Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LVIII - Persimpangan Jalan -


__ADS_3

Rachel membuka matanya sambil menggeliat malas, jam wekernya terus-menerus berbunyi. Ia mengambil benda yang mengeluarkan suara berisik itu, dan mematikan nya.


Gadis itu mengucek kedua matanya yang terlihat membengkak. Pelan, ia bangkit dan menghampiri kaca besar tak jauh dari kamar tidurnya. Lalu, menatap pantulan dirinya disana dengan sendu.


"Aku terlihat benar-benar menyedihkan. Sangat berantakan sekali, ah kapan ini akan berakhir. Lelah sekali rasanya".


Ia bergumam pelan. Gadis itu menatap sendu ranjangnya yang dingin, dingin tanpa kehadiran seseorang yang biasa menemani malam-malam panjangnya. Ranjang asing, yang sama sekali tak bisa memberinya rasa nyaman.


Airmata, lagi-lagi jatuh dari kedua pipinya. Sudah hampir sebulan, sejak ia memutuskan untuk meninggalkan rumah. Rumah pemberian kakek Liam untuk mereka tinggali berdua.


Meski menghabiskan setiap malam untuk menangis, pada akhirnya ia terpaksa harus merelakan apa yang pernah jadi miliknya untuk pergi selamanya. Ia tak bisa mengembalikan, apa yang memang seharusnya hilang.


Fakta itu, membuat dadanya terasa makin sesak. Ia berusaha mengukir senyum dari wajah lelahnya. Gadis itu mendesah frustasi,


"Apa yang sedang ku lakukan sekarang?. Untuk apa semua tangis kesakitan ini?. Ayolah, dia bahkan tak berusaha menahan kepergian mu Ra. Untuk apa kamu menyiksa diri, dengan terus-terusan bersedih seperti ini?".


Rachel berbicara sendiri sambil menatap cermin besar itu, seolah berusaha menguatkan hatinya yang rapuh. Beberapa saat kemudian, ia mengambil handuk dan bergegas mandi.


Tak lama setelahnya, gadis itu tampak mengenakan kemeja kerjanya yang terlihat sangat pas di tubuh mungilnya. Gadis itu tersenyum, lalu turun untuk sarapan.


Namun, ketika sampai di bawah seketika senyum nya berubah sendu. Tak ada siapa-siapa disana, selain dirinya sendiri tentu saja. Tak ada bi Sri, wanita tua yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat.


Tak ada lagi laki-laki itu, laki-laki yang akan merangkulnya dari belakang sambil berkata,


"Sayang, sudahlah. Biarkan saja bi Sri menyelesaikan pekerjaannya, sini bantu aku memasang dasi".


Lagi-lagi, airmata nya menetes membasahi kedua pipinya. Tak ada lagi orang-orang yang ia cintai disana, yang ada hanya kesepian dan kesunyian.


...Rachel POV...


Ah, sulit sekali rasanya untuk terbiasa kembali sendiri. 5 bulan yang lalu, aku terlalu terlena dalam menghayati peranku sebagai seorang istri. Aku terbiasa melihat senyum suamiku setiap pagi.


Kini, semua hanya tinggal kenangan. Meski aku sangat merindukannya, tapi mungkin rindu ini hanya aku rasakan sendirian.


Suamiku, bahkan tak peduli dimana aku sekarang. Mungkin, seandainya aku m*ti pun dia tak akan peduli. Sudah hampir sebulan aku pergi, dan dia sedikitpun tak mencari ku?. Ah, apakah dia telah membuang ku dari hatinya?


Aku sadar, sikapku sangat kekanak-kanakan. Aku meninggalkan rumah, karena masalah pribadi kami. Tapi, bukankah seharusnya ada sedikit usahanya untuk mencari ku?. Ayolah, aku inikan istrinya?.


Sampai detik ini, aku tak melihat sedikitpun usaha dari suamiku untuk menemukan ku. Bukankah ketika wanita menghilang, ia menghendaki untuk di cari?. Hal sekecil itu saja suamiku tak sanggup melakukan nya untuk ku.


Aku terpaksa harus bekerja di perusahaan Albert kembali, agar bisa membayar sewa Apartemen yang ku tinggali sekarang. Jika kau bertanya mengapa aku tidak ngekost saja?. Aku tak bisa tinggal di kamar kost, aku trauma.


Dulu, aku pernah ngekost. Tepatnya, setelah sehari aku pergi dari rumah pemberian kakek Liam. Namun, aku hampir kehilangan kesucian ku gara-gara itu. Setelahnya, aku tak pernah lagi tertarik untuk tinggal di kamar kost.


Apartemen ini terletak lumayan jauh dari kantor Albert. Jadi, mau tidak mau aku terpaksa harus naik angkutan umum setiap hari. Berdesak-desakan di antara banyaknya penumpang lain.


Aku sebenarnya ingin tinggal di Apartemen lamaku, tapi orang yang sekarang menempati nya tidak mau pergi.

__ADS_1


Mau tak mau, aku harus mengalah dan mencari tempat tinggal lain. Albert meminta persetujuan ku untuk memaksa wanita itu pindah, tapi aku tak ingin melakukannya. Bukankah tak baik memaksakan sesuatu kepada orang lain?.


Albert menemani ku mencari Apartemen baruku ini. Ia menawarkan jasa mengantar jemput ku kerja, tapi aku menolaknya. Aku sadar, aku adalah wanita bersuami. Aku, harus bisa menjaga nama baik suamiku sampai akhir.


Aku tak ingin para wartawan haus berita itu menyebarkan gosip yang tidak mendasar. Aku ingin, meskipun aku terpaksa pergi biarlah nama baik suamiku tetap terjaga.


Aku melangkah gontai menuju halte bus yang tak jauh dari tempat tinggal ku. Ku lirik arloji ku, lalu tersenyum. Aku masih memiliki waktu yang cukup banyak, sampai nanti jam masuk kerja.


...Rachel POV End...


Gadis itu sedang menunggu angkutan umum, ketika tiba-tiba seseorang yang tidak dikenal duduk disebelahnya. Gadis itu menggeser tempat duduknya, namun laki-laki itu makin mendekatinya.


Saat itu, di halte bus hanya terlihat beberapa orang asing yang juga menunggu angkutan yang sama.


Gadis itu risih, ia bangkit berdiri menjauhi laki-laki itu. Namun, laki-laki itu kembali mendekatinya. Akhirnya, Rachel merasa gusar. Ia menatap laki-laki itu datar,


"Maaf, anda siapa ya?. Bukankah anda tahu, sikap anda yang sekarang ini membuat saya benar-benar merasa tak nyaman. Tolong hentikan perbuatan anda ini, apapun motif anda".


Laki-laki muda itu terkekeh. Rachel mengernyitkan dahinya. Ia seperti pernah melihat laki-laki ini di suatu tempat.


"Selamat pagi, kakak ipar. Maaf kalau saya mengganggu kakak ipar. Ah, waktu pesta pernikahan ku kita belum sempat berkenalan. Perkenalkan, saya Natan suami Carene".


Rachel terkesiap, laki-laki ini tampak sangat jauh berbeda dari penampilannya saat menjadi pengantin. Ia berusaha tersenyum sambil menyambut uluran tangan laki-laki itu.


"Boleh saya panggil kakak?,


Natan tersenyum nakal, laki-laki itu seolah memiliki maksud tak baik. Dengan cepat, gadis itu melepaskan tangan mereka dan menggeser tubuhnya sedikit agar menjauh dari laki-laki itu. Natan kembali tersenyum,


Rachel kaget, refleks ia menepis tangan laki-laki nakal yang berusaha menyentuh dagunya itu.


"Maaf, tolong jaga sikapmu. Aku ini wanita bersuami, sikapmu ini benar-benar tak pantas".


Natan tersenyum nakal, ia berusaha kembali merapatkan tempat duduk mereka. Bersamaan dengan itu, bus yang ditunggu Rachel telah datang. Gadis itu buru-buru naik ke dalam bus. Natan melambaikan tangannya,


"Besok kita bertemu lagi ya, kakak ipar".


Rachel duduk di kursinya dan merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia merasa sangat ketakutan sekali pada laki-laki itu. Wajah cantiknya tampak pucat, gadis itu benar-benar merasa gugup.


Sementara itu..


Natan kembali menaiki mobilnya lalu menuju kantor tempat ia bekerja. Laki-laki itu kembali menyunggingkan senyum sambil bergumam,


"Sekali dayung, dua tiga bahkan empat pulau terlampaui. Aku memang hebat".


Gadis itu tiba di kantor dengan tubuh yang masih gemetar. Reni, teman sekantornya menepuk pundak gadis itu.


"Ada apa Ra, kelihatannya kau seperti baru habis melihat hantu".

__ADS_1


Rachel berusaha tersenyum, wajahnya masih pucat.


"Tidak ada apa-apa Ren, aku hanya sedikit tak enak badan. Secara keseluruhan, aku benar-benar baik-baik saja. Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku".


Reni tersenyum sambil memperlihatkan lesung pipinya,


"Ra, aku pikir setelah kau menikah kita tidak akan bertemu lagi. Ah, aku senang sekali akhirnya kamu kembali bekerja disini lagi".


Gadis itu memeluk tangan Rachel dengan lembut, sambil terus tersenyum.


"Pokoknya, aku sangat senang sekali kau bekerja disini kembali Ra. Senang sekali. Ah, aku akhirnya terbebas dari tatapan genit karyawan-karyawan kantor ini".


Rachel tersenyum,


"Dengan menjadikan aku korban baru menggantikan mu ya?, jahat sekali".


Rachel pura-pura cemberut, dan gadis itu memeluk nya erat.


"Ah, sahabatku tercinta. Kau tahu kan aku tidak bermaksud begitu".


Rachel mendesah pelan, ia mengusap kepala sahabat nya itu pelan.


"Iya, aku tahu Ren. Kamu adalah sahabatku satu-satunya yang paling terbaik. Sudahlah, ayo lanjutkan pekerjaan kita. Sebentar lagi, bos besar datang".


Reni nyeletuk,


"Hah, pak Albert itu dia benar-benar menyebalkan. Selalu memperlakukan mu dengan lembut. Sedangkan aku, salah sedikit saja langsung di marahi nya. Dasar, bos pilih kasih".


Gadis itu segera pergi meninggalkan Rachel dan fokus pada pekerjaannya. Sementara, Rachel beberapa kali mendesah. Kejadian hari ini, benar-benar menakutkan baginya.


Ditempat lain beberapa saat yang lalu..


Natan sedang mengendarai mobilnya, ketika tiba-tiba matanya menangkap sosok Rachel. Gadis yang dilihatnya sekilas, waktu pernikahan nya dengan Carene. Ia menghentikan mobilnya, dan menghampiri gadis itu.


Dari kejauhan, Natan bisa melihat betapa naturalnya penampilan gadis ini. Ia yakin, wanita ini sama seperti Carene. Mudah terbuai dengan rayuan dan wajah tampan.


Ia ingin menghancurkan, bukan hanya Darwin tapi seluruh keluarga besar mertuanya itu. Natan tersenyum puas, melihat reaksi pura-pura lugu gadis itu.


Natan sangat yakin, kakak iparnya itu pasti tak bisa menolak pesonanya yang mematikan. Sedikit tambahan, Natan memiliki tubuh yang tegap dan atletis. Karena terbiasa bekerja keras, otot-ototnya menonjol dengan sangat sempurna.


Pesonanya itu, yang selama ini selalu berhasil memikat wanita-wanita paruh baya yang haus kasih sayang. Laki-laki muda itu sangat yakin, tidak lama lagi wanita itu akan tunduk padanya seperti yang lain.


Laki-laki muda itu, bersiul sambil menyetir mobil menuju kantornya. Hari itu, perasaannya benar-benar bahagia.


❤️❤️❤️❤️


Terimakasih untuk semua dukungan dan masukan kalian guys😊😊

__ADS_1


Author akan berusaha lebih baik untuk ke depannya 🙏🙏


Tetap semangat menjalani ibadah puasanya ya, sehat selalu orang baik 😘😘


__ADS_2