
Rachel kembali ke rumahnya dengan sangat lesu. Disana, telah menanti pemandangan yang sangat tak di inginkan nya. Pemandangan memuakkan dan itu akan berlangsung setiap hari.
Wanita itu melirik sekilas ke ruang tamu, tampak keluarga besar Kim sedang berkumpul beserta Ayud dan istrinya. Wanita itu berjalan melewati mereka, tanpa berniat ikut bergabung.
Anna melihat kedatangan gadis itu, lalu memanggil nya.
"Hey kamu, sini dulu. Ikut kumpul-kumpul dulu bersama kami disini. Sekalian ini, mama mau perkenalkan padamu istri baru Ay".
Gadis itu berhenti, ia melirik Ayud dan istrinya yang duduk berdekatan tanpa minat.
"Ma tolong sopan santun nya, aku punya nama. Dan satu lagi, aku tak berminat untuk berkenalan dengan gadis ini. Selama dia di rumahku, bilang padanya untuk menjaga sikapnya dengan baik".
Anna tertawa sinis, dari tatapan matanya tampak ia sangatlah membenci menantunya itu.
"Wah kau ini benar-benar tak sopan ya, setidaknya ucapkan selamat pada istri baru suamimu".
Gadis itu menghampiri keluarga besar Kim,
"Buat apa aku melakukan hal yang sangat sia-sia begini?. Buang-buang waktu saja. Lagipula, wajah pelakor dimana-mana sama bukan?. Sama-sama menjijikkan".
Rachel menatap Anna tajam,
"Terutama kau, ibu mertua tercinta. Jaga sikap mu dengan baik, jangan pernah sekali-kali kau panggil aku gadis miskin, atau seperti tadi. Ingat, rumah ini adalah milikku terlepas kau suka atau tidak".
Anna bangkit, ia geram melihat tingkah gadis itu. Ia mencengkeram kerah baju gadis itu.
"Apa maksudmu?. Oh, kau merasa sangat terpukul ya karena aku telah menikahkan suamimu dengan wanita lain?. Ah, kasihan sekali ya dirimu itu?".
Rachel tersenyum, ia melepaskan tangan Anna dari bajunya.
"Ah, ibu mertua kasihan padaku?, terimakasih sekali. Tapi, aku benar-benar tak membutuhkan simpati mu itu. Lalu tentang suamiku, aku tak pernah merasa memiliki dia dari awal jadi bagaimana aku bisa merasa terpukul?".
Ayud terkejut mendengar perkataan gadis itu, ia melepaskan tangan Resti yang dari tadi merangkul nya erat.
"Apa maksudmu Ra?".
Gadis itu jengah, ia merasa muak sekali menatap laki-laki itu sekarang.
"Ah, itulah yang ku maksud dan harusnya itu sudah sangat jelas bagimu bukan?. Lalu, mengapa kalian malah sibuk menghabiskan waktu disini?. Bukankah kau tahu, perkumpulan para orang tua, membosankan?".
Ia menatap sinis pada laki-laki itu,
"Oh ya, sebelum aku lupa selamat atas pernikahan mu, semoga setelah ini perusahaan dan semua aset keluarga mu bisa di selamatkan. Dan kau juga akan bahagia bersama anak ini".
Resti merasa tak terima dengan kata-kata yang baru saja di ucapkan Rachel. Gadis itu berdiri dan kembali merangkul lengan Ayud. Rachel melihatnya sekilas, ada rasa pedih disana. Tapi, cepat-cepat di hilangkan nya.
"Aku bukan anak kecil kak, aku adalah istri sah kak Ayud sekarang. Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu, aku tak suka".
Rachel tak menggubris perkataan madunya itu, ia melirik Ayud. Laki-laki itu tampak menatap Rachel dengan pandangan penuh makna.
"Mulai hari ini, apapun yang kulakukan kau tak berhak melarang ku. Mulai detik ini, aku adalah pemilik utuh dari raga dan jiwaku. Aku hanya akan menjalankan kewajiban ku sebagai istri, lalu setelahnya terserah aku".
Laki-laki itu mendesah, ia merasa sangat sakit sekarang.
"Ra, bukankah dari awal kau sudah menyetujui pernikahan ini lalu mengapa sekarang tingkah mu begini?. Kau tahu kan untuk apa aku melakukan semua ini?".
Belum sempat Rachel menjawab, Resti menyela.
"Tentu saja kak Ayud melakukan nya karena dia mencintai Resti. Lalu kakak sekarang sudah di buang oleh kak Ayud, iya kan sayang?".
Ayud menatap tajam pada wanita itu, nyali Resti menciut. Ia melepaskan tangan suaminya perlahan lalu mendekat pada Anna.
"Ra, tolong jangan begini padaku".
Rachel mendesah, lalu meninggalkan keluarga besar itu disana. Ia masuk ke kamarnya, mengunci pintu lalu merebahkan tubuhnya di sana.
Sementara itu..
Carene sedang kesakitan sendirian karena akan melahirkan. Natan, suaminya tak tahu entah dimana. Berkali-kali, gadis itu menghubungi suaminya, namun tak ada jawaban.
Lama setelahnya, gadis itu mencoba menghubungi kedua orangtuanya. Namun, lagi-lagi tak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilan dari gadis itu.
Carene menangis sesugukan dalam rasa sakit yang teramat sangat. Tak tahu entah untuk apa, ia memencet nomor Rachel dan menghubungi gadis itu. Tak lama setelah nya, panggilan tersebut tersambung.
"Kak Rachel",
Panggil Carene lemah. Rachel yang sedang berbaring dalam rasa sedih yang mendalam, mendadak bangun dan berbicara dengan adik angkatnya. Suara gadis itu terdengar lemah.
"Ada apa Ane?, kau kenapa?".
__ADS_1
Carene kembali menangis,
"Kakak bisa datang ke rumahku sekarang?. Aku, aku bingung harus menghubungi siapa lagi. Tak ada satupun yang menjawab panggilan ku".
Rachel mendadak merasa khawatir, gadis itu tak pernah begini sebelumnya. Dilupakannya semua salah paham yang terjadi di antara mereka, lalu menanggapi dengan serius telepon dari Carene.
"Oke, tapi katakan dulu ada apa denganmu Ane?. Lalu, dimana suamimu?".
Gadis itu diam beberapa saat, airmata membasahi kedua pipinya dengan sempurna.
"Aku sedang kesakitan ingin melahirkan kak, Natan, mama, papa, tak ada satupun yang menjawab telepon ku. Tolong aku kak".
Rachel bergegas menyambar tas kecilnya, ia berjalan melewati keluarga Ayud yang masih duduk di ruang tamu. Ayud berdiri dan menyapa istrinya.
"Mau kemana Ra, buru-buru sekali?".
Ia melirik laki-laki itu sekilas, lalu terus berjalan keluar. Ayud mendesah pelan, hatinya benar-benar terluka dengan sikap yang baru saja di tunjukkan oleh sang istri.
Begitu sampai di pintu gerbang, Rachel memesan taksi online.
"Ane, katakan dimana alamat mu".
Carene menyebutkan alamat tempat tinggalnya, lalu Rachel segera mengatur perjalanan menuju tempat tersebut. Di sepanjang jalan, ia terus berhubungan dengan gadis itu melalui telepon.
Kalau selama ini, hubungan nya dengan Carene terlihat tak pernah baik. Tapi, jauh dari semuanya itu Carene tetaplah adik yang begitu di sayangi Rachel. Mereka telah tumbuh bersama dari kecil, dan mengalami banyak hal bersama-sama.
Sekitar 15 menit kemudian, Rachel telah tiba di depan gerbang rumah Carene. Gadis itu membayar biaya perjalanan, dan menyuruh Carene membuka gerbang rumahnya.
"Ane, aku sudah di depan. Bisakah kau keluar sebentar untuk membuka gerbang ini?".
Gadis itu makin terisak, rasa sakit benar-benar membuatnya tak berdaya.
"Iya kak, gerbang itu bisa dibuka otomatis dari dalam rumah. Sebentar ya, aku akan berusaha menuju ruang tamu. Aduh, sakit sekali kak".
Rachel terus memberi semangat pada gadis itu, ia tak ingin gadis itu menyerah sebelum berhasil melahirkan sang buah hati.
Sekitar 5 menit kemudian, pintu gerbang tersebut terbuka. Rachel segera berlari menghampiri Carene yang tampak sedang sekarat di ruang tamu. Wajah sang adik kelihatan sangat pucat.
"Bertahanlah Ane, aku akan segera membawamu ke rumah sakit".
Carene merintih, rasa sakit nya terasa semakin menjadi-jadi. Rachel bergegas memesan kembali taksi online, lalu membawa Carene ke rumah sakit. Untunglah, mereka bisa sampai di rumah sakit tepat waktu.
Sangat jelas sekali terlihat bahwa Rachel sangat menyayangi adik semata wayangnya tersebut. Meskipun, pada faktanya mereka tak memiliki hubungan darah sedikitpun.
Begitu sampai di rumah sakit, Carene langsung di tangani oleh dokter. Rachel mendesah lega, semoga saja semua berjalan baik-baik saja.
Ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Natan. Kebetulan, laki-laki itu sering mengganggunya jadi secara tak langsung nomornya tersimpan di HP Rachel.
Setelah beberapa kali tak mendapat jawaban, akhirnya telepon tersebut tersambung. Rachel langsung memburu laki-laki itu dengan pertanyaan.
"Kamu dimana Natan?".
Laki-laki itu tertawa, ia merasa sangat bahagia di hubungi duluan oleh Rachel.
"Mimpi apa ya aku semalam, kakak ipar menghubungi ku lebih dulu?. Ada apa kak, apa kau merindukan ku?".
Rachel geram mendengar basa-basi tak penting dari laki-laki ini. Ia tersulut amarah, lalu: membentak laki-laki itu.
"Hey Natan, istrimu sekarang sedang ingin melahirkan dan kau malah sibuk dengan gombalan busuk mu itu?. Ayolah, suami macam apa kau ini?. Kesini sekarang, aku tak mau mendengar alasan apapun".
Natan mengerutkan keningnya, Didepannya Tina menatapnya dengan tatapan nakal. Aktivitas mereka tadi terhenti, karena mendapat telepon tak berhenti dari Rachel.
"Dimana alamat rumah sakit nya kak?. Aku akan kesana sekarang".
Rachel menyebutkan alamat rumah sakit tempat Carene berada, lalu segera menutup telepon.
Sementara itu..
Tina yang sedari tadi menunggu sang kekasih selesai nelpon, terlihat tak sabaran.
"Ayo sayang, nanggung nih. Kita lanjutkan ya".
Natan memperbaiki kembali bajunya yang berserakan di lantai kantornya. Laki-laki itu menatap Tina datar,
"Lain kali saja, Carene sekarang sedang kesakitan ingin melahirkan. Kalau aku tak kesana sekarang, kakak ipar ku itu pasti tak akan melepaskan ku dengan mudah. Kau rapikan tempat ini, aku pergi dulu".
Tina mendengus kesal, baru saja ingin melepaskan rasa rindu sudah harus menelan kenyataan pahit.
Sementara itu...
__ADS_1
Ayud tak henti-hentinya menghubungi Rachel. Laki-laki itu merasa khawatir, gadis itu tak pernah meninggalkan rumah sampai malam begini.
Resti merengut kesal, gadis itu telah melakukan semua cara untuk menggoda sang suami agar mau tidur dengannya. Tapi, Ayud tak meliriknya sedikitpun dan malah asyik dengan gadgetnya.
"Kak, ayolah. Resti dingin nih, sampai kapan kakak mau melihat benda s*alan itu. Ini malam pertama kita kak, masa kakak tega membiarkan Resti sendirian?".
Ayud tak menggubris kata-kata gadis itu, ia terus menghubungi Rachel.
Dirumah sakit...
Rachel berjalan mondar-mandir di depan kamar bersalin, wanita itu kelihatan benar-benar khawatir. Beberapa jam kemudian, Natan datang dengan tergesa-gesa. Rachel menatap tajam pada laki-laki itu.
"Darimana saja kau, lama sekali?".
Natan tersenyum, penampilan nya tampak sangat berantakan.
"Aku habis dari pekerjaan kak ipar, dari mana lagi ya kan?".
Rachel kembali mendesah,
"Aku tak main-main dengan ucapan ku, kalau sampai sesuatu terjadi pada Carene karena ulah mu kau tak akan ku lepaskan".
Gadis itu duduk, ia mengusap wajahnya frustasi.
"Suami macam apa yang tak ada di tempat, saat istri melahirkan seperti ini?.
Natan berusaha tetap tersenyum, meskipun dalam hatinya laki-laki itu tampak sangat tertekan. Kata-kata yang baru saja di ucapkan gadis itu seperti mengandung bisa, yang membuat Natan bergidik ngeri.
Sangat jelas sekali, gadis ini sanggup melakukan segala hal demi keluarganya.
"Kakak jangan mengancam ku seperti itu, aku kan tidak melakukan hal-hal yang salah. Lagipula, foto kakak masih ada padaku. Aku bisa saja menyebarkan nya pada publik, kapan saja aku menginginkan nya".
Rachel tertawa geli,
"Hey b*doh, memangnya kau pikir mereka akan peduli dengan berita seorang pembantu berselingkuh dengan suami adiknya?. Ah, konyol sekali kau. Meskipun sekarang aku menikah dengan Ayud, apa yang akan berubah?".
Natan terdiam, semua yang dikatakan gadis itu benar adanya. Seorang pembantu, selamanya akan di pandang sebagai pembantu. Meski dia menikah dengan orang terpandang sekalipun, publik akan tetap memandangnya rendah.
Menjelang tengah malam, Dokter keluar dan memberitahu bahwa Carene telah selamat melahirkan seorang anak laki-laki. Rachel mendesah lega, ia merasa sangat bahagia. Ia menghampiri Carene yang terbaring lemah.
Di ciumnya dengan lembut kening Carene,
"Selamat ya Ane, kamu sekarang sudah resmi menjadi seorang ibu. Aku doakan semoga kamu selalu bahagia dimana pun kamu berada".
Carene menatap Rachel dalam-dalam, matanya berkaca-kaca.
"Kak, selama ini kami sekeluarga telah banyak melakukan kesalahan pada kakak. Ane bahkan telah memperlakukan kakak dengan sangat buruk. Maafkan Ane kak, Ane benar-benar menyesal".
Gadis itu menangis sesugukan, Rachel menepuk pundak gadis itu pelan.
"Sudahlah Ane, yang penting sekarang kamu sudah selamat. Tak perlu pikirkan hal-hal yang tak penting ya sayang. Jadilah ibu yang kuat untuk anakmu".
Carene memeluk Rachel sambil menangis terisak,
"Kak, suamimu pernah memaksa kami sekeluarga untuk meminta maaf padamu karena telah memperlakukan mu dengan kasar. Aku tak mau melakukan nya, karena kupikir itu adalah hal b*doh".
Carene melepaskan pelukan mereka, lalu menunduk. Airmata masih membasahi pipinya,
"Tapi sekarang, dari hati yang paling dalam Ane mau menyampaikan rasa maaf yang sebesar-besarnya pada kakak. Ane terlalu banyak melakukan kesalahan kak, Ane mohon kakak bisa ampuni Ane".
Rachel mengangguk,
"Iya Ane, aku sudah lama melupakan semua masalah itu. Kita tak hidup untuk masa lalu bukan?. Aku yakin semua orang bisa berubah, dan kamu adalah salah satu yang telah membuktikan nya".
Beberapa saat kemudian, Natan menghampiri kedua gadis itu. Ia menatap Rachel dan Carene bergantian.
"Kak ipar, aku juga mau minta maaf padamu karena telah sengaja membuat mu terjebak dalam masalah. Aku tahu, hubungan ku dengan Carene terjadi karena kesalahan, tapi..",
Laki-laki itu menghentikan kata-katanya,
"Tapi hari ini, aku telah melihat cinta yang sangat tulus dari seorang kakak. Kalau tak ada kak ipar, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada istriku. Terimakasih kak ipar".
Rachel tersenyum, dalam hatinya ia merasa bersyukur. Satu salah paham telah berhasil di selesaikan.
Meski jauh disana, di rumah telah menanti masalah baru yang juga perlu ia selesaikan. Semoga saja, semuanya berakhir dengan baik sesuai harapan.
❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😊😊
__ADS_1