
"Saya tidak tahu ma, bukan saya yang melakukan nya".
Rachel berlutut sambil menangis. Sementara, Anna berdecak pinggang menatap gadis itu tajam.
"Saya tidak menuduh mu ya, jangan salah paham. Tapi, mengapa benda ini bisa ada di dalam tas mu?. Aneh juga, apa benar benda ini bisa berjalan sendiri?".
Anna memegang sebuah kalung emas di tangannya, sambil menatap tajam gadis itu. Kim, yang sedang makan ikut penasaran. Ia menghampiri keduanya,
"Ada apa ma?. Papa dengar dari tadi kalian berisik terus".
Anna mendesah, ia menunjukkan kalung emas itu pada suaminya.
"Ini pa, tadi mama mau pergi ikut arisan ibu-ibu pejabat. Eh, kalung mama hilang. Setelah mama cari-cari, malah ketemu di tas dia".
Kim ikut menatap gadis yang sedang berlutut itu,
"Benar kamu pelakunya?,
Gadis itu menggeleng, kemudian ia mendongak. matanya sembab akibat menangis.
"Bukan pa, saya tidak melakukannya. Saya juga tidak tahu, mengapa kalung mama bisa ada di tas saya. Saya benar-benar tidak melakukannya".
Kim mengancingkan giginya,
"Bukti sudah jelas begini, dan kamu masih mengelak. Baiklah, kita putuskan nanti setelah Ayud pulang dari kantor. Untuk sekarang, anggap saja ini sudah selesai".
Kim menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke kamar, wanita paruh baya itu menangis.
"Mama benar-benar sayang dengan kalung ini pa. Bisa-bisanya dia ingin mencurinya dari mama".
Kim merangkul tubuh sang istri, ia melirik sekilas ke arah Rachel. Gadis itu masih tertunduk, menangis sesugukan.
Beberapa jam kemudian, Ayud pulang dari kantornya. Ia memanggil-manggil sang istri, namun tak ada jawaban. Anna, dengan cepat menghampiri anaknya.
"Sayang, baru pulang ya?. Pasti capek, sini biar mama yang bawa tas kamu. Ganti baju dulu, abis itu mandi. Kita makan sama-sama".
Laki-laki muda itu mengedarkan pandangannya, sambil sedikit melonggarkan dasinya.
"Rachel mana ma?. Dari tadi, Ay tak melihatnya".
Anna mendesah,
"Ah, paling juga lagi malas-malasan di kamar. Maklumlah, dia kan nyonya besar di rumah ini".
Anna mengalihkan pandangannya ke dapur,
"Bi Sri, cepat siapkan makan malam buat kami. Bawa kesini semua, lauk-pauk yang tadi sudah kita masak".
Wanita tua itu mengangguk, lalu segera menyiapkan makan malam. Ia bergumam pelan,
"Kapan Nyonya besar membantu saya memasak ya?".
Sementara itu, Ayud masuk ke kamarnya mencari keberadaan sang istri. Ia memanggil nama gadis itu, namun tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, wanita itu tergopoh-gopoh keluar dari kamar mandi. Tubuhnya basah kuyup.
"Kamu kenapa sayang?, kenapa sampai basah begini?".
Ayud membelai pipi sang istri dengan tatapan khawatir. Gadis itu tersenyum,
"Tadi di suruh.. Eh maksud ku, aku baru selesai mandi".
__ADS_1
Ayud mengernyitkan dahinya,
"Mandi?, mengapa tak langsung mengganti baju sayang?. Nanti kamu sakit, ayo ganti baju dulu. Aku tunggu di bawah ya, mama sama papa sudah nunggu kita untuk makan malam".
Gadis itu mengangguk lalu segera masuk lagi ke kamar mandi. Gadis itu berdiri mematung sejenak di bawah shower, bukan keinginan nya main air dan basah-basahan begini.
Beberapa saat yang lalu..
Anna menghampiri Rachel yang sedang membantu bi Sri memasak di dapur. Ia memanggil gadis itu,
"Rachel",
Gadis itu menoleh,
"Iya ma, ada apa?".
Anna memainkan lidahnya lalu mendesah,
"Tolong bersihkan kamar mandi mama bisa sayang?. Bi Sri kan lagi sibuk, apa salahnya kamu sekali-kali bantu mama".
Gadis itu tersenyum, ia melepaskan celemek nya.
"Baik mama, akan saya kerjakan".
Anna tersenyum penuh kemenangan, lalu segera bermalas-malasan di kursi tamu. Menjelang jam 7 malam, ia memanggil gadis itu dan menyuruhnya cepat membersihkan diri. Karena, sebentar lagi Ayud akan pulang.
Belum sempat Rachel mandi, sang suami sudah pulang dan memanggil-manggil namanya. Dan itulah yang terjadi sebenarnya. Gadis itu segera menyudahi lamunannya, dan membersihkan dirinya.
Setengah jam kemudian, ia turun menuju ruang makan. Anna bergumam pelan,
"Mandi saja sampai mau seharian".
Gadis itu membungkuk, lalu duduk di samping sang suami. Tangannya agak pucat, akibat terlalu lama terkena cairan pembersih toilet. Ayud memegang tangan istrinya,
Rachel tersenyum, lalu segera menarik tangannya pelan. Anna menatapnya dengan tajam,
"Ah tidak, bukan apa-apa. Ini tadi karena aku terlalu lama bermain air".
Ayud terkekeh, ia membelai lembut rambut sang istri.
"Segitu senang nya ya bermain air?, nanti aku buatkan kolam renang pribadi khusus untuk mu sayang. Bagiku, kalau kamu senang, aku juga pasti senang".
Gadis itu tersenyum, Anna berdehem.
"Sudahlah, ayo makan dulu. Jangan terlalu di manja istrimu itu Ay, takutnya ngelunjak".
Ayud menatap ibunya dengan heran,
"Maksud mama apa?".
Anna tersenyum, lalu mengambil nasi dan meletakkan di piring suaminya.
"Bukan apa-apa, mama cuma mengingatkan".
Rachel juga menyendok kan nasi ke piring suaminya, lalu meletakkan beberapa lauk. Laki-laki itu tersenyum, lalu berbisik pelan.
"Terimakasih sayang".
Anna muak melihatnya, ia mengambil lauk dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang mengundang perhatian. Kim, menatap istrinya. Protes akan sikap sang istri, namun Anna hanya tersenyum.
__ADS_1
Selesai makan, Rachel mengupas kan buah untuk sang suami dan mertuanya. Mereka duduk di ruang tamu. Anna menyeruput teh nya lalu menatap Ayud.
"Ay, ada yang mau mama katakan padamu. Sebelumnya, mama minta maaf sekali kalau kata-kata mama membuat mu tidak senang".
Ayud menatap wanita paruh baya itu sambil menyuap potongan buah ke mulutnya,
"Ada apa ma?",
Anna mendesah, raut wajahnya mendadak sedih. Rachel yang melihat itu hanya bisa menunduk, ia tahu detik berikutnya akan terjadi hal tak menyenangkan.
"Kamu tahu kan Ay, mama sangat menyayangi semua perhiasan mama. Ini, pemberian berharga dari Almarhum nenekmu. Tapi, tadi siang kalung mama yang sangat berharga ini hilang".
Anna terisak pelan, sangat ahli sekali dia berakting.
"Mama tak menuduh istrimu, namun ketika mama mencari kalung mama, benda itu ada di tas istrimu. Mama paham kalau dia juga menginginkan barang mewah ini, mengingat bagaimana dulu kehidupan nya".
Ia melirik tajam ke arah Rachel sambil tersenyum sinis. Lalu, dengan cepat mengganti mimik wajahnya di depan Ayud.
"Mama hanya minta tolong padamu, nasehati istrimu itu Ay. Jangan sampai, kebiasaan buruknya ini terbawa-bawa ketika dia di luar".
Ayud menatap istrinya,
"Benar yang dikatakan mama?.
Gadis itu terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa. Ayud menjadi kesal karenanya,
"Aku tanya, benar yang dikatakan mama?.
Gadis itu menggeleng,
"Tidak Ay, aku tak melakukannya. Aku juga tak tahu, mengapa kalung mama bisa ada di tas ku".
Ayud mendesah,
"Ah, itu konyol sekali. Kalau kamu menginginkan perhiasan, atau apapun itu katakan saja. Aku bisa membelikannya untuk mu. Tapi, jangan ambil yang bukan milikmu. Itu benar-benar memalukan".
Laki-laki itu mendesah lagi, lalu mengacak rambutnya.
"Maafkan istriku ya ma, aku akan menasehatinya dengan baik. Aku mewakilinya, minta maaf sama mama dan papa".
Anna tersenyum, hatinya merasa sangat senang.
"Iya sayang, tidak apa-apa. Yang penting, jangan lakukan lagi ya hal seperti ini. Ini kalung mama yang sangat berharga. Tak akan bisa dibeli dengan uang".
Ayud tersenyum lalu menggandeng tangan istrinya,
"Baiklah ma, pa, kami permisi dulu. Saya benar-benar minta maaf untuk kejadian ini".
Ayud membungkuk dengan hormat, disusul Rachel. Setelah keduanya pergi, Anna menyeka air matanya.
"Ah, benar-benar mengesalkan. Mama sampai harus benar-benar menangis untuk akting s*alan ini".
Kim tersenyum,
"Tak lama lagi, tujuan kita akan tercapai ma. Tenang saja, papa akan membuat hidup gadis itu bagai di neraka. Itu pantas diterima, gadis tak tahu diri sepertinya".
Kedua suami istri itu tersenyum, lalu menuju ke kamar mereka untuk beristirahat.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Drama keluarga yang mengesalkan ya guys🤭🤭
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤩🤩