayud dan memeluknya.
Ayud yang belum tertidur kaget, lalu refleks mendorong tubuh gadis itu sehingga sang gadis jatuh di lantai. Ia meringis kesakitan,
"Kak, apa yang kau lakukan ini?. Aku ini istrimu, dan kita baru menikah tadi siang. Tapi, seharian ini sudah banyak kali kau menyakitiku. Mau ku adukan ke papa mama kah perlakuan mu ini kak?".
Laki-laki itu diam, ia kembali membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut dan tak menghiraukan Resti yang terus mengomel.
Pagi harinya.
Mata Resti kelihatan membengkak. Gadis itu sepertinya tak tidur semalaman, dan terus menangis. Anna yang baru bangun sempat kaget melihat menantunya. Ia menghampiri gadis itu,
"Ada apa sayang?. Kenapa matamu bengkak begini?".
Resti memeluk tubuh ibu mertuanya dan kembali menangis.
"Tadi malam, kak Ayud tak tidur denganku ma. Dia malah sibuk mengurusi istri tua nya yang tak tahu diri itu. Dia bahkan tak menyentuh Resti sedikitpun. Resti sedih sekali ma, Resti akan mengadukan ini pada mama dan papa Resti".
Anna yang mendengar hal tersebut menjadi pucat pasi, jantung wanita itu berdegup kencang. Ia membimbing Resti untuk segera duduk.
"Sayang, jangan seperti ini ya. Berikan waktu untuk kak Ayud agar dia bisa menyayangimu. Mama akan berusaha menasehati dia, pokoknya masalah rumah tangga kalian jangan sampai ketahuan orang tua mu ya sayang?".
Gadis itu menyeka air matanya, ia menatap Anna cemberut.
"Tapi mama harus janji, mama harus bisa membujuk kak Ayud untuk tak peduli lagi pada istrinya itu. Dan menyayangi Resti setulus-tulusnya. Resti tak mau berbagi ma, Resti mau kak Ayud seutuhnya milik Resti".
Anna mengangguk, lalu kembali memeluk tubuh menantunya itu.
Di dalam kamar..
Rachel baru saja bangun, gadis itu meraih HP miliknya lalu tersenyum. Carene, baru saja mengirimi nya foto sang keponakan yang baru selesai menyusui. Bayi mungil itu, terlihat sangat menggemaskan.
Gadis itu membalas pesan singkat Carene dengan emot senyum dan ciuman, lalu segera mengambil handuk untuk mandi. Ia bersenandung kecil, dan memandangi wajah cantiknya di depan kaca kamar mandi.
Sungguh calon ibu muda yang cantik, batinnya. Kemudian ia tersenyum lagi, dan melanjutkan mandinya. Tak lama kemudian, ia telah mengenakan terusan motif bunga kesukaannya lalu bergegas memesan taksi online.
Tak sabar rasanya ia ingin bertemu dengan sang keponakan tercinta. Pada saat yang sama, ia sengaja menghubungi Albert. Tadi malam, mereka sudah janjian untuk sama-sama pergi melihat bayi Carene.
Wanita itu asyik berbicara di telepon dan berjalan melewati Anna dan Resti yang masih terlihat berpelukan. Ia melirik mereka sekilas, lalu melanjutkan obrolannya.
__ADS_1
Anna yang melihat hal itu merasa muak, ia melepaskan pelukan mereka lalu mengejar gadis itu. Ia memegang tangan sang gadis, dan membentaknya.
"Apa-apaan kau ini?. Pagi-pagi sudah sibuk telponan ria dengan laki-laki lain?. Lama-lama, kau semakin tak tahu diri ya?".
Gadis itu menatap sinis ke mertuanya, lalu menutup telepon nya.
"Hey wanita tua, sebelum kau sibuk dengan segala urusan ku. Lebih baik, kau segera memastikan kapan kalian akan segera angkat kaki dari rumahku ini. Aku benar-benar terganggu dengan kehadiran kalian".
Rachel melirik Resti yang masih menyeka air matanya, ia tertawa kecil.
"Kau juga sebaiknya segera pergi dari rumah ini adik kecil. Aku tak nyaman dengan kehadiran kalian".
Setelah berkata begitu, Rachel segera berlalu dan meninggalkan Anna dan Resti yang kelihatan bengong. Di depan gerbang, Albert sedang menunggu gadis itu untuk pergi ke rumah sakit.
Gadis itu menyapa Albert ramah, lalu segera masuk ke dalam mobil. Albert menatap gadis itu sambil tersenyum, lalu memasang safety belt nya.
"Pagi Rachel, tumben kamu minta di jemput di depan rumah seperti ini Ra?. Saya jadi merasa tak enak pada suami dan mertuamu".
Rachel terkekeh,
"Suami dan mertua apaan Al, mereka itu hanya orang asing yang sekarang menumpang di rumahku. Aku akan mengusir mereka secepatnya dari sana".
Albert terkejut, ia menatap gadis itu sekilas lalu kembali fokus menyetir.
"Tapi Ra, bukankah dia masih suami dan mertuamu yang harus kau hormati?".
Gadis itu mendesah, ia menatap layar ponselnya sambil tersenyum.
"Yang penting bagiku sekarang hanyalah kebahagiaan keponakan ku dan adikku Carene. Selebihnya, aku benar-benar tak peduli lagi. Dari awal, kakek telah benar-benar salah memilih ku sebagai istri untuk cucunya".
Gadis itu terdiam, ia menarik nafas.
"Aku akan minta cerai padanya dalam waktu dekat ini. Aku harus bisa menerima kenyataan ini, meski awalnya terasa sangat menyakitkan. Hubungan yang terlalu di paksakan, tak akan membawa dampak positif".
Albert memegang sebelah tangan gadis itu,
"Saya akan mendukung apapun keputusan mu Ra. Tapi, apakah kau sudah memikirkan dengan baik tentang semua ini?. Saya tak mau nanti kamu menyesali semua keputusan mu ini".
"Ah, seharusnya dari awal aku tak memaksakan diri untuk bersama laki-laki tak berpendirian itu Al. Pada akhirnya, hanya aku yang berjuang mempertahankan rumah tangga kami. Dia seperti ikan mati, yang selalu ikut arus".
Tatapan gadis itu menerawang jauh ke depan,
"Sampai kapanpun, dia akan selalu mendengar semua permintaan orang tuanya. Tanpa berniat peduli apa yang aku rasakan. Jadi, aku rasa sudah saatnya mengakhiri hubungan kami".
Gadis itu tiba-tiba sendu,
"Biarlah aku membesarkan anak ini sendirian, aku cukup yakin bisa membuatnya bahagia meski tanpa kehadiran seorang ayah".
Albert meremas lembut tangan gadis itu,
"Apa kau tak ingin memberitahu nya Ra perihal kehamilan mu ini?. Bukankah dia juga berhak untuk mengetahui ini, karena bagaimanapun ini adalah anaknya".
Gadis itu menggeleng pelan, tangannya mengelus pelan perutnya yang masih datar.
"Tidak Al, aku tak ingin anakku tumbuh dengan melihat kelakuan papanya yang tak pantas di teladani. Lagipula, sekarang ia sudah memiliki istri baru. Tak ada alasan lagi, bagi kami untuk tetap bersama".
Setelah itu, keduanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rumah sakit...
Rachel dan Albert baru saja tiba di rumah sakit, kedatangan mereka di sambut Darwin dan Jeny yang juga tampak duduk menjaga Carene. Awalnya, Rachel merasa sangat tak nyaman berada di situ. Namun, tiba-tiba Jeny bangkit.
Ia memeluk anak angkatnya itu dan menangis sesugukan.
"Ra, terimakasih ya kamu sudah menolong persalinan Carene. Kalau tak ada kamu, mama tak tahu apa yang akan terjadi pada Ane. Terimakasih ya sayang".
Gadis itu menangis bahagia, setelah sekian lama akhirnya ia bisa merasakan pelukan hangat seorang ibu.
"Iya ma, sama-sama. Saya juga mau minta maaf karena selama ini belum bisa menjadi anak yang berbakti pada kalian berdua".
Darwin juga bangkit dari duduknya, dan memeluk anak angkatnya itu. Natan tertunduk, laki-laki itu juga menangis dengan sendu di sana. Ia merasa banyak berhutang budi pada kakak iparnya itu. Dan berjanji, tidak akan mengganggunya lagi.
"Papa minta maaf Ra, selama ini papa sudah banyak sekali menyakiti perasaan mu. Berikan papa kesempatan untuk menebus semua kesalahan papa sayang".
__ADS_1
Pagi itu, mereka bertiga berpelukan haru. Albert yang menyaksikan hal itu, tersenyum sambil meneteskan air matanya. Ia benar-benar sangat bahagia melihat keluarga ini kembali harmonis.
Carene yang sedang berbaring memanggil kakaknya,
"Kak Rachel, peluk Ane juga. Ane kan belum cukup berterimakasih sama kakak".
Rachel tersenyum, lalu segera memeluk sang adik yang sedang berbaring. Setelahnya, mereka berfoto ria bersama anak Carene yang baru lahir dan terlihat sangat bahagia. Menjelang siang, Jeny menghampiri Rachel yang sedang duduk.
"Ra, bagaimana hubungan mu dengan Ayud?. Apa semua baik-baik saja?. Maaf, mama baru menanyakan hal ini setelah sekian lama".
Gadis itu mendesah,
"Well, aku akan segera meminta cerai darinya ma".
Jeny terkesiap,
"Ada apa Ra, bukankah hubungan kalian baik-baik saja?".
Gadis itu kembali mendesah, lalu menyunggingkan senyum.
"Dia baru saja menikah dengan orang lain ma. Dengan dalih menyelamatkan perusahaan kakek Liam, dia mengabaikan semua perasaanku. Aku benar-benar tak bisa hidup bersama dia lagi ma".
Jeny menatap anak angkatnya itu dengan serius,
"Ra, mungkin selama ini mama tak cukup mengenalmu. Tapi, pernikahan bukanlah hal yang bisa dijadikan mainan Ra. Kalian telah berjanji di hadapan Tuhan, untuk tetap bersama sampai akhir hayat".
Rachel menguatkan hatinya,
"Iya, aku tahu itu ma. Tapi, seperti yang mama tahu dari awal dia tak pernah mencintaiku. Hubungan kami, adalah sebuah ketidakmungkinan".
Jeny mendesah, bersamaan dengan itu Darwin datang menghampiri mereka. Laki-laki paruh baya itu duduk di samping istrinya. Ia menatap keduanya,
"Ada apa ma, Ra?".
Jeny membalikkan badannya, wanita itu menceritakan semuanya pada Darwin. Laki-laki paruh baya itu beranjak dan duduk di samping Rachel.
"Ra, papa dan mama akan menghargai apapun keputusan mu. Tapi, sebelumnya pikirkan semuanya dengan baik ya nak?".
Gadis itu mengangguk, Albert yang baru habis dari toilet ikut bergabung bersama mereka. Jeny tersenyum melihat kedatangan laki-laki itu.
"Sayang, kalau mama lihat-lihat sepertinya kalian berdua ini sangat cocok. Nak Albert ini selalu ada di sampingmu, dalam segala keadaan bukan?".
Rachel tersipu malu, demikian juga Albert.
"Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya ma, pa. Yang penting saat ini, kita berdoa agar Carene secepatnya pulih dan bisa kembali ke rumah".
Darwin dan Jeny mengangguk, lalu tersenyum sama-sama.
Menjelang sore, Rachel kembali ke rumahnya di antar oleh Albert. Ayud bersedekap dada, sambil menatap gadis itu tajam.
"Berani sekali kau bersama laki-laki lain di depanku, kau bahkan tak segan membawa laki-laki itu ke rumah ini".
Gadis itu cuek, ia menatap sinis pada laki-laki itu.
"Apa peduli mu?. Bukankah kau juga telah melakukan hal yang lebih parah dariku?. Kau bahkan membawa istrimu masuk dan tinggal di rumahku".
Ayud jengah, ia menatap gadis itu dengan angkuh.
"Kau kan tahu dari awal mengapa pernikahan ini terjadi. Aku tak mencintai Resti, dan kau tahu itu. Aku melakukannya demi perusahaan kakek, ayolah mengapa sulit sekali kau mengerti akan hal itu?".
Rachel tertawa sinis,
"Ah sudahlah, apapun alasanmu menikah dengannya aku sudah tak peduli lagi sekarang. Lalu, aku sudah mengurus surat perceraian kita. Sebaiknya, kau segera tandatangani surat ini".
Gadis itu berjalan ingin meninggalkan Ayud, saat itu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Oh ya, setelah kau tandatangani surat itu mohon secepatnya pergi dari sini. Kalau bisa, besok aku sudah tak mau lagi melihat wajah kalian di sini. Bawa pergi semua barang-barang kalian, jangan sisakan satupun".
Setelah berkata begitu, ia segera berlalu meninggalkan Ayud yang masih berdiri mematung dengan surat cerai di tangan nya.
❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak 😊😊
__ADS_1