Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XXX - Mengunjungi Makam Kakek -


__ADS_3

Rachel berjalan dengan lunglai memasuki kantor barunya. Dia terpaksa harus berkerja di perusahaan milik Ayud. Laki-laki egois itu terus mengancam akan menutup perusahaan milik Albert.


Negoisasi terakhir nya dengan laki-laki sombong itu tak membuahkan hasil apa-apa. Ia bahkan pulang sambil menangis. Beberapa karyawan yang melihat nya tersenyum dan menyapa nya dengan ramah.


Sudah seminggu, sejak ia meninggalkan Mayora Enterprise. Sejak itu pula, ia dan Albert tak lagi saling bertemu. Rachel menatap dengan lemah berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya itu.


Nampaknya, Ayud sengaja memberi nya pekerjaan ekstra. Ia mengepalkan tangannya dengan geram, dan memukul tumpukan-tumpukan kertas itu sehingga berserakan.


...Rachel POV...


Laki-laki itu benar-benar kurang ajar. Mentang-mentang aku setuju untuk bekerja di perusahaan nya, dia seenaknya saja memberiku pekerjaan yang menumpuk ini. Sangat keterlaluan.


Tubuhku rasanya sangat letih menyiapkan berkas-berkas kerja, yang tak kunjung selesai ini. Kadang-kadang aku rindu bekerja di tempat lamaku dulu, Albert tak pernah memperlakukan ku seperti ini.


Bagaimana kabar laki-laki itu sekarang?. Aku merindukan senyum tulusnya. Deringan telepon di kerjaku membuyarkan lamunanku. Aku mengangkatnya,


"Ke ruangan saya sekarang dan bawa file yang tadi saya suruh kamu kerjakan, cepat".


Belum sempat aku menjawab, laki-laki itu sudah menutup sambungan telepon nya. Benar-benar kurang ajar, tak punya etika. Aku melangkah dengan malas menuju ruangan nya lalu menyerahkan file yang dia butuhkan.


"Ini file anda pak".


Ia melihat sekilas, seolah tanpa minat.


"Letakan disitu. Memangnya kamu tidak bisa bekerja lebih cepat dari ini?. Apanya yang orang penting di perusahaan?. Kinerja mu saja lelet begitu".


ia melontarkan kata-kata yang membuat darahku terasa mendidih, benar-benar menguji kesabaran ku. Ingin rasanya ku robek mulut nya itu. Padahal, baru setengah jam yang lalu ia menyerahkan setumpuk pekerjaan menyebalkan itu.


"Maaf pak, pekerjaan yang anda berikan kepada saya, Tidak kah anda pikir itu terlalu berlebihan?. Saya butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya. Mana bisa pekerjaan sebanyak itu siap dalam setengah jam".


Ia menatapku dengan tatapan mengancam. Aku merasa seperti ingin menghilang saja, sangking gemetar nya.


"Selesaikan pekerjaan mu dengan cepat, atau saya yang akan menyelesaikan mu".


Aku mengangguk dengan cepat. Ngeri rasanya berlama-lama satu ruangan dengan laki-laki angkuh ini.


"Baik pak. Saya permisi dulu".


Aku bergegas meninggalkan ruangan laki-laki itu. karisma nya sangat kuat. Aku mengumpat dan memaki nya dalam hati, sampai puas. Lalu dengan terpaksa, menyelesaikan semua pekerjaan yang terasa semakin menumpuk itu.


...Rachel POV End...


Tak terasa akhir pekan sudah tiba. Rachel memilih menghabiskan hari liburnya dengan bersantai di ruang tamu, sambil menonton tv. Memakan makanan kesukaan nya, dan mengenakan kaos oblong plus celana pendek.

__ADS_1


Ia tampak begitu menikmati waktu bersantai nya itu. Namun, tiba-tiba saja HP miliknya berdering. Ia bangkit dengan malas, dan akan memarahi siapa saja yang sudah mengganggu harinya itu.


Wajahnya mendadak cemberut ketika melihat nama yang tertera di layar HP nya. Ia meletakkan HP itu begitu saja di atas meja, dan kembali melanjutkan aktivitas nya. Namun, beberapa saat kemudian bel pintu rumah nya berbunyi.


Rachel mengacak rambutnya yang sengaja tidak ia sisir itu asal-asalan, lalu mengintip dari balik lubang pintu siapa tamu yang mengganggunya ini. Lagi-lagi ia tersentak, ternyata bos barunya itu datang ke rumah nya.


Ia mendengus kesal dan membuka pintu. Ia lupa akan penampilan nya yang acak-acakan, sangking kesalnya kepada tamu yang ada di depannya sekarang. Laki-laki itu tertawa geli, menatap gadis yang ada di depannya.


"Ini penampilan mu yang sebenarnya ya Ra?. Mirip singa baru bangun tidur".


Laki-laki itu terkekeh. Gadis itu menutupi dada dengan kedua tangannya. Tingkahnya semakin membuat dia terlihat manis, di depan laki-laki itu. ia menatap sebal pada laki-laki itu,


"Mengapa anda menganggu waktu libur saya?. Mengapa anda, bahkan sampai datang ke rumah saya?. Anda benar-benar perusak hari yang handal".


Gadis itu ingin menutup pintu rumah nya. Namun laki-laki itu menahannya,


"Tunjukkan sedikit rasa sopan mu. Aku ini bos mu, setidaknya ajak aku masuk dulu kenapa?".


Rachel menguap dengan malas,


"Ayolah pak ini hari libur. Tidak ada hubungan majikan dan karyawan disini. Tidak puas kah anda menyuruh-nyuruh saya di kantor?. Beri saya waktu untuk bernafas dengan bebas, tanpa harus melihat anda. Bisa kan?".


Ayud tersenyum, tak merasakan apa-apa atas sindiran terang-terangan dari gadis itu.


Rachel menggeleng,


"Saya tidak mau".


Ayud tertawa,


"Kalau kamu tidak mau, saya akan memaksa masuk dan mengganggumu sepanjang hari. Bagaimana?".


Rachel kesal. Gadis itu menghentak kan kakinya masuk ke dalam,


"Iya baiklah, anda sang diktator. Tunggu sebentar, saya akan bersiap-siap dulu. Bersikaplah dengan baik di rumah saya".


Ayud mengacungkan jempol, nya dan memilih duduk di ruang tamu rumah gadis itu. Ia memutar bola matanya ke sekeliling ruangan rumah wanita itu. Ia tertegun menatap foto yang terbingkai dengan sangat cantik di atas meja.


Laki-laki itu bergumam pelan,


"Sejak kapan kau menjadi secantik ini Ra?. Aku bahkan tak pernah menyadarinya sedikitpun".


Tak lama kemudian, Rachel datang dengan gaya santainya. Baju kemeja panjang yang dia padukan dengan celana jeans agak longgar dan sepatu hitam mungil. Gadis itu tetap terlihat cantik, meski dengan penampilan sederhana.

__ADS_1


Rachel berdecak pinggang, ia kesal sekali dengan laki-laki angkuh itu. Ia bergumam sambil melirik sang majikan,


"Musnah sudah hari libur berhargaku. Ah betapa malangnya aku".


Ayud terkekeh geli,


"Sejak kapan kamu jadi cerewet begini?. Padahal, dulu kamu gadis yang sangat pemalu. Selalu menundukkan pandangan ketika di ajak bicara".


Rachel mendelik dan mengabaikan laki-laki itu. Ia merasa benar-benar kesal sekarang. Mobil mereka melaju dengan pelan, membelah kebisingan jalanan.


Ayud menyadari gadis itu merasa tak nyaman dengan kebisingan dan macet yang tak kunjung berakhir ini. Ia kemudian mengambil gadget miliknya dan menelpon seseorang.


Ajaibnya, tak lama kemudian mobil mereka bisa bergerak dengan mulus tanpa hambatan. Rachel menatap laki-laki itu dengan pandangan mengejek,


Wah, anda hebat sekali pak. Anda pemilik jalanan juga kah?".


Ayud tertawa,


"Iya bisa di bilang begitu. Aku bahkan bisa membeli jalanan ini kalau kamu menginginkan nya".


Rachel mencibir dan bergumam sinis,


"Kali ini siapa lagi yang di ancam nya?.


Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki sebuah area pemakaman yang sangat luas. Ayud berhenti di salah satu makam yang masih terlihat sangat baru, foto kakek Liam terpajang dengan manis disana.


Rachel menutup mulutnya seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Ia berjalan dengan lemas mendekati makam kakek Liam, airmata nya jatuh begitu saja.


"Kek, saya datang mengunjungi kakek. Bagaimana kabar kakek disana?. Maaf, saya tidak ada di samping kakek, ketika kakek menghembuskan nafas terakhir".


Rachel menangis sejadi-jadinya, Ayud menepuk bahu gadis itu untuk menenangkan nya. Ia menatap sendu makam sang kakek,


"Sesuai janjiku kek, aku bawakan cucu kesayangan mu kesini. Semoga kakek bahagia di alam sana, dan doakan kebahagiaan untuk ku juga kek".


Ayud menaburkan bunga-bunga segar ke atas makam sang kakek, sambil menangis. Rachel pun melakukan hal yang sama. Suasana haru menyelimuti area pemakaman pada siang itu.


❤️❤️❤️❤️


Guys.. hidup kadang tak sesuai harapan kita🥲


Tapi tetap harus semangat menjalani nya💪💪


Keep strong😘😘

__ADS_1


__ADS_2