
Di kantornya, Ayud tersenyum sambil memegang berkas yang di berikan oleh Manager Huang. Di tangan nya sekarang, ia memegang rahasia terbesar keluarga Darwin.
Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Beberapa saat kemudian, ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Carene. Terdengar bunyi nada tersambung di sana, laki-laki itu menunggu dengan sabar.
Tak lama kemudian, suara lembut seorang wanita terdengar berbicara dari seberang sana.
"Ada apa menghubungi ku?. Aku sudah menikah sekarang dan sangat bahagia". Jangan menggangguku lagi ya, nanti suami dokter ku bisa marah".
Carene tertawa kecil, tampaknya ia sangat menikmati perannya menjadi seorang istri. Ayud tersenyum,
"Kau tampak sangat bahagia ya Ane?. Ah, aku lupa mengucapkan selamat pada mu. Laki-laki itu pasti sangat beruntung bisa memiliki mu, kan?. Tapi sayang sekali, dia hanya dapat b*kas aku".
Ayud terkekeh, nada bicaranya terasa sangat merendahkan gadis itu. Carene berdecak pinggang, ia mulai merasa kesal.
"Oke, sayang. Aku mungkin memang barang b*kas bagimu, tapi lihatlah aku sedang bahagia sekali sekarang. Dan kau, bukankah hubungan mu dengan pembantu ku tak berjalan dengan baik?".
Ayud menggertak kan giginya, agak kesal juga mendengar perkataan gadis itu. Ia menghela nafas,
"Tapi justru aku yang kasihan padamu, Ane. Kau benar-benar tak laku ya, sampai harus membayar laki-laki untuk menikahi mu?. Sudah bosan dengan ku?".
Carene mulai terpancing emosi. Ia menaikkan nada suaranya,
"Apa maksudmu?. Jangan mengada-ada ya, kau bisa ku laporkan ke polisi. Aku menikahi seorang dokter tampan, apakah fakta itu membuat mu merasa tersaingi Ay?".
Laki-laki itu tertawa kecil,
"Lucu kalau aku cemburu pada barang mainan seperti mu?. Aku tegaskan, saat ini rahasia terbesar mu ada padaku. Aku bisa menghancurkan keluarga mu, kapanpun aku menginginkan nya".
Laki-laki itu tersenyum jahat,
"Aku sedang benar-benar kesal pada keluarga mu. Kalian mempermalukan istriku di depan para wartawan. Kalau keluarga mu tidak mau meminta maaf kepada gadisku, aku akan menyebarkan berita ini kepada publik".
Carene memukul meja rias di depannya dengan marah. Natan yang sedang tiduran terbangun mendengar kegaduhan itu. Ia melirik sang istri, dengan tatapan bertanya. Namun, Carene tak memperdulikan nya.
"Rahasia apa yang kau maksud?. Laki-laki kurang ajar, kau mau kami meminta maaf kepada wanita b*doh itu?. Silahkan bermimpi saja yang lama".
Ayud mendesah tak sabaran. Rahangnya mengeras,
__ADS_1
"Dengar ya, aku tak suka bermain-main dengan urusan begini. Aku katakan padamu sekali lagi, minta maaf kepada Rachel atau aku sebarkan bukti ini. Kau hamil dan membayar laki-laki miskin itu untuk bertanggung jawab kan?".
Carene tersentak kaget, bagaimana mungkin laki-laki angkuh itu mengetahui nya. Wajah gadis itu seketika pucat, ia tergagap.
"Apa yang kau katakan?. Darimana kau dapatkan semua cerita karangan mu itu?".
Laki-laki itu tertawa, penuh kemenangan.
"Apa mau ku sebutkan tempat tinggal suamimu itu?. Nama orang tua nya?. Pekerjaan mereka?. Sayang, aku mengetahui semua fakta itu dengan sangat baik".
Carene berteriak,
"Dasar laki-laki licik".
Ia membanting HP miliknya ke lantai, benda itu hancur berantakan. Natan mendekati sang istri, dan memegang bahunya.
"Ada apa sayang?".
Carene menepis dengan kasar tangan suaminya itu. Ia bangkit berdiri, dan membentak laki-laki itu.
"Ini semua karena mu, laki-laki b*doh. Bagaimana bisa kau memiliki keluarga yang begitu payah. Kau bahkan tak memiliki apapun yang bisa di banggakan, selain wajah s*alan mu itu. Benar-benar menyebalkan".
Sementara itu, Ayud memegang berkas yang berisi sejumlah informasi tentang Carene sambil tersenyum senang. Ia akan menjadikan informasi ini untuk menindas keluarga Darwin yang sombong itu.
Tiba-tiba, pintu kantor nya di ketuk oleh seseorang. Ia mengalihkan pandangannya dari berkas itu,
"Masuk".
Beberapa detik kemudian, muncul sosok yang sangat tak ingin dilihatnya. Albert muncul dengan memegang sesuatu di tangan nya. Laki-laki itu menyunggingkan senyum,
"Selamat pagi pak, bolehkah saya duduk?".
Albert bertanya dengan sopan. Ayud menatap laki-laki itu jengah, lalu memberi isyarat dengan tangan nya agar laki-laki itu segera duduk.
"Ada apa?".
Tanya nya sesaat setelah laki-laki itu duduk. Lagi-lagi Albert tersenyum, Ayud merasa sangat muak melihat wajahnya.
__ADS_1
"Maaf pak kalau kedatangan saya mengganggu pekerjaan anda. Saya hanya mau memberikan anda undangan ini".
Albert mengulurkan selembar kertas undangan berwarna biru. Ayud mengambil nya, tanpa minat. Sesaat kemudian, mata laki-laki itu membulat dengan sukses.
"Kau akan menikah dengan Rachel?".
Albert mengangguk,
"Iya pak. Jodoh tidak ada yang tahu kan, kemarin dia bersama bapak tapi beberapa hari ke depan dia akan menjadi istri saya. Saya sangat mengharapkan kehadiran anda, pak".
Ayud melempar undangan itu ke atas meja, hatinya terasa sangat sakit. Bagaimana mungkin, gadis itu memilih menikah dengan laki-laki lain Sedangkan disini, dia berjuang untuk menjadi lebih baik demi gadis itu".
"Baiklah, selamat atas pernikahan mu pak Albert. Terimakasih atas undangan ini. Saya tidak janji, tapi saya akan usahakan untuk bisa hadir".
Albert tersenyum, ia bangkit berdiri.
"Baiklah pak, terimakasih atas waktu anda. Saya permisi dulu".
Laki-laki itu membungkuk dengan hormat, meninggalkan Ayud yang tampak bengong disana. Ayud memegang surat undangan itu sekali lagi, berusaha meyakinkan diri nya bahwa ini hanya mimpi.
Laki-laki itu terlihat sangat kecewa. Airmata nya jatuh membasahi wajah tampannya. Ia benar-benar tak menyangka, akan datang hari yang seperti ini. Semua harapannya untuk bersama gadis itu, musnah sudah.
Manager Huang yang duduk di dekat kursi dalam ruangan tuannya itu, ikut memperhatikan apa yang terjadi. Ia juga merasa begitu terpukul dengan kenyataan yang menimpa sang majikan.
Ayud beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati jendela. Dibiarkan nya airmata mengalir di antara kedua pipinya, laki-laki itu begitu terluka sekarang.
Sementara itu, setelah menyerahkan surat undangan tersebut. Albert berjalan mendekati Rachel, sambil mengedipkan matanya. Ia mengangkat kedua jempol nya, tanda misi sukses di jalankan.
Rachel mendesah, apa yang mereka lakukan ini memang agak keterlaluan. Namun, ini semua agar laki-laki angkuh itu menyadari bagaimana perasaan dia yang sesungguhnya.
Berkali-kali gadis itu menatap pintu ruangan sang majikan. Berharap sosok yang sangat ingin dilihat nya itu keluar dari sana. Namun, sampai jam makan siang tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan keluar dari sana.
Rachel mendengus kesal, lalu berjalan mengikuti Erin yang telah lebih dulu ke kantin.
❤️❤️❤️❤️
Selamat malam guys, maaf baru bisa update🙏🙏
__ADS_1
Author akan berusaha memberikan yang terbaik bagi para reader terkasih semua.
Sehat selalu ya, dan jangan lupa bahagia 😘😘😘