Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB XLI - Pertemuan Terakhir -


__ADS_3

Ayud menatap lemah surat undangan yang baru saja di berikan oleh Albert kepadanya. Hatinya begitu terpukul, rasanya semua seperti mimpi. Begitu banyak angan-angan yang ingin dia lakukan bersama gadis itu.


...Ayud POV...


Hatiku sakit sekali, benar-benar mau m*ti rasanya. Terlalu sulit menerima kenyataan ini. Baru sesaat tadi, aku membayangkan hal-hal manis yang akan kami lewati berdua. Ternyata, semua tak pernah kesampaian.


Aku mulai menangis, rasa sesak benar-benar terasa memenuhi rongga dadaku. Tak ku pedulikan Huang yang menatap ku bingung. Dunia ku benar-benar terasa hancur sekarang.


Tak ada lagi yang bisa aku harapkan. Aku berjuang membuat wanita itu kembali bersama ku, namun hatinya terasa terlalu jauh. Tak akan pernah bisa tersentuh oleh tangan ku, seberapa keras pun aku mencoba nya.


Mungkin memang sudah saat nya aku menyerah. Hati wanita itu sampai kapanpun tak akan pernah memilih ku sebagai tempat tujuan. Aku berusaha ikhlas, meski tak ada ikhlas yang sempurna dari rasa kehilangan.


Ku ambil foto mendiang kakek, yang terbingkai dengan sangat manis di atas meja kerjaku. Aku menatap wajah tua itu lembut, airmata ku jatuh membasahi pipiku. Ku belai lembut wajah di foto itu, dan bergumam pelan.


"Maafkan aku kek, aku tak bisa memenuhi keinginan permintaan terakhir mu. Gadis itu akan menikah dengan orang lain kek. Kita mau tak mau harus merelakan nya. Harga diriku benar-benar terluka kek".


Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa henti. Rasa sesak di dadaku semakin menjadi-jadi.


"Aku benar-benar kehilangan dia sekarang kek. Tapi ini semua bukan salahnya, aku yang telah mengabaikan nya selama ini. Wajar kalau dia meninggalkan ku seperti itu. Kita ikhlas kan dia ya kek".


Aku terlalu larut dalam rasa sedih ku yang seolah tak berujung ini. Ku abaikan semua tatapan heran dan bingung Manager ku. Hari ini, aku telah benar-benar kehilangan semua harapan ku.


Langit di luar sana mulai meneteskan air nya, membasahi bumi. Seolah dia juga ikut merasakan kesedihan yang sedang ku alami ini.


...Ayud POV End...


Laki-laki itu, terus menatap foto sang kakek dengan sendu. Ia melewatkan makan siang bahkan makan malamnya. Manager Huang yang menyaksikan hal itu, ikut prihatin.


Jam kantor menunjukkan pukul 10 malam. Semua karyawan-karyawan nya sudah pulang sejak tadi sore. Namun, Manager Huang dan laki-laki itu masih bertahan di sana.


Manager Huang menghampiri sang majikan yang tampak sedang tertunduk. Ia memberanikan diri untuk menyapa sang majikan.


"Tuan, ini sudah sangat malam. Tuan harus istirahat dan makan, ayo saya antar anda pulang. Saya khawatir, anda akan sakit kalau terus-terusan begini tuan".


Ayud mendongak menatap sang Manager. Ia bangkit dengan lemas, dan melangkah keluar ruangannya. Sang Manager mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, laki-laki itu memilih untuk tetap diam. Ia memejamkan kedua matanya dan melipat tangannya ke dada. Manager Huang sesekali menatap sang majikan melalui kaca spion mobil. Ia benar-benar khawatir.


Keesokan harinya, Rachel berangkat kerja seperti biasa. Gadis itu terdengar bersenandung kecil sambil merapikan meja kerjanya. Sesekali, ia melirik pintu ruangan laki-laki itu. Dari kemarin, sang majikan tak kelihatan keluar dari situ.


Erin yang baru saja datang menghampiri gadis itu, ia melipat kedua tangannya ke dada.


"Ra, kamu tahu apa yang terjadi kemarin?".


Rachel menggeleng,


"Tidak, memang nya ada apa Er?".


Erin menatap rekan kerjanya itu, serius.


"Kemarin kan aku lembur gara-gara pekerjaan s*alan yang terus minta di revisi itu. Tiba-tiba, dari ruangan pak Ayud terdengar suara benda-benda di banting. Aku pikir, telah terjadi sesuatu dengan bos kita itu".


Rachel menghentikan aktivitas nya, ia menatap Erin.


"Memangnya apa yang terjadi padanya Er?. Lalu sampai jam berapa kamu kemarin berada di kantor?".


"Jam 8 malam Ra, dan sampai jam segitu pak Ayud belum juga meninggalkan ruangan nya. Aku pikir, ada yang tidak beres dengan majikan kita Ra. Aku agak khawatir".


Mereka masih bercakap-cakap ketika sang majikan datang. Rachel memberi isyarat dengan tangannya, dan menyuruh gadis itu duduk. Ayud menatap mereka sekilas, lalu masuk ke ruangan nya.


Rachel terkesiap. Wajah laki-laki itu kelihatan sangat pucat, seolah tak tidur semalaman. Gadis itu mencoba berkosentrasi dengan pekerjaan nya. Tiba-tiba, telepon di atas meja kerjanya berdering. Gadis itu cepat menjawabnya,


"Iya, ada apa pak?".


Terdengar suara datar sang majikan dari seberang sana,


"Ke ruangan saya sekarang".


Telepon langsung di tutup dan gadis itu bergegas pergi ke ruangan sang majikan. Ia mengetuk dengan hati-hati pintu majikan nya itu dan melangkah masuk.


"Ada apa pak, anda memanggil saya?".

__ADS_1


Laki-laki itu duduk membelakangi nya. Suaranya terdengar agak serak,


"Duduk, ada yang mau saya sampaikan padamu".


Sesaat setelah gadis itu duduk, laki-laki itu membalikkan kursinya. Ia menyodorkan kotak cincin yang tersimpan dengan cantik di dalam kotaknya. Rachel menatap laki-laki itu,


"Apa ini pak?".


Ayud mendesah,


"Anggap saja ini hadiah pernikahan mu dari saya. Maaf, saya tak bisa memberimu lebih dari ini. Saya ucapkan selamat atas pernikahan mu dengan Albert".


Laki-laki itu bangkit berdiri dan menghadap jendela.


"Saya rasa sudah waktunya kita mengakhiri ini semua. Sampai kapanpun, hubungan kita adalah suatu ketidakmungkinan. Saya akan berusaha menerima kekalahan saya ini dengan lapang dada. Semoga kamu selalu bahagia".


Rachel menangis, ia tak menyangka laki-laki itu benar-benar akan memilih menyerah seperti ini. Padahal, ia berharap laki-laki itu berjuang mempertahankan nya. Ia tersenyum masam,


"Terimakasih pak atas kebaikan hati anda. Kami pasti akan sangat bahagia ketika anda bisa hadir. Satu lagi, saya rasa sudah waktunya juga saya berhenti dari perusahaan anda. Terimakasih atas kebaikan anda selama ini, saya permisi".


Rachel meninggalkan ruangan laki-laki itu dengan airmata yang berlinangan. Ia tak menyangka, akhir dari hubungan mereka akan sepahit ini. Laki-laki itu bahkan memilih melepaskan nya tanpa beban apapun.


Rasa kecewa di hatinya benar-benar terasa menyesakkan. Semua yang dia lakukan selama ini, terasa sangat sia-sia. Sampai kapanpun, mereka tak akan pernah menjadi sesuatu.


Gadis itu mengemasi barang-barang nya dan pergi meninggalkan kantor laki-laki itu. Airmata kesakitan nya membuat dadanya terasa sangat sesak. Ia mendesah,


"Ternyata kakek salah, aku tak akan pernah bisa mengubah cucu mu menjadi lebih baik kek. Dia bahkan menyerah untuk mempertahankan hubungan kami. Maafkan aku kek".


Gadis itu menyetop taksi dan menangis dalam diam. Ia benar-benar telah kehilangan semua mimpi yang selama ini di angankan nya.


Ternyata benar, selamanya si buruk rupa tak akan bisa bersanding dengan si tampan.


❤️❤️❤️❤️


Akankah itu merupakan akhir hubungan mereka guys? Ikuti terus kelanjutan episode nya ya🙏🙏🙏

__ADS_1


Terimakasih 😘😘😘


__ADS_2