
💕Jika cinta tak kunjung menemukan tempat berlabuh nya, biarlah aku tetap dalam kesendirianku💕
Rachel duduk di balkon depan kamarnya sambil menyesap minuman nya. Gadis itu sengaja tak berangkat kerja hari ini, rasanya terlalu sulit untuk memulai sebuah percakapan baru dengan bos nya. Setelah situasi canggung kemarin.
Beberapa kali ia mengecek ponsel miliknya, berharap bos barunya itu menghubungi nya. Atau setidaknya, berusaha untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Namun, hal itu sama sekali tidak terjadi. Gadis itu lagi-lagi terpaksa harus menahan kecewa. Cukup sulit ternyata bagi seorang Ayud untuk meminta maaf terlebih dahulu, setelah membuat situasi menjadi tak menyenangkan seperti ini.
Atau memang harga diri laki-laki itu yang terlalu tinggi sehingga membuat nya tak mungkin mau melakukan hal itu. Gadis itu sedang larut dalam lamunannya ketika tiba-tiba ponsel miliknya berdering.
Gadis itu mengernyitkan dahi nya sambil bergumam,
"Siapa ya?",
Ia memencet tombol jawab pada keyboard benda mungil itu, terdengar suara seorang wanita di seberang sana.
"Benar ini dengan Rachel?",
Rachel sempat bingung, namun sesegera mungkin ia menjawab.
"Iya, saya Rachel. Kalau saya boleh tahu, anda siapa. Ada keperluan apa menghubungi saya?".
Gadis itu bertanya dengan penasaran. Ia berharap, seseorang di seberang sana adalah salah satu sahabat atau orang yang dulu pernah dekat dengannya.
"Tidak, dan aku tak berniat sedikitpun untuk mengenalmu. Itu pekerjaan yang sangat sia-sia".
Suara wanita di seberang sana, terdengar angkuh.
"Cukup susah ternyata mencari nomor mu. Sudah seperti istri pejabat saja, sok penting".
Rachel menghela nafas,
"Kalau begitu, ada keperluan apa anda menghubungi saya?. Kalau memang tak ada keperluan apa-apa, saya tutup saja".
Rachel mulai kehilangan kesabaran nya, menghadapi wanita angkuh itu. Wanita ini benar-benar menguji kesabaran nya. Tak lama kemudian terdengar suara dari seberang sana,
"Aku telah mengenal Ayud jauh sebelum kamu masuk di keluarga nya. Dia juga telah memberikan banyak hal padaku, bahkan dia teramat sangat menyayangi ku. Bisa kah kamu melepaskan dia, agar kita sama-sama bahagia?".
__ADS_1
Wanita angkuh itu mengucapkan kalimat nya seolah tanpa jeda, tanpa perasaan bersalah. Ia melanjutkan,
"Lagipula aku tahu, Ayud sama sekali tak mencintaimu kan?. Kamu memaksa masuk ke keluarga nya, dengan menjual dirimu. Ah, m*rahan sekali kamu".
Serentetan kata-kata yang di ucapkan wanita di seberang sana, membuat Rachel kesulitan untuk bernafas. Dadanya terasa sangat sesak, dan airmata kesakitan nya jatuh begitu saja.
"Maaf, saya dan laki-laki yang anda maksud memang sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Kalau anda memang menginginkan dia, silahkan saja. Dan satu lagi, tolong jaga sopan santun anda".
Rachel diam sejenak, mengatur nafasnya dan melanjutkan kata-katanya.
"Jika memang saya menjual diri kepada laki-laki itu, saya rasa itu sama sekali bukan urusan anda. Bukankah anda juga lebih rendah dari saya, anda bahkan rela di t*duri secara gratis".
Rachel menahan amarah nya, menangis dalam diam. Ia memukul-mukul pelan dadanya, untuk mengurangi rasa sesak disana. Wanita diseberang sana tertawa cekikikan,
"Ah, walaupun di t*duri secara gratis, tapi aku mendapatkan kepuasan. Bahkan banyak sekali barang-barang mewah. Kau dapat apa?. Bahkan dia tak pernah menyentuh mu kan?".
Rachel geram mendengar kata-kata wanita itu, darahnya seakan mendidih. Untung saja wanita itu tak berada di dekatnya sekarang. Ingin sekali ia merobek mulut wanita itu, benar-benar tak memiliki etika.
"Hey, apakah kenyataan bahwa dia lebih memilih ku di banding kamu, sangat menggangu ya?. Tenang saja, aku sudah melepaskan nya. Ambil saja lagi, kalau kamu mau. Kalian berdua benar-benar cocok".
Rachel tersenyum dalam kepedihan hatinya. Kata-kata yang baru saja dia ucapkan, membuat hatinya menjadi lega. Wanita di seberang sana memaki, lalu menutup telepon nya.
Kenyataan bahwa terlalu banyak wanita yang menyukai laki-laki itu dan fakta seperti apa sifat laki-laki itu, membuat nya memilih untuk menyerah. Hubungan yang di paksakan tidak akan pernah berhasil.
Sementara itu di kantor, Ayud beberapa kali memeriksa HP milik nya. Ia menulis teks kepada wanita itu, namun menghapus nya kembali. Laki-laki itu tak memiliki keberanian, bahkan untuk memulai percakapan di antara mereka.
Rasanya, benar-benar canggung. Namun, dia juga penasaran mengapa wanita itu tidak datang ke kantor hari ini. Tapi, lagi-lagi gengsi menghalangi nya untuk melakukan semua itu.
...Ayud POV...
Mengapa rasanya sangat sulit sekali, untuk memulai sebuah hubungan yang benar dengan wanita itu?. Sulit sekali rasanya, melakukan hal yang benar. Setelah selama ini, yang bisa ku berikan padanya hanyalah rasa sakit.
Aku sadar, mungkin terlalu cepat bagi nya untuk menerima kembali kehadiran ku. Setelah untuk sekian lama, kami terlibat hubungan yang sama sekali tak bisa di bilang baik. Entah apa yang harus kulakukan.
Mantan bos nya itu, sungguh membuatku merasa resah. Berani-beraninya, dia mengajak Rachel bertemu. Dan bahkan, dia berani menjemput gadisku di depan kantor ku?. Benar-benar kurang ajar.
Bagaimana kalau seandainya Rachel juga ternyata menyukai Albert?. Bagaimana kalau mereka terlibat hubungan yang serius?. Aku benar-benar pusing memikirkan ini semua.
__ADS_1
Apakah tak bisa hubungan ini berjalan dengan normal, seperti yang dilakukan orang-orang?. Sekarang dia malah memilih tak datang ke kantor, apa aku harus mendatangi rumahnya. Ah aku benar-benar bingung.
Tapi, bagaimana kalau nanti hubungan kami menjadi semakin tidak baik?. Ah, semua ini terasa sangat menguras emosi dan tenaga ku.
...Ayud POV End...
Keesokan harinya, Rachel sudah datang ke kantor. Ia duduk dengan manis, di atas kursinya. Ayud yang baru datang berkali-kali melirik ke arah gadis itu, mengundang perhatian karyawan-karyawan kantor yang lain.
Rachel memilih cuek dan tak peduli dengan situasi yang terasa membosankan itu. Ia memilih berkosentrasi dengan pekerjaan nya, tak berminat untuk peduli dengan hal-hal selain itu.
Beberapa saat kemudian, ia berjalan ke ruangan sang majikan. Lalu,menyerahkan berkas yang sudah ia kerjakan.
"Permisi pak, ini berkas yang anda butuhkan. Silahkan anda periksa lagi, dan kalau ada yang perlu saya perbaiki anda beri tahu saja".
Ayud tampak agak kikuk menghadapi wanita yang ada di depannya ini, namun ia berusaha bersikap profesional.
"Baik terimakasih, letakkan itu di meja saya. Oh ya, satu lagi saya harap kamu melupakan apa yang terjadi di antara kita kemarin. Anggap saja, saya sedang khilaf. Jangan bolos kerja, hanya karena hal-hal sepele seperti itu.
Laki-laki itu menatap komputer miliknya, tangannya sibuk mengetik.
"Ingat, kamu dan yang lainnya adalah jantung perusahaan ini. Jadi, tolong bersikap lah profesional. Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan".
Gadis itu mengangguk,
"Baik pak. Saya permisi dulu".
Ayud menepuk jidatnya, dan menyadari betapa b*dohnya kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Ia menghela nafas,
"Bukankah itu akan membuat nya semakin menjaga jarak dengan ku?. Kenapa aku b*doh sekali, bahkan untuk memulai sebuah percakapan yang benar saja aku tak bisa".
Ia kembali mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Hubungan antara mereka terasa sangat sulit untuk terjadi. Apakah mungkin dari awal mereka memang tak memiliki kesamaan apa-apa, yang mengharuskan mereka untuk bersama?.
Laki-laki itu kembali melamun, dan tanpa ia sadari sebuah mobil mewah milik Albert sudah terparkir dengan manis di garasi kantornya.
❤️❤️❤️❤️
Hy guys, terimakasih sudah membaca karya amatir Author ya 🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 😘😘😘