Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XXVI - Maaf -


__ADS_3

Rachel menyapa dengan ramah beberapa karyawan yang baru saja datang ke kantor.


Gadis itu melemparkan seulas senyum dan duduk di kursinya. Ia mulai melihat-lihat dokumen yang harus dia kerjakan.


Beberapa saat kemudian bos mereka, pak Albert datang. Seperti biasa, seluruh pegawai Mayora Enterprise akan berdiri dan menunduk dengan hormat ketika sang majikan datang. Itu adalah peraturan wajib yang berlaku di sana.


Albert melirik ke arah Rachel, sekilas kemudian tersenyum. Sayang nya gadis itu tak melihat nya, sehingga tak menyadari Albert sedang tersenyum kepada nya. Laki-laki itu menggeleng kepala sambil tersenyum. Ia bergumam pelan,


"Hari ini pun kamu tetap kelihatan manis dan cantik ya Ra, sangat menggemaskan".


Setengah jam kemudian, Albert menelpon Rachel melalui mesin penjawab otomatis. Ia meminta gadis itu ke ruangan nya. Rachel merapikan dokumen-dokumen di meja kerja nya, sambil menggerutu.


"Apa lagi yang di inginkan pak Albert kali ini".


Sesampainya di ruangan Albert, Rachel di sambut senyum dan tatapan menggoda sang majikan. Ia suka sekali menggoda dan mengerjai gadis itu. Rachel mendesah,


"Ada apa pak?. Saya belum menyelesaikan bahkan satu dokumen pun sejak saya tiba di kantor pagi ini. Awas saja kalau anda memanggil saya karena urusan tak penting lagi".


Laki-laki itu tertawa,


"Cantik seperti biasa. Silahkan duduk dulu Ra, jangan terlalu fokus bekerja. Nanti kamu akan melewatkan banyak hal-hal manis".


Laki-laki itu menggodanya, membuat pipi gadis itu memerah. Tak ada gadis yang tak tertarik dengan pesona seorang Albert. Hal itu yang diam-diam membuat Albert merasa bangga pada diri sendiri.


Terutama saat ini, ia tambah terkekeh melihat pipi sang gadis yang bersemu merah. Wanita itu selalu kelihatan cantik di mata Albert, bahkan dengan gaya nya yang sangat sederhana.


"Ada apa Ra?. Kenapa wajah mu memerah seperti kepiting rebus begitu?. Kamu sakit?".


Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menarik nafas,


"Pak saya ini sibuk. Kalau bapak memanggil saya hanya untuk mengerjai saya lagi, bukan kah ini keterlaluan pak?. Nanti kalau dokumen nya tidak selesai, bapak pasti marah sama saya".


Laki-laki itu berdiri dan berjalan sampai berhenti, tepat di belakang Rachel. Ia membungkukkan badannya dan memegang kursi gadis itu. Wajah mereka hanya terpisah jarak, beberapa senti saja.


"Kapan saya pernah memarahi mu?. Dan satu lagi, tolong jangan panggil bapak kalau lagi di ruangan saya atau lagi di luar. Umur kita kan hanya beda 2 tahun Rachel, mungkin kah saya sudah setua itu?"


Laki-laki itu pura-pura seperti sedang berpikir keras. Ia melakukan itu semata-mata untuk mengerjai gadis itu. Sementara, Rachel cepat-cepat bangkit dari kursinya dengan salah tingkah,


"Pak.. eh Albert. Kalau sedang berbicara bisa tidak ya jarak kita agak sedikit di perluas, saya sesak. Jantung saya benar-benar tak kuat. Kamu benar-benar iseng Al".


Albert tertawa,

__ADS_1


"Jangan-jangan kamu sudah mulai menyukai saya ya?. Ah,nanti siang makan bareng saya ya. Saya lagi tak selera mau makan, apalagi makan sendiri. Kalau saya sakit bagaimana?".


Ia bergumam sambil kembali ke kursi miliknya. Kalau sudah berkata begitu, bagaimana mungkin Rachel bisa menolak nya?. Laki-laki itu sangat pintar membuat wajah nya memelas, membuat orang tak tega saja.


...Rachel POV...


Aku melangkah keluar dari ruangan pak Albert, terlalu bahaya berlama-lama disana. Laki-laki itu sungguh pintar merayu, tingkah nya seperti anak kecil.


Aku bukan tak tahu beliau menyukai ku. Dia bahkan secara terang-terangan telah menunjukkan nya. Namun, hatiku sama sekali belum terbuka untuk menerima kehadiran laki-laki lagi dalam hidupku.


Aku menerima semua kebaikan pak Albert dengan perasaan terbebani dan itu membuat ku merasa sangat tak nyaman. Namun, tak mungkin aku menolaknya secara terang-terangan. Rasanya, aku seperti tak tahu berterima kasih.


Dia terlalu baik padaku, bahkan sangat baik. Aku tak memiliki apa-apa untuk membalas kebaikan dari laki-laki itu. Seharusnya, hubungan kami hanya sebatas bos dan karyawan saja. Harusnya tak usah berharap lebih.


Aku benar-benar trauma untuk menerima kebaikan orang yang rasanya terlalu berlebihan seperti ini. Dulu, aku mengemis kebaikan dari keluarga Ayud. Berharap dia akan menerima ku. Namun, itu semua hanya mimpi.


Aku lagi-lagi mendapati diriku terluka, menangis untuk alasan yang sama. Rasa sakit dan perih itu masih membekas dengan sangat dalam di hatiku. Menusuk sampai ke relung hati ku yang paling dalam.


Kemarin waktu kami meeting dengan Liam's Group, aku melihat laki-laki itu. aku sebenarnya sangat ingin bertanya padanya perihal kakek Liam tapi keberanian ku tiba-tiba menciut begitu saja.


Apa masih pantas aku menanyakan keberadaan orang yang bahkan telah ku tinggalkan?. Rasanya, aku ini benar-benar cucu tak berguna.


Tapi, di balik itu semua aku merasa sangat bersyukur. Impian kakek Liam untuk memberikan tampuk kepemimpinan Liam's Group kepada cucu satu-satunya itu, akhirnya kesampaian.


Entah kapan tepatnya, meja kerja ku di ketuk oleh seseorang. Aku tersentak kaget, rupanya dari tadi aku melamun. Laki-laki itu menatap ku sambil tersenyum,


"Ayo".


Aku seketika blank dan ternganga. pak Albert menutup mulut ku dengan tangannya,


"Kalau ada lalat yang masuk kesini, kamu bisa tersedak Ra. Ayo cepat siap-siap, saya tunggu di mobil".


Aku seperti tersadar dari lamunan panjang ku,


"Baik pak".


Aku menepuk jidatku dan segera merapikan meja kerja ku. Apa yang sedang aku pikirkan tadi? betapa hancurnya penampilan ku tadi bahkan di depan pak Albert, aduh malu sekali. Sesampainya di mobil aku tak sanggup menatap wajahnya.


Cukup lama kami sama-sama terdiam. Tiba-tiba ia memanggil namaku,


"Rachel"

__ADS_1


Aku refleks menoleh ke arah nya,


"Iya, ada apa Al?".


Aku membiasakan diri memanggil laki-laki itu dengan namanya. Ia tersenyum, manis sekali. Hati ini kadang terasa bergetar karena nya.


"Bolehkah saya menjadi lebih dari sekedar majikan bagi mu?. Bolehkah saya menjadi teman hidup mu Ra?".


Aku menatap nya, tak tahu harus menjawab apa. Aku menundukkan pandangan ku,


"Al, aku..".


Dia memegang tangan ku dengan lembut. Sementara, tangan nya yang lain sibuk menyetir mobil.


"Kamu juga tahu kan bagaimana perasaan saya padamu?. Saya tak pernah main-main kalau soal hati. Saya sangat ingin bisa menjadi kekasihmu. Tapi, saya tak memaksa mu untuk menerima perasaan saya ini".


Laki-laki itu meremas jari-jari ku, aku tersenyum. Lalu melepaskan dengan lembut genggaman nya,


"Al, terimakasih ya buat perasaan kamu. Aku sangat menghargai nya. Tapi, aku minta maaf, saat ini aku benar-benar belum bisa menjawab perasaan mu itu. Kita seperti ini saja ya Al, dengan begitu kita tak akan baik-baik saja".


Aku menghela nafas berat, masih menundukkan pandangan ku. Airmata ku rasanya benar-benar ingin jatuh. Entah mengapa, aku berharap Ayud yang menyatakan perasaan ini padaku, sekarang.


Aku menatap lembut wajah laki-laki itu, dan ia tersenyum. Wajah tampannya terlihat sedih, aku merasa sangat bersalah karenanya.


"Baiklah Ra, maaf ya kalau perasaan ini membuat mu merasa tak nyaman".


Aku membalas dengan tulus senyuman laki-laki itu,


"Terimakasih, Al".


Sejujurnya, aku sangat ingin membuka hatiku untuk kisah yang baru. Namun, entah mengapa sampai saat ini bayangan Ayud Jonathan, masih sibuk memenuhi kepala ku. Terlalu sulit rasanya membuang laki-laki itu dari pikiran ku.


...Rachel POV End...


Mobil yang mereka kendarai melaju dengan kencang. Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran nya masing-masing. Hanya bunyi angin dan kendaraan lalu lalang, memecah kesunyian yang tercipta dengan sempurna itu.


❤️❤️❤️❤️


Reader yang terhormat, terimakasih sudi membaca novel amatir ini😊😊😊


Jangan lupa oleh-oleh nya buat semangat Author ya🙏🙏

__ADS_1


Love you guys😘😘😘


__ADS_2