
Gadis cantik itu terus memeluk bantal guling nya, sambil menangis sesugukan di kamarnya. Kedua matanya membengkak dengan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja.
Hari ini adalah hari yang benar-benar berat bagi gadis itu.
...Rachel POV...
Mengapa aku harus mengalami semua ini Tuhan?. Apa aku tak berhak bahagia, sekali saja Tuhan. Aku tak pernah meminta banyak hal dalam hidup ini, aku tahu aku tak berhak.
Aku hanya ingin bahagia, dengan seseorang yang telah menikahi ku. Hanya itu, aku tak meminta hal-hal berlebihan lainnya. Tapi, mengapa bahkan hal sesederhana itu saja tak bisa ku rasakan Tuhan?.
Aku benar-benar merasa terpukul hari ini, seluruh duniaku terasa hampa. Sampai detik ini, aku masih tak menyangka. Kata-kata menyakitkan itu akan kudengar dari mulut suamiku sendiri. Kata-kata merendahkan dan menghina.
Orang yang bahkan telah ku percayakan seluruh kehidupan dan masa depanku. Orang yang bahkan demi dirinya, aku rela menolak semua laki-laki baik dalam dunia ini. Orang yang bahkan telah kupilih dengan sangat tulus.
Aku tak menyangka akan mengalami hari seburuk ini, hari paling sedih dari seluruh hari-hari yang kujalani dalam hidupku.
Aku akui, memang salahku memilih pergi dari rumah tanpa memberitahunya. Tapi, harusnya dia sadar karena siapa aku melakukan semua ini. Aku pikir, setidaknya dia memiliki inisiatif untuk memperbaiki hubungan kami.
Tapi ternyata tidak. Dia memang datang mencari ku, tapi lagi-lagi untuk mengucapkan kata-kata merendahkan yang membuat harga diriku semakin hancur.
Kejadian hari ini benar-benar diluar rencana ku. Aku tak menyangka kalau Albert akan memeluk ku tepat disaat suamiku datang. Tapi, kurasa aku dan Albert telah berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi lagi-lagi, dia adalah laki-laki yang selalu mengedepankan emosi daripada pikirannya. Dia bahkan menyesali pernikahan kami, padahal dia yang sudah bersumpah di depan altar gereja untuk selalu setia menemani ku.
Aku mendesah frustasi sambil terus menatap foto pernikahan kami. Laki-laki yang sedang tersenyum sangat manis di dalam bingkai itu sebentar lagi bukanlah milik ku. Atau, mungkin juga sekarang aku telah kehilangan nya.
Aku tersenyum kecut sambil berurai airmata. Mengapa rasanya sulit sekali menyelam hati dan perasaan laki-laki itu. Mengapa dia lebih memilih mempercayai mamanya tanpa berniat menyelidiki kebenaran terlebih dahulu.
Semua yang dikatakan mamanya, pasti akan langsung dipercayainya. Seolah, perkataan wanita itu adalah kebenaran mutlak yang tak perlu diragukan lagi keabsahannya.
Ternyata, sampai akhir pun aku tak akan pernah bisa mengerti jalan pikiran laki-laki yang telah menikahi ku itu. Aku benar-benar tak menginginkan perpisahan ini, tapi aku harus bagaimana?.
Malam semakin larut, aku masih sulit memejamkan mataku. Semua perasaan yang sekarang kurasakan ini, bercampur aduk jadi satu. Semuanya, sangat sukses membuatku merasa sesak.
__ADS_1
...Rachel POV End...
Wanita itu baru saja akan memejamkan mata lelah nya ketika tiba-tiba Albert menghubungi nya. Rachel mendesah, ia menempelkan benda mungil itu di telinga setelah memencet tombol jawab.
"Halo Ra",
Terdengar suara lembut Albert dari seberang sana. Gadis itu diam sejenak sambil berusaha membuat suaranya terdengar stabil.
"Iya Al, ada apa?".
Laki-laki itu menjawab cepat, nafasnya terdengar memburu.
"Maaf Ra kalau saya mengganggu mu malam-malam begini. Saya hanya ingin menanyakan keadaan mu. Kamu baik-baik saja kan Ra?".
Gadis itu menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya, suaranya terdengar serak.
"Sebenarnya tidak baik-baik saja Al, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus tetap kuat bukan, bahkan disaat aku merasa benar-benar tak kuat lagi.
Gadis itu menggigit bibirnya, menahan tangis yang datang tiba-tiba. Albert mendengar isak kecil dari mulut wanita itu, laki-laki itu semakin merasa bersalah.
Laki-laki itu menarik nafas, suaranya terdengar serak seperti menahan tangis.
"Saya janji akan bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan hari ini Ra. Saya akan mendatangi pak Ayud dan meminta maaf padanya. Walaupun saya akan di pukul, saya pantas mendapatkan itu".
Gadis itu terdiam cukup lama, membuat Albert semakin khawatir. Ia memanggil gadis itu berkali-kali, namun tak ada jawaban. Hanya terdengar suara dengungan telepon tersambung . Laki-laki itu makin frustasi,
"Ra, kamu masih disana kan?".
Tak lama setelahnya, terdengar jawaban pelan dari gadis itu. Tampaknya, diamnya gadis itu tadi karena ia sedang menangis.
"Iya Al, ah maaf ya tadi aku melamun".
Albert berusaha tersenyum,
__ADS_1
"Ada apa Ra, kamu sudah tidak mau ngobrol dengan saya ya?. Sekali lagi, saya benar-benar minta maaf atas apa yang telah terjadi Ra".
Gadis itu mencoba mengukir senyum di bibirnya yang pucat.
"Al, sebelumnya aku mau bilang terimakasih karena kamu memiliki niat untuk memperbaiki semua ini. Tapi Al, maaf sebesar-besarnya. Aku rasa, kamu tak perlu menemui dia untuk menjelaskan semua ini".
Gadis itu mendesah, ia memukul dadanya pelan. Rasa sesak disana, membuatnya benar-benar kesulitan bernafas.
"Kamu lihat sendiri kan tadi siang bagaimana reaksi dia. Dia bahkan tak memberi kita kesempatan sedikitpun untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi. Di matanya, kita berdua adalah orang yang telah menyakitinya".
Albert meremas jari-jari nya yang terasa basah oleh keringat. Laki-laki itu merebahkan dirinya di kursi ruang tamu. Ia menatap langit-langit, sambil meletakkan satu tangannya di kening.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan Ra?. Semua kesalahpahaman ini harus di luruskan, agar tak berlarut-larut dan rumah tangga kalian akan terancam. Aku benar-benar tak ingin melihat mu sedih seperti ini Ra".
Rachel tersenyum getir, hatinya terasa semakin sakit.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan Al, Ayud akan selalu mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya. Semua yang dikatakan wanita itu adalah kebenaran, aku benar-benar tak punya celah untuk berbicara".
Rachel memeluk bantal guling nya, ia menatap langit-langit kamar.
"Harusnya, dari awal pernikahan ini tak pernah terjadi Al, sehingga kami tak sama-sama saling menyakiti seperti ini. Si buruk rupa mana bisa bersanding dengan si tampan. Itu adalah aib yang sangat menjijikkan".
Lagi-lagi airmata mengalir dari kedua pipinya, membasahi bantal tidurnya.
"Seperti keberadaan ku di dunia ini, aku adalah aib besar bagi keluarga papa Darwin. Aib bagi keluarga suamiku, aib yang harus disingkirkan secepatnya".
Keduanya terdiam cukup lama setelahnya. Tak ada satu katapun yang terdengar dari mulut kedua insan itu. Hanya pikiran mereka yang sibuk berkelahi dan merangkai berbagai macam pertanyaan tanpa jawaban.
❤️❤️❤️❤️
Hy guys, Author mengucapkan banyak kata terimakasih buat semua like dan komentarnya 😊😊
Sehat selalu ya orang-orang baik😊😊
__ADS_1
Semangat menjalani ibadah puasanya, love you 😘😘😘