Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XLII - Terpuruk -


__ADS_3

💕 Berapa harga untuk membeli kebahagiaan?. Aku akan menjual semua milik ku untuk mendapatkan nya💕


Gadis itu terus menangis sambil membawa kotak berisi barang-barang nya. Ia tak menghiraukan tatapan aneh orang-orang kepadanya.


Hatinya benar-benar terasa remuk, seolah hancur tanpa bersisa. Beberapa remaja nakal menggodanya, namun sang gadis tak bergeming. Ia masuk ke dalam Apartemen nya dengan langkah lemas.


...Rachel POV...


Semua terasa hampa, tak ada lagi harapan apapun di dalamnya. Aku benar-benar tak menyangka, akhir kisah ku dengan Ayud akan tragis begini. Sedikitpun tak ada usahanya untuk mempertahankan aku.


Aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama. Namun, mengapa terlalu sulit untuk menyamakan frekuensi kami?. Apakah aku harus benar-benar menyerah?


Hanya segini saja kah dia sanggup bertahan untuk ku?. Dia bahkan memilih untuk langsung menyerah tanpa tahu apa yang sebenarnya ku rasakan. Aku berteriak dengan frustasi,


"Dasar, laki-laki b*doh. Apa susahnya mengatakan aku juga mencintaimu?. Sulit sekali kah kata-kata itu?".


Aku menangis sejadi-jadinya, membiarkan bantal ku basah. Tangisan kesakitan ku ini terasa membuat sesak di dada.


...Rachel POV End...


Gadis itu terus menangis sampai kedua matanya membengkak. Barang-barang yang tadi di bawanya, ia lempar begitu saja di lantai. Saat gadis itu larut dalam kesedihan nya, HP miliknya berdering.


"Halo",


Suara gadis itu terdengar serak. Albert langsung memiliki firasat yang tidak baik.


"Ada apa, Ra?. Kamu kenapa?".


Gadis itu terdiam, terdengar isak pelan.


"Al",


Panggilnya. Albert melunakkan suaranya,


"Iya Ra, ada apa?".


Gadis itu kembali terisak,


"Aku benar-benar kecewa Al. Dadaku sesak, mau m*ti rasanya".


Albert mendelik, ia mencoba menggoda gadis itu. Menyadari betapa lucunya pilihan kata-kata yang di ucapkan gadis itu.


"Jangan m*ti dulu Ra, saya masih mau lihat kamu setiap hari".


Rachel cemberut, namun dari bibirnya tersungging senyuman kecil.


"Al, aku serius. Jangan becanda dulu".


Laki-laki itu tersenyum,


"Ada apa Ra?. Coba ceritakan pada saya, saya harus tahu dulu masalah nya kan baru bisa menghibur mu".

__ADS_1


Rachel menyeka air matanya yang membasahi bantal tempat tidurnya. Ia kembali terisak,


"Aku sudah berhenti Al dari kantor Ayud. Ternyata, laki-laki itu tak benar-benar mencintai ku".


Albert terkesiap,


"Kenapa mendadak begini Ra?. Ada masalah apa disana?. Bagaimana reaksi pak Ayud dengan surat undangan yang saya berikan?".


Gadis itu kembali menangis,


"Dia memilih menyerah Al, dia memilih merelakan aku menikah dengan mu. Mengapa dia begitu tega padaku Al. Apakah selama ini aku terlalu b*doh karena mengharapkan nya?".


Gadis itu terisak begitu dalam. Albert mencoba menenangkannya,


"Sudah Ra, tidak apa-apa. Kita lihat saja, sampai kapan dia bisa bertahan dengan sikap angkuhnya itu. Saya yakin, dia juga mencintaimu. Laki-laki itu hanya terlalu gengsi, untuk mengakuinya".


Rachel terdiam. Ia benar-benar berharap, apa yang di katakan Albert akan menjadi kenyataan.


Sementara itu, di kantor Ayud. Laki-laki itu duduk melamun, berkas-berkas yang memerlukan tandatangan nya berserakan di atas meja. Manager Huang menghampirinya,


"Tuan, anda memerlukan bantuan?".


Laki-laki itu mendesah frustasi,


"Tak ada yang bisa membantu ku disini Huang, benar-benar tak ada".


Manager Huang mundur dan meninggalkan sang majikan. Ia memilih merebahkan tubuhnya di kursi panjang di ruangan itu. Laki-laki tua itu mendesah, ia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan majikannya itu.


Benda mungil itu terus saja mengeluarkan suara yang menjengkelkan. Laki-laki itu mau tak mau meraihnya dengan kasar. Wajahnya tegang,


"Ada apa lagi?. Masih berani menghubungi ku?".


Laki-laki itu menyeringai sambil mengetuk pelan meja di depannya. Sesaat kemudian, wajahnya berubah kembali tegang.


"Apa?, berani sekali kalian. Sudah tak punya malu?".


Seketika, laki-laki itu menjadi gusar. Ia menendang dengan kuat meja yang ada di depannya. Manager Huang yang sedang membaca koran, tersentak kaget. Ia menghampiri sang majikan,


"Ada apa tuan?".


Laki-laki itu mengancingkan giginya dengan geram, wajahnya menegang.


"S*alan. Berani sekali mereka masih meminta pembagian harta kakek. Bahkan setelah semua yang mereka lakukan?. Benar-benar keterlaluan".


Manager Huang menatap majikannya,


"Apa yang bisa saya lakukan untuk anda tuan?".


Ayud mendesah, laki-laki itu kembali duduk.


"Orang tuaku mau kembali ke Seoul. Mereka menuntut pembagian harta kakek, benar-benar menyebalkan. Ah, Huang hari ini aku mau pulang lebih awal. Tolong bereskan semua urusan yang ada disini".

__ADS_1


Manager Huang mengangguk hormat,


"Baik, tuan.


Laki-laki itu kembali ke rumahnya dengan perasaan marah. Tak lama setelahnya, sebuah taksi mungil berhenti di depan rumahnya. Dari dalam taksi itu, muncul sepasang suami istri dengan gayanya yang sangat mewah.


Keduanya membawa sebuah koper besar yang tampak berisi penuh barang. Mereka mengetuk pintu rumah mewah itu dengan kasar. Beberapa saat kemudian, seorang ibu-ibu tua datang tergopoh-gopoh,


"Buka pintu saja harus lama sekali, benar-benar tak becus".


Kata wanita paruh baya itu dengan angkuh. Bi Sri membungkuk hormat,


"Maafkan saya nyonya besar".


Kedua suami istri itu melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka mencari-cari keberadaan sang pemilik rumah mewah itu. Dari kejauhan, tampak laki-laki muda itu sedang tidur-tiduran di atas kursi tamu. Wanita muda itu menghampiri nya,


"Ah, lihatlah tuan besar kita ini. Bukan nya menyambut kedatangan orang tuanya, malah enak-enakan tidur disini. Dimana sopan santun mu?".


Anna berdecak pinggang sambil menatap sinis ke arah laki-laki muda itu. Ayud bangkit dari kursinya dengan gerakan kasar. Ia menatap tajam ke arah kedua orangtuanya.


"Ada keperluan apa lagi kalian datang?. Sudah habis uang yang telah kuberikan?".


Kim menatap tajam anak tunggalnya itu,


"Kau pikir Papa akan membiarkanmu menguasai harta kekayaan Liam sendirian? Kakek mu itu bahkan tak tahu dengan pasti berapa jumlah kekayaan yang dia miliki. Terlalu gegabah sekali dia menyerahkan harta sebanyak itu padamu".


Laki-laki paruh baya itu menyeringai,


"Papa dan Mama kembali hari ini, dengan maksud baik. Kami ingin membantu mu mengelola keuangan kakek mu dengan baik".


Laki-laki paruh baya itu kembali menyeringai, Ayud menyapanya muak.


"Kalian benar-benar manusia tak tahu diri ya?. Bukannya berduka atas kehilangan kakek, kalian malah memperebutkan harta warisan beliau. Kalian ini, manusia atau bukan?".


Ayud mengepalkan tangannya dengan marah, Ia menatap tajam kedua suami istri itu.


"Sejak kematian kakek, kalian bukanlah bagian dari keluarga ku lagi. Dan, aku bahkan tak memiliki anggota keluarga lain selain diriku sendiri sekarang".


Laki-laki itu ingin menangis, namun sekuat tenaga ia menahannya.


"Hanya kakek yang benar-benar adalah keluarga bagiku. Sekarang, pergi dari rumah ku atau aku akan menyuruh bawahan ku menyeret kalian".


Anna menggertak kan giginya, ia benar-benar kesal. Kim, suaminya menarik tangan wanita itu. Ia mengajak sang istri meninggalkan rumah mewah itu. Mereka harus mengatur rencana yang matang, dan itu butuh persiapan.


Lagi-lagi, Ayud mendesah. Tangisannya pecah, ia benar-benar merasa terluka. Semua orang yang di sayangi nya, telah pergi meninggalkan nya sendirian.


❤️❤️❤️❤️


Guys, terimakasih sudah membaca novel ini 😊😊😊


Jangan lupa tinggalkan jejak 😘😘

__ADS_1


Bahagia selalu ya😊😊


__ADS_2