Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LVII - Akal Licik Natan -


__ADS_3

Carene mengeluh karena perutnya yang terasa sakit dari tadi siang. Wanita itu mengusap-usap perutnya sambil sesekali mengeluh. Ia mendengus kesal,


"Dasar anak s*alan. Dari kandungan saja, tak henti-hentinya kau menyusahkan ku. Kalau bukan karena wartawan-wartawan s*alan itu, sudah lama aku membuang mu dari dalam perutku. Dasar s*alan".


Wanita itu terus mengusap perutnya dengan gusar. Natan suaminya, yang baru selesai mandi menghampiri gadis itu. Ia melirik wanita itu sekilas, lalu mengambil bajunya di lemari.


"Ada apa sayang?, kamu baik-baik saja kan?".


Carene mengeluh, ia merasa sangat kesal.


"Anak s*alan ini, entah apa maunya. Dari tadi, terus menendang perutku. Sakit sekali, ah aku benar-benar kesal".


Natan mendesah, ingin sekali rasanya ia memaki istri yang tidak tahu diri itu. Tapi karena tujuannya belum tercapai, ia menahan semua itu.


Laki-laki itu mengelus pelan perut sang istri, yang sedang merengek-rengek seperti anak kecil. Ia tersenyum,


"Sayang, ayolah. Kamu kan wanita yang kuat, kamu harus berjuang demi anak kita".


Carene menatap suaminya dengan tatapan mengejek. Ia menepis dengan kasar tangan lelaki itu, dari perutnya.


"Konyol sekali kau. Apa katamu, anakmu?. Kau sendiri tahu bukan, kenyataannya ini bukanlah anakmu. Aku hamil bersama orang lain, dan kau disini karena menjadi ayah pengganti. Apa kau mendadak lupa?, ah konyol sekali".


Carene menatap perutnya dengan kesal, ia memukul-mukul bagian tubuhnya itu dengan geram.


"Hamil anak ini benar-benar membuat ku pusing. Tiba-tiba merasa mual, tiba-tiba lemas. Ah, aku benar-benar hampir g*la karena semua drama ini. Andai saja aku bisa membuang bayi ini, seperti yang biasa kulakukan".


Natan jengah, ia tak mengira sifat asli gadis itu ternyata benar-benar menyebalkan. Semua perkataannya, benar-benar memancing emosi. Laki-laki itu kembali mengelus perut sang istri dengan lembut.


"Sudahlah sayang saat ini aku benar-benar tidak ingin terlibat perdebatan apapun denganmu. Bukankah kita sudah sepakat untuk membesarkan anak ini?. Dia akan menjadi pewaris kita sayang".


Carene bangkit berdiri, ia mengacak rambutnya dengan gusar. Kelakuannya sangat mirip dengan anak-anak yang tak dikasi mainan kesukaan. Natan menggeleng kepalanya, ia benar-benar tak mengerti sifat kekanak-kanakan gadis ini.


"Jangan menggeleng-gelengkan kepala b*dohmu seperti itu, seolah aku ini pendosa besar saja. Hey, aku yang hamil anak ini dan aku yang mengalami semuanya. Ah, aku benar-benar capek dengan rasa mual ini".


Carene menatap sebal pada suaminya, laki-laki itu berusaha untuk tersenyum meski ia benar-benar muak dengan kelakuan gadis di depannya itu. Carene berkata dengan sinis,


"Lagi-lagi, semua ini karena keluargamu itu. Kalau kau tidak hidup di keluarga yang menyedihkan seperti itu, ini semua tidak akan terjadi. Ah, benar-benar mengapa semua ini semakin terasa menyebalkan saja".


Wajah Natan menegang, laki-laki itu ingin marah. Namun, ia menahan semua itu sebisanya. Ia tersenyum, lalu menatap lembut wajah istrinya.


"Sayang, tolonglah. Jangan ungkit lagi masalah ini, kita sama-sama pikirkan jalan keluarnya. Jangan terus menyalahkan keluargaku, aku tak pernah meminta di lahir kan begini".


Carene mendesah, ia memilih mengalah lalu duduk di samping suaminya.


"Baiklah, sekarang ayo kita ke Dokter. Aku mau periksa kandungan, takutnya terjadi sesuatu pada anak ini. Kau temani aku ya, libur dulu dari pekerjaan mu hari ini".


Nathan kaget namun ia menguasai dirinya dengan cepat. Laki-laki itu menatap dengan lembut wajah istrinya, ia memegang tangan wanita tersebut.


"Maaf ya sayang, uang yang semalam ku peroleh dari ayahmu itu telah habis. Aku gunakan untuk membeli semua kebutuhan pekerjaan ku. Kau kan tahu sendiri, aku memulai ini dari nol".


Carene menatap laki-laki itu dengan tatapan tak percaya. Ia mendengus kesal, sambil bangkit dari tempat duduknya dengan kasar.


"Apa?, jadi kamu benar-benar menghabiskan semua uang pemberian papa?. Uang itu papa berikan untuk kebutuhan kita. Sekarang, bagaimana aku bisa ke Dokter kandungan?".

__ADS_1


Carene menuding wajah laki-laki itu dengan telunjuknya, ia kelihatan benar-benar diliputi rasa marah.


"Mau sampai kapan kau begini?. Katamu kau Dokter, Dokter mana yang tak memiliki sedikit pun uang seperti ini?. Ah, benar-benar. Aku kesal sekali padamu Natan. Nasibku benar-benar malang karena menikah denganmu".


Natan menatap istrinya dengan sabar, ia mengusap lembut pipi wanita itu.


"Kita kan memulai semua ini, benar-benar dari bawah sayang. Papamu pasti sangat tak keberatan untuk memberi kita uang lagi. Ayolah, papamu sangat kaya bukan".


Natan ingin mencium pipi istrinya, namun wanita itu menghindar.


"Dasar, kau benar-benar tak tahu malu Nat. Ah, untuk apa aku menikahi laki-laki seperti mu ya?. Benar-benar parasit, sangat mengesalkan. Ini sudah yang kesekian kalinya, kau lagi-lagi meminta uang ke papa. Kau tak malu ya?".


Natan bangkit, ia menatap gadis itu sambil mengepalkan tangannya.


"Kasar sekali bahasa mu perempuan, kau pikir karena siapa aku ada disini sekarang?. Sudahlah Carene, aku benar-benar capek setiap hari berdebat dengan mu. Benar-benar menguras tenaga dan tak ada hasil apa-apa".


Laki-laki itu melangkah ingin meninggalkan istrinya yang masih berdiri mematung.


"Pokoknya, nanti kalau papamu sudah pulang bilang padanya kalau kita membutuhkan uang. Dia pasti akan langsung memberikannya. Bukankah ini untuk calon cucu kesayangannya juga".


Natan tersenyum dari balik pintu,


"Rayu dia, kau kan sangat pintar dalam hal itu. Pokoknya, aku mau semuanya beres ya sayang. Begitu kita mendapatkan uang itu, kita akan ke dokter kandungan".


Carene membentak suaminya gusar, ia melempar bantal ke arah laki-laki itu.


"Tidak usah, aku minta di temani mama saja. Kau fokuslah dengan karir s*alan mu itu. Laki-laki menyebalkan".


Laki-laki itu mengedipkan matanya, lalu bersiul kecil dan meninggalkan kamar mereka. Ia bersenandung kecil, lalu mengambil kunci mobil dan pergi entah kemana.


...Natan POV...


Dasar wanita s*alan. Tidak bisakah dia, sehari saja tak menjadi wanita menyebalkan. Semua perdebatan kami lagi-lagi tentang uang dan uang. Terlebih lagi, dia selalu membawa-bawa keluargaku di setiap perdebatan kami.


Memangnya dia sendiri tak sadar, betapa b*jat nya kelakuan keluarganya?. Darwin s*alan itu, bahkan tega membunuh bayi tak berdosa demi nama baik. Ah, mengapa semua orang kaya tak memiliki hati nurani seperti mereka.


Aku muak sekali pada gadis bernama Carene itu. Harusnya, dia pura-pura tak tahu saja perihal kemana perginya semua uang yang diberikan Darwin padaku. Lagipula, bukankah dia sudah terbiasa memiliki banyak uang?.


Tidak ada salahnya, aku mengambil sedikit dari harta kekayaan orang tuanya bukan?. Tapi, mengapa dia malah mempermasalahkan hal itu. Ah, benar-benar wanita s*alan.


Tabunganku yang ku simpan diam-diam, sudah lumayan banyak. Semua uang yang ku peroleh, baik dari pasien maupun dari keluarga istriku itu ku simpan di tabungan pribadiku.


Setelah menikah, Darwin membelikan kami rumah untuk kami tinggali berdua. Semenjak pindah ke rumah ini, wanita itu benar-benar menyebalkan. Wanita manja, cengeng, kekanak-kanakan, selalu menyusahkan.


Dia selalu menyelidiki semua uang yang ku peroleh, dan lagi-lagi kami selalu berdebat karena hal itu. Ah, seandainya aku sudah benar-benar kaya akan ku tendang wanita itu ke jalanan.


Darwin saja tak pernah bertanya, ku kemana kan semua uang pemberiannya. Seharusnya, Carene s*alan itu juga begitu. Seharusnya, dia duduk manis di tempatnya tanpa kepo semua tentang ku.


Namun, aku mau tidak mau harus bersabar. Sabar sedikit lagi, sampai semua harta keluarga itu bisa ku kuras. Saat itu, akan ku lemparkan satu keluarga angkuh itu ke tempat paling bawah.


Aku meninggalkan gadis itu sendirian di kamar, lalu pergi menemui teman-teman mainku. Tak ada gunanya, berlama-lama menatap wanita manja dan cengeng itu.


Wanita manja, yang bahkan tak tahu apapun. Wanita manja, yang tak bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang tuanya. Ah, sudahlah aku muak sekali setiap kali melihat wajahnya.

__ADS_1


...Natan POV End...


Setelah pertengkaran yang sudah biasa terjadi itu, Carene menghubungi ibunya Jeny. Wanita itu menangis sesugukan. Jeny khawatir,


"Ada apa sayang?. Kamu baik-baik saja kan?, kamu diapakan oleh laki-laki itu sayang?. Katakan, biar mama yang membuat perhitungan dengan laki-laki miskin itu. Berani sekali dia".


Carene masih terdengar menangis,


"Tidak ma, perut Carene sakit sekali. Anak ini, terus-terusan menendang perutku. Andai saja aku bisa mengeluarkan anak ini secepatnya, aku benar-benar tak tahan ma".


Wanita itu terus menangis sesugukan, Jeny menarik nafas.


"Ane, itu adalah hal yang sangat wajar. Itu artinya, anakmu tumbuh dengan sangat baik. Sudah, jangan cengeng terus. Sebentar lagi kamu kan akan menjadi seorang ibu".


Carene menyeka air matanya,


"Mama, temani Carene ya. Carene mau cek kandungan ke dokter. Ah, sebelum mama bertanya, Natan lagi ada urusan kerja yang tak bisa di tinggalkan ma".


Jeny mendesah,


"Suamimu itu, selalu saja sibuk dan sibuk. Sudah lama kerja, tapi tak pernah terlihat menghasilkan selembar uang pun. Benar-benar aneh. Baiklah sayang, kamu tunggu di rumah ya. Sebentar lagi, mama akan kesana".


Carene menyeka air matanya, wanita berucap pelan.


"Ma, mama bawa uang ya. Carene tak memiliki sepeser uang pun sekarang".


Jeny terkesiap kaget,


"Hah, apa katamu sayang?. Bukannya semalam, papa baru mentransfer banyak uang pada suamimu?. Kemana perginya semua uang itu Ane?".


Gadis itu mendesah manja, hati Jeny melunak mendengarnya.


"Natan sedang berjuang untuk kami ma, untuk calon cucu mama dan papa. Bukankah kita sudah sepakat untuk membesarkan anak ini ma?. Ayolah, papa pasti tidak akan mempermasalahkan ini kan ma?".


Jeny lagi-lagi mendesah, ia selalu tak bisa berkata tidak untuk anak semata wayangnya itu.


"Baiklah sayang, yang penting kamu bahagia. Tunggu mama datang ya?".


Carene tersenyum, ia memainkan ujung rambutnya.


"Baik mama, tapi jangan lupa bilang ke papa Carene butuh uang ya. Untuk kebutuhan sehari-hari ma, Natan kan belum bisa menghasilkan uang".


Jeny mengangguk, wanita paruh baya itu menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


"Iya sayang, nanti mama akan coba bilang ke papa. Sudah ya, mama tutup dulu".


Carene menjerit girang,


"Iya mama, terimakasih mama. Carene sayang mama".


Gadis itu segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Sementara itu, Natan dan teman-teman kuliahnya dulu sedang berpesta minuman keras dekat bar langganan mereka.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Guys... Tetap semangat ya menjalani ibadah puasanya 😊😊


Bahagia selalu orang-orang baik😘😘


__ADS_2