
💕Jika dekat tak mampu membuat hati kita mendekat, mungkin lebih baik menjauh saja💕
Rachel menggenggam surat resign itu di tangannya dengan gemetar. Ia telah membuat keputusan untuk meninggalkan perusahaan laki-laki itu, meski dengan segala resiko yang ada.
Ia memang begitu begitu membutuhkan pekerjaan ini. Tapi, melihat laki-laki egois itu setiap hari, benar-benar menguras tenaganya.
Rachel menyerahkan surat itu dengan hati-hati.
Secepat kilat, Ayud membukanya dan dalam sekejap mata surat itu telah berpindah ke lantai.
"Apa-apaan ini. Kamu mau berhenti dari perusahaan ini?. Memang nya, tidak ada lagi yang bisa kita perbaiki ya?. Atau, kamu menyerah memperbaiki semua ini karena laki-laki itu?. Apa hebatnya dia di banding aku?".
Ayud mengepal kan tangan nya dengan geram, nafasnya kelihatan memburu.
"Aku sedang mencoba berbenah diri agar pantas bersama mu. Tapi, mengapa kamu malah memilih meninggalkan ku?. Aku sudah berusaha untuk menjadi lebih baik, dari versi ku yang sebelumnya. Itu semua aku lakukan untuk kamu, hanya untuk kamu".
Laki-laki itu berdiri membelakangi Rachel, dengan tubuh bergetar.
"Sampai hati kamu melakukan ini kepada ku. Mengapa sulit sekali bagimu untuk memberi ku kesempatan?. Mengapa kau lebih memilih laki-laki itu, daripada aku?".
Rachel berdiri dengan kikuk, kakinya terasa bergetar. Gadis itu mencoba tersenyum, untuk menenangkan hatinya. Ia menghampiri laki-laki itu,
"Maaf Ay, tapi aku kan cuma mau resign bukan nya mau pergi ke dunia lain?".
Ia berharap candaan nya itu bisa membuat laki-laki itu tertawa. Namun, ternyata tak berhasil. laki-laki itu membalikkan badannya sambil menangis. Rachel tersentak melihat nya.
"Aku benar-benar ingin bersamamu Rachel, benar-benar ingin. Jangan buat aku mengemis perhatian mu lebih dari ini".
Rachel tersenyum,
"Kamu memiliki begitu banyak peminat Ay, mana mungkin kamu bisa setia dengan satu wanita".
Laki-laki itu tersenyum getir,
"Aku bukanlah laki-laki yang dulu Rachel, aku telah berusaha untuk berubah. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai menyukai mu, rasa suka yang hampir membuat ku sesak setiap kali memikirkan mu".
Ayud menyeka air mata nya yang terus berjatuhan, tanpa kenal malu. Harga diri yang selama ini di pertahankan nya mati-matian, kini hancur berantakan di hadapan wanita itu.
"Aku tahu, aku tak lebih baik dari laki-laki yang sekarang bersama mu. Aku tak bisa membuat mu bahagia seperti dia. Kalau memang itu kenyataan nya, tolong katakan bahwa kamu membenci ku dan suruh aku berhenti".
Rachel mulai menangis, tubuh gadis itu bergetar.
"Aku tak bisa melakukan nya, tak tahu entah kenapa. Seberapa sering pun aku berusaha membenci kamu, tapi aku tak bisa. Sekuat apapun aku menghindar, selalu kamu yang menguasai seluruh pikiran ku".
Ayud memeluk tubuh Rachel dengan hangat, dan gadis itu terisak disana.
"Maafkan sikap ku yang dulu ya, maafkan semua perlakuan ku padamu. Aku sekarang sedang berusaha, menjadi lebih baik lagi untuk mu. Tunggu aku ya?".
Rachel mengangguk. Siang itu, langit terasa lebih cerah dari biasanya. Kedua insan itu sama-sama di penuhi rasa bahagia, yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Keesokan harinya, Rachel berangkat kerja dengan wajah yang berseri-seri. Rasa bahagia yang teramat sangat itu, terpancar dari wajah cantiknya dan tak bisa ia sembunyikan.
Erin yang melihat perubahan rekan kerja nya itu, ikut penasaran. Namun, Rachel memilih untuk tak memberi tahu nya.
Begitulah, hari-hari indah berjalan dengan sangat baik dan semuanya terasa begitu manis. Setidaknya, itu yang sempat di rasakan Rachel selama hampir satu minggu.
__ADS_1
Siang itu, ketika ia sedang fokus dengan pekerjaan nya, tiba-tiba ponsel nya berdering. Terdengar suara lesu Albert di seberang sana,
"Ada apa Al?",
Rachel bertanya ketika mendengar suara laki-laki itu terdengar lemah. Albert mendesah,
"Kamu sibuk ya?".
Rachel tersenyum
"Iya, ini kan masih jam kerja Al. Ada apa?. Kamu baik-baik saja kan?".
Albert terdiam, beberapa saat kemudian laki-laki membuka suaranya.
"Perusahaan papa terancam mau tutup Ra",
Albert berucap lemah. Gadis itu kaget mendengar nya. Ia agak meninggikan nada suaranya, lupa kalau ia sedang berada di kantor sekarang.
"Apa?".
Beberapa karyawan menatapnya, Rachel tersenyum dan membungkuk hormat. Memberi isyarat dengan tangannya, kalau ia minta maaf. Gadis itu melanjutkan pembicaraan mereka,
"Kenapa bisa?. Siapa yang membuat Mayora Enterprise sampai terancam mau di tutup?".
Albert terdengar berucap pelan, suaranya benar-benar lemah.
"Pak Ayud Jonathan".
Siang itu, Rachel memutuskan untuk bekerja setengah hari dan menemui Albert di kantor nya. Dari kejauhan, tampak laki-laki itu tertunduk di atas meja kerjanya. Rachel mengguncang tubuh tersebut,
Laki-laki itu bangkit berdiri, wajah tampan nya terlihat sangat pucat.
"Pak Ayud ingin menarik semua saham kami di perusahaan nya Ra. Dia mengancam semua perusahaan di Negara ini, untuk tak membeli saham kami. Ini terjadi begitu mendadak, bahkan tanpa kesalahan apapun dari pihak kami".
Albert mendesah, raut wajahnya terlihat sangat sedih.
"Jika hal itu terjadi, kami tak bisa menghasilkan uang dan membayar karyawan. Apa yang telah kami lakukan Ra, sehingga pak Ayud tiba-tiba bersikap seperti ini?".
Laki-laki itu diam sejenak, ia menatap Rachel dengan sayu.
"Kalau kami tak bisa lagi berinvestasi di manapun, bagaimana nasib karyawan ku?. Apa salah ku pada mantan suami mu itu Ra, aku tak pernah melakukan sesuatu yang salah kepadanya".
Albert mendesah putus asa, penampilan nya terlihat acak-acakan.
"Papa belum tahu tentang berita ini. Saya kuatir sakitnya akan kembali kambuh. Saya benar-benar pusing. Maaf Ra, saya membuat mu terlibat dalam masalah ini".
Laki-laki itu mencoba tersenyum, meski wajahnya terlihat sangat frustasi. Rachel menggenggam tangan Albert, memberi laki-laki itu kekuatan.
"Aku akan coba bicara dengan Ayud Al, doakan saja aku bisa memperbaiki semuanya. Aku juga tak menyangka, dia sampai harus melakukan semua hal ini padamu. Benar-benar seperti anak kecil".
Rachel meninggalkan perusahaan Albert dengan perasaan marah. Ia memencet nomor Ayud dan mengajak laki-laki itu bertemu. Laki-laki itu sangat antusias, mengira kekasihnya sedang merindukan dirinya.
...Rachel POV...
Apa-apaan laki-laki itu. Aku pikir dia sudah berubah sepenuhnya, sehingga dengan senang hati ku terima perasaan nya. Benar-benar tak ku sangka ia akan bertingkah kekanakan begini.
__ADS_1
Aku menunggu nya dengan tak sabar dan melirik arloji ku beberapa kali. Sengaja ku pilih tempat sepi ini, di dekat taman kota agar pertengkaran kami tak mengundang perhatian orang-orang yang lewat.
Beberapa saat kemudian, dia datang dengan setelan nya yang selalu rapi. Pesona nya benar-benar mematikan. Ia tersenyum padaku, sangat manis.
"Ada apa kamu mengajak ku bertemu di sini sayang?. Sudah merindukan ku lagi ya?".
Ia mencoba merangkul ku, tapi aku mengelaknya. Laki-laki itu tampak heran,
"Ada apa?. Apa aku membuat kesalahan lagi padamu, sayang?".
Aku mendongak menatap nya, laki-laki ini benar-benar jangkung.
"Apa maksud mu melakukan itu semua pada Albert?. Apa salahnya padamu, sehingga kamu mengorbankan nasib ratusan karyawan yang bekerja di perusahaan nya?. Bukankah ini sangat kekanak-kanakan Ay?".
Ia mendesah, aku benar-benar tak ingin membuat laki-laki ini marah. Tapi, sikapnya yang memaksa ku melakukan itu.
"Aku pikir kamu merindukan aku Ra, ternyata lagi-lagi karena Albert ya?. Dengar, aku tahu bagaimana hubungan mu dengan nya. Kalian berdua terlalu dekat, aku tak menyukainya".
Aku mencibir, kelakuan laki-laki ini benar-benar kekanak-kanakan.
"Tapi mengapa kamu sampai harus melakukan ini semua?. Ini masalah pribadi Ay, karyawan-karyawan itu sama sekali tidak bersalah. Kamu ini pemimpin Liam's Group, tapi sikapmu sangat kekanak-kanakan".
ia tersenyum getir,
"Sampai sebegitu nya ya kamu membela Albert?. Ah, ternyata benar dugaan ku. Kau menyukai laki-laki itu kan?".
Aku geram mendengar perkataan laki-laki ini. Ia menuduh ku, melakukan hal-hal yang sama sekali tak kulakukan.
"Kedekatan kami membuat mu sebegitu tidak senang nya ya?. Lantas, bagaimana dengan Carene bahkan Haera yang sampai kamu ajak tidur bersama?. Apa menurutmu, aku bisa menerima nya Ay?".
Seketika ku lihat wajahnya berubah, aku bergidik karena nya.
"Apa maksudmu membawa-bawa mereka dalam masalah ini?".
Aku berusaha tersenyum, meski kedua kakiku terasa amat gemetar.
"Aku tak pernah mempermasalahkan masa lalu mu dengan mereka Ay. Bahkan kamu sampai menghamili saudara angkat ku Carene. Lalu mengapa kedekatan ku dengan Albert sampai membuat mu seperti ini?".
Aku menatap laki-laki angkuh itu dengan geram. Ia memalingkan wajahnya.
"Jangan hanya bisa melihat kesalahan orang lain Ay, kurangi sedikit sifat egois mu itu. Mau sampai kapan kamu menuntut orang lain untuk memahami mu?. Sementara, kamu tak ada niat untuk memperbaiki nya sedikit pun".
Aku meninggalkan nya yang masih berdiri mematung disana. Sekali-kali, memang dia harus di beri pelajaran. Dasar laki-laki egois.
...Rachel POV End...
Laki-laki itu menatap kepergian gadisnya dengan rasa kecewa. Ia tak menyangka wanita itu akan berkorban demi Albert sampai segitunya. Lagi-lagi, pot bunga yang tidak bersalah itu harus menjadi korban kemarahan nya.
❤️❤️❤️❤️
Hy reader sekalian, terimakasih sudah membaca novel ini ya😊😊😊
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🙏🙏
Biar Author semakin semangat dalam berkarya 😘😘
__ADS_1