
Setelah berbincang-bincang agak lama dengan Ayud Rachel memutuskan untuk kembali ke ruangan pesta. Matanya mencari-cari keberadaan Albert.
Tiba-tiba, seorang wartawan wanita mendekati nya.
"Selamat malam, bukan kah anda pembantu pak Darwin yang di kabarkan terlibat skandal dengan tuan Ayud Jonathan ya?".
Rachel terkesiap mendengar pertanyaan itu. Air mata nya hampir saja jatuh, begitu buruk publik menilainya. Begitu buruk dampak berita itu bagi hidupnya.
"Mengapa anda datang sendirian? Dimana suami anda?. Oh iya, apakah anda merasa bangga karena mendapat suami orang kaya?. Hidup anda pasti sudah berubah ya?".
Wajah Rachel merah padam mendengar perkataan itu. Namun, ia tak tahu harus menjawab apa. Beberapa saat kemudian, Wartawan-wartawan yang lain mendatangi nya. Mereka menanyakan hal yang sama.
Keributan itu rupanya berhasil menarik perhatian Jeny yang sedari tadi asyik ngobrol dengan istri-istri pejabat. Ia menghampiri wartawan-wartawan haus berita itu.
"Ada apa ini?".
Salah seorang wartawan langsung menjawab,
"Bukankah gadis ini pembantu anda yang dulu terlibat skandal nyonya?".
Jeny tersenyum sinis dan menatap gadis itu dengan tatapan merendahkan.
"Ah, itu benar sekali rekan-rekan sekalian. Dia ini pembantu yang dulu sempat mencemarkan nama besar keluarga kami. Untung berita itu cepat sekali reda ya".
Seorang wartawan yang tadi pertama mendatangi Rachel nyeletuk,
"Apa anda tidak merasa malu nona, datang ke tempat ini dan memperlihatkan wajah anda kepada publik?. Kalau saya jadi anda, saya memilih untuk menghilang saja selama nya".
Jeny tertawa penuh kemenangan,
"Namanya juga pembantu ya, mana mengerti dia rasa malu. Orang yang di akui nya sebagai suami saja sekarang sudah membuangnya. Benar-benar wanita bernasib malang".
Mereka terus menghina gadis itu dengan kata-kata kasar yang sangat tak manusiawi.
Albert yang melihat kejadian itu segera menghampiri mereka.
"Ada apa ini Bu Jeny dan rekan-rekan wartawan sekalian?. Ada urusan apa kalian dengan gadis ku?".
Para wartawan itu menatap Albert dengan pandangan kagum. Terlebih wartawan wanita. Wajah laki-laki itu benar-benar tampan, membuat siapa saja rela jatuh ke dalam pelukannya.
"Pak Albert mengenal wanita ini?".
Salah seorang wartawan bertanya. Albert tersenyum sambil menggandeng tangan gadis itu,
__ADS_1
"Tentu saja. Dia pacar saya".
Beberapa dari mereka menatap tak percaya. Bagaimana bisa seorang pembantu yang telah dibuang oleh tuannya bisa bertemu laki-laki sempurna seperti Albert.
"Anda sedang bercanda pak? Bagaimana mungkin gadis seperti ini bisa menjadi kekasih anda. Benar-benar lucu".
Celetuk salah satu wartawan sambil menatap Rachel jengah. Albert balik menatap nya, tatapan nya mengintimidasi.
"Memangnya wanita ku ini seperti apa menurutmu?. Saya bisa menuntut anda semua, atas kasus pencemaran nama baik. Saya tak terima gadis saya di perlakukan dengan semena-mena begini".
Jeny tersenyum sambil menahan malu. Ia begitu kesal, bagaimana bisa Albert membela gadis miskin itu sampai segitunya. Beberapa wartawan menatap Jeny, meminta jawaban.
"Kami mendengar dari Ibu Jeny bahwa gadis ini telah di buang oleh suaminya. Dia di campak kan oleh CEO Liam's Group, apakah itu benar pak?".
Albert mendesah,
"Rekan-rekan wartawan sekalian, semua orang berhak memiliki masa lalu. Mungkin masa lalu gadis ini buruk, tapi ceritanya akan berbeda setelah dengan saya. Saya akan pastikan dia hidup bahagia bersama saya".
Bibir Jeny bergetar menahan rasa marah, di kepal kan nya kedua tangan nya kuat-kuat.
"Ah pak Albert, anda sangat murah hati sekali mau membela bekas pembantu saya sampai segitunya. Saya hanya berharap anda tak menyesali keputusan anda ini pak. Perempuan itu sangat licik".
Jeny menatap gadis yang sedang menunduk itu, seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat. Albert membelai pipi gadis itu, menatapnya lembut.
Albert tersenyum ke arah Jeny,
"Saya permisi dulu rekan-rekan sekalian. Oh ya bu Jen, saya mau memperingatkan anda. Jangan ganggu gadis saya lagi ya. Anda tak akan tahu bagaimana gilanya orang yang sedang di landa asmara".
Albert menggandeng tangan gadis itu dengan sangat mesra. Jeny menghentak kan kakinya dan meninggalkan wartawan-wartawan yang ada disana. Dari kejauhan, Ayud tersenyum masam menyaksikan itu semua.
Sesampainya di mobil, Albert menatap gadis itu. Tatapan khawatir sangat terlihat jelas di antara kedua matanya,
"Ra, kamu baik-baik saja kan?. Saya minta maaf sudah memaksa mu pergi ke tempat ini. Saya benar-benar menyesal".
Rachel berusaha tersenyum, meski kedua matanya agak merah.
"Tidak apa-apa Al, aku sudah biasa menerima perlakuan seperti itu dari mereka. Semua yang mereka katakan itu benar adanya. Meski sedih tapi aku harus mengakuinya".
Gadis itu mulai menangis,
"Aku hanya benar-benar tak menyangka, mama Jeny akan mempermalukan ku seperti itu. Aku tak pernah melakukan kesalahan apapun pada mereka Al. Mengapa aku harus menerima ini semua".
Gadis itu terisak, Albert memeluk nya.
__ADS_1
"Sabar ya Ra, saya akan pastikan setelah ini tidak ada lagi orang yang bisa menyakiti mu. Saya janji akan selalu berusaha membuat mu bahagia. Kita pergi makan yok, saya memiliki rekomendasi tempat yang pasti kamu sukai".
Rachel tersenyum dan mengangguk. Setiap kali ia merasa terpuruk, laki-laki itu selalu datang dan mengulurkan bantuan kepadanya.
Albert juga sepertinya memahami wanita dengan sangat baik. Dia tahu apa yang bisa membuat wanita merasa tenang setelah mengalami kesedihan yang cukup berat. Rachel melirik Albert,
"Al, sekali lagi terimakasih ya. Lagi-lagi kamu membelaku. Kalau tak ada kamu disana, entah apa yang akan terjadi padaku. Mereka benar-benar orang yang mengerikan".
Gadis itu terdiam sejenak,
"Aku sampai merasa kesulitan untuk bernafas setelah mendengar kata-kata mereka Al. Aku tak mau lagi datang ke tempat seperti itu, benar-benar menakutkan".
Albert tertawa kecil, kemudian melajukan kendaraannya.
"Iya Ra, mulai saat ini kita tak usah lagi datang ke rumah itu ya. Saya benar-benar tak mau melihat siapa pun menindas mu lagi, saya tak terima. Oh ya, anggap saja saya keluarga mu yang paling dekat. Mau jadi siapapun boleh".
Laki-laki itu nyengir,
"Jadi kakak, adik, orang tua atau siapapun, aku bersedia Ra. Saya juga tak memiliki teman dekat dalam hidup ini. Sulit rasanya bergaul dengan orang-orang yang berbeda cara pandang dengan mu".
Rachel menyeka air mata nya yang jatuh. Kedua matanya agak sedikit membengkak,
"Terimakasih ya Al, terimakasih untuk semuanya. Omong-omong, tadi aku ketemu Ayud di sana".
Albert menoleh gadis itu sekilas kemudian kembali fokus menyetir mobilnya.
"Oh ya? Terus dia menyapa mu?".
Rachel mendesah,
"Iya, kami sempat ngobrol sebentar. Dia meminta ku untuk menunggunya Al, aku tak mengiyakan atau menolak nya. Entahlah, lama-lama aku seperti tak mengenal siapa laki-laki itu".
Albert tertawa kecil,
"Dia sekarang sudah berubah Ra. Tak ada salahnya kamu memberi dia kesempatan lagi. Tapi, untuk saat ini kita harus fokus dulu dengan rencana kita ya. Saya yakin ini akan berhasil".
Rachel mengangguk, lalu larut dalam pikiran nya.
Sementara itu, mobil mereka melaju pelan membelah malam yang sepi.
❤️❤️❤️❤️
Hy guys, di manapun kalian berada.. semoga selalu dalam lindunganNya ya😊😊
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu bahagia 😘😘