Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XXXIII - Biarkan Hati Yang Memilih -


__ADS_3

πŸ’•Cinta itu soal hati, kamu tak bisa memaksa nya untuk memilih siapa. πŸ’•


Suasana di kantor Ayud sore itu berisik seperti biasa. Hal itu biasa terjadi, terutama jam-jam pulang kerja. Rachel seperti rekan-rekan nya yang lain, juga sibuk mengemasi barang-barang miliknya.


ia melirik arlojinya dan segera melangkah keluar, meninggalkan kantor tempat ia bekerja. Di tempat parkir, nampak Albert menunggu nya sambil membawa sesuatu di tangan nya. Mereka sudah berjanji akan pergi makan malam.


Rachel sendiri sebenarnya ingin menolak dengan halus tawaran laki-laki itu, namun ia merasa tak enak hati. Laki-laki itu telah menolongnya begitu banyak, bahkan kehidupan nya yang sekarang pun berkat andil yang besar dari laki-laki itu.


Meski hatinya masih tak karuan, akibat masalah nya dengan Ayud yang tak kunjung menemukan titik terang. Namun, ia tak mau terpuruk terlalu lama dalam keadaan yang tidak nyaman itu. Albert melambaikan tangan padanya,


"Capek ya?. Ini, saya bawakan minuman yang mudah-mudahan kamu suka".


Laki-laki itu mengulurkan sesuatu yang dia bawa, Rachel menerima nya sambil tersenyum.


"Terimakasih Al. Aku kadang suka merasa tak enak padamu, mengapa kamu terlalu baik padaku, Al".


Albert membukakan pintu mobil untuk wanita itu, dan mempersilahkan dia masuk.


"Di buat enak saja lah. Dengan saya santai saja, kamu kan tahu saya memang baik".


Albert tertawa dan Rachel nyengir. Gadis itu memukul pelan pundak Albert,


"Memuji diri sendiri lagi?".


Keduanya menuju restoran yang menyajikan makanan favorit Rachel. Entah mengapa, laki-laki itu selalu tahu bagaimana cara untuk membahagiakan wanita. Rasanya, terlalu mustahil untuk menolak pesona seorang Albert.


"Bagaimana kantor baru mu Ra?. Apa bos mu baik seperti ku?".


Albert bertanya di sela-sela makan malam mereka. Rachel menghela nafas,


"Entahlah Al, sulit untuk aku jelaskan. Apa sebaiknya aku resign saja ya dari sana?".


Albert menatap Rachel,


"Ada apa?. Kamu bermasalah dengan bos mu atau bagaimana?".


Rachel menghentikan aktivitas makan nya, dan menyesap minuman di depannya. Sejuknya air itu membasahi tenggorokan nya.


"Seperti nya memang sudah waktunya aku jujur padamu, Al. Rasanya tak adil, aku membohongi mu yang telah menyelamatkan hidup ku. Aku benar-benar minta maaf, jika apa yang akan aku sampai kan ini membuat mu tak nyaman".


Gadis itu berhenti sejenak, menarik nafasnya.


"Sebenarnya, Ayud Jonathan itu adalah mantan suamiku dulu. Tapi, kami tidak menikah seperti kebanyakan orang. Aku, di jual oleh orang tua angkat ku pada keluarga nya.

__ADS_1


Rachel berhenti, ia menelan saliva nya dengan susah payah. Nafas nya terasa tercekik,


"Saudara tiri ku, hamil olehnya. Mereka memaksa ku untuk mengakui perbuatan yang sama sekali tak kulakukan. Kepada publik, mereka mengakui, aku adalah pembantu yang hamil bersama Ayud. Harga diriku hancur".


Rachel mulai menyeka air matanya yang jatuh,


"Sakit sekali diperlakukan oleh orang yang kau anggap keluarga sampai seperti itu. Aku benar-benar tak ubahnya barang di mata mereka".


Albert tampak terkejut mendengar penuturan gadis itu. Ia berusaha untuk tetap tegar mendengar apa yang di katakan oleh gadis itu. Rachel melanjutkan kata-katanya,


"Selama kami tinggal bersama, dia sama sekali tak pernah menganggapku. Aku juga sebenarnya tak berharap banyak kepadanya. Mendiang kakek Liam yang mengatur perjodohan kami, dia meminta ku untuk mengubah sifat laki-laki itu".


Rachel mendesah, airmata telah membasahi pipinya dengan sukses.


"Selama ini, aku telah mencoba untuk menahan berbagai macam penderitaan yang diberikan Ayud. Dia bahkan hampir membunuh ku dengan sangat kejam. Kejadian itu masih sering menghantui mimpiku malam-malam".


Rachel memegang perutnya yang kadang masih terasa nyeri. Bekas tusukan belati tajam itu, benar-benar membuatnya trauma.


"Aku masih bisa mengingat bagaimana sakitnya, ketika belati itu menusuk perut ku. Sakit sekali, aku sampai pingsan sangking tak kuat menahannya".


Gadis itu menangis sesugukan. Rasanya, apa yang sedang ia ceritakan benar-benar menyentuh relung hatinya yang dalam.


"Dia juga beberapa kali berselingkuh dariku, dan menyuruh aku menerima itu semua dengan lapang dada. Pada akhirnya, aku merasa tak kuat lagi dan memilih pergi.


Gadis itu semakin terisak, Albert menepuk pelan bahunya.


Albert menggenggam tangan wanita itu, sambil menatap mata sang gadis dengan lembut.


"Kalau kamu tidak kuat, tak usah di lanjutkan Ra".


Gadis itu menggeleng,


"Apakah yang aku salah Al?. Apa kematian kakek Liam adalah kesalahan ku?. Apa aku egois?, harusnya aku bisa menahan itu semua sampai kakek benar-benar sembuh. Aku menyesal tapi semua sudah terjadi".


Rachel menunduk dalam kepedihan hatinya. Air mata nya membanjiri meja yang ada di depannya,


'"Kakek Liam adalah orang yang sangat baik. Dialah satu-satunya, orang yang menyayangi ku di rumah itu. Namun ketika ia menghembuskan nafas terakhir nya, aku tak ada di sana. Betapa tak berguna nya aku".


Albert merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Untung nya, mereka duduk di kursi pojok. Sehingga, tak ada yang memperhatikan ketika gadis itu menangis sesugukan.


"Tidak Rachel, dalam hal ini perasaan mu itu juga penting dan siapapun harus menghargai itu. Saya menghargai keputusan yang telah kamu ambil. Itu adalah pilihan terbaikmu, daripada terus-menerus hidup dalam tekanan".


Rachel menyeka air matanya. Ia menatap Albert dengan lembut. Berada di dekat laki-laki itu, terasa selalu menenangkan. Pelukannya terasa sangat hangat.

__ADS_1


"Maaf Al, aku sudah memaksa kamu untuk mendengar semua cerita ku yang panjang dan rumit. Terimakasih kamu selalu ada di saat aku memerlukan teman, meski kita tak ada hubungan darah".


Albert tersenyum,


"Kalau kamu mengizinkan, saya bahkan siap jadi apapun termasuk kekasih mu".


Rachel tersenyum, gadis itu nampak membenarkan posisi duduknya. Ia sekarang berhadapan dengan Albert.


Maaf Al, aku sepertinya menyukai orang lain. Aku tak bisa membohongi hatiku untuk hal itu. Aku benar-benar minta maaf padamu".


Albert menyesap minuman nya,


"Ayud ya?. Mengapa kamu bisa menyukai orang yang bahkan hampir membunuh mu Ra?".


Rachel menggeleng, ia menatap Albert lesu.


"Entahlah, aku sendiri pun bingung. Harus nya aku membenci laki-laki itu bukan?. Tapi mengapa aku tak bisa melakukan nya?. Rasanya terlalu sulit. Aku bahkan lagi dan lagi gagal dalam usaha ku untuk melakukan nya".


Ia menatap Albert,


"Aku hargai perasaan mu Al, aku sangat berterimakasih karena nya. Namun, aku benar-benar tak bisa memaksa diriku untuk menerima cinta mu, maafkan aku".


Gadis itu menunduk, airmata nya lagi-lagi jatuh begitu saja. Albert tersenyum meski hatinya merasa sangat sedih. Ia memegang pipi gadis itu,


"Tidak apa-apa Rachel, saya akan membantu mu untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan pak Ayud. Saya memang mencintai mu, tapi kebahagiaan mu itu lebih penting dari perasaan saya yang tidak seberapa ini".


Laki-laki itu berusaha tersenyum, meski rasanya ia benar-benar ingin menangis. Perasaan sepihak ini sungguh menyiksa batinnya. Ia mendesah,


"Maafkan saya, saya sudah membebani mu dengan perasaan ini".


Rachel mengangguk. Dalam hatinya ia merasa benar-benar tak enak dengan Albert. Namun, ia tak bisa memaksa hatinya untuk menerima cinta laki-laki itu. Setelahnya, mereka makan dalam diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.


Albert mengantar Rachel ke apartemen nya lalu meninggalkan gadis itu disana. Sepanjang perjalanan tadi ia banyak diam, tak ceria seperti biasanya. Rachel tahu mantan bos nya itu merasa kecewa.


Namun, ia juga tak bisa berpura-pura menerima perasaan laki-laki itu hanya karena kasihan.


Sepanjang malam itu, Rachel sulit sekali memejamkan matanya. Bayangan Ayud terus menganggu nya tanpa mengenal lelah.


Rachel menutup wajahnya dengan bantal dan menjerit dengan kuat disana. Berkali-kali ia melakukan nya, tapi rasa gelisah di hatinya tak kunjung menghilang.


Gadis itu memejamkan matanya, berdoa agar suatu saat ia menemukan cinta yang memang telah di ciptakan untuk nya. Ia memejamkan matanya, dua bulir air mata jatuh membasahi bantalnya.


❀️❀️❀️❀️

__ADS_1


Hy guys.. terimakasih sudah membaca novel ini 😘😘


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😊😊


__ADS_2